Masuk“Kalau main dengan Tante Mila boleh?” tanyanya spontan, suaranya lebih keras dari yang dia inginkan.
Ruangan mendadak hening sesaat. Lalu Mona tertawa terbahak-bahak, diikuti beberapa orang lain. Mila sendiri tertawa ringan, tapi Andre bisa melihat kilatan aneh di matanya—campuran antara geli, terkejut, dan… sesuatu yang lebih dalam. “Wah, anak ini berani juga,” kata Mona sambil mengipasi wajahnya dengan tangan. “Mila, kamu ajarin apa sih anak ini sampai begini?” Mila masih tersenyum, tapi tangannya kini berpindah ke punggung Andre, mengusap pelan seolah menenangkan. Sentuhan itu hangat, lembut, dan membuat bulu kuduk Andre berdiri lagi—kali ini bukan karena malu. “Hanya bercanda,” kata Mila ringan, suaranya tetap tenang. “Namanya juga anak muda, masih suka iseng.” Tapi saat Andre menoleh sekilas, tatapan Mila tidak terlihat seperti orang yang sedang bercanda. Ada kilatan penasaran di sana, dan sedikit ketegangan yang tidak bisa disembunyikan. Jari-jarinya di punggung Andre bergerak pelan, hampir seperti belaian. Mona mengangkat bahu dan berbalik ke tamu lain, tapi sebelum pergi, dia menoleh lagi ke Andre dan berkedip. “Kalau kamu berubah pikiran, tante ada di sini kok.” Tawa kembali terdengar. Andre merasa napasnya sesak. Mila menarik tangannya pelan, membawanya menjauh dari kerumunan menuju balkon kecil di sudut ruangan. “Ngapain kamu bilang begitu tadi?” tanya Mila begitu mereka sudah agak terpisah dari orang lain. Suaranya pelan, tapi ada nada menggoda di dalamnya. Andre menelan ludah. “Aku… cuma refleks. Mona tadi godain aku terus.” Mila tertawa kecil. “Refleks yang berbahaya, Nak.” Dia berdiri sangat dekat sekarang. Andre bisa mencium aroma parfumnya yang khas—vanila hangat bercampur sedikit bunga dan alkohol. Dress hitam itu terlihat semakin ketat di bawah cahaya lampu balkon. Belahan dadanya naik-turun pelan setiap kali dia bernapas. “Maaf, Tante,” gumam Andre, suaranya hampir hilang. Mila menggeleng pelan. Tangannya kembali naik ke punggung Andre, kali ini mengusap lebih lambat, lebih dalam. “Nggak apa-apa. Tante tahu kamu cuma bercanda.” Tapi cara dia mengucapkan kata “bercanda” terdengar seperti sedang menguji sesuatu. Andre merasa jantungnya ingin copot. Tubuhnya panas, napasnya pendek. Mila masih mengusap punggungnya, jari-jarinya bergerak melingkar pelan, hampir seperti pijatan kecil. Setiap sentuhan membuat kulit Andre merinding. “Kita pulang yuk,” kata Mila tiba-tiba, suaranya lebih rendah dari biasanya. “Udah malam. Tante capek.” Andre hanya bisa mengangguk. Dia tidak percaya diri untuk bicara lagi. Mereka pamit ke Mona dan beberapa orang lain. Mona masih sempat berkedip ke Andre sekali lagi sebelum mereka keluar. Di luar gedung, udara malam terasa dingin menyentuh kulit yang sudah panas. Andre membukakan pintu mobil untuk Mila, lalu masuk ke sisi supir. Mesin mobil dinyalakan. AC mulai menghembus udara dingin. Tapi di dalam mobil, suasana terasa semakin panas. Mila duduk di kursi penumpang, kakinya disilangkan. Dress-nya tersingkap sedikit, memperlihatkan paha mulus yang diterangi lampu jalan yang sesekali melintas. Andre berusaha fokus ke jalan, tapi matanya terus mencuri pandang. “Kenapa gelisah dari tadi?” tanya Mila pelan, suaranya hampir seperti bisikan. Andre menelan ludah. “Nggak apa-apa, Tante.” Mila tersenyum kecil. Tangannya bergerak, menyentuh paha Andre sekilas—hanya