Share

bab 23

Penulis: doni revelton
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-05 17:33:43

Pagi hari Andre terbangun perlahan, mata masih berat karena tidur yang tidak terlalu dalam malam tadi. Tubuhnya terasa hangat, tapi ada kekosongan kecil di sisi tempat tidur yang membuatnya langsung sadar: Mila sudah tidak ada di sampingnya.

Dia duduk perlahan, menggosok mata dengan punggung tangan. Kasur masih menyimpan lekukan tubuh Mila di sisi kiri—selimut sedikit terangkat, bantalnya agak miring, dan aroma lavender dari shampoo-nya masih samar-samar menempel di kain sarung bantal.

Andr
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tante, Berhentilah Mengejarku   bab 34

    Dia berjalan masuk ke rumah dengan langkah pelan, sepatu sneakers-nya meninggalkan jejak kecil di lantai keramik depan pintu. Begitu pintu dibuka, aroma yang langsung menyambutnya adalah campuran harum yang begitu akrab sekaligus mengejutkan: aroma ayam goreng tepung renyah, bawang goreng yang baru ditumis, saus sambal manis pedas, dan sedikit wangi vanila dari lilin aromaterapi yang menyala di ruang tamu. Musik lembut mengalir dari speaker Bluetooth kecil di meja ruang tamu—lagu-lagu ballad Indonesia lama seperti “Cinta Dalam Hati” dari Ungu dan “Bukan Cinta Biasa” dari Siti Nurhaliza, volume rendah tapi cukup untuk mengisi keheningan rumah dengan suasana romantis yang hangat.Mila muncul dari arah dapur, mengenakan apron merah muda di atas dress sederhana berwarna krem lengan pendek yang pas di badan, rambutnya terurai lepas dengan gelombang lembut, dan senyum lebar yang penuh kebahagiaan terpancar di wajahnya. Pipinya sedikit merona karena panas kompor, tapi matanya berbinar sepert

  • Tante, Berhentilah Mengejarku   bab 33

    Robert diam sejenak, ekspresinya berubah dari usil menjadi kaget yang nyata. “Gila… gue cuma bercanda soal tante lo selama ini. Gue pikir cuma gosip. Tapi ini… ini beneran?”Andre mengangguk pelan. “Iya. Udah lama. Gue nggak tahu gimana jelasinnya. Tapi… gue sayang sama dia. Bukan cuma hasrat. Gue sayang beneran.”Robert menatap Andre lama. “Lo gila, bro. Ini… ini nggak biasa. Lo tahu risikonya kan? Kalau ibu lo tahu? Kalau keluarga tahu? Kalau orang kampus tahu?”Andre menunduk. “Gue tahu. Makanya gue takut. Gue nggak mau kehilangan dia.”Robert menghela napas panjang. “Gue nggak bakal bilang ke siapa-siapa. Gue janji. Tapi lo harus hati-hati. Foto ini gue hapus sekarang kalau lo mau.”Andre menggeleng. “Simpan dulu. Gue… gue butuh bukti kalau suatu saat gue harus cerita ke orang lain.”Robert mengangguk pelan. “Oke. Tapi lo harus janji sama gue—kalau ada masalah, lo cerita ke gue. Gue sahabat lo.”Andre mengangguk. “Janji.”Mereka makan nasi goreng dalam diam yang berat. Aroma samba

  • Tante, Berhentilah Mengejarku   bab 32

    Perjalanan ke kampus dimulai. Jalan gang kecil rumah mereka masih sepi—hanya beberapa tetangga yang sedang menyapu halaman atau membawa anak ke sekolah. Andre melaju pelan, menghindari genangan air kecil dari sisa hujan malam tadi yang membuat aspal terlihat mengkilap. Angin pagi menerpa wajahnya melalui celah visor helm, sejuk dan menyegarkan, membawa aroma bunga kamboja dari pagar rumah-rumah di pinggir gang. Matahari pagi menyinari punggungnya, membuat bayangan motor dan pengendara memanjang di aspal basah. Keluar dari gang, jalan arteri sudah mulai ramai. Mobil-mobil pribadi dan angkot berjejer di lampu merah, motor-motor lain melaju zig-zag di sela-sela kendaraan. Andre memperlambat laju, bergabung dengan arus lalu lintas yang mulai padat. Di kanan kirinya, pedagang kaki lima sudah mulai buka: penjual bubur ayam dengan gerobak kayu yang mengepul uap panas, warung nasi uduk dengan aroma ketupat dan sambal yang menggoda, dan tukang kopi keliling dengan termos besar yang berisi ko

