LOGIN"Bagaimana ini," gumam Adrian frustrasi, mengabaikan Daisy yang akhirnya pamit keluar dengan wajah penuh tanda tanya. Tanpa membuang waktu lagi, Adrian menyambar kunci mobil dan jasnya, lalu melesat pergi menuju mansion dengan kecepatan tinggi.Sesampainya di mansion dia langsung naik ke lantai atas, membuka kamar Rosella dengan terburu-buru. “Rose?” Adrian masuk dan mencari ke dalam tapi tak ada Rosella di kamar mandi pun tak ada. Dia keluar dengan wajah panik, apa mungkin belum pulang? Pikirnya. Dari kamar samping Lucas keluar dengan wajah segar, Adrian terkejut melihat sang adik yang sudah ada di rumah. “Lucas kamu sudah pulang?” Tanyanya. “Iya sudah, tadi Rosella memintaku menjemputnya.” Jawab Dokter tampan itu. Adrian terkejut mendengar jawaban sang adik, tadi sebenarnya dia lah yang seharusnya mengantar Rosella pulang. “Dia dimana sekarang?” Tanya Adrian lagi. Tatapan Adrian mengarah tajam ke adiknya, dan dia menemukan beberapa titik tanda merah di leher Lucas. “Tidur
'Tuan Adrian... bercanda dan tertawa dengan wanita lain? Siapa dia?' batin Rosella dengan perasaan campur aduk.Gadis itu menunduk sambil tersenyum kecut, menatap sekotak kue manis di genggamannya yang kini terasa tak berarti. Tanpa berniat mengetuk atau mencari tahu lebih jauh, Rosella perlahan membungkuk dan meletakkan kotak kue itu begitu saja di lantai, tepat di depan pintu ruangan Adrian yang sedikit terbuka.Dia berbalik dengan cepat, melangkah lebar menyusuri koridor kampus dengan hati yang tak nyaman.“Kamu kenapa Rose?” Tanya Ane saat berpapasan di koridor.“Nggak Papa Ane, lagi pusing saja mikirin tugas, Mr Ronald ngasih kita tugas banyak sekali, gagal deh kencanku malam ini.” Rosella terkekeh, dia berusaha menyimpan rasa tak nyamannya.“Astaga kirain ada apa, memangnya jadwal kencan sama siapa malam ini?” Goda Ane. “Siapa lagi kalau nggak si Singa, Leon.” Keduanya tertawa, sambil berjalan keluar gedung. Rencananya tadi Rosella akan menunggu Adrian di ruangannya, tapi
“Sial Robin!” umpat Lucas kesal, sementara Leon hanya bisa menatap nanar asap knalpot mobil Robin yang perlahan menghilang di belokan jalan kampus.Di ruang keluarga mansion Toretto, suasana terasa begitu mencekam dan sunyi. Ketiga pria berkuasa di London itu duduk dengan wajah cemas, terus-menerus melirik ke arah jam dinding mewah yang sudah menunjukkan waktu larut malam. Robin benar-benar menguasai Rosella seharian penuh, memutuskan akses mereka untuk mendekati gadis itu.Ting!Sebuah notifikasi pesan masuk secara bersamaan di ponsel Leon, Adrian, dan Lucas. Dengan gerakan secepat kilat, mereka langsung menyambar ponsel masing-masing.[Tuan-tuan, jangan menungguku pulang malam ini, ya. Aku akan menginap di apartemen Kak Robin. Love you...]Leon menggeram rendah, Lucas mengacak rambutnya frustrasi, sementara Adrian hanya bisa bersandar pada sofa dengan helaan nafas berat. "Aku benci kalau dia bersama si Robin itu karena pasti melupakan kita." Omel Lucas."Tapi mau gimana lagi
Proses hukum untuk Kian berjalan tanpa hambatan. Dengan bukti-bukti berlapis yang dikumpulkan oleh anak buah Toretto, pria itu resmi diserahkan ke pihak berwajib untuk mendekam di balik jeruji besi dalam waktu yang sangat lama.Namun, sebelum berkas kasus itu benar-benar ditutup, Rosella menemui Lucas di ruangan dokternya. Dengan pandangan mata yang penuh permohonan, Rosella meminta Lucas untuk memindahkan dan merawat kakak Kian, Victor, di bawah fasilitas medis terbaik milik Toretto bersaudara."Kian memang bersalah dan harus dihukum, Tuan Lucas. Tapi kakaknya tidak tahu apa-apa. Kian melakukan semua ini karena dia putus asa dan dibutakan oleh dendam," ujar Rosella lembut saat itu.Beberapa waktu berpikir Rosella memutuskan untuk menghilangkan dendam terhadap Kian, toh pria itu sudah menerima atas perbuatannya. Lucas tidak bisa menolak permintaan kekasihnya. Demi menyenangkan hati Rosella, sang dokter Toretto itu langsung memerintahkan tim psikiater terbaik untuk menangani dan me