sekilas, tapi cukup membuat Andre hampir menekan pedal gas lebih dalam. “Kamu bohong,” kata Mila. “Tante tahu kamu lagi mikirin apa.” Andre tidak menjawab. Dia hanya bisa menggenggam setir lebih erat. Mobil melaju di jalan malam yang mulai sepi. Lampu-lampu kota berkedip di luar jendela. Di dalam, hanya ada suara mesin pelan dan napas mereka yang semakin tidak teratur. Mila memiringkan tubuh sedikit ke arah Andre. Belahan dadanya terlihat lebih jelas sekarang di bawah cahaya redup dashboard. “Kalau main dengan Tante Mila boleh, ya?” ulang Mila pelan, mengulang kata-kata Andre tadi di pesta. Tapi kali ini suaranya tidak terdengar bercanda. Andre menoleh sekilas. Mata Mila menatapnya tajam, penuh tantangan dan sesuatu yang lebih gelap. Hening seketika, Andre tidak bisa menjawab. Dia hanya bisa menelan ludah lagi, merasakan jantungnya berdegup kencang di dada. Mobil terus melaju menuju rumah. “Pesta tadi seru ya,” kata Mila pelan, suaranya memecah keheningan. Nada bicaranya natural, seperti obrolan biasa setelah acara malam. Andre mengangguk, tangannya menggenggam setir lebih erat. “Iya, Tante. Mona dan teman-temannya… ramai banget.” Mila tertawa kecil, suara tawanya seperti lonceng kecil yang bergema di kabin mobil. “Ramai? Itu understatement. Mereka seperti kumpulan singa betina yang lagi lapar gosip. Kamu tampak dewasa banget tadi di mata mereka, Ndre. Nggak kayak anak kuliahan biasa.” Andre tersenyum kaku, matanya sekilas melirik ke arah Mila. “Dewasa? Aku malah ngerasa kayak anak kecil yang nyasar ke pesta orang dewasa.” “Jangan merendah diri,” balas Mila sambil menoleh ke arahnya. Matanya menangkap cahaya lampu jalan, membuatnya berkilau seperti permata hitam. “Kamu handle godaan Mona dengan baik. Banyak cowok seusiamu yang bakal gelagapan lebih parah.” Godaan. Kata itu terdengar seperti pemicu di telinga Andre. Dia ingat sentuhan Mona di lengannya, bisikan panas di telinga—tapi yang lebih membekas adalah reaksi Mila. Cara Mila menariknya menjauh, usapan di punggungnya yang lembut tapi tegas. Andre merasa tubuhnya bereaksi lagi, panas merayap naik ke wajahnya. “Godaan? Maksud Tante, Mona tadi?” tanya Andre, suaranya berusaha terdengar santai. Mila mengangguk, bibirnya melengkung jadi senyum tipis. “Iya. Mona itu… ya begitulah. Dia suka main-main. Tapi kamu pintar nggak terpancing. Tante bangga.” Andre curi pandang lagi ke Mila. Dress-nya tersingkap sedikit karena posisi duduk, memperlihatkan paha putih mulus yang berkilau samar di bawah cahaya dashboard. Aroma parfumnya semakin kuat sekarang, bercampur dengan sedikit keringat dari pesta—wanginya seperti madu yang meleleh, manis tapi memabukkan. Napas Andre naik-turun lebih cepat. Dia berusaha fokus ke jalan, tapi pikirannya melayang ke kata-kata Robert dulu: “Janda itu lebih nikmat, Ndre. Rasanya kenyal, enak, dan bikin ketagihan.” Dia menggeleng pelan, mengusir pikiran itu. Nggak, ini Tante Mila. Bukan seperti itu. Mereka tiba di rumah sekitar tengah malam. Garasi mobil sudah gelap, hanya diterangi lampu sensor yang menyala otomatis saat mobil masuk. Andre mematikan mesin, keheningan langsung menyelimuti mereka. Udara malam terasa sejuk menyusup lewat jendela yang sedikit terbuka, tapi tubuh Andre masih panas. “Kita minum teh dulu yuk,” kata Mila tiba-tiba, suaranya lembut. “Rileks sebelum tidur. Pesta tadi bikin capek, kan?” Andre