Se connecterBeberapa hari berlalu setelah insiden menegangkan di hutan timur, seluruh rangkaian penelitian lapangan di area pegunungan akhirnya resmi berakhir. Rombongan anak magang beserta para staf pengawas bergerak turun dan kembali ke wilayah perkebunan utama Toretto Agro-Corp.Rosella tidak pulang dengan tangan kosong. Dia membawa beberapa sampel varietas tanaman merambat dan semak liar unik yang ia temukan di dekat tebing. Selama hari-hari pertama kembali di perkebunan bawah, Rosella mendedikasikan seluruh waktu dan fokusnya di dalam laboratorium botani khusus. Dengan ketelatenan yang luar biasa, ia mengatur kadar kelembaban, komposisi tanah, hingga nutrisi buatan agar tumbuhan gunung tersebut bisa beradaptasi di lingkungan dataran rendah.Hasilnya sangat mengagumkan. Sementara sampel milik anak magang lain layu atau membusuk karena perbedaan suhu yang ekstrim, tanaman yang dirawat oleh Rosella justru mulai mengeluarkan tunas-tunas hijau baru yang segar. Tumbuhan itu hidup dan berkembang
Mendengar suara perdebatan yang semakin lama semakin jelas, Rosella tidak bisa lagi menahan rasa pening di kepalanya. Fokusnya untuk meneliti urat daun tanaman rambat itu buyar seketika. Dengan gerakan tegas, dia menutup buku catatannya dengan bunyi plak yang cukup keras, lalu meletakkan lensa pembesarnya ke dalam tas selempang.Maya, teman magangnya yang berada beberapa meter di sampingnya, menoleh bingung. "Ada apa, Rose? Kamu menemukan sesuatu?""Maya, kamu duluan saja ikuti rombongan di depan. Ada beberapa sampel tanaman di belakang yang sepertinya terlewat olehku. Aku akan menyusul sebentar lagi," ujar Rosella, mencoba menyunggingkan senyum senormal mungkin."Oh, oke. Jangan lama-lama ya, Rose. Udara gunung masih agak rawan," sahut Maya tanpa curiga, lalu berjalan menyusul rombongan anak magang yang mulai menjauh.Begitu sosok Maya menghilang di balik tikungan jalur timur, senyum di wajah Rosella langsung luntur. Dia membalikkan badannya, melipat kedua tangan di depan dada, d
Keesokan harinya, kabut tipis perlahan terangkat dari tempat itu. Sinar matahari pagi yang menerobos celah-celah pepohonan membawa kesegaran baru bagi seluruh perkemahan. Namun, bagi Pak Jason, pagi itu justru diawali dengan kejutan yang hampir membuat jantungnya copot.Di dalam pos koordinasi darurat, pria paruh baya itu berdiri kaku dengan mata melotot. Di depannya, berdiri tiga orang pria jangkung dengan postur tegap yang luar biasa berwibawa. Leon dan Lucas kini telah mengenakan seragam lapangan resmi Toretto Agro-Corp, lengkap dengan atribut penyamaran masing-masing."Sama seperti Adrian, mulai hari ini kami akan memantau jalannya penelitian lapangan. Saya akan mengambil alih posisi sebagai Kepala Keamanan Pusat, dan Lucas akan menjadi Kepala Tim Kesehatan Lapangan," ujar Leon dengan nada bariton yang mutlak dan tidak menerima bantahan. "Jangan bocorkan kedatangan dan identitas asli kami kepada siapa pun di perkemahan ini, Pak Jason.""T-Tentu... tentu, Tuan," sahut Pak Jason
Di dalam tenda komando yang hangat, Adrian sedang memeluk Rosella. Udara di luar sangat dingin namun di dalam tenda justru memanas."Apa sudah lebih hangat?" tanya Adrian. "Sudah Tuan." Jawab Rosella yang semakin menenggelamkan wajahnya ke bidang datar Adrian. Entah dia harus senang apa tidak dengan semua ini, meski magangnya bisa dibilang sedikit hancur tapi dia tidak harus takut menghadapi senior-senior yang memiliki rencana busuk terhadapnya. "Rose." Panggil Adrian. Rosella mendongak, dan bibir manis gadis itu membuat Adrian tak tahan. Tangannya tergerak menyentuh bibir mungil yang menjadi candu buatnya. Tanpa basa basi, Adrian langsung menjatuhkan ciuman ke bibir Rosella, dia melumat habis bibir itu, dan memaksa lidah Rosella bertarung dengan lidahnya di dalam.Dia terus menciumi Rosella, dan tangannya mulai bergerak nakal, membuat Rosella tak berdaya melawan sentuhannya."Tuan, jangan... nanti ada yang masuk," bisik Rosella sambil menahan tangan Adrian. Adrian hanya ter
Belum sempat Sarah melancarkan kecurigaannya lebih jauh, tiba-tiba angin kencang berembus menyapu membawa hawa dingin yang luar biasa pekat. Dalam hitungan detik, kabut putih tebal turun dari puncak gunung, bergulung-gulung menutup jarak pandang hingga tersisa kurang dari tiga meter.Suasana santai di tempat peristirahatan itu seketika berubah menjadi kepanikan. Suara gemuruh guntur mulai terdengar bersahut-bersahutan di langit yang mendadak menggelap.Pak Jason yang beberapa waktu lalu baru sampai, berlari ke tengah area landai menggunakan pengeras suara darurat. "Semuanya perhatian! Cuaca memburuk secara ekstrem di atas! kita batalkan penelitian, karena rawan longsor! Kita terpaksa bermalam di tempat ini! Segera dirikan tenda darurat sekarang juga!"Kekacauan tidak dapat dihindarkan, semua orang mulai sibuk membongkar logistik dan mendirikan tenda di tengah terpaan angin yang semakin kencang.Di tengah situasi darurat itu, Sarah yang masih menyimpan dendam atas kegagalannya tad
Adrian tidak lagi berbicara, desahan pasrah dan permintaan eksplisit dari Rosella melenyapkan sisa-sisa kendali diri yang ia miliki. “Buka kakimu lebar-lebar Sayang.” Pinta Adrian dengan suara seraknya. Miliknya sudah tidak sabar untuk masuk ke dalam lubang kenikmatan yang selama beberapa hari ini tidak dia rasakan. Dengan gerakan yang terencana namun sarat akan urgensi, ia menurunkan resletingnya, keadaan seperti ini cukup mengeluarkan yang perlu saja. Tak lupa Adrian memastikan hamparan mantel bulu tebal di bawah mereka menjadi alas yang cukup melindungi kulit sensitif Rosella dari permukaan batu tebing yang kasar. "Tatap aku, Sayang," bisik Adrian rendah, suaranya parau menahan desakan gairah yang masif. Begitu Rosella membuka matanya yang sayu dan berkabut, Adrian menuntaskan penyatuan mereka dalam satu hentakan dalam yang mantap. "Aaahh... Tuan...!" Rosella memekik pelan, tangannya refleks mencengkeram kuat pundak kokoh Adrian yang terbalut kaos hitam. Sensasi penuh,
Rosella terdiam, jantungnya berdebar sangat kencang mendengar perkataan Adrian. Kakinya seolah tidak mau bergerak, tapi tangan Adrian yang menariknya dengan lembut tapi pasti membuatnya mengikuti. Adrian menutup pintu, lalu berbalik menatap Rosella yang berdiri dengan tubuh gemetar."Kamu takut?"
Rosella terdiam, wajahnya memerah mendengar pertanyaan Adrian yang begitu blak-blakan.Mulutnya ingin menolak, dan mengatakan tidakTapi tubuhnya menginginkan hal lain, tanpa sadar, kepalanya mengangguk pelan nyaris tak terlihat. Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang penuh kemenangan sekal
"Lucas, tidak perlu. Kamu yang memeriksa Rosella," ucap Leon sambil menyeka bibirnya dengan serbet dengan tatapan yang tetap datar.Lucas terkejut mendengar penuturan Leon, "Kenapa? Aku dokter, Kak. Sudah tugas ku memeriksa…""Aku sudah meminta kepala pelayan memanggil dokter," potong Leon dengan n
Di kamar mandi, Adrian berdiri di bawah shower dengan air dingin mengalir membasahi tubuhnya.Pikirannya tidak pada air dingin ini tapi melayang pada Rosella.Di tengah kesulitan menjadi budak tapi Rosella masih ingin belajar, dan matanya sangat berbinar melihat buku dan Adrian tersenyum tipis meli







