LOGINAndrew Xavi Damir Dewandaru, sering juga dipanggil Andy, tak menyangka terjebak dalam sekenario yang di buat untuk kembali menghancurkannya. Pertama pertemuannya dengan Afrina, membawanya masuk kedalam cinta yang menyakitkan. Walau pada mulanya bagi Afrina, Andrew adalah sosok penolong kapanpun ia mendapat masalah. Bagi Andrew, Afrina adalah sosok lembut yang harus ia lindungi. Tapi wanita yang membuatnya menyerahkan hati dan impiannya, itu teryata mantan kekasih adik tirinya, dan hubungan yang ia impikan tidak berjalan dengan lancar. Kedua ia harus kembali mendekam di penjara atas jebakan yang diberikan padanya itu. Hingga ia semakin terpuruk dan hancur lebih dalam. Dari situlah ia berniat membalas dendam terhadap apa yang sudah dialaminya. Setelah mengalami berbagai kehancuran dalam hidupnya, Andy, memulai bisnis gelapnya dengan berkedok model agensi di mana ia menjalankan bisnisnya dengan menyalurkan bakat gadis-gadis muda dan cantik untuk dijadikan sebagai model dan dengan iming-iming mendapatkan peran di berbagai film. Namun ia juga hendak mengeruk keuntungan ganda di dalamnya. Kesenangannya pun dimulai. Hingga Andrew dipertemukan dengan gadis belia bernama Rycca Magani Hardiyata tidak hanya berniat menghentikannya tapi ternyata memberikan pengaruh hingga mengubah hidupnya ke jalan yang benar. Andrew hanya punya dua pilihan, memperturutkan penyimpangan jalan hidupnya selama ini atau larut dalam imbas keberadaan Rycca. Dengan kenyataan ia sudah menjadi benci kepada semua wanita yang ia temui. Di sisi lain Andrew masih belum bisa mempercayai gadis itu sepenuhnya, masih banyak keraguan yang ditimbulkan oleh Rycca. Itulah mengapa ia tak boleh kalah dari gadis itu. Rycca lah yang harus jatuh di tangannya. Baginya bukan ia yang harus dikalahkan, justru Rycca harus bertekuk lutut kepadanya, seperti itulah seharusnya semua wanita.
View More“Tidur aja!”
Jimmy membuka matanya melihat keberadaan sahabatnya, Ruli. Menghembuskan nafas panjang, memilih tidak peduli dengan apa yang dilakukan Ruli. Baru saja selesai melakukan operasi, ralat bukan melakukan tapi menemani operasi jantung anak dan itu membuatnya lelah.“Operasi berapa jam?” tanya Ruli.“Sepuluh jam mungkin, nggak lihat jam juga.” Jimmy menjawab sambil lalu “Biarin aku tidur sepuluh menit lagi, habis ini aku mau cek kondisi dia.”Suasana hening menyambutnya, Jimmy memejamkan matanya dan Ruli tidak banyak bicara. Tidak lama kemudian tepukan ringan dirasakan Jimmy membuatnya membuka mata, menatap pelaku yang menatapnya tanpa dosa.“Kenapa lagi?” tanya Jimmy kesal pada Ruli.“Pasien lo detaknya sempat hilang.” Ruli menjawab santai.Jimmy membuka matanya langsung dan seketika rasa mengantuk hilang “Sejak kapan?”“Beberapa menit yang lalu, buruan nanti telat sama professor.”Jimmy langsung beranjak, masuk kedalam kamar mandi dengan mencuci wajahnya. Ruli memberikan jas dokter padanya, tidak mengucapkan kata hanya tepukan ringan sebagai ucapan terima kasih.Melangkah dengan langkah cepat menuju ruang ICU, tempat orang-orang yang baru saja keluar dari ruang operasi. Kedatangan Jimmy langsung disambut oleh perawat yang biasa menemaninya selama di ruang ICU, Yani. Memberikan catatan rekam medis padanya, langsung melakukan pekerjaannya dengan melihat beberapa hasil dari operasi yang mereka lakukan.“Tidak ada yang serius.” Jimmy membuka suaranya.