Mag-log inPagi itu, area kantin Toretto Agro-Corp riuh rendah oleh bisik-bisik yang tertuju langsung ke meja sudut tempat Rosella duduk. Teman sesama anak magangnya, Maya, langsung menggeser kursi mendekat dengan mata berbinar penasaran."Rosella, kamu hebat banget, sih! Kemarin ketiga Tuan Muda Toretto datang sendiri ke sini cuma buat merhatiin kamu, bahkan sampai meriksa dahi kamu segala," bisik Maya heboh. "Satu perkebunan dan kantor langsung gempar, tahu!"Rosella meremas pelan cangkir tehnya, mencoba bersikap setenang mungkin meski jantungnya berdegup kencang karena panik. Rencana penyamarannya hampir saja hancur berantakan di hari pertama."Ah, itu... kamu salah paham, Maya. Tuan Muda Lucas kan memang dokter utama di rumah sakit pusat, dia cuma kebetulan ikut peninjauan kualitas dan memastikan program kesehatan buruh berjalan dengan benar. Dia kebetulan lewat di dekatku saja," elak Rosella sebisa mungkin. Ia benar-benar tidak ingin usahanya untuk belajar dari nol sia-sia hanya karena u
Hal yang sama terjadi pada Adrian dan Lucas. Di kampus, Adrian yang sedang memberikan kuliah mendadak kehilangan minat mengajar begitu melihat jam dinding menunjukkan pukul sebelas siang. Pikiran cerdasnya terus membayangkan apakah Rosella sudah makan siang atau belum.Tanpa berpikir panjang, Adrian memberikan tugas mandiri kepada mahasiswanya dan langsung melesat menuju rumah sakit tempat Lucas bekerja. Begitu sampai di sana, ia mendapati Lucas sedang duduk di ruangannya dengan wajah uring-uringan, membolak-balik berkas pasien tanpa minat."Kamu tidak ada jadwal operasi, Lucas?" tanya Adrian sembari masuk tanpa mengetuk pintu."Aku membatalkan semuanya yang tidak darurat," gerutu Lucas frustrasi. "Aku tidak bisa berhenti memikirkan Rosella. Bagaimana kalau dia pingsan karena kepanasan di dalam rumah kaca itu? Kulitnya sangat sensitif!""Kak Leon baru saja mengirim pesan," kata Adrian sembari menunjukkan ponselnya. "Dia memantau lewat CCTV rahasia. Katanya Rosella sedang mengangka
Pagi itu, suasana di Mansion Toretto terasa sangat berbeda. Rosella bangun lebih awal, bukan untuk menyiapkan keperluan para Tuan Muda seperti dulu, melainkan untuk bersiap-siap menuju hari pertamanya magang di perkebunan agrobisnis Toretto Agro-Corp.Sesuai dengan perjanjian rahasianya dengan Leon, Rosella mengenakan pakaian yang sangat sederhana, kemeja flanel kotak-kotak, celana jins longgar yang nyaman untuk bergerak, dan sepasang sepatu bot lapangan. Rambut panjangnya diikat kuda dengan rapi. Ia menatap cermin sambil tersenyum puas. Tidak ada gaun desainer, tidak ada perhiasan mewah. Hari ini, dia hanyalah Rosella, seorang mahasiswi magang biasa.Namun, ketenangan Rosella terusik begitu ia turun ke ruang makan. Tiga Tuan Muda Toretto sudah duduk di sana, namun suasana di sekitar mereka tampak begitu mendung. Mereka menatap pakaian lapangan Rosella dengan raut wajah yang beralih antara kagum, cemas, dan tidak rela."Sayang, apa kamu benar-benar harus memakai baju sekaku itu? Ka
Leon mengernyitkan alisnya, tampak benar-benar heran dengan reaksi cepat dari kekasihnya itu. "Kenapa menolak? Bukankah itu pilihan terbaik? Di sana, aku bisa memastikan lingkungan kerjamu sangat aman. Kamu tidak akan menjadi anak magang biasa yang disuruh-suruh melakukan pekerjaan kasar. Kamu akan menjadi anak magang spesial."Leon menjeda kalimatnya sejenak, menatap Rosella dengan pandangan yang menurutnya sangat logis. "Pikirkanlah, Rose. Bukankah lebih enak kalau jadi anak magang spesial? Nilai akhir kamu dari perusahaan sudah pasti sempurna, kamu tidak akan kelelahan, dan aku juga akan memastikan kamu tetap mendapatkan pendapatan bulanan yang sangat besar, setara dengan gaji manajer senior. Semua orang akan memperlakukanmu dengan hormat. Kurang apa lagi?"Rosella menggelengkan kepalanya dengan tegas, menatap mata Leon dengan pandangan yang penuh dengan prinsip hidupnya. "Tuan Leon, dengarkan saya. Tujuan mengambil program magang ini bukan untuk menjadi seseorang yang spesial,
