LOGINSelama ini Roy tidak pernah bertemu dengan Zea, Elshi, atau anggota lainnya. Itu semua karena tugas Roy adalah eksekutor dalam menghabisi nyawa orang-orang yang dianggap harus disingkirkan dalam dunia bisnis Hugo. Hugo tidak pernah melibatkan Roy dalam urusan Queen Mafia. Meski begitu, Roy selalu diajak saat rapat membahas tentang Queen Mafia karena dia adalah anggota inti yang idenya masih diperlukan Hugo.
Sesaat kemudian mereka sampai di rumah. Elshi meminta Zea agar segera mengobaHugo berbalik, kemudian mendapati sebuah penayangan video yang langsung berasal dari depan Gedung Merah, tempat biasa Hugo menjalankan bisnis perdagangan manusia.Semua mata kini tertuju pada layar tersebut."Hugo, sekarang juga perintahkan orangmu yang ada di gedung untuk membakar gedung tersebut. Hancurkan semua akses dan sistem untuk orang-orang menuju ke sana, kecuali kamu ingin melihat Roy mati di depan matamu. Sebelum kepergiannya, aku juga akan mengirim video pengakuan Roy tentang kejahatan kalian, di mana di dalamnya ada nama Hendro, Doni, dan orang-orang kesayanganmu lainnya. Tidak lupa, kamu adalah orang yang paling bertanggung jawab alias dalang utama atas kejahatan kalian." Elshi tersenyum sinis.Tiba-tiba saja Roy berdiri dari tempat duduknya. Tangannya terlihat tidak dalam keadaan terikat seperti sebelumnya. Dia mengambil pistol di dekat pinggang Elshi dan langsung mengarahkannya tepat di kepala Elshi.Melihat keadaan lengah, Hendro,
Setelah memakan perjalanan sekitar tiga jam, mereka akhirnya tiba di kediaman masing-masing. Vita memilih diantarkan terlebih dulu ke rumahnya, sementara yang lainnya turun di kediaman Axel, baru pulang ke rumah masing-masing.Axel terkulai lemah saat ibunya bertanya di mana Vita, mengapa tidak balik sama-sama."Bu, Vita marah karena aku tidak membalas cintanya, dia bilang mau melupakanku, menurut ibu apa aku salah? Tapi ya sudahlah, Axel juga tidak mau Bu dibikin repot urusan cinta, Axel mau fokus di karier. Lagian Vita orang kaya, Axel tidak pantas juga bersanding dengannya. Lebih baik Axel memantaskan diri dulu," jelas Axel.Ibu Axel tersenyum mendengar cerita anaknya. Dia bilang dia menyukai Vita. Menurut ibunya tidak apa-apa kalau mau memantaskan diri dulu, tapi jangan menyesal kelak jika Vita justru bersama orang lain. Karena yang memilih ingin jalan masing-masing adalah Axel. Ibunya lebih menyarankan kalau memang suka, jalani saja, apa susahnya hid
"Axel, leher kamu? Hemm, bagus lah," kata Roy dengan ceplas-ceplos.Sementara Vita tampak membawa tas yang berisi barang-barangnya keluar. Dia sudah mencuci muka dan siap berangkat."Vita, biar aku yang bawa tas kamu, tasnya berat. Kamu masuk saja ke mobil," kata Axel."Tidak perlu. Oya, satu lagi, tolong hapus kontakku, atau kalau tidak biar aku yang memblokir nomormu," kata Vita.Axel tampak mematung. Kenapa dia berkata begitu tadi ke Vita? Mungkin seharusnya dia senang mendapat ciuman selamat bangun tidur dari Vita. Kenapa dia justru menuduh Vita yang tidak-tidak?Roy, Zea, Elshi, dan Roy membatu melihat pertengkaran mereka.Zea dan Elshi segera menyusul Vita yang buru-buru ke mobil."Elshi, aku mau duduk bersama kamu dan Damian di kursi belakang." Vita tampak masuk mobil dan duduk di kursi belakang lebih dulu.Mendengar Vita mengucapkan itu, Damian berinisiatif untuk duduk di kursi bagian tengah mobil bersam