mengangguk. “Iya, Tante. Teh panas bagus nih.” Mereka turun dari mobil. Andre membukakan pintu rumah untuk Mila, seperti biasa. Di dalam, rumah terasa tenang—hanya suara jam dinding di ruang tamu yang berdetik pelan. Lina, ibu Andre, masih di luar negeri, jadi rumah besar ini terasa lebih luas, lebih intim dengan hanya mereka berdua. Mila langsung ke dapur, menyalakan kompor listrik untuk merebus air. Andre duduk di kursi bar dapur, mengamati gerakannya. Mila membuka lemari, mengambil dua cangkir teh favoritnya—yang berwarna hijau pastel dengan pola bunga kecil. Rambutnya yang panjang terurai ke belakang, dress hitamnya masih menempel ketat, mengikuti setiap gerakan tubuhnya. “Airnya sebentar lagi mendidih,” kata Mila sambil membalik badan, bersandar di counter dapur. “Kamu oke nggak tadi? Mona emang kadang keterlaluan.” Andre tersenyum tipis. “Oke kok, Tante. Cuma… agak kaget aja.” Mila mengangguk, matanya menatap Andre dengan hangat. Cahaya lampu dapur membuat kulitnya terlihat lebih halus, lebih menggoda. “Kamu tahu nggak, Ndre? Tante dulu juga kayak kamu. Masih muda, gampang gelagapan kalau digoda orang lebih tua.” Andre mengangkat alis. “Tante? Serius?” Mila tertawa kecil, suaranya seperti alunan musik. “Iya. Waktu tante masih seumur kamu, tante pernah nikah muda. Suami pertama tante—mantan suami sekarang—lebih tua 5 tahun. Awalnya manis, tapi… ya, nggak berjalan lancar.” Air mulai mendidih, gelembungnya bergolak pelan di ketel. Mila menuang air ke cangkir, aroma teh hijau langsung menyebar—segar, sedikit pahit, campur dengan wangi tubuh Mila yang masih melekat dari pesta. Andre merasa mulutnya kering. “Mantapnya tante… cerita dong,” kata Andre pelan, suaranya hampir bergetar. Mila membawa cangkir ke meja kecil di sofa ruang tamu, mengisyaratkan Andre ikut. Mereka duduk bersebelahan di sofa panjang, cahaya lampu meja redup menerangi wajah mereka. Suara jam dinding berdetik pelan, seperti detak jantung yang saling mengejar. “Tante nikah umur 22,” mulai Mila, tangannya memegang cangkir hangat. “Dia pebisnis sukses, tante masih mahasiswa. Awalnya seperti mimpi. Tapi lama-lama… dia terlalu sibuk, tante merasa sendirian. Akhirnya, kami sepakat cerai. Nggak ada drama besar, cuma… kosong aja. Jadi janda di usia 25 itu berat, Ndre. Orang lihat tante beda sekarang.” Andre mendengarkan dengan saksama. Cerita itu ringan, tapi ada nada sedih di baliknya. Dia teringat kata-kata Robert lagi: “Janda lebih nikmat, Ndre. Dibimbing janda rasanya lebih syahdu.” Pikiran itu membuatnya gelisah. Dia tahan diri, memaksa fokus ke cerita Mila. “Wah, tante pasti kuat banget,” kata Andre, suaranya lembut. “Aku nggak bisa bayangin gimana rasanya.” Mila tersenyum sedih. “Iya, tapi tante belajar banyak. Hidup nggak selalu seperti yang dibayangkan. Makanya tante senang tinggal sama kamu sekarang. Kamu… seperti pengingat bahwa hidup masih punya harapan.” Tangannya bergerak pelan, menyentuh tangan Andre saat dia cerita bagian sedih itu. Kehangatan kulit Mila langsung merambat ke tubuh Andre. Jari-jarinya lembut, tapi genggamannya tegas—seperti sedang mencari dukungan. Andre merasa jantungnya berdegup lebih kencang. Kulit Mila terasa halus, hangat, seperti sutra yang dipanaskan. Aroma parfumnya semakin dekat sekarang, bercampur dengan uap teh yang naik dari cangkir. “Aku… senang tante ada di sini juga,” gumam Andre, suaranya hampir