Mag-log inSWUUUUSSHH!Satria Wisesa mendarat mulus di atas permukaan air laut yang membeku tenang di bawah pendar keemasannya. Manik mata keemasannya berotasi pekat, menatap lurus ke dalam pupil empat pimpinan klan yang kini bersimbah darah. Rantai-rantai petir merah dan benang teratai putih milik mereka telah lebur menjadi debu cahaya, tak tersisa sedikit pun."M-Kekuatan apa ini?!" racau Utusan Utama Klan Garuda Purba gemetar hebat. Zirah emasnya telah meretak parah, memuntahkan cairan darah hitam yang membeku saat menyentuh air di bawah kakinya. "Kamu... kamu bukan cuma menyerap inti Naga Murni... kamu memegang Hukum Alam Nusantara!"Ketua Faksi Teratai Putih terduduk di atas sisa-sisa sekuntum bunga teratai yang hancur. Wajah cantiknya kini pucat pasi, manik matanya memancarkan ketakutan yang mendalam. "U-Utusan Garuda... kita harus menggunakan ajian inti... Sumpah Darah Jiwa Purba!""Sudah terlambat," pukas Satria datar. Suara bariton gandanya bergema rendah, membekukan seluruh sisa energi
Pendar giok pelindung di kamar Liana seketika meredup tipis, merespons ikatan gaib yang membelenggu jiwa Nagendra dari empat penjuru. "Den Satria! Pak Baskoro!" suara Hendra berteriak kencang. "Sistem perisai dalam jebol! Empat Klan Purba meledakkan pendar inti di bawah tanah! Den Nagendra tersedot masuk ke dalam celah pusaran!""Nagendra!" jerit Liana seraya melompat maju mencoba meraih anaknya yang melayang di udara.BOOOOOOOOOOOOOOOOOOMMM!Tiba-tiba, sebuah ledakan pendar keemasan murni menembus dinding Ruang Isolasi. SWUUUUSSHH!Satria mendarat mulus di tengah Ruang Isolasi. Kedua tangannya terentang lebar, membiarkan seluruh simpul energi Naga Murni di dalam tubuhnya meledak keluar secara bersamaan. Pendar emas berkilau bercampur pendar hijau zamrud menyembur keluar dari dada Satria, membungkus seluruh tubuh Nagendra dalam sebuah kubah cahaya raksasa. Empat rantai cahaya merah darah yang menancap di dahi Nagendra seketika hancur dan melepuh menjadi debu saat bersentuhan denga
Dari balik zirah emas Utusan Garuda Emas, meledak puluhan rantai emas berselubung petir merah yang meluncur kilat menancap di permukaan air laut di sepanjang garis pantai selatan. Di saat yang sama, dari balik jubah sutra Ketua Teratai Putih, menyembur ratusan utas benang cahaya teratai putih yang meliuk-liuk menembus langit badai, membentuk formasi jaring laba-laba raksasa yang mengunci ruang udara di atas tebing. BOOOOOOOOOOOOMMM!Tiba-tiba, dari dasar palung laut terdalam Samudera Selatan, meledak sebuah dentuman gaib yang teramat dahsyat. Getaran energi Pasak Pas Bumi tingkat puncak meletus, membuat lempeng tektonik di bawah daratan Jawa Barat bergeser liar. Air laut di sepanjang pantai seketika menyusut drastis sejauh ratusan meter, bersiap untuk kembali dalam wujud tsunami raksasa setinggi ratusan meter yang sanggup menenggelamkan seluruh Pulau Jawa dalam hitungan menit!"Hahaha!" tawa Utusan Garuda Emas meledak penuh kemenangan liar. "Tsunami takdir lama sudah bangkit! Berlut
"Tenggelamkan Pulau Jawa... Gertakan yang sangat berani untuk ukuran cacing bawah laut."Satria perlahan membalikkan tubuhnya, meninggalkan pandangan jendela yang kini telah diselimuti gumpalan awan hitam pekat di langit selatan. Sama sekali tidak ada raut panik di wajah tampannya. Ancaman pemusnahan massal dari Utusan Utama Klan Garuda Emas itu baginya hanyalah sebuah tanda keputusasaan dari tatanan lama yang ketakutan.Pak Baskoro mengepalkan kedua tangannya. "Utusan Garuda Emas dan Ketua Teratai Putih... Mereka tidak membuang waktu. Mengirim dua pimpinan puncak sekaligus ke garis pantai kita adalah pernyataan perang terbuka."Larasati melangkah maju, pedang peraknya bergetar halus merespons gejolak energi di udara selatan. "Matahari terbit tinggal empat jam lagi, Pak Baskoro. Menenggelamkan seluruh Pulau Jawa... itu membutuhkan aktivasi ajian Pasak Pasang Bumi tingkat puncak.""Vanya!" Satria menatap proyeksi hologram yang masih menampilkan wajah congkak utusan zirah emas itu."S-
Dengan satu sentakan napas Penguasa Utama, Satria memurnikan seluruh cairan magma purba di dalam tubuhnya menjadi pendar keemasan yang murni. Inti jiwa jahat Leluhur Purba hancur lebur tanpa sisa di dalam saluran aura Satria. Sisa-sisa energi murni yang telah dibersihkan itu meluncur halus dari telapak tangan Satria menuju dahi Nagendra—menghadiahkan pendar kekuatan suci yang membuat tubuh bayi mungil itu perlahan turun dan tertidur lelap kembali di dalam pelukan Liana.Keheningan kembali menguasai angkasa Benua Utara. Asap dan kabut racun di Lembah Tengkorak Hitam sirna total, tersapu oleh pendar keemasan Satria yang membumbung tinggi menembus awan.Satria merapikan kemeja gelapnya yang sedikit koyak di bagian lengan. Pendar emas di matanya berangsur-angsur meredup, kembali menjadi manik mata hitam yang tenang namun dalam.Pak Baskoro mendesah napas lega yang teramat dalam, menyunggingkan senyum bangga yang luar biasa pada menantunya. "Ancaman Trah Sangkala di Benua Utara... akhirny
"Nagendra!"Suara Liana menjerit tertahan dari balik dinding kapal udara Garuda Hitam. Di dalam kamar utama, tubuh bayi mungil itu melayang mulus beberapa jengkal di atas ranjang kayu. Pendar keemasan murni melingkupi raga kecilnya, sementara dari dahi mungil Nagendra membias pendar merah tipis—merespons berkas cahaya yang menyambung lurus dari tubuh raksasa Leluhur Purba di luar sana. Larasati yang berdiri di geladak kapal seketika melompat masuk ke lorong dalam, disusul oleh Hendra. Manik mata jernih Larasati membelalak menyaksikan fenomena misterius tersebut. Pedang perak di tangannya bergetar halus merespons lonjakan energi yang teramat sangat murni."Mbak Liana, jangan mendekat dulu!" seru Larasati seraya menahan bahu Liana. "Ini bukan serangan racun! Ini... resonansi darah!"Di atas udara Lembah Tengkorak Hitam, Satria Wisesa membeku di tempatnya.Untuk pertama kalinya dalam sejarah pertempuran Penguasa Utama, gerakan telunjuk Satria terhenti di udara. Manik mata keemasannya be