“Profesor Yudi tadi datang kesini bersama Professor Markus melihat anak ini, hasilnya sama dengan apa yang dokter katakan.” Yani mengatakan dengan nada santai.“Mereka sudah datang?” tanya Jimmy dengan ekspresi terkejut.Yani menganggukkan kepalanya “Mereka tidak bertanya tentang dokter.”“Memang depan mbak nggak bertanya, tapi nanti....”“Dokter selalu bisa menaklukkan mereka.” Yani menepuk lengan Jimmy pelan yang masih cemberut “Sini laporannya, dokter akan disini melihat perkembangannya atau bagaimana?”Jimmy menatap pasien yang berbaring di ranjang pasien anak, pikirannya berjalan kemana-mana. Banyak yang harus dirinya lakukan terutama adalah istirahat atau lebih tepatnya tidur, tapi pastinya tidak bisa tidur dengan tenang.“Aku ke cafe dulu, beli kopi.” Jimmy mengatakan pada Yani yang hanya menganggukkan kepalanya.“Jangan kebanyakan kopi, lebih baik istirahat.” Yani memberikan peringatan.Jimmy hanya menganggukkan kepalanya, melangkah keluar dari ruangan dan langsung menuju cafe. Badannya memang sudah sangat lelah dan membutuhkan istirahat, tapi tugasnya masih banyak yang harus dikerjakan.“Belum istirahat?”Jimmy mengalihkan pandangan kearah samping “Kamu sudah selesai?”“Kebiasaan ditanya apa jawabnya apa.”“Aku kan perhatian.” Jimmy mengangkat alisnya membuat Febby mengerucutkan bibirnya “Kekasih yang baik harus membuat kekasihnya nyaman.”“Kekasih apaan? Playboy macam kamu mah...bikin ilfeel.”“Aku bukan playboy, tapi belum menemukan wanita yang tepat.” Jimmy memberikan alasan yang masuk akal “Kalau kamu terima aku pasti beda cerita.”“Kamu belum istirahat?” tanya Febby lagi dengan pertanyaan yang sama.“Kamu tahu sendiri aku habis operasi sama siapa, bokap lo kalau udah di ruang operasi bikin merinding. Apalagi kalau nanti aku melamar kamu.” Jimmy mengedipkan matanya dan mendapat pukulan ringan di lengan.“Kita udah sampai kantin, Ruli tu ada disana.” Febby memberi kode letak dimana Ruli.“Kamu nggak ke cafe?” tanya Jimmy yang dijawab gelengan kepala Febby “Ada operasi lagi?”Febby menggelengkan kepalanya “Aku baru datang, ini mau ke UGD ambil catatan orang yang masuk kemarin. Rencananya mau operasi besok, makanya mau dibaca dulu gimana hasil yang dokter UGD dapat.”“Dokter spesialis penyakit dalam memang rumit.” Jimmy membuka suaranya “Kamu spesialis dalam sedangkan aku jantung anak-anak, kita bersatu didalam tubuh agar manusia tetap hidup dengan menjadi satu kesatuan.”“Apaan sih? Rayunya nggak banget. Aku tinggal ya, jangan telat makan. Sana sama Ruli.” Febby menepuk lengan Jimmy pelan.“Kamu juga, aku tunggu di apartemen.” Jimmy membelai pipi Febby sebelum meninggalkan tempat mereka.Jimmy menatap Febby yang berjalan menjauhinya, mengalihkan pandangan kearah Ruli yang duduk dengan teman-teman satu bagian, mereka mengambil profesi yang berbeda. Ruli memilih mengambil bedah urologi, walaupun mereka berakhir di rumah sakit yang sama.“Ngopi aja.”Jimmy mengangkat alisnya melihat teman satu profesinya, Danu. “Habis darimana?”“Dipanggil dokter Markus, laporan beberapa hari lalu yang habis operasi. Anaknya sudah keluar dari ICU dan kondisinya baik-baik saja, tapi pagi tadi ngalamin serangan jantung. Hasil yang aku cek anak itu baik-baik saja, belum tahu kenapa ngalamin serangan itu.” Danu menjelaskan dengan rinci.“Sudah cek semuanya?” tanya Jimmy penasaran.“Sudah, semua normal.” Danu menjawab penuh keyakinan.