Beranda / Romansa / Tawanan Kastil Putih / Ada Banyak Orang Gila

Share

Ada Banyak Orang Gila

Penulis: Rin Ririn
last update Terakhir Diperbarui: 2021-05-18 03:33:42

                “Daging segar!” celetuk sebuah suara.

                “Cantik, sih! Tapi, tahan berapa lama?” timpal lainnya.

                “Dipikir wanita penghibur,” sahut yang satunya lagi.

                Dan setelahnya, Aurora selalu mendengar suara tawa yang amat merendahkan dari para pelayan itu. Awalnya Aurora berusaha biasa saja, namun saling lempar kalimat cibiran itu semakin lantang mereka cuitkan setiap harinya. Seakan-akan mereka menganggap pekerjaan Aurora ini adalah pekerjaan yang paling rendah di kastil ini.

                Aurora menyeruput minumannya. Ini adalah istirahat hari keduanya. Sebenarnya tidak ada waktu istirahat resmi, mengingat jam kerja Aurora yang nonstop. Namun, sebagai manusia, Aurora tetap butuh itu. Dia melihat ke jendela, memandangi deretan bangunan kastil yang megah itu. Tempat yang seepik ini dibangun hanya untuk menjadi topeng, jadi yang tersisa hanyalah kesunyian.

                Sejak dulu, Aurora tidak bisa mencerna. Bagaimana orang-orang kaya suka menggunakan uangnya untuk alasan yang hampir di luar nalarnya. Sedang di tempat lain, orang seperti ayahnya berusaha sampai titik darah penghabisan demi hal lain.

                Dengan berat Aurora menarik napas dan membawa langkahnya masuk untuk kembali menemui perawat jaga.

                “Cepat sekali?” tanya Maria, perawat yang sudah dua hari ini berbaik hati. Dia selalu mengingatkannya untuk mengambil setidaknya lima belas menit ‘me time’ .

                Aurora mengangguk, “Terima kasih,” katanya.

                Wanita dua anak itu mengangkat bahunya. “Kamu tau?” tanyanya lagi.

                “Apa?”

                “Dari sekian banyak ‘perawat kamar khusus’ itu, cuma kamu yang ‘cukup ringan’ langkahnya.”

                “Aku nggak punya alasan untuk mundur,” ucap Aurora dengan senyum. Dia sedikit merasa geli dengan sebutan ‘perawat kamar khusus’ dari Maria.

                Cukup lama kiranya Maria dalam hening. Dia menatap Aurora. Lalu katanya, “Saranku, jangan pernah dengarkan ucapan-ucapan para pelayan itu!”

                Maria pergi seraya menepuk pundak Aurora.

                Aurora sempat terkejut, dia bahkan belum cerita pada siapapun soal cibiran-cibiran yang dia terima. Namun, seolah-olah hal yang Aurora alami sudah terjadi sebelumnya. Jadi, dia mengangguk saja.

                Hari berikutnya, Maria sedang cuti. Ini adalah hari ketiga Aurora bekerja. Dia mencoba bekerja seperti protokol yang ada. Bekerja sesuai aturan yang ditetapkan padanya, meskipun pasiennya sendiri sulit menerima keberadaannya. Ya, sudah tiga hari ini, Theo menolaknya. Pria itu hanya mau dilayani oleh perawat jaga atau lebih tepatnya siapapun selain dirinya. Aneh. Aurora pikir, ucapannya yang begitu percaya diri hari itu akan membuat hati pasiennya tersentuh, namun Theo tidak demikian.

                Tiba waktunya makan siang, namun tidak ada satu pun pelayan yang datang membawa makanan untuk Theo. Aurora menengok pasiennya, seperti biasa Theo hanya termenung di depan jendela. Dia selalu seperti itu, lalu malam harinya kembali ke ranjangnya untuk tidur. Jangankan melirik Aurora, pria itu benar-benar hanya menganggapnya angin.

                Namun, setidak suka apapun Theo padanya, pasiennya itu tetap butuh makan. Jadi, tidak ada cara lain, Aurora harus ke dapur.

                “Di mana makan siang untuk pasien?” tanyanya pada salah seorang pelayan.

                Sayangnya, tidak ada satu pun pelayan yang menjawabnya. Mereka hanya menatap Aurora dengan wajah datar. Aurora mencoba sabar dan mencari sendiri apa yang dia butuhkan. Walaupun ini sangat mengherankan, tidakkah terlalu lucu saat seorang perawat sepertinya harus beradu otot dengan bagian dapur?

                Datanglah seseorang yang membantu Aurora, sekedar mengambilkan nampan. Namun, tiba-tiba datang sebuah hardikan.

                “Kamu lagi apa, Thea?”

                “Aku mengambilkannya nampan, Agatha!” ucap pelayan yang dipanggil Thea itu.

                “Kan udah aku bilang, sih. Nggak usah bantu ‘wanita penghibur’ ini!”