hilang. Dia tidak menarik tangannya, malah membiarkan genggaman itu. Mereka duduk seperti itu beberapa menit, cahaya redup membuat bayangan mereka bergabung di dinding. Suara jam dinding berdetik pelan, seperti pengingat waktu yang terus berlalu. Andre merasa lebih dekat secara emosional—cerita Mila membuatnya melihat sisi rentan tante itu, sisi yang biasanya disembunyikan di balik senyum manisnya. Akhirnya, Mila melepaskan tangannya pelan. “Sudah malam, Ndre. Kamu tidur dulu yuk. Besok kamu kuliah pagi, kan?” Andre mengangguk, berdiri dengan kaki agak gemetar. “Iya, Tante. Terima kasih tehnya. Dan… ceritanya.” Mila tersenyum. “Sama-sama. Selamat malam.” Andre naik tangga ke kamarnya di lantai atas. Pintu kamar ditutup pelan,Dia berjalan masuk ke rumah dengan langkah pelan, sepatu sneakers-nya meninggalkan jejak kecil di lantai keramik depan pintu. Begitu pintu dibuka, aroma yang langsung menyambutnya adalah campuran harum yang begitu akrab sekaligus mengejutkan: aroma ayam goreng tepung renyah, bawang goreng yang baru ditumis, saus sambal manis pedas, dan sedikit wangi vanila dari lilin aromaterapi yang menyala di ruang tamu. Musik lembut mengalir dari speaker Bluetooth kecil di meja ruang tamu—lagu-lagu ballad Indonesia lama seperti “Cinta Dalam Hati” dari Ungu dan “Bukan Cinta Biasa” dari Siti Nurhaliza, volume rendah tapi cukup untuk mengisi keheningan rumah dengan suasana romantis yang hangat.Mila muncul dari arah dapur, mengenakan apron merah muda di atas dress sederhana berwarna krem lengan pendek yang pas di badan, rambutnya terurai lepas dengan gelombang lembut, dan senyum lebar yang penuh kebahagiaan terpancar di wajahnya. Pipinya sedikit merona karena panas kompor, tapi matanya berbinar sepert
Robert diam sejenak, ekspresinya berubah dari usil menjadi kaget yang nyata. “Gila… gue cuma bercanda soal tante lo selama ini. Gue pikir cuma gosip. Tapi ini… ini beneran?”Andre mengangguk pelan. “Iya. Udah lama. Gue nggak tahu gimana jelasinnya. Tapi… gue sayang sama dia. Bukan cuma hasrat. Gue sayang beneran.”Robert menatap Andre lama. “Lo gila, bro. Ini… ini nggak biasa. Lo tahu risikonya kan? Kalau ibu lo tahu? Kalau keluarga tahu? Kalau orang kampus tahu?”Andre menunduk. “Gue tahu. Makanya gue takut. Gue nggak mau kehilangan dia.”Robert menghela napas panjang. “Gue nggak bakal bilang ke siapa-siapa. Gue janji. Tapi lo harus hati-hati. Foto ini gue hapus sekarang kalau lo mau.”Andre menggeleng. “Simpan dulu. Gue… gue butuh bukti kalau suatu saat gue harus cerita ke orang lain.”Robert mengangguk pelan. “Oke. Tapi lo harus janji sama gue—kalau ada masalah, lo cerita ke gue. Gue sahabat lo.”Andre mengangguk. “Janji.”Mereka makan nasi goreng dalam diam yang berat. Aroma samba
Perjalanan ke kampus dimulai. Jalan gang kecil rumah mereka masih sepi—hanya beberapa tetangga yang sedang menyapu halaman atau membawa anak ke sekolah. Andre melaju pelan, menghindari genangan air kecil dari sisa hujan malam tadi yang membuat aspal terlihat mengkilap. Angin pagi menerpa wajahnya melalui celah visor helm, sejuk dan menyegarkan, membawa aroma bunga kamboja dari pagar rumah-rumah di pinggir gang. Matahari pagi menyinari punggungnya, membuat bayangan motor dan pengendara memanjang di aspal basah. Keluar dari gang, jalan arteri sudah mulai ramai. Mobil-mobil pribadi dan angkot berjejer di lampu merah, motor-motor lain melaju zig-zag di sela-sela kendaraan. Andre memperlambat laju, bergabung dengan arus lalu lintas yang mulai padat. Di kanan kirinya, pedagang kaki lima sudah mulai buka: penjual bubur ayam dengan gerobak kayu yang mengepul uap panas, warung nasi uduk dengan aroma ketupat dan sambal yang menggoda, dan tukang kopi keliling dengan termos besar yang berisi ko