“Obat yang diminum? Biasanya pasien yang sudah berada didalam kamar suka merasa jika dirinya sudah sehat total dan tidak konsumsi obat yang diresepkan. Kamu tahu bagaimana bahayanya jika telat minum, apalagi tidak minum sama sekali.” Jimny memberikan pendapatnya membuat Danu terdiam.“Kenapa nggak kepikiran.” Danu memukul pelan keningnya.Jimmy hanya menggelengkan kepalanya menatap kepergian Danu dengan membawa minumannya, kondisi mereka yang ada disini tidak jauh berbeda. Markus dan Yudi adalah professor yang memiliki ketegasan tapi juga perhatian, tidak ada yang tahu jika Yudi adalah mantan suami maminya, Tania. Yudi juga ayah dari Febby, wanita yang mengajak bicara Jimmy tadi.Hubungan mereka? Teman tapi mesra, bisa dikatakan begitu. Pastinya hubungan mereka sudah seperti pasangan kekasih, tapi Jimmy tidak mengatakan kalimat cinta pada Febby, semua berjalan begitu saja secara naluri. Febby, berbeda dengan wanita-wanita yang bersama dengannya.Para wanita itu tidak ada yang tahu tentang latar belakang keluarga Jimmy, nama belakang yang ada di namanya sering kali Jimmy beralasan, lebih tepatnya mencari alasan yang masuk akal.“Jangan terlalu sering melamun, lo tahu kan kalau disini ada penunggunya?”Jimmy memutar bola matanya mendengar kata-kata Ruli “Udah selesai sama mereka?”“Sudah, pembagian jadwal baru buat bulan depan.” Ruli menjawab malas “Lo shift apa?”“Gue belum bisa pulang, masih harus lihat kondisi anak tadi.”“Jangan kaya Bang Toyib yang suka lupa pulang, lo masih ingat keluarga lo kan?”“SIALAN! Gue cabut aja.”Jimmy berdiri dengan membawa minuman yang dipesannya meninggalkan Ruli sendirian di cafe, tapi nyatanya tidak karena Ruli mengikutinya dari belakang. Jimny tahu dan sangat tahu jika sahabatnya ini membutuhkan uang.“Gue tidur di apartemen lo ya.” Ruli membuka suaranya yang hanya diangguki Jimmy.Mereka berpisah dengan berjalan kearah yang berbeda, Jimmy melangkah kearah dokter jantung anak sedangkan Ruli ke bedah onkologi. Mereka memiliki pekerjaan berbeda, Jimmy harus menyelesaikan pekerjaannya yang akan dilaporkan ke Markus.“Jimmy.”Menghentikan langkah, menatap sumber suara yang memanggilnya. Yudi, professor yang menangani anak. Yudi berjalan kearah Jimmy yang membuatnya mengerutkan kening, tempat mereka memang berhubungan dan biasanya tidak pernah berbicara langsung tanpa adanya Markus.“Datang ke ruangan saya, membahas hasil operasi yang kamu lakukan dengan dokter Markus.”Aku geram, Alex banyak sekali melontarkan alasan untuk ngotot ikut denganku di penangkaran. Sudah ku katakan keadaan di sana masih berbahaya. Sedangkan aku sangat membutuhkan dia di kantor pusat. Produk kosmetik tante ku sedang gencar-gencarnya dicari di pasaran. Bagaimana ia bisa mengabaikan begitu saja perintahku. Bersikap santai seolah-olah tidak terjadi bahaya yang mengintai di penangkaran kami."Siapa yang dari dari tadi mengikuti kita di belakang?" tanyaku heran, sudah lebih dari setengah jam mobil di belakangku mengekor tanpa henti bahkan kecepatan mobil itu menyesuaikan dengan mobil yang ku kendarai."Gondes, aku lihat mas Andrew kukuh tidak mau mengajakku jadi ya buat menambah kewaspadaan kita, aku membawa gondes beserta grupnya." cengenges Alex membanggakan apa yang telah dilakukannya."Lex, tau apa yang sudah kamu lakukan? Tindakanmu justru akan memancing kemarahan mereka! Kenapa kamu bisa seceroboh ini? Bantuan mereka aku abaikan, kita malah membawa bantuan semacam ini!"
