Partager

Bab 266

Auteur: Hisa NK
last update Date de publication: 2026-10-17 06:51:04

Pagi hari menyingsing di atas langit Jakarta. Udara bersih berkabut tipis membalas hangatnya pendar keemasan pagar ghaib yang memagari seluruh kompleks Mansion Utama Himawan.

Di ruang keluarga privat lantai dua, suasana berhias keceriaan yang jarang terlihat. Kain-kain sutra, renda impor berwarna gading, dan patung manekin tampak memenuhi sudut ruangan. Aurelia berdiri anggun di tengah podium kecil, mengenakan gaun pengantin fitting terakhirnya yang sudah dijahit sempurna. Potongan gaun itu mem
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 271. ENDING

    Langkah kaki Satria Wisesa bergema di atas lantai pualam koridor utama. Di usianya yang makin matang, tak ada satu pun jejak kelemahan pada tubuhnya. Bahu tetap lebar, dada bidang, dan garis rahang yang tegas dengan jambang tipis memancarkan ketampanan yang membuat siapa pun menunduk. Binar Netrakwaskitan di matanya berkilat dingin, menekan seluruh atmosfer Mansion Himawan dengan aura dominasinya.Di belakangnya, empat wanita paling berpengaruh di Nusantara berjalan mengiringi.Liana Himawan berjalan tepat di sisi kanannya, gaun marun jatuh sempurna di tubuhnya. Larasati di sisi kiri, berbaju hitam, tangan bertumpu pada gagang pedang. Vanya Cedric dan Ratu Pramudya berjalan satu langkah di belakang, memandang punggung tegap Satria dengan binar yang sama: cinta, kekaguman, dan kepatuhan yang tidak pernah pudar.Bagi mereka berempat, Satria bukan sekadar suami atau sang penguasa. Ia adalah pria yang merebut jiwa mereka, melindungi mereka dari kehancuran, dan menguasai hati mereka sepenu

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 270

    “Perasaan cintamu tidak pernah menyusahkanku,” lanjut Satria, membiarkan kehangatan suaranya menenangkan jiwa Larasati yang lelah. “Aku menghormati cintamu, sebagaimana aku menghargai nyawa yang kamu pertaruhkan untuk rumah ini. Kamu tidak pernah sendirian menanggungnya, Laras.”Larasati memejamkan mata, ia membiarkan bahunya turun. Ia membiarkan Satria menopang seluruh beban batinnya, meski hanya untuk beberapa detik di koridor malam yang sepi. Di balik kelopak matanya, bayangan-bayangan lama muncul: malam pertama ia berdiri di gerbang Himawan dengan pedang yang masih baru, pagi-pagi ketika ia menemani Nagendra kecil belajar memegang pedang, senyum Liana yang selalu lembut meski tahu ada seseorang yang selalu berdiri di bayangan.Pengakuan itu, dan balasan hangat dari Satria, membakar habis rasa dahaga dan keputusasaan yang merayapi hatinya selama ini. Ia tidak minta dimiliki; ia hanya butuh cintanya diakui dan dihargai oleh sang penguasa. Dan malam ini, ia mendapatkannya.Satria mer

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 269

    Koridor sayap barat sudah sepi saat Satria keluar dari ruang kerja. Langkahnya pelan, menyusuri selasar pualam yang sunyi. Lampu dinding yang berjejer di sepanjang dinding memancarkan cahaya keemasan redup, seolah enggan mengganggu keheningan malam. Di luar jendela besar, angin malam berembus lembut, membawa aroma tanah basah dari taman dalam yang baru saja diguyur hujan sore tadi. Daun-daun pohon jati tua bergoyang pelan, bayangannya menari-nari di lantai batu pualam yang dingin.Di ujung lorong, dekat jendela besar yang menghadap taman dalam, Larasati berdiri mengawasi malam. Posturnya tegap, bahu lurus, satu tangan menggenggam erat gagang pedangnya. Rambutnya yang biasanya diikat rapi kini sedikit berantakan di pelipis, beberapa helai putih yang mulai muncul terlihat jelas di bawah cahaya lampu. Ia tidak bergerak, hanya menatap gelap di balik kaca, seolah bisa melihat ancaman yang belum datang.“Laras.”Wanita itu berbalik cepat, tubuhnya langsung tegang dalam posisi siap. Namun sa

