Home / Romansa / Teman Ranjang / Momen Damai

Share

Momen Damai

Author: Amila FM
last update publish date: 2026-09-15 23:36:52

Riri membiarkan ponselnya berdering begitu saja. Ia membuang pandangannya ke arah luar teras. Dering itu pun berhenti. Layar ponsel kembali hitam.

“Kenapa nggak diangkat?” tanya Danu sarkas dari dalam kamar. Ia duduk di tepi ranjang sambil menyalakan sebatang rokok.

Tidak lama, ponsel Riri kembali berdering, kali ini tertera IBU di layar ponselnya. Riri segera berdiri dan meraih ponselnya tersebut.

“Halo, Bu…”

“Riri! Kamu ngapain aja sih! Nak Radit nelpon ibu, katanya kamu nggak angkat-angkat telepon dia dari kemarin. Benar?!” terdengar suara teriakan ibunya dari ponsel.

Mata Riri menatap Danu tajam. Ia masuk ke dalam kamar dan menyalakan speaker ponselnya. Perempuan itu berdiri di hadapan pria yang sedang merokok itu tanpa melepaskan pandangannya sedikitpun.

“Maaf, Bu. Riri ketiduran…”

“Siapa yang suruh kamu pergi sendiri!” potong Ibu masih dengan nada yang tinggi. Kali ini, Danu ikut mendengar percakapan mereka. “Ibu sudah wanti-wanti kamu untuk turuti apapun yang Nak Radit minta. Kemana lagi kamu bisa dapatkan lelaki mapan dan soleh seperti Nak Radit!” lama-lama suara Ibu makin meninggi melepaskan amarahnya.

“Iya, Bu. Maaf.”

“Ibu udah buat keputusan. Ibu akan telpon Nak Radit hari ini juga. Ibu mau kalian melakukan akad nikah sesegera mungkin supaya kamu nggak kabur kemana-mana!”

Hubungan telepon antara anak dan ibu itu pun terputus. Riri mematikan ponselnya dan melemparnya ke atas kasur. Ia merebahkan tubuhnya di samping Danu. Matanya terpejam.

“Denger sendirikan gimana Ibuku ngebelain, Mas Radit? Dan sekarang dia maunya kami cepat menikah.”

“Pulang dari sini aku bakal temuin Ibu kamu.” ujar Danu datar.

“Sanggup kamu ngalahin citra Mas Radit di depan Ibu?” Tanya Riri tajam langsung menyerang kelemahan Danu. Ia membuka matanya dan melirik pria itu.

Danu terpaku. Tangannya yang memegang batang rokok terhenti di udara. Pandangannya beralih pada perempuan yang sudah menatapnya tajam.

“Itu urusanku,” jawabnya singkat. Danu kembali duduk menghadap teras dan menghisap rokoknya yang sempat tertunda.

“Jadi urusan aku juga kalau taruhannya itu aku.” Riri menegakkan tubuhnya, menoleh menatap pria di sampingnya. Danu tidak bisa membalas apapun. Tapi pria itu terlihat sedang memikirkan sesuatu yang entah apa.

“Kita cari caranya sambil jalan-jalan. Lagian kamu ke sini mau refreshing kan? Sorry, aku udah ngerusak planningmu.”

Danu berdiri dan menjulurkan tangannya pada Riri. Kali ini senyum tulus terukir di wajah perempuan itu. Riri meraih tangan Danu dan berdiri di sampingnya, berjalan berdua keluar dari kamar mereka.

***

"Cantik banget..." gumam Riri takjub, melepas helmnya dan membiarkan rambutnya berkibar tertiup angin laut.

"Aku bilang juga apa? Percaya sama aku!"  

Mereka berdua duduk di pinggiran warung lokal dekat tebing. Pemandangan indah Pantai Atuh sedikit menenangkan emosi dan pikiran mereka.

“Sejak kapan kamu jatuh cinta sama aku, Nu?” Tanya Riri to the point. Ia meneguk sekaleng bir dingin yang Danu berikan padanya.

“Sejak jadi oksigen buat kamu. Dari situ aku sadar, Radit nggak layak buat dapetin kamu.” jawab pria itu santai sambil menghembuskan asap rokok ke udara.

Riri mengambil sebatang rokok milik Danu. Ikut membakar batang nikotin tersebut.

“Sekarang bukan masalah ngomong ke Mas Radit atau ngomong ke Ibuku,” Riri menghisap dalam-dalam rokok di tangannya. “Gimana caranya kita bisa nunda pernikahanku dan ngumpulin bukti perlakuan Mas Radit ke aku supaya Ibu percaya.”

“Kamu nggak usah khawatir, Ri. Kita cari jalannya sama-sama. Maaf, aku terlalu maksa tadi.”

Danu menarik tubuh Riri ke dalam pelukannya, mengelus lembut kepala perempuan itu. Menikmati momen damai berdua untuk saat ini.

Menjelang matahari terbenam, mereka sampai di area lobi resort dengan kulit yang memerah terpapar matahari. Danu tiba-tiba menghentikan langkahnya.