Rosella setengah berlari menuju toilet sambil memegangi perutnya, meninggalkan Adrian dan Lucas yang kini kompak menyentuh pipi mereka masing-masing dengan senyuman bodoh yang menghiasi wajah tampan mereka. Kecupan singkat dari Rosella sukses membuat dua pria dewasa yang biasanya dihormati di kampus dan rumah sakit itu mendadak salah tingkah sendiri.“Manis sekali.” Sekitar sepuluh menit kemudian, Rosella keluar dari toilet dengan nafs lega. Namun, begitu dia melangkah kembali ke area utama kamar, suasana hangat yang ditinggalkannya tadi telah menguap tanpa sisa.Adrian dan Lucas sudah berdiri tegak di dekat sofa, tidak ada lagi senyuman manja di wajah mereka. Tatapan mata kedua Tuan Muda itu telah berubah menjadi teramat serius dan dingin. Di depan pintu kamar, sosok Rama baru saja melangkah masuk dengan wajah serius. Dia membawa sebuah map jinjing hitam di tangannya, memancarkan aura formal yang menandakan adanya urusan yang mendesak.Melihat kedatangan Rama dengan ekspresi s
Mendengar celetukan Lucas, Leon yang kelopak matanya sudah mulai terasa berat akibat efek obat dosis tinggi langsung membelalakkan matanya kembali. Dia menatap Lucas dengan pandangan membunuh. "Jangan bermimpi, Lucas," desis Leon dengan suara baritonnya. "Berani kamu membuat drama cium mencium, aku akan mengakuisisi rumah sakit ini dan memecatmu, biar saja kamu menganggur."Lucas seketika mengerucutkan bibirnya, sementara Adrian hanya mendengus geli melihat bagaimana seorang CEO Toretto Group yang biasanya ditakuti seantero London, kini mendadak berubah menjadi macan yang kekanak-kanakan di atas brankar rumah sakit.Meskipun rasa kantuk yang teramat hebat mulai menyerang kesadarannya tanpa ampun, Leon sekuat tenaga menolak untuk memejamkan mata. Tangan besarnya bergerak posesif, mencengkram erat pergelangan tangan Rosella lalu menariknya hingga menempel di atas dadanya. Dia mengunci pergerakan Rosella, memastikan gadis itu tidak akan bisa bergeser barang satu jengkel pun untuk me
Malam itu, ruang makan semua Tuan Muda sudah duduk di kursinya masing-masing. Leon duduk di ujung meja seperti biasa, meski wajahnya masih terlihat sedikit pucat dari demam yang belum sepenuhnya hilang. Tapi dia bersikeras untuk tidak melewatkan makan malam, meskipun Lucas menyarankan dia untuk is
Lucas tersenyum miring, mencoba mengabaikan pikirannya, lalu dia menggenggam tangan Rosella lebih erat. Suasana hening menyelimuti mereka hingga dia melihat Rosella yang kurang tak nyaman dengan pakaian yang dikenakan. “Kamu kenapa Rosella?” Tanyanya. “Tidak ada-apa Tuan.” jawab Rosella kikuk.
"Lucas, tidak perlu. Kamu yang memeriksa Rosella," ucap Leon sambil menyeka bibirnya dengan serbet dengan tatapan yang tetap datar.Lucas terkejut mendengar penuturan Leon, "Kenapa? Aku dokter, Kak. Sudah tugas ku memeriksa…""Aku sudah meminta kepala pelayan memanggil dokter," potong Leon dengan n
Rosella terdiam, jantungnya berdebar sangat kencang mendengar perkataan Adrian. Kakinya seolah tidak mau bergerak, tapi tangan Adrian yang menariknya dengan lembut tapi pasti membuatnya mengikuti. Adrian menutup pintu, lalu berbalik menatap Rosella yang berdiri dengan tubuh gemetar."Kamu takut?"







