登入“Tega kamu Adrian!” bisik Rosella lirih, menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.Enggan pulang ke mansion sendirian dengan perasaan hancur dan digantung seperti ini, Rosella mengambil keputusan cepat. Dia menyeka sudut matanya, lalu berjalan keluar dari area parkir Dosen untuk memesan taksi.Tujuannya siang ini hanya satu, gedung pencakar langit Toretto Group di pusat kota London.Sementara itu, di lantai teratas gedung Toretto Group, suasana di dalam ruang rapat utama tampak sangat formal dan tegang. Leon Toretto, sang CEO tertinggi, sedang duduk di ujung meja memimpin rapat krusial bersama para pemegang saham asing. Rapat besar itu sebenarnya sudah berjalan hampir tiga jam dan sudah memasuki tahap finalisasi kesepakatan hanya tinggal tiga puluh menit lagi sebelum resmi ditutup.Tok, tok.Pintu ruang rapat sedikit terbuka. Rama, asisten kepercayaan Leon, melangkah masuk dengan tergesa-gesa. Dia berjalan mendekati kursi Leon dan membungkuk untuk membisikkan ses
“Jangan ikut campur bagaimana maksud kamu! Malam ini dia milikku, kalau mau bicara tunggu jatahmu besok!” bentak Leon dengan suara menggelegar, telapak tangan kekarnya menggebrak meja makan hingga dentingan sendok dan garpu berdenting nyaring.Soal Rosella dia tidak mau mengalah sama sekali, tak peduli meski di cap Kakak egois. Adrian tidak bergeming. Cengkeramannya di pergelangan tangan Rosella tidak melonggar sedikit pun, sementara matanya masih menatap manik mata sang gadis dengan kilat frustasi. Namun, melihat Rosella yang mulai meringis kecil karena pegangannya yang terlalu kuat, Adrian akhirnya memejamkan mata perlahan, mencoba meredam egonya. Dengan helaan nafas berat, Adrian melepaskan tangan Rosella perlahan. Dia menatap Rosella sebelum berbalik dan melangkah meninggalkan ruang makan tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.Malam itu, Adrian memilih mengalah demi ketenangan Rosella, meskipun hatinya serasa disayat melihat sang kekasih kembali duduk dan melanjutkan makan
"Bagaimana ini," gumam Adrian frustrasi, mengabaikan Daisy yang akhirnya pamit keluar dengan wajah penuh tanda tanya. Tanpa membuang waktu lagi, Adrian menyambar kunci mobil dan jasnya, lalu melesat pergi menuju mansion dengan kecepatan tinggi.Sesampainya di mansion dia langsung naik ke lantai atas, membuka kamar Rosella dengan terburu-buru. “Rose?” Adrian masuk dan mencari ke dalam tapi tak ada Rosella di kamar mandi pun tak ada. Dia keluar dengan wajah panik, apa mungkin belum pulang? Pikirnya. Dari kamar samping Lucas keluar dengan wajah segar, Adrian terkejut melihat sang adik yang sudah ada di rumah. “Lucas kamu sudah pulang?” Tanyanya. “Iya sudah, tadi Rosella memintaku menjemputnya.” Jawab Dokter tampan itu. Adrian terkejut mendengar jawaban sang adik, tadi sebenarnya dia lah yang seharusnya mengantar Rosella pulang. “Dia dimana sekarang?” Tanya Adrian lagi. Tatapan Adrian mengarah tajam ke adiknya, dan dia menemukan beberapa titik tanda merah di leher Lucas. “Tidur
'Tuan Adrian... bercanda dan tertawa dengan wanita lain? Siapa dia?' batin Rosella dengan perasaan campur aduk.Gadis itu menunduk sambil tersenyum kecut, menatap sekotak kue manis di genggamannya yang kini terasa tak berarti. Tanpa berniat mengetuk atau mencari tahu lebih jauh, Rosella perlahan membungkuk dan meletakkan kotak kue itu begitu saja di lantai, tepat di depan pintu ruangan Adrian yang sedikit terbuka.Dia berbalik dengan cepat, melangkah lebar menyusuri koridor kampus dengan hati yang tak nyaman.“Kamu kenapa Rose?” Tanya Ane saat berpapasan di koridor.“Nggak Papa Ane, lagi pusing saja mikirin tugas, Mr Ronald ngasih kita tugas banyak sekali, gagal deh kencanku malam ini.” Rosella terkekeh, dia berusaha menyimpan rasa tak nyamannya.“Astaga kirain ada apa, memangnya jadwal kencan sama siapa malam ini?” Goda Ane. “Siapa lagi kalau nggak si Singa, Leon.” Keduanya tertawa, sambil berjalan keluar gedung. Rencananya tadi Rosella akan menunggu Adrian di ruangannya, tapi