Sore itu, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap berhenti dengan mulus tepat di depan Mansion Toretto. Pintu mobil terbuka, menampilkan sosok Rosella yang melangkah turun dengan tas kuliah yang tersampir di pundaknya. Wajahnya tampak sedikit lelah setelah seharian penuh menghabiskan waktu di kampus untuk mengurus berkas-berkas.Begitu sampai di lantai atas, Rosella langsung menuju ke kamarnya. Ia meletakkan tasnya di atas meja belajar, lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size yang empuk. Gadis itu menatap langit-langit kamar yang tinggi dengan pandangan kosong. Pikirannya tidak benar-benar berada di kamar itu, melainkan melayang jauh memikirkan satu tanggung jawab besar yang harus segera ia selesaikan sebagai syarat kelulusan, program magang.Rosella membalikkan badannya, menatap jendela besar yang menampilkan pemandangan taman samping mansion. Ia mulai menimbang-nimbang berbagai kemungkinan dalam benaknya."Bisa saja aku magang di perusahaan keluarga Anderson
Setelah memastikan Rosella dalam keadaan aman di bawah pengawasan ketat trio Toretto di London, Robin Anderson akhirnya kembali ke Liverpool. Namun, kepulangannya tidak disambut dengan ketenangan. Begitu menginjakkan kaki di mansion, ia langsung disambut oleh perintah negara dari Mommy dan Daddy Anderson. Sebuah kencan buta dengan Clarissa, putri tunggal seorang pengusaha berlian. “Kalau kamu menurut tidak perlu kami adakan kencan buta seperti ini Robin, besok kamu harus berpakaian pantas, dan ajak di pulang ke mansion.” Kata Daddy. “Baik Dad.” Sahut Robin lemas. Di ruang kerjanya, Robin menghela nafas panjang. Ia memijat pelipisnya yang berdenyut. "Mereka benar-benar tidak sabar ingin punya menantu," gumamnya.Jeremy, asisten setianya, masuk dengan tablet di tangan. "Tuan, kencan buta dijadwalkan lusa di Grand Diamond Restaurant. Nona Clarissa meminta Anda menjemputnya dengan mobil koleksi terbaru."Robin menyeringai tipis, sebuah seringai yang membuat Jeremy merasa ada sesuat
Rosella mematung mendengar ucapan terima kasih dari Leon.Seorang Leon berterima kasih padanya?Pria yang selama ini hanya menatapnya dengan dingin, sekarang mengucapkan terima kasih dengan nada yang berbeda? Ditambah sebuah kecupan hangat? Rosella tidak tahu harus berkata apa. Tubuhnya masih lema
Lucas tersenyum miring, mencoba mengabaikan pikirannya, lalu dia menggenggam tangan Rosella lebih erat. Suasana hening menyelimuti mereka hingga dia melihat Rosella yang kurang tak nyaman dengan pakaian yang dikenakan. “Kamu kenapa Rosella?” Tanyanya. “Tidak ada-apa Tuan.” jawab Rosella kikuk.
Rosella terdiam, wajahnya memerah mendengar pertanyaan Adrian yang begitu blak-blakan.Mulutnya ingin menolak, dan mengatakan tidakTapi tubuhnya menginginkan hal lain, tanpa sadar, kepalanya mengangguk pelan nyaris tak terlihat. Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang penuh kemenangan sekal
"Lucas, tidak perlu. Kamu yang memeriksa Rosella," ucap Leon sambil menyeka bibirnya dengan serbet dengan tatapan yang tetap datar.Lucas terkejut mendengar penuturan Leon, "Kenapa? Aku dokter, Kak. Sudah tugas ku memeriksa…""Aku sudah meminta kepala pelayan memanggil dokter," potong Leon dengan n







