Share

Bab 260

Author: Hisa NK
last update publish date: 2026-10-13 18:26:53

Di dalam ruang kerja utamanya yang luas, Satria Wisesa sedang meneliti laporan akhir yang diserahkan oleh Ratu Pramudya dan Vanya Cedric di atas meja kayu jati.

"Seluruh sisa aset Aliansi di sektor energi dan pertambangan di luar pulau sudah sepenuhnya berada di bawah kendali Himawan Group, Satria," lapor Ratu Pramudya dengan suara tegas nan profesional. "Tidak ada lagi celah hukum atau finansial yang bisa digunakan pihak luar untuk menggugat posisi kita."

Vanya menambahkan sambil mengetuk laya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 262

    Pagi datang dengan cahaya yang lembut menyusup lewat celah tirai.Nagendra terbangun lebih dulu. Aurelia masih tertidur di lengannya, wajah tersembunyi di dada, napas teratur. Rambutnya berantakan, bibir sedikit bengkak, dan di leher serta bahu terlihat beberapa jejak kemerahan yang ditinggalkan semalam. Nagendra mengusap punggung wanita itu pelan, menatap langit-langit kamar, membiarkan keheningan pagi menenangkan sisa adrenalin dari pertarungan kemarin.Dua bulan lagi.Ia masih sulit percaya. Setelah bertahun-tahun penuh darah, residual, dan ancaman yang tidak pernah benar-benar hilang, akhirnya mereka sampai di titik ini. Tidak ada lagi pintu yang harus ditutup. Tidak ada lagi benih yang harus dibakar. Hanya pernikahan, dan hidup yang menunggu di depan.Aurelia menggeliat pelan, mata masih terpejam. “Sudah pagi…?” suaranya parau.“Belum,” jawab Nagendra rendah. Ia mengecup puncak kepala Aurelia. “Tidur lagi. Badanmu masih lelah.”Aurelia menggeleng kecil, lalu mengangkat wajah, men

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 261

    Aurelia menggigit bibir. “Kamu nggak lelah setelah berperang seharian?”“Lelah,” jawab Nagendra rendah. “Tapi lebih lapar.” Ia mencium Aurelia dalam, lidah masuk perlahan, sementara pinggulnya mulai bergerak lagi—lambat, dalam, sengaja menggesek setiap inci. “Boleh?”Aurelia menjawab dengan mengangkat pinggulnya, menerima. “Boleh… pelan dulu.”Nagendra menurut. Ia keluar hampir seluruhnya, lalu masuk lagi sangat lambat, menikmati bagaimana Aurelia meremasnya. Satu tangan meraih kaki Aurelia dan menekannya ke dada wanita itu, membuka lebih lebar. Sudutnya langsung berubah menjadi lebih dalam.Aurelia mengerang panjang. “Nagendra… ahh, dalam banget…”“Suka?” tanya Nagendra di telinga Aurelia, suaranya serak.“Suka… terus…”Nagendra mulai mempercepat sedikit. Setiap hentakan dalam, basah, dan terukur. Ia menunduk, menghisap leher Aurelia, meninggalkan jejak kemerahan baru. Tangan bebasnya meremas payudara Aurelia, ibu jari memainkan puting yang sudah mengeras.“Kamu sempit sekali malam i

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 260

    Di dalam ruang kerja utamanya yang luas, Satria Wisesa sedang meneliti laporan akhir yang diserahkan oleh Ratu Pramudya dan Vanya Cedric di atas meja kayu jati."Seluruh sisa aset Aliansi di sektor energi dan pertambangan di luar pulau sudah sepenuhnya berada di bawah kendali Himawan Group, Satria," lapor Ratu Pramudya dengan suara tegas nan profesional. "Tidak ada lagi celah hukum atau finansial yang bisa digunakan pihak luar untuk menggugat posisi kita."Vanya menambahkan sambil mengetuk layar tablet taktisnya. "Sistem pemantauan Netrakwaskitan digital yang terintegrasi dengan satelit juga sudah aktif penuh 24 jam. Jaringan perimeter Jakarta kini steril dari segala frekuensi ghaib asing."Satria mengangguk puas. Ia melipat berkas tersebut dan menatap ketiga wanita andalannya itu dengan sorot mata berwibawa. "Bagus. Pertahankan tingkat pengawasan ini. Kita tidak boleh lengah sedikit pun, terutama menjelang persiapan pernikahan Nagendra dan Aurelia bulan depan.""Baik, Satria. Kami ak

