LOGINCincin berlian mentereng yang melingkar di jari manis Riri sukses membuat semua penghuni kantor yang bergerak di bidang energi terbarukan itu menganga kagum.
“Beruntung banget ya, Mbak Riri.”
“Ih iri banget bisa dapetin Pak Radit.”
Bisik-bisik gosip antar kubikel di setiap divisi membicarakan betapa beruntungnya Ririi bisa mendapatkan Raditya Sadewa, lelaki sempurna yang tampan, baik hati dan mapan.
Beda halnya di divisi asset management, tempat Riri dan Radit bernaung, Alea yang tahu betul penderitaan Riri, hanya mengumpat kesal di balik kubikelnya.
“Heran deh orang-orang nggak tau mana yang fake dan real!”
Riri hanya tersenyum melihat gadis di sampingnya misuh-misuh. Dengan cepat ia menenangkan Alea
“Udah, Le. Diemin aja. Dulu kamu juga nggak tau kan gimana Mas Radit.”
“Cckk!” Alea mendecakkan lidahnya. Ia setuju dengan perkataan Riri. Namun, ia merasa kesal dengan kenyataan itu. “Kamu beneran nggak pa-pa, Mbak Riri? Aku khawatir sama kamu kalau sampai nikah. Takut…amit-amit…KDRT. Kamu nggak bisa lari aja gitu?” paras cantiknya berubah menjadi cemas dan khawatir, membuat hati Riri menjadi tenang dan semakin yakin Alea mau membantu misinya dan Danu.
“Aku mau minta tolong kamu, Lea.”
“Apa Mbak, apa Mbak? Ngomong aja sama aku,” jawabnya antusias.
“Tolong bantu aku ngumpulin bukti perbuatan Radit yang nggak baik ke aku atau kelakuan buruk Radit yang lain.” Riri menatap lurus-lurus, berusaha meyakinkan gadis itu agar mau membantunya.
Alea terkesiap dengan permintaan mendadak perempuan dihadapannya. Namun, matanya berubah menjadi serius.
“Pasti Mbak. Aku bakal bantuin kamu semaksimal mungkin. Kalau bisa pernikahanmu batal, Mbak.” ucap Alea dengan binar mata penuh keyakinan yang sangat menghangatkan hati Riri. Meyakinkannya kalau ia benar-benar tidak sendiri.
“Aku belum bisa cerita detailnya sama kamu sekarang. Kamu taukan ada mata-mata Mas Radit di sini?” mata Riri mendelik ke arah kubikel di samping nya. Alea yang mengerti dan tahu siapa orang yang dimaksud temannya itu mengangguk.
“Aman, Mbak. Kalau momennya udah dapet buat kita bicara berdua, Mbak Riri bisa cerita.” Gadis itu meraih tangan Riri dan menggenggamnya hangat. “Percaya sama aku, Mbak Ratih nggak akan pernah tahu tentang hal ini.” Tangan kiri Alea bergerak lurus di depan bibirnya seolah ia akan mengunci mulutnya dari orang lain.
"Ri, Makan siang yuk, Sayang?"
Radit sudah berdiri di depan kubikel kerja Riri dengan senyuman lembutnya. Riri sedikit terkejut dengan kehadiran Radit yang senyap dan tiba-tiba.
‘Dia denger omongan aku sama Alea nggak, ya?’ batin perempuan itu khawatir. Ia takut Alea akan dipersulit oleh pria itu.
"Mas Radit? Kaget aku, Mas. Abis dengerin Alea curhat soal kucingnya yang sakit di rumah udah dua hari. Sedih dia, Mas," ujar Riri bersikap biasa sekaligus mencari tahu apa Radit sempat mencuri dengar obrolan mereka.
Alea melirik sekilas ke arah Riri, “Iya Mas Radit. Who knows Mbak Riri punya rekomendasi klinik hewan,” ucapnya dengan nada sedih yang dibuat-buat, ikut permainan Riri.
Radit terkekeh pelan.”Cepet sembuh kucingnya, ya. Nanti aku bantuin tanya-tanya kenalanku,” jawab Radit ringan.
‘Aman,’ ucap Riri dalam hati merasa lega rencananya tidak sampai bocor ke pria itu.
"Alea, saya pinjem Mbak Ririnya dulu, ya. Mau makan siang bareng. Kamu jangan lupa makan, nanti sakit lagi," ucap Radit lembut sambil mengulurkan tangan, membantu Riri berdiri.
Ia membiarkan tangan pria itu menyentuhnya. Selama banyak mata yang memperhatikan mereka dengan iri, semakin lembut pria itu akan memperlakukannya, demi menjaga citra pribadi seorang Raditya Sadewa.
“Silahkan duduk, Sayang. Aku udah pesenin Japanese food buat lunch kita hari ini.” Radit segera memamerkan lunch yang sudah ia pesan sambil menutup pintu ruangan dan menguncinya dari dalam. Ia juga menurunkan tirai sehingga ruangan kacanya tidak terlihat dari luar.
Riri terkesima dengan makan siangnya hari ini. Radit memang juara dalam memberikan love bombing yang membuat semua perempuan merasa diratukan. Ini salah satu alasan Riri menerima ajakan Radit untuk berpacaran, walaupun tanpa cinta.
"Makasih banyak ya, Mas. Repot-repot pesan dari luar," respon Riri ceria dan duduk di sofa hitam panjang. Ia meletakkan ponselnya begitu saja di atas meja tamu yang sudah terisi penuh makanan dan minuman.
“Demi calon istriku, aku bisa kasih apapun yang kamu mau. Asalkan kamu juga turuti semua ucapan aku, gampang kan Sayang?” Radit tertawa lembut. Pria itu duduk di sebelah Riri dan mendekap erat calon istrinya itu. Perempuan itu hanya tersenyum, membiarkan pipi dan bibirnya dikecup.
‘Tahan, Ri. jangan buat dia marah, jangan cari masalah,’ ucap Riri dalam hati berulang-ulang.
Sebuah notifikasi pop-up dari grup koordinasi proyek muncul di layar ponsel Riri, menampilkan nama pengirim, Danu - Kepala IT, nomor yang digunakan Danu untuk urusan kantor.
‘File backup data PLTS Jawa Barat sudah selesai di-mirror ke cloud cadangan ya, Mbak Riri.’
Wajah Radit tiba-tiba berubah kaku. Senyuman hangat yang tadi ia lontarkan sudah menghilang
"Kenapa anak IT itu ngechat kamu jam segini?" tanya Radit. Nada suaranya turun satu oktaf, dingin dan menusuk.
"Siapa, Mas? Itu grup gabungan IT sama divisi kita, Mas," ujar Gantari mencoba untuk menanggapi dengan santai, berharap kekasihnya itu bisa berpikir dengan kepala dingin.
"Kenapa Danu mention nama kamu di sana!" bentak Radit mendadak. Tangannya menggebrak meja hingga kotak sup miso bergetar dan tumpah sedikit. "Kamu pikir aku nggak tahu caramu tebar pesona ke anak IT urakan itu?!”
Riri tersentak, rasa takut bercampur muak membanjiri dadanya. "Mas, jangan gila! Itu murni pekerjaan! Kamu juga ada kok di grup itu! Kenapa kamu selalu curiga berlebihan?!"
"Kurang ajar kamu ya, berani ngatain calon suami sendiri gila?!"
Radit berdiri, wajahnya berubah merah menahan amarah. Tangannya hendak merebut ponsel Riri dari atas meja. Panik hubungan backstreetnya bisa ketahuan, perempuan itu bergerak cepat mengambil ponselnya.
Namun, Radit mendorong bahu Riri dengan kasar, sehingga tubuhnya kehilangan keseimbangan akibat dorongan dari pria itu. Ia pun terpelanting jatuh menghantam karpet tebal dengan keras.
Bruk!
Sialnya, tangan kirinya terlipat di bawah badannya sendiri, tertimpa seluruh bobot tubuhnya dengan sudut pergelangan yang tertekuk ekstrem.
"Akhhh!"
Riri memekik tertahan. Rasa ngilu yang luar biasa menusuk dari pergelangan hingga siku. Sendi pergelangan tangannya berdenyut hebat dan langsung membengkak kemerahan dalam hitungan detik.
“Mas, tolong…tanganku…” rintihnya. Wajahnya mulai berubah pucat menahan sakit.
"Ri! Astaga, Riri!" Radit berlutut panik, tangannya gemetar memegang bahu Riri dengan wajah penuh penyesalan. "Ya Tuhan, aku nggak sengaja, Ri! Maafin Mas, Ri…Aku salah. Please, jangan benci aku!"
Riri memejamkan mata menahan sakit yang luar biasa, bibirnya bergetar tanpa sanggup mengeluarkan sepatah kata pun.
Tanpa menunggu persetujuan, Radit langsung menyusupkan kedua lengannya ke bawah tubuh Riri. Ia mengangkat tubuh Riri secara bridal style ke dalam dekapannya. Ia membuka kunci dan membuka pintu lebar-lebar.
"Tolong! Siapa aja tolong pencet lift! Riri cedera, pergelangan tangannya terkilir!" teriak Radit dengan suara parau yang sarat kepanikan dan kepedihan.
Seluruh staf divisi sontak berdiri dari kubikel mereka. Suasana kantor mendadak gaduh. Mbak Ratih langsung berlari memencet tombol lift berkali-kali, sementara staf lainnya memandang dengan napas tertahan dan pandangan iri.
“Pak Radit panik banget, ya ampun…”
“Sayang banget dia sama Mbak Riri, beruntung banget punya cowok kayak gitu.”
Begitu mereka tiba di basement parkiran, Radit mendudukkan Riri di kursi penumpang mobilnya. Iapun masuk ke kursi kemudi, menyalakan mesin, lalu menoleh ke arah Riri yang masih meringis mendekap tangannya yang bengkak.
"Nanti di rumah sakit, bilang ke dokter kamu kesandung kabel dan jatuh sendiri," bisik Radit pelan. "Jangan sampai ada satu pun omongan jelek tentang aku yang keluar dari mulut kamu. Kalau sampai aku dengar ada gosip aneh-aneh di kantor soal kejadian ini..." Radit menyeringai tipis, lalu menepuk pipi Riri dua kali dengan nada dingin. "...siap-siap kamu, Gantari."
Cincin berlian mentereng yang melingkar di jari manis Riri sukses membuat semua penghuni kantor yang bergerak di bidang energi terbarukan itu menganga kagum. “Beruntung banget ya, Mbak Riri.”“Ih iri banget bisa dapetin Pak Radit.”Bisik-bisik gosip antar kubikel di setiap divisi membicarakan betapa beruntungnya Ririi bisa mendapatkan Raditya Sadewa, lelaki sempurna yang tampan, baik hati dan mapan.Beda halnya di divisi asset management, tempat Riri dan Radit bernaung, Alea yang tahu betul penderitaan Riri, hanya mengumpat kesal di balik kubikelnya. “Heran deh orang-orang nggak tau mana yang fake dan real!”Riri hanya tersenyum melihat gadis di sampingnya misuh-misuh. Dengan cepat ia menenangkan Alea “Udah, Le. Diemin aja. Dulu kamu juga nggak tau kan gimana Mas Radit.” “Cckk!” Alea mendecakkan lidahnya. Ia setuju dengan perkataan Riri. Namun, ia merasa kesal dengan kenyataan itu. “Kamu beneran nggak pa-pa, Mbak Riri? Aku khawatir sama kamu kalau sampai nikah. Takut…amit-amit…KD
“Mohon maaf Pak Radit, kita available paling cepat tiga bulan lagi sekitar bulan Februari.” Radit mengelus-elus dagunya. Dahinya mengernyit. Sepasang kekasih itu sudah berada di list terakhir venue pernikahan yang sudah Radit list sebelumnya. Namun, semua venue pilihan pria itu sudah full booked untuk tanggal yang ia mau. Venue terakhir inilah yang memiliki tanggal available yang paling cepat, itupun tiga bulan lagi. “Ya udah, Pak. Book dulu aja,” ujar Riri cepat-cepat. Ya Tuhan, semoga ini bisa jadi jalan keluar untukku, pinta Riri dalam hati. “Ya udah, Pak. Atas nama Radit. Nanti saya hubungi kembali jadi atau tidaknya. terima kasih.” Wajah pria itu terlihat tidak begitu senang. Ia menarik lengan kekasihnya untuk kembali ke parkiran. Di dalam mobil pun, Radit masih terdiam. Belum menstarter mobilnya. “Kita akad nikah di rumah aja biar cepet.” ucap Radit tanpa emosi. Riri yang terkejut memutar otak supaya Radit mau mempertimbangkan venue terakhir ini. Gantari ayo pikir! Perju
“Nak Radit? Halo?” Suara ibu terdengar kebingungan mencari orang yang menelponnya. “Assalamualaikum, Bu. Riri udah sama Mas Radit, Bu,” ujar Riri buru-buru menjawab ibunya, masih dalam posisi membekap mulut Radit. Melihat ketakutan dan kegelisahan di raut wajah kekasihnya itu, mata Radit berbinar licik. “Alhamdullillah. Nak Radit mana, Ri? Ada apa telepon Ibu?” “Nggak kok…” Riri menahan napas. Ia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya untuk menjawab pertanyaan Ibu. Kedua dadanya sudah diremas oleh Radit. Posisi Riri yang berada di atas pangkuan kekasihnya sangat menguntungkan bagi pria itu. Dengan mudahnya ia menarik tangan Riri yang menutupi mulutnya. Pria itu mendekatkan bibirnya ke telinga Riri. “Ayo coba lanjutin kalau bisa,” bisiknya. “Ri, Riri! Kalian kenapa? Kalian berantem? Kamu jangan bikin Ibu malu ya, Ri! Patuhi apa kata calon suamimu!” bentak Ibu. Radit tersenyum penuh kemenangan. Ia mulai membuka kemeja kancing Riri dan menyesap kedua dadanya bergantian. Sesekal
Isi kepala Riri mendadak kosong. Perintah gila dari pria di seberang layar itu menghantam logikanya hingga membeku."Riri! Kamu ngapain?! Nggak dengar aku?! Atau ada cowok lain di sana?!" bentakan Radit menarik paksa kesadarannya kembali."Mas, kamu bercanda, kan?" Riri menatap nanar wajah kekasihnya di layar ponsel. Di sana tidak ada kehangatan, hanya sorot mata sayu yang sudah tertutup kabut gairah. Rahang pria itu terlihat mengeras dengan urat leher yang menonjol tegang."Aku nggak mau mengulang perkataanku. Buka baju kamu, sekarang!"Tekanan suara Radit seketika memicu perkataan sakral sang ibu yang terkunci rapat di alam bawah sadarnya.Dengan tatapan kosong, Riri menarik kaus yang ia kenakan melewati kepala. Tangannya bergerak ke punggung, melepas kaitan bra dan membiarkannya turun ke kasur. Tubuh bagian atasnya kini sepenuhnya telanjang di hadapan kamera, pasrah menunggu perintah berikutnya.Pria di layar ponsel itu terkekeh puas. Terdengar bunyi gesekan resleting celana yang
Riri membiarkan ponselnya berdering begitu saja. Ia membuang pandangannya ke arah luar teras. Dering itu pun berhenti. Layar ponsel kembali hitam.“Kenapa nggak diangkat?” tanya Danu sarkas dari dalam kamar. Ia duduk di tepi ranjang sambil menyalakan sebatang rokok.Tidak lama, ponsel Riri kembali berdering, kali ini tertera IBU di layar ponselnya. Riri segera berdiri dan meraih ponselnya tersebut.“Halo, Bu…”“Riri! Kamu ngapain aja sih! Nak Radit nelpon ibu, katanya kamu nggak angkat-angkat telepon dia dari kemarin. Benar?!” terdengar suara teriakan ibunya dari ponsel.Mata Riri menatap Danu tajam. Ia masuk ke dalam kamar dan menyalakan speaker ponselnya. Perempuan itu berdiri di hadapan pria yang sedang merokok itu tanpa melepaskan pandangannya sedikitpun.“Maaf, Bu. Riri ketiduran…”“Siapa yang suruh kamu pergi sendiri!” potong Ibu masih dengan nada yang tinggi. Kali ini, Danu ikut mendengar percakapan mereka. “Ibu sudah wanti-wanti kamu untuk turuti apapun yang Nak Radit minta. K
`Aku tidak percaya, tubuhku lebih menikmati sentuhan pria lain daripada sentuhan kekasihku sendiri,’ batin Riri di bawah guyuran shower hangat yang membasahi seluruh tubuhnya. Uap panas mengepul tebal, mengaburkan cermin wastafel dan dinding kaca kamar mandi resort yang di sewa untuk beberapa waktu ke depan itu.Sudah hampir setengah jam dia berdiri mematung di sana, membiarkan aliran air membilas sisa-sisa aroma alkohol, keringat, dan jejak sentuhan semalam yang masih terasa membakar di permukaan kulitnya.`Arrghh, bisa-bisanya aku tidur sama rekan kerjaku sendiri?! Kacau kamu Gantari!` Pikirannya berputar liar, terlempar kembali pada kekacauan semalam.Riri masih mengingat lumatan bibir Danu. Rasa manis nikotin bercampur tequila dari bibir pria itu masih terasa walaupun dia sudah berkumur berkali-kali.Belum lagi sentuhan dan gerakan Danu yang seirama dengannya, membuat perempuan itu masih merasakan getaran kenikmatan pelepasannya semalam.Beda halnya saat bersama Radit, kekasihnya







