Beranda / Romansa / Teman Ranjang / Insiden Makan Siang

Share

Insiden Makan Siang

Penulis: Amila FM
last update Tanggal publikasi: 2026-09-15 23:40:35

Cincin berlian mentereng yang melingkar di jari manis Riri sukses membuat semua penghuni kantor yang bergerak di bidang energi terbarukan itu menganga kagum. 

“Beruntung banget ya, Mbak Riri.”

“Ih iri banget bisa dapetin Pak Radit.”

Bisik-bisik gosip antar kubikel di setiap divisi membicarakan betapa beruntungnya Ririi bisa mendapatkan Raditya Sadewa, lelaki sempurna yang tampan, baik hati dan mapan.

Beda halnya di divisi asset management, tempat Riri dan Radit bernaung, Alea yang tahu betul penderitaan Riri, hanya mengumpat kesal di balik kubikelnya.

“Heran deh orang-orang nggak tau mana yang fake dan real!”

Riri hanya tersenyum melihat gadis di sampingnya misuh-misuh. Dengan cepat ia menenangkan Alea

“Udah, Le. Diemin aja. Dulu kamu juga nggak tau kan gimana Mas Radit.”

“Cckk!” Alea mendecakkan lidahnya. Ia setuju dengan perkataan Riri. Namun, ia merasa kesal dengan kenyataan itu. “Kamu beneran nggak  pa-pa, Mbak Riri? Aku khawatir sama kamu kalau sampai nikah. Takut…amit-amit…KDRT. Kamu nggak bisa lari aja gitu?” paras cantiknya berubah menjadi cemas dan khawatir, membuat hati Riri menjadi tenang dan semakin yakin Alea mau membantu misinya dan Danu.

“Aku mau minta tolong kamu, Lea.”

“Apa Mbak, apa Mbak? Ngomong aja sama aku,” jawabnya antusias.

“Tolong bantu aku ngumpulin bukti perbuatan Radit yang nggak baik ke aku atau kelakuan buruk Radit yang lain.” Riri menatap lurus-lurus, berusaha meyakinkan gadis itu agar mau membantunya.

Alea terkesiap dengan permintaan mendadak perempuan dihadapannya. Namun, matanya berubah menjadi serius.

“Pasti Mbak. Aku bakal bantuin kamu semaksimal mungkin. Kalau bisa pernikahanmu batal, Mbak.” ucap Alea dengan binar mata penuh keyakinan yang sangat menghangatkan hati Riri. Meyakinkannya kalau ia benar-benar tidak sendiri.

“Aku belum bisa cerita detailnya sama kamu sekarang. Kamu taukan ada mata-mata Mas Radit di sini?” mata Riri mendelik ke arah kubikel di samping nya. Alea yang mengerti dan tahu siapa orang yang dimaksud temannya itu mengangguk.

“Aman, Mbak. Kalau momennya udah dapet buat kita bicara berdua, Mbak Riri bisa cerita.” Gadis itu meraih tangan Riri dan menggenggamnya hangat. “Percaya sama aku, Mbak Ratih nggak akan pernah tahu tentang hal ini.” Tangan kiri Alea bergerak lurus di depan bibirnya seolah ia akan mengunci mulutnya dari orang lain.

"Ri, Makan siang yuk, Sayang?"

Radit sudah berdiri di depan kubikel kerja Riri dengan senyuman lembutnya. Riri sedikit terkejut dengan kehadiran Radit yang senyap dan tiba-tiba.

‘Dia denger omongan aku sama Alea nggak, ya?’ batin perempuan itu khawatir.  Ia takut Alea akan dipersulit oleh pria itu.

"Mas Radit? Kaget aku, Mas. Abis dengerin Alea curhat soal kucingnya yang sakit di rumah udah dua hari. Sedih dia, Mas," ujar Riri bersikap biasa sekaligus mencari tahu apa Radit sempat mencuri dengar obrolan mereka.

Alea melirik sekilas ke arah Riri, “Iya Mas Radit. Who knows Mbak Riri punya rekomendasi klinik hewan,” ucapnya dengan nada sedih yang dibuat-buat, ikut permainan Riri.

Radit terkekeh pelan.”Cepet sembuh kucingnya, ya. Nanti aku bantuin tanya-tanya kenalanku,” jawab Radit ringan.

‘Aman,’ ucap Riri  dalam hati merasa lega rencananya tidak sampai bocor ke pria itu. 

"Alea, saya pinjem Mbak Ririnya dulu, ya. Mau makan siang bareng. Kamu jangan lupa makan, nanti sakit lagi," ucap Radit lembut sambil mengulurkan tangan, membantu Riri berdiri.

Ia membiarkan tangan pria itu menyentuhnya. Selama banyak mata yang memperhatikan mereka dengan iri, semakin lembut pria itu akan memperlakukannya, demi menjaga citra pribadi seorang Raditya Sadewa.

“Silahkan duduk, Sayang. Aku udah pesenin Japanese food buat lunch kita hari ini.” Radit segera memamerkan lunch yang sudah ia pesan sambil menutup pintu ruangan dan menguncinya dari dalam. Ia juga menurunkan tirai sehingga ruangan kacanya tidak terlihat dari luar.

Riri terkesima dengan makan siangnya hari ini. Radit memang juara dalam memberikan love bombing yang membuat semua perempuan merasa diratukan. Ini salah satu alasan Riri menerima ajakan Radit untuk berpacaran, walaupun tanpa cinta.

"Makasih banyak ya, Mas. Repot-repot pesan dari luar," respon Riri ceria dan duduk di sofa hitam panjang. Ia meletakkan ponselnya begitu saja di atas meja tamu yang sudah terisi penuh makanan dan minuman. 

“Demi calon istriku, aku bisa kasih apapun yang kamu mau. Asalkan kamu juga turuti semua ucapan aku, gampang kan Sayang?” Radit tertawa lembut. Pria itu duduk di sebelah Riri dan mendekap erat calon istrinya itu. Perempuan itu hanya tersenyum, membiarkan pipi dan bibirnya dikecup.

‘Tahan, Ri. jangan buat dia marah, jangan cari masalah,’ ucap Riri dalam hati berulang-ulang.

Sebuah notifikasi pop-up dari grup koordinasi proyek muncul di layar ponsel Riri, menampilkan nama pengirim, Danu - Kepala IT, nomor yang digunakan Danu untuk urusan kantor.

‘File backup data PLTS Jawa Barat sudah selesai di-mirror ke cloud cadangan ya, Mbak Riri.’

Wajah Radit tiba-tiba berubah kaku. Senyuman hangat yang tadi ia lontarkan sudah menghilang

"Kenapa anak IT itu ngechat kamu jam segini?" tanya Radit. Nada suaranya turun satu oktaf, dingin dan menusuk.

"Siapa, Mas? Itu grup gabungan IT sama divisi kita, Mas," ujar Gantari mencoba untuk menanggapi dengan santai, berharap kekasihnya itu bisa berpikir dengan kepala dingin.

"Kenapa Danu mention nama kamu di sana!" bentak Radit mendadak. Tangannya menggebrak meja hingga kotak sup miso bergetar dan tumpah sedikit. "Kamu pikir aku nggak tahu caramu tebar pesona ke anak IT urakan itu?!”

Riri tersentak, rasa takut bercampur muak membanjiri dadanya. "Mas, jangan gila! Itu murni pekerjaan! Kamu juga ada kok di grup itu! Kenapa kamu selalu curiga berlebihan?!"

"Kurang ajar kamu ya, berani ngatain calon suami sendiri gila?!"

Radit berdiri, wajahnya berubah merah menahan amarah. Tangannya hendak merebut ponsel Riri dari atas meja. Panik hubungan backstreetnya bisa ketahuan, perempuan itu bergerak cepat mengambil ponselnya.

Namun, Radit mendorong bahu Riri dengan kasar, sehingga tubuhnya kehilangan keseimbangan akibat dorongan dari pria itu. Ia pun terpelanting jatuh menghantam karpet tebal dengan keras.

Bruk!

Sialnya, tangan kirinya terlipat di bawah badannya sendiri, tertimpa seluruh bobot tubuhnya dengan sudut pergelangan yang tertekuk ekstrem.

"Akhhh!"

Riri memekik tertahan. Rasa ngilu yang luar biasa menusuk dari pergelangan hingga siku. Sendi pergelangan tangannya berdenyut hebat dan langsung membengkak kemerahan dalam hitungan detik. 

“Mas, tolong…tanganku…” rintihnya. Wajahnya mulai berubah pucat menahan sakit.

"Ri! Astaga, Riri!" Radit berlutut panik, tangannya gemetar memegang bahu Riri dengan wajah penuh penyesalan. "Ya Tuhan, aku nggak sengaja, Ri! Maafin Mas, Ri…Aku salah. Please, jangan benci aku!"

Riri memejamkan mata menahan sakit yang luar biasa, bibirnya bergetar tanpa sanggup mengeluarkan sepatah kata pun.

Tanpa menunggu persetujuan, Radit langsung menyusupkan kedua lengannya ke bawah tubuh Riri. Ia mengangkat tubuh Riri secara bridal style ke dalam dekapannya. Ia membuka kunci dan membuka pintu lebar-lebar.

"Tolong! Siapa aja tolong pencet lift! Riri cedera, pergelangan tangannya terkilir!" teriak Radit dengan suara parau yang sarat kepanikan dan kepedihan. 

Seluruh staf divisi sontak berdiri dari kubikel mereka. Suasana kantor mendadak gaduh. Mbak Ratih langsung berlari memencet tombol lift berkali-kali, sementara staf lainnya memandang dengan napas tertahan dan pandangan iri.

“Pak Radit panik banget, ya ampun…”

“Sayang banget dia sama Mbak Riri, beruntung banget punya cowok kayak gitu.”

Begitu mereka tiba di basement parkiran, Radit mendudukkan Riri di kursi penumpang mobilnya. Ia pun masuk ke kursi kemudi, menyalakan mesin, lalu menoleh ke arah Riri yang masih meringis mendekap tangannya yang bengkak.

"Nanti di rumah sakit, bilang ke dokter kalau kamu kesandung dan jatuh. Kalau sampai aku dengar ada gosip aneh-aneh di kantor soal kejadian ini..." Radit menyeringai tipis, lalu menepuk pipi Riri dua kali dengan nada dingin. "...siap-siap kamu, Gantari."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Teman Ranjang   Rencana demi Rencana

    Riri mematung, ia meremas rok kerjanya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Paspor fisiknya kini ditahan. Tanpa paspor itu, pengurusan visa pelajarnya akan tertunda dan terancam gagal. "Iya, Mas. Aku ngerti," bisik Riri pelan, memaksakan diri agar suaranya tidak bergetar. "Pintar," puji Radit puas, menepuk pipi Riri dua kali. "Makan yang banyak. Badan kamu harus fit…seperti tadi malam," kekeh Radit yang membuat dahi perempuan itu berkeringat. Satu jam kemudian, mereka kembali ke ruang divisi asset management. Begitu Radit melangkah masuk ke ruangannya, Riri berdalih hendak ke toilet. Tapi, ia langsung berbelok menuju tangga darurat. Gantari Kirana: Nu, tangga darurat, sekarang! Perempuan itu meremas ponsel dan dompet yang pegangnya. Tidak lama, pintu tangga darurat terbuka dan Danu muncul dengan wajah yang tidak seperti biasanya. "Kamu kenapa? Radit ngapain lagi?" todong Danu langsung. "Mas Radit... dia pegang paspor aku, Nu," suara Riri bergetar. "Dia minta I

  • Teman Ranjang   Passport yang Tertahan

    Riri mematikan sambungan. Segera ia mengirimkan lokasi dan beberapa foto sekitar. Perempuan itu berusaha bersembunyi di balik pohon besar, takut Radit mencari dan menariknya paksa kembali ke mobil.Lima menit berlalu, sebuah motor tampak melaju pelan. “Danu!” Teriak perempuan itu. Pengendara motor itu menoleh dan membuka kaca visor. Riri segera berlari dari persembunyiannya, menuju Danu yang langsung memberikannya helm cadangan yang ia kenakan sebelumnya.“Malam ini kamu ikut aku ke apartemen,” ucapnya datar. Riri diam tidak membantah, mengikuti kemanapun kekasih rahasianya itu membawanya.Danu memapah Riri yang masih gemetar dari parkiran motor hingga kamarnya. “Aku mau ke kamar mandi dulu, makasih ya, Nu.”Sebelum mencuci wajahnya, Riri menatap pantulan wajahnya di cermin.‘Kamu kuat, kamu hebat, kamu bisa lepas dari Radit. Tapi aku capek,’ Air mata menggenang di pelupuk mata perempuan itu. Ia buru-buru menghapus air mata dan mencuci wajahnya. Sekali lagi ia menatap pantulan waja