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 259

    Satria dan Nagendra melangkah berdampingan meninggalkan ruangan basement B3 yang kini telah berubah menjadi reruntuhan hangus. Larasati berjalan tepat di belakang mereka, memastikan area tersebut sepenuhnya steril sebelum tim medis dan unit pembersih padepokan tiba.Saat pintu lift utama terbuka di lantai dasar, suasana lobi Mansion Himawan menyambut mereka dengan ketenangan yang kontras. Sisa-sisa debu ghaib sama sekali tidak mencemari udara di atas berkat sistem pertahanan ghaib berlapis yang dipasang Vanya."Den Satria," suara Vanya terdengar menyambut dari ruang kontrol utama melalui pengeras suara internal. "Tim medis sudah mengamankan subjek di basement. Kondisi tubuhnya stabil, meskipun simpul sarafnya sempat terbakar habis oleh sisa energi purba Sangkala. Kami sedang memproses pembersihan memori dan identitasnya untuk melacak siapa dalang lokal yang menanam jimat-jimat itu."Satria mengangguk tegas sembari berjalan melintasi pualam lobi. "Bagus, Vanya. Cari tahu siapa pun yang

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 258

    Ruang istirahat masih terasa hangat ketika tablet di meja tiba-tiba bergetar hebat.Layar menyala sendiri. Wajah Vanya muncul, pucat dan tegang. “Den Satria, ada lonjakan sisa energi yang sangat besar di Tanjung Priok. Cirinya sama dengan yang dulu muncul di Puncak dan Menteng, tapi jauh lebih kuat. Dan ada titik kedua… tepat di bawah kita. Lantai basement B3. Lingkaran mantra sedang aktif.”Satria langsung berdiri. “Di bawah gedung ini?”“Dia diam selama seluruh prosesi. Menunggu semua orang lengah.”Nagendra sudah bergerak menuju pintu. “Ibu dan Aurelia baru saja turun lewat lift utama.”“Larasati, kunci semua lift sekarang!” perintah Satria lewat alat komunikasi. “Vanya, matikan listrik cadangan di B3. Nagendra, ikut aku. Kita lewat tangga darurat.”Mereka berlari.Lampu darurat menyala merah di sepanjang tangga. Semakin turun, semakin berat udara yang mereka hirup. Bau tanah basah dan besi sudah terasa menyengat dari tiga lantai sebelum sampai. Seolah ada sesuatu di bawah sana yan

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 257

    Gemuruh tepuk tangan dan penghormatan di Aula Agung Gedung Pertemuan Pusat Jakarta perlahan mereda saat Nagendra mengangkat satu tangan. Pendar ganda merah-emas di matanya menyurut, berganti dengan sorot mata yang tenang, jernih, namun menyimpan ketegasan luar biasa. Di usianya yang masih muda, aura pimpinan yang ia pancarkan berdiri sejajar di samping nama besar ayahnya, Satria Wisesa.Setelah prosesi pengangkatan Pangeran Mahkota selesai, para tetua trah dan pejabat faksi dibubarkan untuk segera mengeksekusi perintah pembersihan jaringan sisa-sisa Aliansi. Satria, Liana, Nagendra, dan Aurelia melangkah kembali menuju area privat gedung, dikawal ketat oleh Larasati, Ratu Pramudya serta Vanya.Saat memasuki ruang istirahat khusus Patriarch, Aurelia menghentikan langkahnya sejenak. Wajahnya yang semula tegang saat berhadapan dengan puluhan tetua kini mengendur. Ia menoleh menatap Nagendra, jemarinya yang ramping mengusap lengan jubah kebesaran hitam yang dikenakan pemuda itu."Pangeran

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status