"Bentar ya, Ri," Danu berjalan menuju meja resepsionis.

Riri berdiri mematung di dekat pintu masuk lobi. Beberapa menit kemudian, Danu kembali dengan senyuman puas, mengacungkan sebuah kartu kunci kamar baru berlogo resort.

"Nih, smoking room, kasur sendiri, teras sendiri. Malam ini kamu bisa istirahat tenang tanpa takut aku ganggu lagi."

Riri tertegun menatap kartu kunci di tangan Danu. 

"Thanks, Nu," bisik Riri tulus, menerima kartu kunci kamar barunya.

"Istirahat sana, mandi air anget biar pegelnya ilang. Aku udah minta tolong bellboy buat mindahin barang kamu," kata Danu santai dan melenggang santai menuju kamar lama yang kini menjadi kamarnya.

Riri melangkah menuju kamar barunya di ujung lorong. Suasana kamar itu tenang, berbau aromaterapi kayu cendana yang membuat rileks. 

Perempuan itu meletakkan tas selempangnya di atas meja rias, lalu menyalakan kembali ponselnya yang seharian tadi sengaja ia matikan. Begitu sinyal tersambung, ponsel di genggamannya bergetar tanpa henti seperti mau meledak.

Bzzzz... Bzzzz... Bzzzz…

Layar ponselnya dibanjiri oleh 34 Missed Calls dan puluhan pesan teks yang berjejer mengerikan. Semuanya dari satu nama, Mas Radit.

Belum sempat Riri membaca pesan, layar ponselnya mendadak berubah menampilkan panggilan video masuk. Nama MAS RADIT berkedip-kedip di tengah layar.

Ia menarik napas dalam-dalam sebelum menekan tombol hijau dan mengarahkan kamera depan ponsel ke wajahnya.

"Bagus. Akhirnya kamu ingat punya calon suami, Gantari," suara Radit terdengar sangat pelan, nada bicaranya sangat mengintimidasi hingga bulu kuduk Riri meremang.

Pria itu duduk di dalam kabin mobil MG Cyberstar hitamnya yang remang-remang, masih mengenakan kemeja kerja. Tiga kancing kemeja teratasnya sudah terbuka, memperlihatkan sebagian dada bidangnya.

"Mas... maaf, tadi sinyal di tebing susah banget…"

"Kunci semua pintu, tutup semua gorden, Gantari," potong Radit tajam. "Buka baju kamu di depan kamera. Sekarang!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Teman Ranjang   Rencana demi Rencana

    Riri mematung, ia meremas rok kerjanya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Paspor fisiknya kini ditahan. Tanpa paspor itu, pengurusan visa pelajarnya akan tertunda dan terancam gagal. "Iya, Mas. Aku ngerti," bisik Riri pelan, memaksakan diri agar suaranya tidak bergetar. "Pintar," puji Radit puas, menepuk pipi Riri dua kali. "Makan yang banyak. Badan kamu harus fit…seperti tadi malam," kekeh Radit yang membuat dahi perempuan itu berkeringat. Satu jam kemudian, mereka kembali ke ruang divisi asset management. Begitu Radit melangkah masuk ke ruangannya, Riri berdalih hendak ke toilet. Tapi, ia langsung berbelok menuju tangga darurat. Gantari Kirana: Nu, tangga darurat, sekarang! Perempuan itu meremas ponsel dan dompet yang pegangnya. Tidak lama, pintu tangga darurat terbuka dan Danu muncul dengan wajah yang tidak seperti biasanya. "Kamu kenapa? Radit ngapain lagi?" todong Danu langsung. "Mas Radit... dia pegang paspor aku, Nu," suara Riri bergetar. "Dia minta I

  • Teman Ranjang   Passport yang Tertahan

    Riri mematikan sambungan. Segera ia mengirimkan lokasi dan beberapa foto sekitar. Perempuan itu berusaha bersembunyi di balik pohon besar, takut Radit mencari dan menariknya paksa kembali ke mobil.Lima menit berlalu, sebuah motor tampak melaju pelan. “Danu!” Teriak perempuan itu. Pengendara motor itu menoleh dan membuka kaca visor. Riri segera berlari dari persembunyiannya, menuju Danu yang langsung memberikannya helm cadangan yang ia kenakan sebelumnya.“Malam ini kamu ikut aku ke apartemen,” ucapnya datar. Riri diam tidak membantah, mengikuti kemanapun kekasih rahasianya itu membawanya.Danu memapah Riri yang masih gemetar dari parkiran motor hingga kamarnya. “Aku mau ke kamar mandi dulu, makasih ya, Nu.”Sebelum mencuci wajahnya, Riri menatap pantulan wajahnya di cermin.‘Kamu kuat, kamu hebat, kamu bisa lepas dari Radit. Tapi aku capek,’ Air mata menggenang di pelupuk mata perempuan itu. Ia buru-buru menghapus air mata dan mencuci wajahnya. Sekali lagi ia menatap pantulan waja

