Home / Romansa / Teman Ranjang / Interogasi Radit

Share

Interogasi Radit

Author: Amila FM
last update publish date: 2026-09-30 12:30:11

“Nu, aku nggak pa-pa aku…Astaga, Danu!” Riri berseru masih sedikit berbisik. Di hadapannya sudah berdiri Danu yang sedang mencarinya. 

“Kamu nggak pa-pa, Ri? Ada yang patah?”

“Gila kamu! Aku sama Mas Radit, Nu. Kalau Mas Radit liat kamu gimana?” Perempuan itu ingin berteriak pada laki-laki yang setengah berlari mendekatinya. Tapi kondisi tidak memungkinkan karena mereka masih berada di UGD rumah sakit.

“Bisa jawab aku dulu? Abis itu aku pergi,” ucap Danu tanpa emosi. Perempuan itu menghela napas, mencoba menenangkan kepanikannya.

“Aku cuma terkilir nggak ada yang patah.”

Danu tersenyum dan mengusap kepala perempuan itu sebelum meninggalkannya bersama kekasih sahnya. 

Riri bernafas lega ketika Radit kembali tanpa bertemu dengan Danu. Ia tidak mau ada drama yang melelahkan lagi. Sudah cukup ia menahan sakit di tangannya untuk hari ini.

“Yuk, Sayang.” Radit membantu wanita itu untuk turun dari ranjang, menenteng tas dan ponselnya serta merangkulnya mesra. Di parkiran, ia membukakan pintu mobil untuk kekasihnya itu sebelum ia sendiri duduk di kursi pengemudi.

“Kamu istirahat aja, Ri. Tidur. Kalau udah sampe aku bangunin,” ucap pria itu lembut. Riri mengangguk dan memejamkan matanya.

***

Riri mengernyitkan dahinya, perlahan ia membuka matanya. Wajah Radit yang tersenyum lembut mengisi penglihatannya saat matanya terbuka sepenuhnya. 

“Sore Sayang. Udah enakan tangannya?” tanya pria itu lembut sambil mengelus pelan rambut kekasihnya.

Perempuan itu mengucek mata dengan tangan kanannya yang tidak sakit. Sedangkan tangan kirinya yang dibebat perban masih terasa ngilu walaupun tidak sesakit awal.

“Masih ngilu, tapi it’s okay, Mas,” ucapnya sambil melihat sekelilingnya. “Mas, kita nggak balik ke kantor? Aku ketiduran ya?”

“Aku udah izin untuk hari ini, Ri. Ya… dua jam an lah kamu tidur.” Pria yang bertelanjang dada itu membantu kekasihnya untuk duduk bersandar pada headboard kasur. “Kamu makan dulu, ya. Aku udah pesen beef bowl extra telur biar kamu dapet asupan protein lebih.”

Radit keluar kamar mengambil makanan. Mempersiapkan semua yang wanita itu perlukan dan berakhir menatapnya lekat-lekat tanpa melepas senyum di bibirnya.

“Udah selesai, Mas. Makasih ya udah siapin semuanya untuk aku. Kenapa sih kamu ngeliatin aku begitu banget? Ada yang salah, Mas?”

Pria itu merapikan bekas makan calon istrinya itu dan duduk tepat di hadapannya. Dengan lembut, kedua tangan Radit mengelus bahu perempuan di hadapannya.

“Sayangku, kamu kan calon istriku. Nggak ada yang perlu ditutup-tutupi dari calon suamimu inikan?”

Riri tersentak, jantungnya berdegup lebih kencang dan berat.

‘Perasaanku nggak enak. Jangan-jangan Mas Radit ngeliat Danu di rumah sakit,’ batin Riri berusaha mempertahankan raut wajahnya.

“Iya, Mas.”

“Seberapa jauh sih kamu komunikasi sama Kepala IT itu?” tanya Radit masih dengan intonasi yang lembut dan senyum yang tulus.

“Mmm…sewajarnya rekan kerja aja sih Mas. Komunikasi juga di grup kantor yang ada kamunya.” Riri memperhatikan ekspresi pria yang ada di hadapannya itu. Takut jika ia menyebutkan kata-kata yang bisa mentrigger pria itu menjadi buas.

“Calon istri aku emang yang terbaik.” Radit menarik pelan tubuh Riri ke dalam dekapannya. Perempuan itu membalas pelukan kekasihnya dan mengelus punggung pria itu dengan tangan yang tidak sakit. Perlahan, pria itu sedikit mendorong tubuh Riri ke belakang, tangannya menjulur ke arah laci nakas di samping tempat tidur. Terdengar suara laci dibuka dan ditutup. Raditpun melepaskan pelukannya dari kekasihnya itu.

“Bener ya Sayang, kamu jujur dan nggak pernah bohongin aku.” Pria itu kembali menegaskan ucapannya. Riri mengangguk sembari mengelus wajah kekasih sahnya tersebut.

“Iya, Mas. Beneran.”

“Berarti kamu cinta ya sama aku, Ri.”

Riri mengangguk pelan. Perutnya mual tidak karuan dengan ucapan dan tindakannya barusan. Ia sadar, ia sudah terlatih untuk membohongi dirinya sendiri dan orang lain.

Tiba-tiba terdengar suara getaran halus, yang jelas bukan bunyi ponsel. Radit menunjukkan sex toys berbentuk silinder panjang berwarna hitam tepat di depan wajah kekasihnya. Wanita itu tanpa sadar menelan ludah melihat benda yang bergetar itu

“Kita main game yuk. Mmm, kamu yakin ke Nusa Penida sendiri?”

Pria itu mencengkeram lengan Riri yang normal dengan keras dan mengarahkan benda bergetar itu ke arah kewanitaan perempuan itu.

Getaran benda itu menghantam saraf Riri, menyiksanya untuk tetap bertahan demi menjawab pertanyaan gila kekasihnya.

“Kamu ngapain sih Mas!” Riri berusaha menjauhkan benda bergetar itu dari tubuhnya.

“Ssstt nggak gitu jawabnya Sayang, yes or no.” Senyuman Radit semakin lebar melihat usaha sia-sia perempuan itu.

“No Mas, No!”

“Yakin kamu?” Pria itu semakin menekan benda itu, menyentuh bagian paling sensitif milik calon istrinya

“Mas, please udah, Mas.” Riri memohon sambill menahan air matanya agar tidak jatuh. Semua isi kepala dan hatinya berperang melawan gairah karena permainan sinting Radit.

“Kok udah Sayang? Tinggal jawab No lho dan kamu harusnya seneng aku kasih foreplay yang enakkin kamu.” Radit menyeringai. Matanya mencari-cari sesuatu dari tatapan dan ekspresi Riri. “Atau kamu bohong ya, Ri?”

Benda bergetar itu sudah melewati batasan celana dalam Riri, bersiap di pintu kewanitaannya.

“Nggak Mas! Nggak ada Danu, Mas!” Riri berteriak dan meronta berusaha kabur dari siksaan sex toys Radit.

“Apa? Danu giniin kamu?” Pria itu memasukkan benda bergetar itu maju mundur ke dalam kewanitaan Riri.

“Aaahh…”

“Waduh, calon istri Raditya kok mendesah disebut nama Danu? Kamu fantasiin pria itu ya, Ri?” kekeh pria yang sudah berlutut di antara kedua kaki perempuan itu. “Toko Jaya itu siapa, Ri? Kayaknya abis chat langsung kamu apus,ya?”

Riri terkesiap. Ia tidak peduli kapan pria itu memeriksa ponselnya. Di sisa kewarasannya, ia harus mencari alasan yang masuk akal.

“Lap…top, Mas. Tambah RAM. Aku…apus, biar…nggak penuh,” ucapnya susah payah menahan desahan keluar dari mulutnya. Radit mendekatkan wajahnya pada Riri. Belum sempat ia menginterogasi kembali kekasihnya itu, ponsel perempuan itu bergetar.