"Kamu harus makan dengan banyak, jangan lupakan makan siang! Musuhmu mudah melemahkanmu di saat kamu lapar!" sergah Tante Margareth mengagetkanku, beliau tiba-tiba berada di depan meja kerja ku sembari menyodorkan kotak makan bersusun yang terbuat dari kaca dengan ornamen indah pada tutup dan pegangannya."Terima kasih, Tante untuk makan siangnya! Maaf aku tidak ikut dalam peluncuran produk kita, aku malah menyerahkan semua kepada Tante!" aku mengiba karena wajah tanteku tampak lelah sekali siang ini."Aku paham kamu sedang banyak masalah di penangkaran. Mengurusi mutiara, mengurusi karyawan yang kena musibah, belum lagi perbaikan laboratoriummu. Justru aku senang bisa membantumu, Nak!""Apalah aku tanpa Tante! Tante sudah makan? Ayo makan bersamaku!""Setelah lounching produk kita, aku sangat bersemaangat karena respon masyarakat yang bagus kepada kita! Gabungan antara mutiara premium, bluberry dan yuju orange. Mereka sangat tertarik dengan kombinasi produk kita itu! Saking senangnya
Aku segera mendatangi lokasi penangkaran yang diserang itu, "Berapa orang yang datang?" aku menanyai beberapa security yang bertugas siang ini. Mereka hanya bisa menunduk dan gemetar, ruang kemanan terlihat rusak parah. Kantor bagian depan dan tengah juga bernasib sama. Semua akuarium besar pun tak luput dari sepakan-tendangan dan penghancuran geng bengal itu. Pos penjagaan saja serusak itu, bisa ku bayangkan bagaimana keadaan orang-orang di dalamnya. Mereka sengaja terlebih dulu menghancurkan CCTV, sebelum menyerang ruang tengah sebagai sasaran utama mereka. Sengaja agar wajah dan tindak tanduk mereka tidak terbaca. Menurut cerita yang kudapat dari security yang bertugas, dengan sekali tebas menggunakan parang yang mereka bawa, mereka bisa meremukkan alat perekam itu hingga menjadi kepingan yang kini aku saksikan puingannya berceceran di atas lantai."Menurut rekan kami, mereka berjumlah sekitar lima puluhan orang, Pak! Menyerang dari depan dan memporak-porandakan semua, pak!" teran
Akhirnya aku bisa kembali ke kantorku. Masih lekat di ingatanku, betapa lucunya wajah Fenno menahan sakit. Tapi gadis itu, bagus juga pertahanan dirinya. Dia bisa membuat Fenno tak berkutik kepadanya. Lumayan untuk sebuah hiburan. Aku mulai melajukan mobilku keluar dari tempat parkir dan bersiap menuju jalan utama. Namun, ... Cyiiittt! Hampir saja aku menabrak seorang wanita yang melintas di depan mobilku tiba-tiba. Hijab hitam menutupi kepalanya. Dan gaun kuning emas itu, itu gadis yang sama yang tadi memberi pelajaran untuk Fenno. "Cepat lajukan mobilnya!" perintahnya setelah dengan cepat ia memasuki mobilku. Tanpa menengok ke arah belakang atau lainnya, aku menuruti saja permintaannya itu. Lagipula aku juga harus segera kembali ke kantor. Napas gadis itu berantakan, masih memandangi belakang dan spion. Ia terlihat resah jika masih ada yang mengikuti. Apa mungkin Fenno masih mengikutinya? "Kamu sudah aman!" entah mengapa aku keluarkan kata-kata itu. "Kamu nggak paham orang
Tetangga di sini suka mengumbar kasak-kusuk, senang dengan urusan orang lain, tentunya mereka yang selalu penasaran dengan sikap diam ku pun ingin tahu ada cerita apa selanjutnya antara aku dan Afrina. Aku hanya mencebik saat memintas langkahku di hadapan mereka yang memenuhi teras rumah mereka melo
Tak tega rasa hati ini mengabaikan teriakan pilu itu. Gang itu begitu kelam dan sepi, mereka bisa melakukan apa saja pada wanita itu. Aku memaksa langkah lariku kembali ke tempat mereka dan aku lihat wanita berparas cantik itu sudah dikelilingi oleh anggota Geng Brewok tersebut. "Mau apa kalia
Sampai kemudian aku sampai di depan warung Bu Asih. Aku pun memasukinya. "Le!" panggil Bu Asih pemilik warung, saat melihatku besama ukulele kumalku. Warung ini berada di area perkantoran yang biasa aku lewati ketika menuju ke kontrakan kecilku yang berada di area pembuangan sampah. Aku b
Hari ini isi jalanan begitu buruk. Kami semua, yakni kaum aspal dan kaum lampu merah berjibaku dengan asap, pekatnya lumpur jalanan dan guyuran hujan. Di atas kepala kami, guruh yang menggema berbarengan dengan rintik hujan, membersihkan legamnya tubuh kami yang biasanya berpeluh. Hujan lebat menerp
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore