Home / Romansa / Teman Ranjang / Rahasia Kita

Share

Teman Ranjang
Teman Ranjang
Author: Amila FM

Rahasia Kita

Author: Amila FM
last update publish date: 2026-09-15 23:02:17

`Aku tidak percaya, tubuhku lebih menikmati sentuhan pria lain daripada sentuhan kekasihku sendiri,’ batin Riri di bawah guyuran shower hangat yang membasahi seluruh tubuhnya. 

Uap panas mengepul tebal, mengaburkan cermin wastafel dan dinding kaca kamar mandi resort yang di sewa untuk beberapa waktu ke depan itu.

Sudah hampir setengah jam dia berdiri mematung di sana, membiarkan aliran air membilas sisa-sisa aroma alkohol, keringat, dan jejak sentuhan semalam yang masih terasa membakar di permukaan kulitnya.

`Arrghh, bisa-bisanya aku tidur sama rekan kerjaku sendiri?! Kacau kamu Gantari!` Pikirannya berputar liar, terlempar kembali pada kekacauan semalam.

Riri masih mengingat lumatan bibir Danu. Rasa manis nikotin bercampur tequila dari bibir pria itu masih terasa walaupun dia sudah berkumur berkali-kali.

Belum lagi sentuhan dan gerakan Danu yang seirama dengannya, membuat perempuan itu masih merasakan getaran kenikmatan pelepasannya semalam.

Beda halnya saat bersama Radit, kekasihnya. Hanya ada rasa sakit yang menusuk di sekujur tubuh perempuan itu, terutama di bagian sensitif dan hatinya yang selalu terasa hampa.

“Ri, kamu baik-baik aja? Lama banget mandinya,” suara Danu menarik kembali kesadaran Riri ke dunia nyata.

Ia buru-buru menyelesaikan mandinya, sebelum menarik handuk yang terlipat rapi di salah satu sisi ruangan, dan mengenakan pakaian yang sengaja ia bawa masuk ke dalam kamar mandi tadi.

Ketika dia melangkah keluar dengan kaus dusty pink oversizednya, Danu tengah duduk santai bertelanjang dada di teras kamar. Tak lupa dia menjangkau ponselnya sebelum bergabung dengan pria itu.

Di samping Danu, laptop terbuka di atas meja kecil bersanding dengan secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan uap-uap hangat beraroma samar.

Riri menghembuskan napas pelan. Entah kenapa, melihat Danu bersikap setenang itu justru membuat pikirannya semakin kacau.

“Udah mandinya? Sarapan dulu. Udah aku pesenin,” ucap Danu tanpa menatapnya, sambil tetap menatap layar laptop.

Riri hanya mengangguk kecil dan duduk di sisinya. Namun, bukannya menyentuh makanan yang sudah tersaji di meja, pandangannya justru tertuju pada wajah Danu.

Ada sesuatu yang harus mereka bicarakan. Sesuatu yang sejak tadi berusaha ia hindari.

“Nu...” panggil Riri akhirnya. Jarinya meremas lengan kursi rotan yang dia duduki. “Kita harus ngomong deh.”

Tanpa banyak menunda, Danu menghentikan gerakan jarinya di atas keyboard lalu menutup laptop tersebut sebelum memutar tubuh menghadap Riri.

“Ri, ini salahku,” katanya serius. To the point. “Kejadian semalam itu murni karena aku nggak bisa kontrol diriku sendiri.”

Riri terdiam sejenak. Ia bahkan menelan ludah sebelum menggeleng.

“Nggak, Nu. Bukan masalah itu…” perempuan itu menunduk dan menggigit bibir bawahnya sejenak. “Tolong rahasiain dari Mas Radit.”

Begitu nama itu disebut, alis Danu langsung mengerut.

 Mereka bertiga bekerja di kantor yang sama. Kalau masalah semalam sampai diketahui Radit, bukan hanya hubungan pribadi mereka yang akan berantakan. Pekerjaan pun bisa ikut terseret.

“Enggak,” jawab Danu tegas. “Itu biar jadi urusanku sama Radit. Kamu nggak usah pikirin itu.”

“Maksud kamu apa?” Jantung Riri seketika terasa jatuh ke lututnya. Danu bersandar pada kursi dengan tatapan yang tidak sedikit pun bergeser dari Riri.

“Ri, aku nggak mau dianggap nggak bertanggung jawab.”

Tubuh Riri mendadak menegang. Untuk sesaat, pikirannya seperti berhenti bekerja.

Bayangan wajah Radit ketika mengetahui semua langsung melintas di kepalanya. Kemudian bayangan kantor mereka. Tatapan rekan-rekan kerja. Bisik-bisik. Pertengkaran yang mungkin terjadi. Belum lagi respon keluarga.

`Tidak. Tidak boleh sampai sejauh itu,` ucap Riri dalam hati. “Jangan!” Riri berseru panik. Ia bahkan sampai bangkit setengah berdiri sebelum buru-buru kembali duduk. 