TOKO JAYA IS CALLING

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Teman Ranjang   Rencana demi Rencana

    Riri mematung, ia meremas rok kerjanya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Paspor fisiknya kini ditahan. Tanpa paspor itu, pengurusan visa pelajarnya akan tertunda dan terancam gagal. "Iya, Mas. Aku ngerti," bisik Riri pelan, memaksakan diri agar suaranya tidak bergetar. "Pintar," puji Radit puas, menepuk pipi Riri dua kali. "Makan yang banyak. Badan kamu harus fit…seperti tadi malam," kekeh Radit yang membuat dahi perempuan itu berkeringat. Satu jam kemudian, mereka kembali ke ruang divisi asset management. Begitu Radit melangkah masuk ke ruangannya, Riri berdalih hendak ke toilet. Tapi, ia langsung berbelok menuju tangga darurat. Gantari Kirana: Nu, tangga darurat, sekarang! Perempuan itu meremas ponsel dan dompet yang pegangnya. Tidak lama, pintu tangga darurat terbuka dan Danu muncul dengan wajah yang tidak seperti biasanya. "Kamu kenapa? Radit ngapain lagi?" todong Danu langsung. "Mas Radit... dia pegang paspor aku, Nu," suara Riri bergetar. "Dia minta I

  • Teman Ranjang   Passport yang Tertahan

    Riri mematikan sambungan. Segera ia mengirimkan lokasi dan beberapa foto sekitar. Perempuan itu berusaha bersembunyi di balik pohon besar, takut Radit mencari dan menariknya paksa kembali ke mobil.Lima menit berlalu, sebuah motor tampak melaju pelan. “Danu!” Teriak perempuan itu. Pengendara motor itu menoleh dan membuka kaca visor. Riri segera berlari dari persembunyiannya, menuju Danu yang langsung memberikannya helm cadangan yang ia kenakan sebelumnya.“Malam ini kamu ikut aku ke apartemen,” ucapnya datar. Riri diam tidak membantah, mengikuti kemanapun kekasih rahasianya itu membawanya.Danu memapah Riri yang masih gemetar dari parkiran motor hingga kamarnya. “Aku mau ke kamar mandi dulu, makasih ya, Nu.”Sebelum mencuci wajahnya, Riri menatap pantulan wajahnya di cermin.‘Kamu kuat, kamu hebat, kamu bisa lepas dari Radit. Tapi aku capek,’ Air mata menggenang di pelupuk mata perempuan itu. Ia buru-buru menghapus air mata dan mencuci wajahnya. Sekali lagi ia menatap pantulan waja

  • Teman Ranjang   Hukuman Riri

    Wajah perempuan itu berubah panik. Ia melihat jam terkirimnya pesan oleh Radit, 18.45 dan langsung melihat jam di ponselnya, 20.10. Buru-buru ia membalas pesan dari kekasihnya itu. Gantari : ‘Aku tunggu kamu, udah di mana Mas?’ Raditya : ‘Paling cepet setengah jam lagi sampe.’ “Ck, Danu!” Teriak Riri segera berlari ke arah pantry menyusul Danu. “Mas Radit pulang malam ini, setengah jam lagi dia sampe kostan aku. Aku balik sekarang, ya.” “Shit, anjritlah! Gue anter pake motor biar cepet. Lo langsung turun tunggu di depan apartemen.” Pria yang sedang menyiapkan makan malam itu, menghentikan kegiatannya. Ia langsung mencari kunci motor dan helm tambahan. Sedangkan Riri, ia sudah berdiri menunggu lift terbuka. ia pun masuk dan memencet tombol G dengan tergesa-gesa. Setelah pintu liftnya kembali terbuka, Riri berlari ke depan jalan raya utama. Danu, sudah menunggunya dan menyodorkan helm tambahan untuk Riri. “Peluk pinggang aku. Kita ngebut malam ini.” Tidak sampai 20 menit pria i

