LOGINRiri membiarkan ponselnya berdering begitu saja. Ia membuang pandangannya ke arah luar teras. Dering itu pun berhenti. Layar ponsel kembali hitam.
“Kenapa nggak diangkat?” tanya Danu sarkas dari dalam kamar. Ia duduk di tepi ranjang sambil menyalakan sebatang rokok.
Tidak lama, ponsel Riri kembali berdering, kali ini tertera IBU di layar ponselnya. Riri segera berdiri dan meraih ponselnya tersebut.
“Halo, Bu…”
“Riri! Kamu ngapain aja sih! Nak Radit nelpon ibu, katanya kamu nggak angkat-angkat telepon dia dari kemarin. Benar?!” terdengar suara teriakan ibunya dari ponsel.
Mata Riri menatap Danu tajam. Ia masuk ke dalam kamar dan menyalakan speaker ponselnya. Perempuan itu berdiri di hadapan pria yang sedang merokok itu tanpa melepaskan pandangannya sedikitpun.
“Maaf, Bu. Riri ketiduran…”
“Siapa yang suruh kamu pergi sendiri!” potong Ibu masih dengan nada yang tinggi. Kali ini, Danu ikut mendengar percakapan mereka. “Ibu sudah wanti-wanti kamu untuk turuti apapun yang Nak Radit minta. Kemana lagi kamu bisa dapatkan lelaki mapan dan soleh seperti Nak Radit!” lama-lama suara Ibu makin meninggi melepaskan amarahnya.
“Iya, Bu. Maaf.”
“Ibu udah buat keputusan. Ibu akan telpon Nak Radit hari ini juga. Ibu mau kalian melakukan akad nikah sesegera mungkin supaya kamu nggak kabur kemana-mana!”
Hubungan telepon antara anak dan ibu itu pun terputus. Riri mematikan ponselnya dan melemparnya ke atas kasur. Ia merebahkan tubuhnya di samping Danu. Matanya terpejam.
“Denger sendirikan gimana Ibuku ngebelain, Mas Radit? Dan sekarang dia maunya kami cepat menikah.”
“Pulang dari sini aku bakal temuin Ibu kamu.” ujar Danu datar.
“Sanggup kamu ngalahin citra Mas Radit di depan Ibu?” Tanya Riri tajam langsung menyerang kelemahan Danu. Ia membuka matanya dan melirik pria itu.
Danu terpaku. Tangannya yang memegang batang rokok terhenti di udara. Pandangannya beralih pada perempuan yang sudah menatapnya tajam.
“Itu urusanku,” jawabnya singkat. Danu kembali duduk menghadap teras dan menghisap rokoknya yang sempat tertunda.
“Jadi urusan aku juga kalau taruhannya itu aku.” Riri menegakkan tubuhnya, menoleh menatap pria di sampingnya. Danu tidak bisa membalas apapun. Tapi pria itu terlihat sedang memikirkan sesuatu yang entah apa.
“Kita cari caranya sambil jalan-jalan. Lagian kamu ke sini mau refreshing kan? Sorry, aku udah ngerusak planningmu.”
Danu berdiri dan menjulurkan tangannya pada Riri. Kali ini senyum tulus terukir di wajah perempuan itu. Riri meraih tangan Danu dan berdiri di sampingnya, berjalan berdua keluar dari kamar mereka.
***
"Cantik banget..." gumam Riri takjub, melepas helmnya dan membiarkan rambutnya berkibar tertiup angin laut.
"Aku bilang juga apa? Percaya sama aku!"
Mereka berdua duduk di pinggiran warung lokal dekat tebing. Pemandangan indah Pantai Atuh sedikit menenangkan emosi dan pikiran mereka.
“Sejak kapan kamu jatuh cinta sama aku, Nu?” Tanya Riri to the point. Ia meneguk sekaleng bir dingin yang Danu berikan padanya.
“Sejak jadi oksigen buat kamu. Dari situ aku sadar, Radit nggak layak buat dapetin kamu.” jawab pria itu santai sambil menghembuskan asap rokok ke udara.
Riri mengambil sebatang rokok milik Danu. Ikut membakar batang nikotin tersebut.
“Sekarang bukan masalah ngomong ke Mas Radit atau ngomong ke Ibuku,” Riri menghisap dalam-dalam rokok di tangannya. “Gimana caranya kita bisa nunda pernikahanku dan ngumpulin bukti perlakuan Mas Radit ke aku supaya Ibu percaya.”
“Kamu nggak usah khawatir, Ri. Kita cari jalannya sama-sama. Maaf, aku terlalu maksa tadi.”
Danu menarik tubuh Riri ke dalam pelukannya, mengelus lembut kepala perempuan itu. Menikmati momen damai berdua untuk saat ini.
Menjelang matahari terbenam, mereka sampai di area lobi resort dengan kulit yang memerah terpapar matahari. Danu tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Bentar ya, Ri," Danu berjalan menuju meja resepsionis.