berusaha tidak membuat suara. Dia menggeser tubuh sangat perlahan agar tidak membangunkan Mila. Selimut krem bergeser sedikit, memperlihatkan punggung Mila yang mulus dengan beberapa garis merah tipis dari kuku Andre yang menggaruk tanpa sadar. Andre menarik selimut kembali menutupi tubuh Mila sampai bahu, lalu bangun dari kasur dengan gerakan hati-hati. Kakinya menyentuh lantai kayu yang dingin, membuatnya menggigil sebentar. Tubuhnya telanjang sepenuhnya—pakaian malam tadi masih tersebar di lantai seperti bukti kejadian yang nyata dan tidak bisa dihapus. Dia mengambil celana pendek dan kaos longgar dari lantai, mengenakannya dengan gerakan pelan. Setiap gerakan terasa pegal—otot pinggul dan paha terasa seperti setelah latihan squat berat, punggung bawahnya nyeri manis karena posisi malam tadi. Dia berjalan pelan keluar kamar, menutup pintu dengan hati-hati agar tidak berderit terlalu keras. Tangga kayu berderit kecil setiap langkah, tapi rumah masih hening—hanya suara AC yang b
Andre ambruk lemas ke kasur dengan napas tersengal panjang seperti orang yang baru saja menyelesai maraton panjang di malam gelap, tubuhnya basah keringat yang menetes seperti embun malam di kulitnya yang panas. Dada naik-turun cepat, otot-ototnya bergetar kecil karena kelelahan yang menyenangkan, dan matanya setengah tertutup karena lelah tapi juga kepuasan yang masih terasa di setiap inci tubuhnya. Juniornya yang tadi meledak dengan klimaks ketiga masih berdenyut pelan, basah dan hangat karena sisa hasrat mereka. Kamar Mila terasa lebih lembab sekarang—uap dari napas mereka bercampur dengan aroma lavender dari diffuser yang sudah mulai memudar, keringat segar yang asin dan manis sekaligus, dan wangi tubuh Mila yang seperti vanila basah setelah mandi. Cahaya bulan purnama masih menyelinap melalui celah gorden, membuat bayangan mereka di dinding seperti lukisan abstrak yang penuh emosi—tubuh telanjang saling menempel, selimut krem kusut seperti ombak yang sudah tenang setelah badai
Andre mengangguk cepat, napasnya tersengal. “Suka… sangat suka…” Mila kembali menunduk, kali ini lebih dalam—mulutnya menelan hampir seluruh panjangnya, tangannya memegang bagian bawah dan menggerakkan naik-turun sambil mulutnya mengisap dan lidahnya berputar. Andre mengerang panjang, pinggulnya terangkat secara refleks, tangannya menarik rambut Mila lebih erat tapi tidak kasar. Suara desah Andre bercampur dengan suara basah dari mulut Mila yang bergerak—suara yang vulgar tapi sangat intim, membuat kamar terasa semakin panas dan lembab. Setelah beberapa menit, Mila naik lagi. Dia naik ke atas tubuh Andre, dada yang padat dan kenyal menempel di dada Andre. Tangan Mila memandu junior Andre ke bagian bawahnya lagi—masuk pelan, tapi kali ini Mila tidak langsung naik-turun. Dia hanya menggoyang pinggulnya pelan, membuat gesekan di dalam tanpa gerakan besar—hanya lingkaran kecil yang membuat Andre mengerang karena sensasi yang sangat sensitif setelah dua ronde sebelumnya. Mila menurun