  • Teman Ranjang   Hukuman Riri

    Wajah perempuan itu berubah panik. Ia melihat jam terkirimnya pesan oleh Radit, 18.45 dan langsung melihat jam di ponselnya, 20.10. Buru-buru ia membalas pesan dari kekasihnya itu. Gantari : ‘Aku tunggu kamu, udah di mana Mas?’ Raditya : ‘Paling cepet setengah jam lagi sampe.’ “Ck, Danu!” Teriak Riri segera berlari ke arah pantry menyusul Danu. “Mas Radit pulang malam ini, setengah jam lagi dia sampe kostan aku. Aku balik sekarang, ya.” “Shit, anjritlah! Gue anter pake motor biar cepet. Lo langsung turun tunggu di depan apartemen.” Pria yang sedang menyiapkan makan malam itu, menghentikan kegiatannya. Ia langsung mencari kunci motor dan helm tambahan. Sedangkan Riri, ia sudah berdiri menunggu lift terbuka. ia pun masuk dan memencet tombol G dengan tergesa-gesa. Setelah pintu liftnya kembali terbuka, Riri berlari ke depan jalan raya utama. Danu, sudah menunggunya dan menyodorkan helm tambahan untuk Riri. “Peluk pinggang aku. Kita ngebut malam ini.” Tidak sampai 20 menit pria i

  • Teman Ranjang   Kepulangan Mendadak

    Mbak Ratih berjalan menuju kubikel Riri. Matanya terpusat pada layar komputer milik perempuan yang sedang duduk gelisah did bangkunya.“Kamu mau lanjut S2? Kamukan udah mau nikah, Ri?!” Suara melengking Mbak Ratih terdengar di seluruh sudut ruangan asset management. Riri masih terdiam. ia terus memutar otak mencari alasan yang masuk akal.‘Kalau aku bilang cuma iseng-iseng, dia bakalan laporan ke Mas Radit,’ batin Riri.“Aku minta tolong Mbak Riri, Mbak,” suara Alea terdengar dari kubikel sebelah. Wanita paruh baya itu menoleh, menatap Alea yang duduk santai di kursinya.“Kamu kan masih nyusun skripsi? Ngapain cari S2?” “Ya abis wisuda aku mau lanjut S2 emang nggak boleh?” balas Alea tidak mau kalah. Mbak Ratih mendengus kesal.“Cari sendiri makanya! Jangan nyusahin orang!” seru Mbak Ratih kesal. “Kamu juga, Ri. Nggak usah aneh-aneh! Inget calon suami kamu tuh Mas Radit! Banyak banget yang ngantri jadi istri dia!” Wanita paruh baya itu pun berjalan menuju kubikelnya sendiri. Riri h

  • Teman Ranjang   Ketahuan?

    Sekembalinya dari makan siang, Danu menyentuh bahu Riri pelan, kode mengajaknya untuk ke tetangga darurat. Perempuan itu mengangguk dan memanggil Alea yang berjalan beberapa langkah di depannya.“Le, aku ke toilet duu, ya!”“Oke, Mbak!” serua Allea sambil membalikkan badan sambil mengacungkan jempol dan kembali berjalan menuju ruangan asset management.Kedua pasangan backstreet itupun dengan santai berjalan menuju tangga darurat, wilayah teraman mereka untuk mengobrol.“Mau?” tanya Danu menawarkan rokok setelah pintu tertutup rapat.“Nggak, Nu. Thanks.”“Lagi seneng ya?” tanya pria itu jahil yang disambut tawa ringan perempuan yang duduk di sampingnya. “Kalau boleh tahu, yang jadi trigger kecelakaan kemarin apa?”Riri menoleh menatap wajah pria di sampingnya.“Gara-gara kau bales WA di grup.”“Hah? Grup kantor?” Danu menghembuskan asap rokoknya ke udara. “Okay, karena yang kita omongin itu fake caleg saleh, aku nggak heran. Tapi, please kamu harus lebih hati-hati,” pria itu mengelus t

  • Teman Ranjang   Celah Radit

    “Mbak Ratih lagi khusyuk ngegosip di pantry, lift barang kosong, sekarang atau kita nggak makan-makan di kubikel!” seru Alea setengah berbisik. Gadis magang itu langsung menginformasikan posisi mata-mata Radit di kantor. Selama Radit dinas ke Bandung, Mbak Ratih bertugas melaporkan semua kegiatan Riri selama di kantor. Tentu saja semua itu demi keamanan dan kenyamanan posisinya di divisi aset manajemen yang dipimpin Radit.Riri mengelus pergelangan tangan kirinya yang masih terbalut perban elastis. Perempuan itu masih khawatir dengan CCTV berjalan itu.“Ayo, Mbak! Nanti keburu Mbak Ratih selesai nyeduh kopi jahenya,” desak Alea pelan sambil menarik ujung blazer Riri.Perempuan itu segera bangkit dan buru-buru merapikan pakaiannya. Keduanya berbelok ke koridor yang biasa digunakan oleh office boy, memanfaatkan jalur tangga darurat lantai menuju pintu keluar darurat di dekat area parkiran mobil.Di gang samping gedung yang luput dari sorotan CCTV, mobil SUV milik Danu sudah menunggu m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status