                Aurora menggigit bibirnya, namun hendak dijungkir balikkan macam apa, stigma ‘wanita penghibur’ sangat terdengar miring untuknya.

                “Kamu keterlaluan, Tha!” ucap Thea lagi dan pergi.

                Dengan satu mata, Aurora melirik langkah kesal pelayan yang hendak berbaik hati padanya itu. Sepertinya, pelayan itu kasihan padanya yang diperlakukan secara tidak wajar.

                “Heh, Pelacur!” hardik Agatha lagi.

                Aurora masih diam. Dia mencoba mengurusi urusannya sendiri dan ingin secepat mungkin pergi dari dapur.

                Grompyaang!

                Mendapat cibiran, makian, juga kata-kata yang tidak sopan itu, Aurora masih bisa menerima. Namun, pelayan bernama Agatha itu sudah sangat keterlaluan saat dengan sengaja menyenggol nampan berisi makan siang pasiennya.

                “Apa maksud kamu sebenarnya?” tanya Aurora.

                Agatha tertawa sinis, “Kamu berani juga, Pelacur?”

                “Aku bukan pelacur!” tegas Aurora.

                “Terus apa sebutan untuk seorang wanita yang sekamar dengan seorang pria yang nggak punya hubungan apapun dengannya?”

                “Kalian semua jelas tau kenapa aku harus melakukan itu. Aku datang sebagai perawat bukan untuk hal lain, paham?” Aurora mulai menunjukkan kekesalannya.

                “Udahlah,” kata Agatha. “Kamu pergi aja seperti perawat lainnya. Jelas-jelas, Tuan Muda nggak suka sama kamu.”

                “Apa masalahmu sebenarnya?” tanya Aurora.

                Agatha menghela napasnya, seolah-olah dia menganggap Aurora adalah orang bodoh.

                “Aurora. Itu namamu, kan?” tatap Agatha seraya mendekat.

                “Memangnya kenapa klo namaku Aurora?”

                “Aurora, dengarkan aku baik-baik. Jangan karena kamu cantik, kamu bisa seenaknya di sini. Asal kamu tau, aku adalah kepala pelayan di kastil khusus ini. Semua perawat jaga dan pengawal Tuan Muda tau itu. Jadi, sopanlah sedikit.”

                “Sejak tadi, aku berusaha sopan. Semua orang tau, klo kamu yang membuat keributan.”

                “Jangan lancang!” bentak Agatha.

                Aurora menggelengkan kepalanya. Sebenarnya, ada berapa banyak orang gila di kastil ini batinnya.

                “Apa mau kamu?”

                “Pergi dari sini! Jangan pernah kembali!” kata Agatha.

                “Bukan kamu yang berhak mengatur pekerjaanku.”

                “Hanya kami yang boleh melayani Tuan Muda!”

                “Astaga! Jadi, ini cuma soal itu?” desis Aurora. Dia akhirnya paham maksud para pelayan ini. Keberadaan Aurora yang dua puluh empat jam itu ternyata membuat para pelayan ini cemburu.

                “Kami memang pelayan di sini. Tapi, kami dibekali semua hal khusus yang bisa membuat orang seperti kamu menjadi nggak penting di tempat ini. Para perawat jaga itu telah cukup dan Tuan Muda nggak pernah suka dengan pelacur macam kamu!”

                Aurora menghela napasnya, “Hei, Agatha!” katanya. “Aku datang atas rekomendasi dokter Raanana. Dia yang menangani secara khusus Tuan Muda kalian itu. Pasti ada alasan mengapa seorang perawat sepertiku dibutuhkan. Jadi, mulai sekarang jangan ganggu aku. Mari kita kembali ke ‘jobdesk’ masing-masing!”

                Plak!

                Satu tamparan mendarat di pipi Aurora.

                “Dibilangin bukannya nurut, malah nantang! Kasih wanita ini pelajaran!” seru Agatha.

                Aurora melihat seisi dapur, ada lebih dari lima orang di sana selain Agatha. Dan sayangnya, mereka semua ada di bawah kendali pelayan gila itu. Aurora kalah jumlah. Detik berikutnya, dia mulai mendapatkan perlakuan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Pukulan demi pukulan mendarat di tubuhnya. Para pelayan itu bagai sekelompok wanita yang melabraknya seperti seorang wanita yang mencuri pria idola mereka. Aurora memejamkan matanya sembari menahan semua rasa sakit yang diterimanya. Terjawab sudah mengapa perawat-perawat sebelumnya lari tunggang langgang. Rupanya di dalam kastil ini banyak sekali orang dengan gangguan jiwa.