Tiba-tiba saja alat pendeteksi kata yang baru saja di aktifkan Axel, sebagai percobaan awal mengeluarkan sinyal alarm, tertulis di layar alat sebesar ponsel genggam, nama Hugo, bahkan kata itu terdeteksi di ucapkan sebanyak lebih dari 5 kali. Jarak deteksi maksimal adalah 200 meter. Berarti orang yang menyebut nama itu ada di sekitar atau tidak jauh dari Axel. Benar saja di sebuah tempat duduk santai, di dekat kamar Elshi dan Damian yang ada di ujung, terlihat Elshi dan Roy sedang bicara berduaan. Axel mendekat dan mencoba menguping pembicaraan mereka. "Roy, jadi bagaimana? apa sebenarnya rencana Hugo, kenapa dia tidak membalas pesan yang ku kirim dengan surat? Jangan-jangan kamu berkhianat padaku, kamu bilang dia akan menghubungi Minggu dini hari, bukti nya besok hari sudah Senin, tapi dia tidak ada menghubungiku sama sekali." Elshi tampak mencengkram kerah kemeja Roy. Mata Axel terbelalak, rasa-rasanya dia ingin berteriak karena kaget, dia berusaha menstabilkan dirinya, percaka
"Aku belum yakin tentang perasaanku. Aku ke kamar mandi dulu, aku akan mengatasi diriku. Kamu istirahatlah dengan baik," kata Axel.Vita segera berbaring di ranjang. Sudah 30 menit Axel di kamar mandi, dia sepertinya tidak bisa mengatasi dirinya. Vita melihat siluet tubuh di kamar mandi yang dikelilingi kaca tersebut. Vita menelan ludahnya dan berusaha menstabilkan dirinya. Axel tampak mengangkat kepalanya ke atas dan meletakkan tangannya ke bawah.Vita kemudian beranjak dari ranjang dan menghampiri Axel yang dari tadi berdiri di kamar mandi."Axel, apa kamu capek? Apa tanganmu sakit? Keluarkan, mungkin aku bisa sedikit membantumu," kata Vita.Axel membuka pintu kamar mandi tersebut dan segera menggendong Vita ke atas ranjang.Keduanya kini larut dalam ciuman sarat emosi. Beberapa kali mereka terlihat saling bergantian menggigit leher satu sama lain dengan manis.Vita meminta Axel berbaring, kemudian kedua tangannya mulai beraksi
Axel terdiam sejenak."Pak, bagaimana? Apa jadi mesan kamarnya? Kalau tidak jadi, akan kami serahkan ke antrian di belakang," kata resepsionis."Jadi, tentu saja jadi. Tidak masalah 3 kamar, kami bisa saling berbagi," jawab Roy.Roy kemudian menyelesaikan pembayaran kamar yang mereka pesan. 3 kunci diserahkan pada Roy.Mereka kemudian berjalan menuju kamar. Kamar tersebut bernomer 78, 79, dan 80. Mereka ternyata tinggal bersebelahan.Roy segera membuka pintu 78 dan bersiap masuk. Axel ikut masuk mengikutinya."Axel, kamu mau ngapain? Kenapa masuk ke kamarku?" tanya Roy."Bukannya kita tidur sama-sama? Memang tidak boleh aku sekamar denganmu?" tanya Axel."Aku mau tidur dengan pacarku, Zea. Di sini terlalu dingin untuk tidur dengan teman pria," kata Roy sambil tertawa."Roy, kamu mau apa? Jangan macam-macam, kalian belum cukup dewasa untuk itu," kata Elshi."Kak Elshi, tenang saja. Aku cuma pelu
Zea hari ini kembali masuk bekerja di kantor Elshi, kakaknya.Hari ini Jerry berpenampilan sangat rapi, tampan, dan berwibawa. Dia begitu bersemangat bekerja karena sekarang akan sering bertemu Zea.Saat menuju ruangan, Jerry berpapasan dengan Zea. Dia mengucapkan selamat pagi d
Elshi tersenyum setelah melihat panggilan telepon dari Damian terputus. Dia bisa merasakan bagaimana Damian sedang terbakar cemburu. Kecemburuan Damian adalah semangat bagi Elshi. Itu artinya dia masih memiliki harapan.Hari ini Elshi merasa cukup lelah. Dia memutuskan untuk segera tidur
Hari ini Elshi masuk kantor membawa Zea.Jerry meminta semua karyawan berkumpul di aula khusus pertemuan.Kini semua telah tiba di aula. Elshi meminta Zea naik dan berdiri di sampingnya."Rekan-rekan semua, langsung saja aku perkenalkan. Ini adalah Zea, adikku. Selama aku ke
"Tunggu, Roy. Kamu tidak perlu melakukan itu. Aku cuma mengetes kesetiaanmu padaku. Terima kasih, Roy. Kamu memang calon adik ipar terbaikku. Roy, dengan uang yang kumiliki, aku bisa saja membayar mafia, bahkan sekelas Hugo, untuk melenyapkan Dara dari dunia ini, tapi aku bukan manusia sekejam it







