MasukSeketika Andre menatap Robert, "Kalau tidak normal, aku gak mungkin minta kamu buat nyariin wanita untukku bodoh," jawab Andre ketus.
"Sudahlah, kalian bersenang-senanglah terserah mau ngapain aja, gw mau pulang dulu masih ada janji ujar Andre, lalu berdiri dan langsung menuju pintu keluar, tanpa memerdulikan wajah kesal Robert dan wanita itu. "udah kamu tenang aja ya lis.., aku pasti akan buat Andre tertarik padamu. Kalau sekarang belum bisa, aku yakin lain kali dia pasti akan tertarik dan menyesali apa yang terjadi hari ini," ujar Robert, yang merasa bersalah pada wanita yang bernama Lisa itu. "Tidak perlu bantuanmu, aku yakin aku bisa menaklukkan Andre, selama ini aku belum pernah di tolak, maka dia pun tidak boleh menolaku." Dengan senyum manis dan penuh percaya diri, Lisa menatap pintu yang sudah tertutup itu, sambil mengepalkan kedua tangannya. "Aku percaya padamu, kamu cukup cantik, bukankah kamu juga mendengar apa yang dia katakan sebelumnya?".... yasudah daripada mikirin pria itu lebih baik kita makan saja, kamu udah laper kan? tanya kepada lisa.. tak menunggu jawaban dari lisa robert pun segera memanggil pelayan dari tombol yang sudah di siapkan untuk memesan makanan ataupun semacemnya. mbak bisa ke sini sebentar di ruangan vvip nomer 45 ujar robert... tak menunggu waktu lama pelayan itu pun muncul.... tok tok tok.. suara ketukan pintu, boleh masuk? ucap si pelayan itu.. masuk... ucap robert singkat.... palayan itu pun segera membuka pintu dan berjalan ke arah mereka serta mengulurkan buku menu yang tersedia... silahkan di pilih tuan...... ucap si pelayan tanpa memberi jawaban robert pun memilih makanan dan minuman yang menurut nya sangat menggoda dan memesannya. kamu mau pilih yang mana lis? tanya robert serta menyodorkan buku menu itu.. samakan saja punyamu.... robert pun mengangguk semuanya dua dua ya ucap robert kepada pelayan itu lalu di angguki si pelayan dan segera pergi menyiapkan pesanan.... skippp...... waktu pun menjelang malam....... andree kamu sudah siap belum tanya tante mila yang sudah di depan pintu kamar andre sebentar tante ini masih milih baju yang cocok teriak juga andre dari dalam kamar..... andre yang sudah memegang setelan jas berwarna hitam itu segera memakai nya, tidak lupa dengan semprotan pafrum yang khas aroma serta wangi nya bisa membuat wanita siapa saja menjadi s4nge di tempat ketika menghirup wanginya.... andre mengaca sebelum pergi menemui tantenya yang sudah siap di bawah sana dengan merapikan rambut nya.. "perfectt" ucap pede andre.... andre mengambil kunci mobil dan berjalan keluar kamar segera menuju kebawah ketika sudah di pertengahan tangga dia sudah melihat tantenya yang duduk di ruang tamu, lekukan tubuh seksi tante mila serta melon yang tidak cukup di wadahnya itu memperlihatkan belahan buah mampu membuat andre terdiam sebentar untuk menelan salivanya. sndre pun tersadar dan langsung berjalan kembali menuju tante mila. tante cantik sekali dan sangat "seksi" ucap nya pelan di bagian seksinya dan sangat apa tadi pura pura tante mila tidak mendengar ayok tante aku udh siap elak andre, tante mila pun segera berdiri tetapi... andre kamu wangi banget ucapnya serta mencium aroma wangi andre di bagian telinga tangannya tidak bisa diam serta mengelus sedikit bagian dada andre. si empu pun tidak kuat menahan gejolak di dalam dirinya seketika tongkat pusakanya itu aktif serta menelan salivanya ketika tante mila mencium aroma parfum di bagian lehernya. tante ayok buruan nanti telat gimana,. bilang andre yang sudah berdebar jantungnya dan mau copot. tante mila menghentikan kegiatanya itu, dan mengangguk serta menggandeng tangan andre seraya berjalan keluar menjuju garasi mobil. tiba di garasi andre membukakan pintu mobil untuk tantenya itu, monggo tante ketika sudah masuk andre menutuk kembali dan segera menuju ke pengemudi dan malaju ke acara temennya tante mila meninggalkan perkarangan rumah andre. Saat ini Andre dan tante Mila sudah sampai di tempat ulang tahun, tidak banyak yang hadir, hanya beberapa dan mereka semua memiliki pasangan, entah suami ataupun pacar mereka. "Mila, akhirnya kamu bawa pasangan juga, aku pikir kamu akan datang sendiri lagi," ujar teman tante Mila, seraya menunjuk ke arah Andre. "Hanya teman." "Tapi dia cukup tampan dan sepertinya dia lebih muda dari kamu." Mendengar itu, Tante Mila tersenyum dan menggenggam tangan Andre dengan sangat erat, "Seperti itulah." "Wah Mila kamu luar biasa." "Mari silahkan duduk," ajak Mona, wanita yang berulang tahun. andre yang duduk di samping tante Mila, Andre kembali berdebar, bahkan membuat wajahnya menghangat tanpa sebab, begitu juga dengan sang junior yang sudah mulai Memberontak di dalam sana. "Ganteng, siapa nama kamu, mengapa kamu diam saja sejak tadi?" "Andre, namanya Andre." Bukan Andre yang menjawab tapi tante Mila, bahkan wanita itu semakin mempererat genggaman tangannya pada tangan Andre, yang membuat Andre semakin berdebar dan tak bisa bernafas. "Nama yang bagus, sebagus orangnya," ujar Mona dengan senyum manis. "Kamu baik-baik saja kan? Atau kamu merasa tidak nyaman karena kami semua lebih tua dari kamu?" bisik tante Mila, tapi hanya di jawab dengan senyuman. Tante Mila sama sekali tidak tahu kalau apa yang dia lakukan itu membuat jantung Andre ingin melompat keluar. Apalagi posisi bibir yang dekat dengan telinga, bahkan Andre bisa merasakan hembusan nafas tante Mila. "Aku baik-baik saja." "Baiklah, kamu nikmatilah," ujar Tante Mila seraya memberikan segelas anggur untuk Andre. "Mila, kami tidak akan memakankan dia kalau kamu membiarkannya bebas, apakah kamu sangat takut kehilangan dia?" "Jangan bicara sembarangan dia masih polos." "Aku tahu, aku juga bisa mengajarinya dengan sangat baik dan aku yakin dia akan suka." Andre terdiam, dia lalu teringat akan kata-kata Robert yang lebih suka bermain dengan wanita yang sudah pernah menikah di bandingkan dengan wanita yang masih perawan. "Bagaimana ganteng, apakah kamu mau bermain dengan tante? Tante yakin kalau Mila tidak akan melarang." "Mona, jangan membuatnya takut, dia masih benar-benar polos," ujar tante Mila, lalu menatap Andre. "Tidak apa-apa, mereka hanya bercanda saja." "Tidak apa tante aku mengerti," balas Andre. "Tapi, apakah kamu mau kalau bermain dengan tante Mona? Kalau kamu mau tante tidak akan melarang kamu." Andre menelan salivanya sendiri, dia tidak tahu harus menjawab apa? Pertanyaan itu begitu kontroversial untuknya. "Kalau main dengan tante Mila boleh?"Dia berjalan masuk ke rumah dengan langkah pelan, sepatu sneakers-nya meninggalkan jejak kecil di lantai keramik depan pintu. Begitu pintu dibuka, aroma yang langsung menyambutnya adalah campuran harum yang begitu akrab sekaligus mengejutkan: aroma ayam goreng tepung renyah, bawang goreng yang baru ditumis, saus sambal manis pedas, dan sedikit wangi vanila dari lilin aromaterapi yang menyala di ruang tamu. Musik lembut mengalir dari speaker Bluetooth kecil di meja ruang tamu—lagu-lagu ballad Indonesia lama seperti “Cinta Dalam Hati” dari Ungu dan “Bukan Cinta Biasa” dari Siti Nurhaliza, volume rendah tapi cukup untuk mengisi keheningan rumah dengan suasana romantis yang hangat.Mila muncul dari arah dapur, mengenakan apron merah muda di atas dress sederhana berwarna krem lengan pendek yang pas di badan, rambutnya terurai lepas dengan gelombang lembut, dan senyum lebar yang penuh kebahagiaan terpancar di wajahnya. Pipinya sedikit merona karena panas kompor, tapi matanya berbinar sepert
Robert diam sejenak, ekspresinya berubah dari usil menjadi kaget yang nyata. “Gila… gue cuma bercanda soal tante lo selama ini. Gue pikir cuma gosip. Tapi ini… ini beneran?”Andre mengangguk pelan. “Iya. Udah lama. Gue nggak tahu gimana jelasinnya. Tapi… gue sayang sama dia. Bukan cuma hasrat. Gue sayang beneran.”Robert menatap Andre lama. “Lo gila, bro. Ini… ini nggak biasa. Lo tahu risikonya kan? Kalau ibu lo tahu? Kalau keluarga tahu? Kalau orang kampus tahu?”Andre menunduk. “Gue tahu. Makanya gue takut. Gue nggak mau kehilangan dia.”Robert menghela napas panjang. “Gue nggak bakal bilang ke siapa-siapa. Gue janji. Tapi lo harus hati-hati. Foto ini gue hapus sekarang kalau lo mau.”Andre menggeleng. “Simpan dulu. Gue… gue butuh bukti kalau suatu saat gue harus cerita ke orang lain.”Robert mengangguk pelan. “Oke. Tapi lo harus janji sama gue—kalau ada masalah, lo cerita ke gue. Gue sahabat lo.”Andre mengangguk. “Janji.”Mereka makan nasi goreng dalam diam yang berat. Aroma samba
Perjalanan ke kampus dimulai. Jalan gang kecil rumah mereka masih sepi—hanya beberapa tetangga yang sedang menyapu halaman atau membawa anak ke sekolah. Andre melaju pelan, menghindari genangan air kecil dari sisa hujan malam tadi yang membuat aspal terlihat mengkilap. Angin pagi menerpa wajahnya melalui celah visor helm, sejuk dan menyegarkan, membawa aroma bunga kamboja dari pagar rumah-rumah di pinggir gang. Matahari pagi menyinari punggungnya, membuat bayangan motor dan pengendara memanjang di aspal basah. Keluar dari gang, jalan arteri sudah mulai ramai. Mobil-mobil pribadi dan angkot berjejer di lampu merah, motor-motor lain melaju zig-zag di sela-sela kendaraan. Andre memperlambat laju, bergabung dengan arus lalu lintas yang mulai padat. Di kanan kirinya, pedagang kaki lima sudah mulai buka: penjual bubur ayam dengan gerobak kayu yang mengepul uap panas, warung nasi uduk dengan aroma ketupat dan sambal yang menggoda, dan tukang kopi keliling dengan termos besar yang berisi ko
berusaha tidak membuat suara. Dia menggeser tubuh sangat perlahan agar tidak membangunkan Mila. Selimut krem bergeser sedikit, memperlihatkan punggung Mila yang mulus dengan beberapa garis merah tipis dari kuku Andre yang menggaruk tanpa sadar. Andre menarik selimut kembali menutupi tubuh Mila sampai bahu, lalu bangun dari kasur dengan gerakan hati-hati. Kakinya menyentuh lantai kayu yang dingin, membuatnya menggigil sebentar. Tubuhnya telanjang sepenuhnya—pakaian malam tadi masih tersebar di lantai seperti bukti kejadian yang nyata dan tidak bisa dihapus. Dia mengambil celana pendek dan kaos longgar dari lantai, mengenakannya dengan gerakan pelan. Setiap gerakan terasa pegal—otot pinggul dan paha terasa seperti setelah latihan squat berat, punggung bawahnya nyeri manis karena posisi malam tadi. Dia berjalan pelan keluar kamar, menutup pintu dengan hati-hati agar tidak berderit terlalu keras. Tangga kayu berderit kecil setiap langkah, tapi rumah masih hening—hanya suara AC yang b
Andre ambruk lemas ke kasur dengan napas tersengal panjang seperti orang yang baru saja menyelesai maraton panjang di malam gelap, tubuhnya basah keringat yang menetes seperti embun malam di kulitnya yang panas. Dada naik-turun cepat, otot-ototnya bergetar kecil karena kelelahan yang menyenangkan, dan matanya setengah tertutup karena lelah tapi juga kepuasan yang masih terasa di setiap inci tubuhnya. Juniornya yang tadi meledak dengan klimaks ketiga masih berdenyut pelan, basah dan hangat karena sisa hasrat mereka. Kamar Mila terasa lebih lembab sekarang—uap dari napas mereka bercampur dengan aroma lavender dari diffuser yang sudah mulai memudar, keringat segar yang asin dan manis sekaligus, dan wangi tubuh Mila yang seperti vanila basah setelah mandi. Cahaya bulan purnama masih menyelinap melalui celah gorden, membuat bayangan mereka di dinding seperti lukisan abstrak yang penuh emosi—tubuh telanjang saling menempel, selimut krem kusut seperti ombak yang sudah tenang setelah badai
Andre mengangguk cepat, napasnya tersengal. “Suka… sangat suka…” Mila kembali menunduk, kali ini lebih dalam—mulutnya menelan hampir seluruh panjangnya, tangannya memegang bagian bawah dan menggerakkan naik-turun sambil mulutnya mengisap dan lidahnya berputar. Andre mengerang panjang, pinggulnya terangkat secara refleks, tangannya menarik rambut Mila lebih erat tapi tidak kasar. Suara desah Andre bercampur dengan suara basah dari mulut Mila yang bergerak—suara yang vulgar tapi sangat intim, membuat kamar terasa semakin panas dan lembab. Setelah beberapa menit, Mila naik lagi. Dia naik ke atas tubuh Andre, dada yang padat dan kenyal menempel di dada Andre. Tangan Mila memandu junior Andre ke bagian bawahnya lagi—masuk pelan, tapi kali ini Mila tidak langsung naik-turun. Dia hanya menggoyang pinggulnya pelan, membuat gesekan di dalam tanpa gerakan besar—hanya lingkaran kecil yang membuat Andre mengerang karena sensasi yang sangat sensitif setelah dua ronde sebelumnya. Mila menurun