Riri berdiri mematung di dekat pintu masuk lobi. Beberapa menit kemudian, Danu kembali dengan senyuman puas, mengacungkan sebuah kartu kunci kamar baru berlogo resort.
"Nih, smoking room, kasur sendiri, teras sendiri. Malam ini kamu bisa istirahat tenang tanpa takut aku ganggu lagi."
Riri tertegun menatap kartu kunci di tangan Danu.
"Thanks, Nu," bisik Riri tulus, menerima kartu kunci kamar barunya.
"Istirahat sana, mandi air anget biar pegelnya ilang. Aku udah minta tolong bellboy buat mindahin barang kamu," kata Danu santai dan melenggang santai menuju kamar lama yang kini menjadi kamarnya.
Riri melangkah menuju kamar barunya di ujung lorong. Suasana kamar itu tenang, berbau aromaterapi kayu cendana yang membuat rileks.
Perempuan itu meletakkan tas selempangnya di atas meja rias, lalu menyalakan kembali ponselnya yang seharian tadi sengaja ia matikan. Begitu sinyal tersambung, ponsel di genggamannya bergetar tanpa henti seperti mau meledak.
Bzzzz... Bzzzz... Bzzzz…
Layar ponselnya dibanjiri oleh 34 Missed Calls dan puluhan pesan teks yang berjejer mengerikan. Semuanya dari satu nama, Mas Radit.
Belum sempat Riri membaca pesan, layar ponselnya mendadak berubah menampilkan panggilan video masuk. Nama MAS RADIT berkedip-kedip di tengah layar.
Ia menarik napas dalam-dalam sebelum menekan tombol hijau dan mengarahkan kamera depan ponsel ke wajahnya.
"Bagus. Akhirnya kamu ingat punya calon suami, Gantari," suara Radit terdengar sangat pelan, nada bicaranya sangat mengintimidasi hingga bulu kuduk Riri meremang.
Pria itu duduk di dalam kabin mobil MG Cyberstar hitamnya yang remang-remang, masih mengenakan kemeja kerja. Tiga kancing kemeja teratasnya sudah terbuka, memperlihatkan sebagian dada bidangnya.
"Mas... maaf, tadi sinyal di tebing susah banget…"
"Kunci semua pintu, tutup semua gorden, Gantari," potong Radit tajam. "Buka baju kamu di depan kamera. Sekarang!"
Cincin berlian mentereng yang melingkar di jari manis Riri sukses membuat semua penghuni kantor yang bergerak di bidang energi terbarukan itu menganga kagum. “Beruntung banget ya, Mbak Riri.”“Ih iri banget bisa dapetin Pak Radit.”Bisik-bisik gosip antar kubikel di setiap divisi membicarakan betapa beruntungnya Ririi bisa mendapatkan Raditya Sadewa, lelaki sempurna yang tampan, baik hati dan mapan.Beda halnya di divisi asset management, tempat Riri dan Radit bernaung, Alea yang tahu betul penderitaan Riri, hanya mengumpat kesal di balik kubikelnya. “Heran deh orang-orang nggak tau mana yang fake dan real!”Riri hanya tersenyum melihat gadis di sampingnya misuh-misuh. Dengan cepat ia menenangkan Alea “Udah, Le. Diemin aja. Dulu kamu juga nggak tau kan gimana Mas Radit.” “Cckk!” Alea mendecakkan lidahnya. Ia setuju dengan perkataan Riri. Namun, ia merasa kesal dengan kenyataan itu. “Kamu beneran nggak pa-pa, Mbak Riri? Aku khawatir sama kamu kalau sampai nikah. Takut…amit-amit…KD
“Mohon maaf Pak Radit, kita available paling cepat tiga bulan lagi sekitar bulan Februari.” Radit mengelus-elus dagunya. Dahinya mengernyit. Sepasang kekasih itu sudah berada di list terakhir venue pernikahan yang sudah Radit list sebelumnya. Namun, semua venue pilihan pria itu sudah full booked untuk tanggal yang ia mau. Venue terakhir inilah yang memiliki tanggal available yang paling cepat, itupun tiga bulan lagi. “Ya udah, Pak. Book dulu aja,” ujar Riri cepat-cepat. Ya Tuhan, semoga ini bisa jadi jalan keluar untukku, pinta Riri dalam hati. “Ya udah, Pak. Atas nama Radit. Nanti saya hubungi kembali jadi atau tidaknya. terima kasih.” Wajah pria itu terlihat tidak begitu senang. Ia menarik lengan kekasihnya untuk kembali ke parkiran. Di dalam mobil pun, Radit masih terdiam. Belum menstarter mobilnya. “Kita akad nikah di rumah aja biar cepet.” ucap Radit tanpa emosi. Riri yang terkejut memutar otak supaya Radit mau mempertimbangkan venue terakhir ini. Gantari ayo pikir! Perju
