LOGIN“Apa saja yang dibutuhkan kalau harus menginap semalam di tempat yang mungkin dihuni pembunuh?” Ryan berdiri di depan meja ruang tengah sambil memeriksa isi ranselnya untuk ketiga kali. Ponsel utama dan ponsel hitam sudah masuk. Dua powerbank penuh, charger, senter, baterai cadangan, korek api, kotak P3K, jas hujan tipis, dan sebuah multitool kecil menyusul setelahnya. Ia sempat ragu sebelum mengambil palu multifungsi milik ayahnya dari gudang. Ukurannya tidak terlalu besar dan biasanya digunakan untuk memasang perlengkapan fotografi, tetapi setidaknya benda itu lebih berguna daripada pergi dengan tangan kosong. Terakhir, Ryan mengambil boneka kain buatan ibunya. Lengan boneka yang robek belum sempat diperbaiki. Bekas hitam seperti terbakar juga masih terlihat di bahunya. “Kalau malam ini terjadi sesuatu lagi, aku mengandalkanmu.” Ryan memasukkan boneka itu ke tempat yang mudah dijangkau. Surat
Ryan tidak tahu apakah sosok tadi berkaitan dengan gelar Disukai Para Arwah atau berasal dari Surat Cinta Terkutuk.Yang jelas, membuang surat tersebut bukan pilihan terbaik. Jika sistem memberikan benda itu sebagai hadiah langka, kemungkinan besar benda tersebut memiliki fungsi yang belum ia pahami.Ryan mengambil kotak plastik kecil, memasukkan surat beserta pembungkusnya, lalu memasukkannya ke dalam ransel.“Aku tidak tahu kamu bisa melakukan apa, tapi malam ini jangan membuat masalah.”Tentu saja tidak ada jawaban.Setelah rasa gugupnya sedikit mereda, Ryan kembali memikirkan masalah yang jauh lebih mendesak.Rumah Susun Purnama.Kasus Percobaan hanya bisa dilakukan sekali. Jika ia melewatkan waktunya, jalur kasus tersebut akan tertutup selamanya.Lebih penting lagi, ayahnya pernah berada di sana beberapa hari sebelum menghilang.Ryan membuka laptop dan mulai mencari informasi mengenai Rumah Susun P
Jarum Roda Kesialan bergerak semakin pelan sebelum akhirnya berhenti pada satu petak berwarna merah tua.Ryan mencondongkan tubuh, menunggu tulisan di layar berubah. Entah kenapa, hanya dengan melihat warna petak tersebut, ia sudah merasa keputusan menekan tombol putar tadi mungkin bukan ide yang bagus.Beberapa detik kemudian, layar ponsel hitam berkedip.﹣﹣﹣﹣﹣﹣﹣﹣﹣﹣﹣﹣﹣﹣﹣﹣﹣﹣HASIL RODA KESIALANPutaran selesai.Hadiah diperoleh:Surat Cinta TerkutukTipe:
“Kenapa riasannya bisa membuat orang hidup terlihat seperti sudah meninggal?”Pertanyaan Nadira membuat Ryan terdiam sesaat. Sebagai mahasiswa kedokteran, perempuan itu pernah berhadapan dengan kadaver saat praktikum anatomi dan beberapa kali mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan forensik. Ryan bisa mengarang alasan kepada Sinta atau Faris, tetapi Nadira jelas akan menyadari kalau penjelasannya terlalu asal.“Teknik riasnya memang agak khusus,” jawab Ryan akhirnya. “Aku memainkan warna kulit, bayangan di sekitar mata, dan pencahayaan. Ditambah suasana rumah yang sudah membuat kalian tegang sejak awal, otak bisa menangkap wajah Sinta dengan cara berbeda.”Nadira masih memperhatikan Sinta selama beberapa detik. “Kamu belajar rias seperti ini dari internet?”“Kurang lebih.”Jawaban itu sengaja dibuat pendek. Ryan tidak mungkin mengatakan bahwa pengetahuan merias jenazah mendadak muncul di kepalanya setelah menyelesaikan ritual cermin dari ponsel peninggalan ayahnya.Nadira tampaknya m
“Yang membuat aku pingsan itu cerminnya.”Faris mengucapkan kalimat itu sambil duduk di sofa dengan wajah masih pucat. Nadira baru saja selesai memeriksa denyut nadi dan pupil matanya, sementara Sinta berdiri tidak jauh dari mereka sambil terus melirik lorong menuju kamar mandi.Ryan yang sedang memegang ponsel hitam langsung berhenti.Ucapan Faris membuatnya teringat Misi Mimpi Buruk semalam. Sosok di dalam cermin seharusnya gagal keluar karena sesuatu telah menghalanginya. Boneka kain milik ibunya juga muncul tanpa penjelasan dan salah satu lengannya ditemukan gosong.Namun kejadian beberapa menit lalu membuktikan satu hal.Makhluk itu belum pergi.Ia mungkin tidak lagi terjebak hanya di cermin kamar mandi. Selama eksperimen, sosok perempuan muncul di kamera lorong, memengaruhi Faris, bahkan membuat kamera merekam dua Faris pada waktu yang sama.Ryan menatap layar ponsel hitam.[Entitas tidak dikenal telah menemukan jalur menuju dunia pengguna.]Kalimat itu terasa jauh lebih menggan
“Jangan ada yang masuk ke lorong.”Ryan berdiri begitu cepat sampai kursinya bergeser.Sinta memegang lengannya. “Itu siapa?”“Aku tidak tahu.”Sosok perempuan pada kamera masih berdiri membelakangi mereka. Rambutnya panjang, pakaiannya pucat, dan tinggi badannya hampir sama dengan Sinta.Namun Sinta jelas berada di ruang tengah.Nadira menatap monitor.“Bisa ada orang lain di rumah?”“Tidak.”“Pintu belakang?”“Terkunci.”“Jendela?”“Sebagian berteralis.”Faris menarik selimut tipis yang tadi diberikan Sinta sampai ke dada. “Aku sarankan kita tidak perlu memeriksa.”Tidak ada yang menertawakannya.Ryan mengambil senter.“Aku harus lihat.”Nadira berdiri. “Aku ikut.”“Kamu tetap di sini.”“Kalau itu manusia yang masuk tanpa izin, dua orang lebih aman.”Ryan tidak punya alasan untuk membantah.Mereka berjalan perlahan menuju lorong, sementara Sinta dan Faris memantau kamera dari ruang tengah.Begitu Ryan memasuki lorong, tidak ada siapa-siapa.“Di monitor masih ada?” tanyanya melalui m