  • Teman Ranjang   Hukuman Riri

    Wajah perempuan itu berubah panik. Ia melihat jam terkirimnya pesan oleh Radit, 18.45 dan langsung melihat jam di ponselnya, 20.10. Buru-buru ia membalas pesan dari kekasihnya itu. Gantari : ‘Aku tunggu kamu, udah di mana Mas?’ Raditya : ‘Paling cepet setengah jam lagi sampe.’ “Ck, Danu!” Teriak Riri segera berlari ke arah pantry menyusul Danu. “Mas Radit pulang malam ini, setengah jam lagi dia sampe kostan aku. Aku balik sekarang, ya.” “Shit, anjritlah! Gue anter pake motor biar cepet. Lo langsung turun tunggu di depan apartemen.” Pria yang sedang menyiapkan makan malam itu, menghentikan kegiatannya. Ia langsung mencari kunci motor dan helm tambahan. Sedangkan Riri, ia sudah berdiri menunggu lift terbuka. ia pun masuk dan memencet tombol G dengan tergesa-gesa. Setelah pintu liftnya kembali terbuka, Riri berlari ke depan jalan raya utama. Danu, sudah menunggunya dan menyodorkan helm tambahan untuk Riri. “Peluk pinggang aku. Kita ngebut malam ini.” Tidak sampai 20 menit pria i

  • Teman Ranjang   Kepulangan Mendadak

    Mbak Ratih berjalan menuju kubikel Riri. Matanya terpusat pada layar komputer milik perempuan yang sedang duduk gelisah did bangkunya.“Kamu mau lanjut S2? Kamukan udah mau nikah, Ri?!” Suara melengking Mbak Ratih terdengar di seluruh sudut ruangan asset management. Riri masih terdiam. ia terus memutar otak mencari alasan yang masuk akal.‘Kalau aku bilang cuma iseng-iseng, dia bakalan laporan ke Mas Radit,’ batin Riri.“Aku minta tolong Mbak Riri, Mbak,” suara Alea terdengar dari kubikel sebelah. Wanita paruh baya itu menoleh, menatap Alea yang duduk santai di kursinya.“Kamu kan masih nyusun skripsi? Ngapain cari S2?” “Ya abis wisuda aku mau lanjut S2 emang nggak boleh?” balas Alea tidak mau kalah. Mbak Ratih mendengus kesal.“Cari sendiri makanya! Jangan nyusahin orang!” seru Mbak Ratih kesal. “Kamu juga, Ri. Nggak usah aneh-aneh! Inget calon suami kamu tuh Mas Radit! Banyak banget yang ngantri jadi istri dia!” Wanita paruh baya itu pun berjalan menuju kubikelnya sendiri. Riri h

  • Teman Ranjang   Ketahuan?

    Sekembalinya dari makan siang, Danu menyentuh bahu Riri pelan, kode mengajaknya untuk ke tetangga darurat. Perempuan itu mengangguk dan memanggil Alea yang berjalan beberapa langkah di depannya.“Le, aku ke toilet duu, ya!”“Oke, Mbak!” serua Allea sambil membalikkan badan sambil mengacungkan jempol dan kembali berjalan menuju ruangan asset management.Kedua pasangan backstreet itupun dengan santai berjalan menuju tangga darurat, wilayah teraman mereka untuk mengobrol.“Mau?” tanya Danu menawarkan rokok setelah pintu tertutup rapat.“Nggak, Nu. Thanks.”“Lagi seneng ya?” tanya pria itu jahil yang disambut tawa ringan perempuan yang duduk di sampingnya. “Kalau boleh tahu, yang jadi trigger kecelakaan kemarin apa?”Riri menoleh menatap wajah pria di sampingnya.“Gara-gara kau bales WA di grup.”“Hah? Grup kantor?” Danu menghembuskan asap rokoknya ke udara. “Okay, karena yang kita omongin itu fake caleg saleh, aku nggak heran. Tapi, please kamu harus lebih hati-hati,” pria itu mengelus t

  • Teman Ranjang   Celah Radit

    “Mbak Ratih lagi khusyuk ngegosip di pantry, lift barang kosong, sekarang atau kita nggak makan-makan di kubikel!” seru Alea setengah berbisik. Gadis magang itu langsung menginformasikan posisi mata-mata Radit di kantor. Selama Radit dinas ke Bandung, Mbak Ratih bertugas melaporkan semua kegiatan Riri selama di kantor. Tentu saja semua itu demi keamanan dan kenyamanan posisinya di divisi aset manajemen yang dipimpin Radit.Riri mengelus pergelangan tangan kirinya yang masih terbalut perban elastis. Perempuan itu masih khawatir dengan CCTV berjalan itu.“Ayo, Mbak! Nanti keburu Mbak Ratih selesai nyeduh kopi jahenya,” desak Alea pelan sambil menarik ujung blazer Riri.Perempuan itu segera bangkit dan buru-buru merapikan pakaiannya. Keduanya berbelok ke koridor yang biasa digunakan oleh office boy, memanfaatkan jalur tangga darurat lantai menuju pintu keluar darurat di dekat area parkiran mobil.Di gang samping gedung yang luput dari sorotan CCTV, mobil SUV milik Danu sudah menunggu m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status