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 268

    Malam sudah semakin larut ketika Nagendra menutup pintu ruang makan di belakangnya. Aurelia sudah kembali ke kamar di lantai utama, meninggalkan keheningan yang lembut di sepanjang koridor. Langkahnya membawa dirinya menuju sayap barat, ke ruang kerja kecil yang jarang digunakan kecuali untuk percakapan yang tidak ingin terdengar orang lain. Lampu meja hanya menyinari separuh ruangan, menyisakan sudut-sudut gelap yang menelan sebagian besar perabot. Satria duduk di kursi kayu dengan tablet di tangan, wajahnya setengah tenggelam dalam bayangan, garis rahang tegas terlihat lebih tajam di bawah cahaya kuning yang redup.Nagendra menutup pintu pelan, seolah takut mengganggu keheningan yang sudah mengendap di antara dinding. “Belum tidur?” tanya Satria tanpa menoleh, suaranya rendah dan tenang, seolah sudah mengetahui siapa yang masuk hanya dari bunyi engsel.“Belum. Ada yang ingin aku tanyakan.” Nagendra berdiri di depan meja, jari-jarinya sedikit menggenggam ujung lengan kemejanya. “Tent

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 267

    Dari balik bayangan pilar pualam di selasar taman, langkah kaki Larasati berjalan dengan postur tegap yang memancarkan ketangguhan khas kepala pengawal pribadi. Pakaian hitam elegannya tampak begitu pas membingkai tubuhnya yang anggun, sementara gagang pedang pusaka di pinggangnya tetap bersiap siaga melindungi seluruh anggota keluarga inti Faksi Himawan.Larasati menghentikan langkahnya di jarak yang sopan dari tempat Nagendra dan Aurelia berdiri. Matanya yang tajam dan terlatih sempat melirik ke arah jendela lantai dua—tempat Satria Wisesa dan Liana berdiri mengawasi—sebelum akhirnya menatap kedua sejoli di depannya dengan binar kehangatan yang jarang ia perlihatkan di luar tugas."Nagendra... Aurelia," sapa Larasati dengan senyuman. Aurelia perlahan merenggangkan pelukannya dari Nagendra, wajahnya bersemu merah muda. Namun, melihat raut wajah Larasati yang tenang dan penuh perlindungan, kehangatan segera menggantikan rasa malu."Bi Laras," balas Aurelia dengan senyum tulus. "Latih

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 266

    Pagi hari menyingsing di atas langit Jakarta. Udara bersih berkabut tipis membalas hangatnya pendar keemasan pagar ghaib yang memagari seluruh kompleks Mansion Utama Himawan.Di ruang keluarga privat lantai dua, suasana berhias keceriaan yang jarang terlihat. Kain-kain sutra, renda impor berwarna gading, dan patung manekin tampak memenuhi sudut ruangan. Aurelia berdiri anggun di tengah podium kecil, mengenakan gaun pengantin fitting terakhirnya yang sudah dijahit sempurna. Potongan gaun itu membingkai tubuhnya dengan begitu presisi, memperlihatkan keanggunan matang seorang calon pendamping Pangeran Mahkota.Liana duduk di sofa seraya menyesap teh hangat, menatap Aurelia dengan tatapan penuh keharuan. Di samping Liana, Satria Wisesa duduk tegap. Kemeja hitam berpola naga emas yang dikenakannya mempertegas postur tubuh bidang dan wibawa matangnya yang tak pudar oleh zaman."Bagaimana, Pak Satria?" tanya Aurelia pelan. Wajah cantiknya merona manis, ada sedikit rasa gugup saat menantikan

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status