  • Tante, Berhentilah Mengejarku   bab 31

    berusaha tidak membuat suara. Dia menggeser tubuh sangat perlahan agar tidak membangunkan Mila. Selimut krem bergeser sedikit, memperlihatkan punggung Mila yang mulus dengan beberapa garis merah tipis dari kuku Andre yang menggaruk tanpa sadar. Andre menarik selimut kembali menutupi tubuh Mila sampai bahu, lalu bangun dari kasur dengan gerakan hati-hati. Kakinya menyentuh lantai kayu yang dingin, membuatnya menggigil sebentar. Tubuhnya telanjang sepenuhnya—pakaian malam tadi masih tersebar di lantai seperti bukti kejadian yang nyata dan tidak bisa dihapus. Dia mengambil celana pendek dan kaos longgar dari lantai, mengenakannya dengan gerakan pelan. Setiap gerakan terasa pegal—otot pinggul dan paha terasa seperti setelah latihan squat berat, punggung bawahnya nyeri manis karena posisi malam tadi. Dia berjalan pelan keluar kamar, menutup pintu dengan hati-hati agar tidak berderit terlalu keras. Tangga kayu berderit kecil setiap langkah, tapi rumah masih hening—hanya suara AC yang b

  • Tante, Berhentilah Mengejarku   bab 30

    Andre ambruk lemas ke kasur dengan napas tersengal panjang seperti orang yang baru saja menyelesai maraton panjang di malam gelap, tubuhnya basah keringat yang menetes seperti embun malam di kulitnya yang panas. Dada naik-turun cepat, otot-ototnya bergetar kecil karena kelelahan yang menyenangkan, dan matanya setengah tertutup karena lelah tapi juga kepuasan yang masih terasa di setiap inci tubuhnya. Juniornya yang tadi meledak dengan klimaks ketiga masih berdenyut pelan, basah dan hangat karena sisa hasrat mereka. Kamar Mila terasa lebih lembab sekarang—uap dari napas mereka bercampur dengan aroma lavender dari diffuser yang sudah mulai memudar, keringat segar yang asin dan manis sekaligus, dan wangi tubuh Mila yang seperti vanila basah setelah mandi. Cahaya bulan purnama masih menyelinap melalui celah gorden, membuat bayangan mereka di dinding seperti lukisan abstrak yang penuh emosi—tubuh telanjang saling menempel, selimut krem kusut seperti ombak yang sudah tenang setelah badai

  • Tante, Berhentilah Mengejarku   bab 29

    Andre mengangguk cepat, napasnya tersengal. “Suka… sangat suka…” Mila kembali menunduk, kali ini lebih dalam—mulutnya menelan hampir seluruh panjangnya, tangannya memegang bagian bawah dan menggerakkan naik-turun sambil mulutnya mengisap dan lidahnya berputar. Andre mengerang panjang, pinggulnya terangkat secara refleks, tangannya menarik rambut Mila lebih erat tapi tidak kasar. Suara desah Andre bercampur dengan suara basah dari mulut Mila yang bergerak—suara yang vulgar tapi sangat intim, membuat kamar terasa semakin panas dan lembab. Setelah beberapa menit, Mila naik lagi. Dia naik ke atas tubuh Andre, dada yang padat dan kenyal menempel di dada Andre. Tangan Mila memandu junior Andre ke bagian bawahnya lagi—masuk pelan, tapi kali ini Mila tidak langsung naik-turun. Dia hanya menggoyang pinggulnya pelan, membuat gesekan di dalam tanpa gerakan besar—hanya lingkaran kecil yang membuat Andre mengerang karena sensasi yang sangat sensitif setelah dua ronde sebelumnya. Mila menurun

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status