“Kita udah tidur bareng. Kamu masih mau balik ke pacarmu seolah nggak terjadi apa-apa?”

Mendengar itu entah kenapa emosi Riri langsung tersulut.

“Danu, yang semalam antara kita itu kesalahan!” suara Riri meninggi. Ia mengatupkan rahangnya rapat-rapat, mencoba agar tidak terlalu meledak.

“Yang mana yang kesalahan, Ri?” tanya Danu dengan suara yang mulai meninggi. “Ciuman kita? Desahanmu? Kasih tahu!”

Riri hanya memandang lurus-lurus ke arah pria yang baru saja membentaknya.

Danu berdiri dari kursinya, dan berjalan tepat ke hadapan sahabatnya itu. “Ri, aku laki-laki yang punya prinsip.” Suaranya terdengar jauh lebih tenang, tetapi justru semakin tegas. “Sekali aku sama seorang perempuan, aku harus seriusin dia.”

Riri mencari kebohongan di balik mata yang menatapnya. Tidak mungkin yang semalam adalah pengalaman pertama pria itu.

“Gila, kamu?” Ia menggeleng cepat. “Aku udah mau nikah, Danu!”

“Aku tahu, dan justru karena pernikahan itu belum terjadi, kita harus jujur.”  

Perkataan Danu menohok ulu hati Riri. Tidak ada yang salah dari ucapan pria itu. Yang salah adalah kebebalan perempuan yang berdiri dihadapannya.

“Kalau kamu benar-benar cinta sama Radit, kamu nggak akan kabur ke sini.” Danu menatap wajah perempuan di hadapannya sebelum melanjutkan kembali ucapannya. “Kamu menikmati apa yang udah kita lakukan semalam kan? Sampai kapan kamu mau menolak fakta itu?”

Riri terdiam tidak mampu membalas. Ucapan Danu barusan menusuk tepat ke bagian yang paling ingin ia sembunyikan.

"Cukup, Nu. Tolong hargai keputusan aku,” perempuan itu berdiri, berhadapan dengannya. 

“Silahkan kalau kamu mau begitu. Aku nggak tertarik.”

“Nu…” ucapan Riri terpotong karena bunyi ponselnya. Mereka berdua refleks menunduk. Membaca tulisan di layar ponsel milik Riri.

MAS RADIT.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Teman Ranjang   Rencana demi Rencana

    Riri mematung, ia meremas rok kerjanya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Paspor fisiknya kini ditahan. Tanpa paspor itu, pengurusan visa pelajarnya akan tertunda dan terancam gagal. "Iya, Mas. Aku ngerti," bisik Riri pelan, memaksakan diri agar suaranya tidak bergetar. "Pintar," puji Radit puas, menepuk pipi Riri dua kali. "Makan yang banyak. Badan kamu harus fit…seperti tadi malam," kekeh Radit yang membuat dahi perempuan itu berkeringat. Satu jam kemudian, mereka kembali ke ruang divisi asset management. Begitu Radit melangkah masuk ke ruangannya, Riri berdalih hendak ke toilet. Tapi, ia langsung berbelok menuju tangga darurat. Gantari Kirana: Nu, tangga darurat, sekarang! Perempuan itu meremas ponsel dan dompet yang pegangnya. Tidak lama, pintu tangga darurat terbuka dan Danu muncul dengan wajah yang tidak seperti biasanya. "Kamu kenapa? Radit ngapain lagi?" todong Danu langsung. "Mas Radit... dia pegang paspor aku, Nu," suara Riri bergetar. "Dia minta I

  • Teman Ranjang   Passport yang Tertahan

    Riri mematikan sambungan. Segera ia mengirimkan lokasi dan beberapa foto sekitar. Perempuan itu berusaha bersembunyi di balik pohon besar, takut Radit mencari dan menariknya paksa kembali ke mobil.Lima menit berlalu, sebuah motor tampak melaju pelan. “Danu!” Teriak perempuan itu. Pengendara motor itu menoleh dan membuka kaca visor. Riri segera berlari dari persembunyiannya, menuju Danu yang langsung memberikannya helm cadangan yang ia kenakan sebelumnya.“Malam ini kamu ikut aku ke apartemen,” ucapnya datar. Riri diam tidak membantah, mengikuti kemanapun kekasih rahasianya itu membawanya.Danu memapah Riri yang masih gemetar dari parkiran motor hingga kamarnya. “Aku mau ke kamar mandi dulu, makasih ya, Nu.”Sebelum mencuci wajahnya, Riri menatap pantulan wajahnya di cermin.‘Kamu kuat, kamu hebat, kamu bisa lepas dari Radit. Tapi aku capek,’ Air mata menggenang di pelupuk mata perempuan itu. Ia buru-buru menghapus air mata dan mencuci wajahnya. Sekali lagi ia menatap pantulan waja

  • Teman Ranjang   Hukuman Riri

    Wajah perempuan itu berubah panik. Ia melihat jam terkirimnya pesan oleh Radit, 18.45 dan langsung melihat jam di ponselnya, 20.10. Buru-buru ia membalas pesan dari kekasihnya itu. Gantari : ‘Aku tunggu kamu, udah di mana Mas?’ Raditya : ‘Paling cepet setengah jam lagi sampe.’ “Ck, Danu!” Teriak Riri segera berlari ke arah pantry menyusul Danu. “Mas Radit pulang malam ini, setengah jam lagi dia sampe kostan aku. Aku balik sekarang, ya.” “Shit, anjritlah! Gue anter pake motor biar cepet. Lo langsung turun tunggu di depan apartemen.” Pria yang sedang menyiapkan makan malam itu, menghentikan kegiatannya. Ia langsung mencari kunci motor dan helm tambahan. Sedangkan Riri, ia sudah berdiri menunggu lift terbuka. ia pun masuk dan memencet tombol G dengan tergesa-gesa. Setelah pintu liftnya kembali terbuka, Riri berlari ke depan jalan raya utama. Danu, sudah menunggunya dan menyodorkan helm tambahan untuk Riri. “Peluk pinggang aku. Kita ngebut malam ini.” Tidak sampai 20 menit pria i

  • Teman Ranjang   Kepulangan Mendadak

    Mbak Ratih berjalan menuju kubikel Riri. Matanya terpusat pada layar komputer milik perempuan yang sedang duduk gelisah did bangkunya.“Kamu mau lanjut S2? Kamukan udah mau nikah, Ri?!” Suara melengking Mbak Ratih terdengar di seluruh sudut ruangan asset management. Riri masih terdiam. ia terus memutar otak mencari alasan yang masuk akal.‘Kalau aku bilang cuma iseng-iseng, dia bakalan laporan ke Mas Radit,’ batin Riri.“Aku minta tolong Mbak Riri, Mbak,” suara Alea terdengar dari kubikel sebelah. Wanita paruh baya itu menoleh, menatap Alea yang duduk santai di kursinya.“Kamu kan masih nyusun skripsi? Ngapain cari S2?” “Ya abis wisuda aku mau lanjut S2 emang nggak boleh?” balas Alea tidak mau kalah. Mbak Ratih mendengus kesal.“Cari sendiri makanya! Jangan nyusahin orang!” seru Mbak Ratih kesal. “Kamu juga, Ri. Nggak usah aneh-aneh! Inget calon suami kamu tuh Mas Radit! Banyak banget yang ngantri jadi istri dia!” Wanita paruh baya itu pun berjalan menuju kubikelnya sendiri. Riri h

  • Teman Ranjang   Ketahuan?

    Sekembalinya dari makan siang, Danu menyentuh bahu Riri pelan, kode mengajaknya untuk ke tetangga darurat. Perempuan itu mengangguk dan memanggil Alea yang berjalan beberapa langkah di depannya.“Le, aku ke toilet duu, ya!”“Oke, Mbak!” serua Allea sambil membalikkan badan sambil mengacungkan jempol dan kembali berjalan menuju ruangan asset management.Kedua pasangan backstreet itupun dengan santai berjalan menuju tangga darurat, wilayah teraman mereka untuk mengobrol.“Mau?” tanya Danu menawarkan rokok setelah pintu tertutup rapat.“Nggak, Nu. Thanks.”“Lagi seneng ya?” tanya pria itu jahil yang disambut tawa ringan perempuan yang duduk di sampingnya. “Kalau boleh tahu, yang jadi trigger kecelakaan kemarin apa?”Riri menoleh menatap wajah pria di sampingnya.“Gara-gara kau bales WA di grup.”“Hah? Grup kantor?” Danu menghembuskan asap rokoknya ke udara. “Okay, karena yang kita omongin itu fake caleg saleh, aku nggak heran. Tapi, please kamu harus lebih hati-hati,” pria itu mengelus t

  • Teman Ranjang   Celah Radit

    “Mbak Ratih lagi khusyuk ngegosip di pantry, lift barang kosong, sekarang atau kita nggak makan-makan di kubikel!” seru Alea setengah berbisik. Gadis magang itu langsung menginformasikan posisi mata-mata Radit di kantor. Selama Radit dinas ke Bandung, Mbak Ratih bertugas melaporkan semua kegiatan Riri selama di kantor. Tentu saja semua itu demi keamanan dan kenyamanan posisinya di divisi aset manajemen yang dipimpin Radit.Riri mengelus pergelangan tangan kirinya yang masih terbalut perban elastis. Perempuan itu masih khawatir dengan CCTV berjalan itu.“Ayo, Mbak! Nanti keburu Mbak Ratih selesai nyeduh kopi jahenya,” desak Alea pelan sambil menarik ujung blazer Riri.Perempuan itu segera bangkit dan buru-buru merapikan pakaiannya. Keduanya berbelok ke koridor yang biasa digunakan oleh office boy, memanfaatkan jalur tangga darurat lantai menuju pintu keluar darurat di dekat area parkiran mobil.Di gang samping gedung yang luput dari sorotan CCTV, mobil SUV milik Danu sudah menunggu m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status