“Nak Radit? Halo?” Suara ibu terdengar kebingungan mencari orang yang menelponnya. “Assalamualaikum, Bu. Riri udah sama Mas Radit, Bu,” ujar Riri buru-buru menjawab ibunya, masih dalam posisi membekap mulut Radit. Melihat ketakutan dan kegelisahan di raut wajah kekasihnya itu, mata Radit berbinar licik. “Alhamdullillah. Nak Radit mana, Ri? Ada apa telepon Ibu?” “Nggak kok…” Riri menahan napas. Ia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya untuk menjawab pertanyaan Ibu. Kedua dadanya sudah diremas oleh Radit. Posisi Riri yang berada di atas pangkuan kekasihnya sangat menguntungkan bagi pria itu. Dengan mudahnya ia menarik tangan Riri yang menutupi mulutnya. Pria itu mendekatkan bibirnya ke telinga Riri. “Ayo coba lanjutin kalau bisa,” bisiknya. “Ri, Riri! Kalian kenapa? Kalian berantem? Kamu jangan bikin Ibu malu ya, Ri! Patuhi apa kata calon suamimu!” bentak Ibu. Radit tersenyum penuh kemenangan. Ia mulai membuka kemeja kancing Riri dan menyesap kedua dadanya bergantian. Sesekal
Isi kepala Riri mendadak kosong. Perintah gila dari pria di seberang layar itu menghantam logikanya hingga membeku."Riri! Kamu ngapain?! Nggak dengar aku?! Atau ada cowok lain di sana?!" bentakan Radit menarik paksa kesadarannya kembali."Mas, kamu bercanda, kan?" Riri menatap nanar wajah kekasihnya di layar ponsel. Di sana tidak ada kehangatan, hanya sorot mata sayu yang sudah tertutup kabut gairah. Rahang pria itu terlihat mengeras dengan urat leher yang menonjol tegang."Aku nggak mau mengulang perkataanku. Buka baju kamu, sekarang!"Tekanan suara Radit seketika memicu perkataan sakral sang ibu yang terkunci rapat di alam bawah sadarnya.Dengan tatapan kosong, Riri menarik kaus yang ia kenakan melewati kepala. Tangannya bergerak ke punggung, melepas kaitan bra dan membiarkannya turun ke kasur. Tubuh bagian atasnya kini sepenuhnya telanjang di hadapan kamera, pasrah menunggu perintah berikutnya.Pria di layar ponsel itu terkekeh puas. Terdengar bunyi gesekan resleting celana yang
Riri membiarkan ponselnya berdering begitu saja. Ia membuang pandangannya ke arah luar teras. Dering itu pun berhenti. Layar ponsel kembali hitam.“Kenapa nggak diangkat?” tanya Danu sarkas dari dalam kamar. Ia duduk di tepi ranjang sambil menyalakan sebatang rokok.Tidak lama, ponsel Riri kembali berdering, kali ini tertera IBU di layar ponselnya. Riri segera berdiri dan meraih ponselnya tersebut.“Halo, Bu…”“Riri! Kamu ngapain aja sih! Nak Radit nelpon ibu, katanya kamu nggak angkat-angkat telepon dia dari kemarin. Benar?!” terdengar suara teriakan ibunya dari ponsel.Mata Riri menatap Danu tajam. Ia masuk ke dalam kamar dan menyalakan speaker ponselnya. Perempuan itu berdiri di hadapan pria yang sedang merokok itu tanpa melepaskan pandangannya sedikitpun.“Maaf, Bu. Riri ketiduran…”“Siapa yang suruh kamu pergi sendiri!” potong Ibu masih dengan nada yang tinggi. Kali ini, Danu ikut mendengar percakapan mereka. “Ibu sudah wanti-wanti kamu untuk turuti apapun yang Nak Radit minta. K
`Aku tidak percaya, tubuhku lebih menikmati sentuhan pria lain daripada sentuhan kekasihku sendiri,’ batin Riri di bawah guyuran shower hangat yang membasahi seluruh tubuhnya. Uap panas mengepul tebal, mengaburkan cermin wastafel dan dinding kaca kamar mandi resort yang di sewa untuk beberapa waktu ke depan itu.Sudah hampir setengah jam dia berdiri mematung di sana, membiarkan aliran air membilas sisa-sisa aroma alkohol, keringat, dan jejak sentuhan semalam yang masih terasa membakar di permukaan kulitnya.`Arrghh, bisa-bisanya aku tidur sama rekan kerjaku sendiri?! Kacau kamu Gantari!` Pikirannya berputar liar, terlempar kembali pada kekacauan semalam.Riri masih mengingat lumatan bibir Danu. Rasa manis nikotin bercampur tequila dari bibir pria itu masih terasa walaupun dia sudah berkumur berkali-kali.Belum lagi sentuhan dan gerakan Danu yang seirama dengannya, membuat perempuan itu masih merasakan getaran kenikmatan pelepasannya semalam.Beda halnya saat bersama Radit, kekasihnya