  • Teman Ranjang   Kepulangan Mendadak

    Mbak Ratih berjalan menuju kubikel Riri. Matanya terpusat pada layar komputer milik perempuan yang sedang duduk gelisah did bangkunya.“Kamu mau lanjut S2? Kamukan udah mau nikah, Ri?!” Suara melengking Mbak Ratih terdengar di seluruh sudut ruangan asset management. Riri masih terdiam. ia terus memutar otak mencari alasan yang masuk akal.‘Kalau aku bilang cuma iseng-iseng, dia bakalan laporan ke Mas Radit,’ batin Riri.“Aku minta tolong Mbak Riri, Mbak,” suara Alea terdengar dari kubikel sebelah. Wanita paruh baya itu menoleh, menatap Alea yang duduk santai di kursinya.“Kamu kan masih nyusun skripsi? Ngapain cari S2?” “Ya abis wisuda aku mau lanjut S2 emang nggak boleh?” balas Alea tidak mau kalah. Mbak Ratih mendengus kesal.“Cari sendiri makanya! Jangan nyusahin orang!” seru Mbak Ratih kesal. “Kamu juga, Ri. Nggak usah aneh-aneh! Inget calon suami kamu tuh Mas Radit! Banyak banget yang ngantri jadi istri dia!” Wanita paruh baya itu pun berjalan menuju kubikelnya sendiri. Riri h

  • Teman Ranjang   Ketahuan?

    Sekembalinya dari makan siang, Danu menyentuh bahu Riri pelan, kode mengajaknya untuk ke tetangga darurat. Perempuan itu mengangguk dan memanggil Alea yang berjalan beberapa langkah di depannya.“Le, aku ke toilet duu, ya!”“Oke, Mbak!” serua Allea sambil membalikkan badan sambil mengacungkan jempol dan kembali berjalan menuju ruangan asset management.Kedua pasangan backstreet itupun dengan santai berjalan menuju tangga darurat, wilayah teraman mereka untuk mengobrol.“Mau?” tanya Danu menawarkan rokok setelah pintu tertutup rapat.“Nggak, Nu. Thanks.”“Lagi seneng ya?” tanya pria itu jahil yang disambut tawa ringan perempuan yang duduk di sampingnya. “Kalau boleh tahu, yang jadi trigger kecelakaan kemarin apa?”Riri menoleh menatap wajah pria di sampingnya.“Gara-gara kau bales WA di grup.”“Hah? Grup kantor?” Danu menghembuskan asap rokoknya ke udara. “Okay, karena yang kita omongin itu fake caleg saleh, aku nggak heran. Tapi, please kamu harus lebih hati-hati,” pria itu mengelus t

  • Teman Ranjang   Celah Radit

    “Mbak Ratih lagi khusyuk ngegosip di pantry, lift barang kosong, sekarang atau kita nggak makan-makan di kubikel!” seru Alea setengah berbisik. Gadis magang itu langsung menginformasikan posisi mata-mata Radit di kantor. Selama Radit dinas ke Bandung, Mbak Ratih bertugas melaporkan semua kegiatan Riri selama di kantor. Tentu saja semua itu demi keamanan dan kenyamanan posisinya di divisi aset manajemen yang dipimpin Radit.Riri mengelus pergelangan tangan kirinya yang masih terbalut perban elastis. Perempuan itu masih khawatir dengan CCTV berjalan itu.“Ayo, Mbak! Nanti keburu Mbak Ratih selesai nyeduh kopi jahenya,” desak Alea pelan sambil menarik ujung blazer Riri.Perempuan itu segera bangkit dan buru-buru merapikan pakaiannya. Keduanya berbelok ke koridor yang biasa digunakan oleh office boy, memanfaatkan jalur tangga darurat lantai menuju pintu keluar darurat di dekat area parkiran mobil.Di gang samping gedung yang luput dari sorotan CCTV, mobil SUV milik Danu sudah menunggu m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status