“Sial Robin!” umpat Lucas kesal, sementara Leon hanya bisa menatap nanar asap knalpot mobil Robin yang perlahan menghilang di belokan jalan kampus.Di ruang keluarga mansion Toretto, suasana terasa begitu mencekam dan sunyi. Ketiga pria berkuasa di London itu duduk dengan wajah cemas, terus-menerus melirik ke arah jam dinding mewah yang sudah menunjukkan waktu larut malam. Robin benar-benar menguasai Rosella seharian penuh, memutuskan akses mereka untuk mendekati gadis itu.Ting!Sebuah notifikasi pesan masuk secara bersamaan di ponsel Leon, Adrian, dan Lucas. Dengan gerakan secepat kilat, mereka langsung menyambar ponsel masing-masing.[Tuan-tuan, jangan menungguku pulang malam ini, ya. Aku akan menginap di apartemen Kak Robin. Love you...]Leon menggeram rendah, Lucas mengacak rambutnya frustrasi, sementara Adrian hanya bisa bersandar pada sofa dengan helaan nafas berat. "Aku benci kalau dia bersama si Robin itu karena pasti melupakan kita." Omel Lucas."Tapi mau gimana lagi
Proses hukum untuk Kian berjalan tanpa hambatan. Dengan bukti-bukti berlapis yang dikumpulkan oleh anak buah Toretto, pria itu resmi diserahkan ke pihak berwajib untuk mendekam di balik jeruji besi dalam waktu yang sangat lama.Namun, sebelum berkas kasus itu benar-benar ditutup, Rosella menemui Lucas di ruangan dokternya. Dengan pandangan mata yang penuh permohonan, Rosella meminta Lucas untuk memindahkan dan merawat kakak Kian, Victor, di bawah fasilitas medis terbaik milik Toretto bersaudara."Kian memang bersalah dan harus dihukum, Tuan Lucas. Tapi kakaknya tidak tahu apa-apa. Kian melakukan semua ini karena dia putus asa dan dibutakan oleh dendam," ujar Rosella lembut saat itu.Beberapa waktu berpikir Rosella memutuskan untuk menghilangkan dendam terhadap Kian, toh pria itu sudah menerima atas perbuatannya. Lucas tidak bisa menolak permintaan kekasihnya. Demi menyenangkan hati Rosella, sang dokter Toretto itu langsung memerintahkan tim psikiater terbaik untuk menangani dan me
Rosella terdiam, jantungnya berdebar sangat kencang mendengar perkataan Adrian. Kakinya seolah tidak mau bergerak, tapi tangan Adrian yang menariknya dengan lembut tapi pasti membuatnya mengikuti. Adrian menutup pintu, lalu berbalik menatap Rosella yang berdiri dengan tubuh gemetar."Kamu takut?"
Rosella kembali ke kamar Leon dengan langkah yang terasa berat. Tangannya memegang obat-obatan yang diberikan Lucas, pikirannya masih berkecamuk dengan apa yang baru saja terjadi. Lucas memeluknya, mengaku cemburu dan mengklaimnya untuk sore ini. Sementara pagi tadi, Leon juga melakukan hal yang
Malam itu, ruang makan semua Tuan Muda sudah duduk di kursinya masing-masing. Leon duduk di ujung meja seperti biasa, meski wajahnya masih terlihat sedikit pucat dari demam yang belum sepenuhnya hilang. Tapi dia bersikeras untuk tidak melewatkan makan malam, meskipun Lucas menyarankan dia untuk is
Lucas tersenyum miring, mencoba mengabaikan pikirannya, lalu dia menggenggam tangan Rosella lebih erat. Suasana hening menyelimuti mereka hingga dia melihat Rosella yang kurang tak nyaman dengan pakaian yang dikenakan. “Kamu kenapa Rosella?” Tanyanya. “Tidak ada-apa Tuan.” jawab Rosella kikuk.