                ****

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tawanan Kastil Putih   Merajut Asa

    “Tidak ada obat lain yang mampu menyembuhkan seorang pria, kecuali wanita yang dia cintai.” Mata Aaron terpejam sempurna dan sebuah senyum tercetak begitu jelas membingkai kedua belah bibirnya. Hari ini mungkin hari yang sama dengan hari lainnya, namun bagi Aaron hari ini sangatlah istimewa. Bagaimana tidak? Wanita yang membuatnya mengikrarkan diri sebagai bajingan sejati kini telah kembali padanya. “Apa kamu suka?” “Mataharinya?” tanya Aurora. Masih dengan posisi yang sama dengan dua puluh menit sebelumnya, membelai terus-menerus rambut pria yang berbaring santai di pangkuannya. Dengan cepat Aaron membuka mata lalu segera bangun. “Apa?” tanya wanita bermata bulat itu dengan tanpa dosa. “Kita nggak lagi bahas matahari, kamu tau itu?” protes Aaron. Aurora tertawa. “Kenapa kamu ketawa? Apa marahku lucu buat kamu?” “Iya,” tukas Aurora. “K

  • Tawanan Kastil Putih   Layani Aku Malam Ini!

    Aurora mengetahui kedatangan Aaron lewat jendela. Dia juga dengan mata kepalanya sendiri menyaksikan pria itu jatuh bangun dalam kepayahan. Sudah bisa Aurora pastikan, malam ini Aaron sedang dalam pengaruh minuman. Dengan langkah gesa dia menuju bangunan yang dulu menjadi tempatnya mencari biaya pengobatan sang ayah. Masih lorong yang sama sehingga dengan mudah dia melewatinya meskipun sepatu yang dia gunakan haknya cukup tinggi. Dia mendengar suara Aaron yang mendesah dengan kesal menaiki tangga. Semakin dekat dia semakin tahu bahwa pria itu mungkin akan rubuh lagi dalam waktu dekat untuk itulah Aurora semakin mempercepat langkahnya. Deg!&

  • Tawanan Kastil Putih   Bertemu Kembali

    “Aurora?” kejut Thea. “Kapan kamu datang?” tanyanya dengan binar bahagia dan dengan cepat memeluk teman lamanya itu. Aurora tersenyum, “Sore tadi.” “Kastil ini menyeramkan tanpa kehadiranmu! Tuan Muda benar-benar gila sekarang!” lapor Thea pada Aurora. Dan masih banyak lagi kalimat yang Thea keluarkan dari mulut ceriwisnya, curahan hati yang mungkin lama dia pendam dan tidak tahu harus dia curahkan pada siapa. Namun, isi pokok dari semua celotehan itu tidak lebih dari sekedar fakta yang buram. Yang pasti hanya satu, tuan muda kastil putih itu senantiasa pula

  • Tawanan Kastil Putih   Kerelaan Aurora

    Dia pria yang kaya. Fisiknya rupawan, tinggi, gagah, dan sempurna. Ditambah dengan kemampuannya yang cerdas bahkan ketika dua puluh tahun berlalu dengan dia tertimbun trauma tidak dapat menghentikan sepak terjangnya untuk menjadi satu-satunya yang terpilih mewarisi semua aset milik keluarga. Bukan hanya sekedar dia putra tunggal saja, namun juga karena dia mumpuni. Nick, ayahnya percaya bahwa Aaron bisa mengelola semua yang dia wariskan dengan baik. Kepercayaan itu tidak dilandasi kasih sayang semata ayah kepada anak, melainkan dari segi potensi. Putranya itu memang mahakarya terbaik yang pernah dia miliki. Sampai suatu ketika anak laki-laki semata wayangnya itu membuat keputusan demi keputusan di lua

  • Tawanan Kastil Putih   Melepaskan Apa yang Sudah Menjadi Milik Orang

    Dua hari lalu, Raanana datang ke rumah Ken. “Aku mengganggu waktu pensiunmu?” “Sedikit,” jawab Ken. “Syukurlah maka dengan begitu kau pasti berpikir sekarang untuk apa aku menemuimu?” Ken duduk juga menyandingi wanita yang sudah dia anggap seperti ibunya itu. “Dia bersikeras untuk nggak mau memberitahukan alamatnya. Jadi, jangan memaksaku!” ucap Ken seolah sudah tahu maksud kedatangan Raanana.&n

  • Tawanan Kastil Putih   Menggali Harapan yang Terkubur

    “Di sini dia tinggal?” tanya Amanda pada wanita yang berdiri berkacak pinggang di sebelahnya. Wanita seusia Amanda itu membenarkan letak kacamatanya dan membaca sekali lagi tulisan yang tertera di selembar kertas. Lalu, dengan mantap dia mengangguk. “Kalau berdasarkan catatan dari keponakanmu, memang di sinilah tempat tinggalnya.” Amanda Carelia melihat sekeliling. Rumah di depannya berukuran kecil bahkan masih jauh kalah kecil daripada taman samping kastil tempatnya tinggal selama ini. Namun, begitu tampak sangat rapi dan terawat. Bangunan utamanya ada di tengah di kerumuni oleh tanaman-tanaman bunga dengan berbagai warna. Dan yang membuat berbeda adalah sebuah kedai minuman k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status