FAZER LOGINEnam hari. Itu waktu yang dimiliki Ryan Pradana untuk membayar UKT sebesar Rp7.650.000 sebelum status kuliahnya dibekukan. Masalahnya, uang di rekeningnya bahkan tidak sampai tiga ratus ribu. Putus asa, Ryan kembali ke rumah lama keluarganya dan membongkar gudang demi mencari barang yang bisa dijual. Namun bukannya menemukan sesuatu yang berharga, ia justru menemukan ponsel hitam peninggalan ayahnya yang telah menghilang bertahun-tahun lalu. Di dalam ponsel itu hanya ada satu aplikasi. Siaran Tengah Malam. Aplikasi tersebut memberinya misi-misi mengerikan. Masuk ke kamar mandi pukul dua pagi. Berdiri di depan cermin dalam gelap. Jangan membuka mata. Jangan menjawab siapa pun yang memanggil. Dan apa pun yang terjadi, jangan berhenti sebelum waktunya habis. Ryan tidak mendapat uang dari sistem. Jadi ia melakukan satu hal yang menurutnya paling masuk akal. Ia menyalakan livestream. Awalnya hanya beberapa orang yang menonton. Namun ketika pantulan Ryan di dalam cermin bergerak sendiri, tersenyum, lalu mencoba keluar dari kaca, rekaman itu langsung viral. Gift mulai masuk. Follower melonjak. Uang kuliahnya akhirnya terlihat mungkin dibayar. Namun semakin banyak misi yang Ryan jalankan, semakin ia menyadari bahwa semua ini bukan kebetulan. Ayahnya pernah menggunakan ponsel yang sama. Dan mungkin, hilangnya kedua orang tuanya berhubungan langsung dengan misi-misi tersebut. Ryan awalnya hanya ingin mencari uang untuk tetap kuliah. Sekarang ia harus memilih. Berhenti dan kehilangan satu-satunya petunjuk tentang orang tuanya... atau terus livestream sambil mempertaruhkan nyawanya. Karena semakin terkenal siarannya, semakin banyak yang menonton. Dan tidak semuanya manusia.
Ver mais“Kalau sampai Jumat depan belum dibayar, status akademik kamu akan dibekukan. Kalau terus dibiarkan sampai melewati batas administrasi semester ini, kamu juga bisa masuk proses evaluasi DO.”
Ryan Pradana menatap petugas administrasi di balik meja kaca. “Tidak bisa diperpanjang lagi, Bu? Aku hanya butuh sedikit waktu.”
Perempuan berkacamata di hadapannya menghela napas. Wajahnya tidak galak, tetapi nada bicaranya menunjukkan bahwa pembicaraan semacam ini sudah terlalu sering terjadi. “Semester lalu kamu sudah mendapat dispensasi. Aku bahkan masih ingat karena waktu itu kamu datang sendiri dan mengurus semuanya sampai sore.”
Ryan tidak tahu harus menjawab apa. Di layar komputer petugas terlihat jelas tagihan yang belum dibayar.
UKT Semester 6: Rp7.650.000
Terbayar: Rp0
Batas Akhir: 7 hari
“Aku akan usahakan, Bu.”
“Usahakan benar-benar, Ryan. Nilai kamu bagus. Akung kalau kuliahmu berhenti hanya karena masalah administrasi.”
Ryan mengangguk sebelum meninggalkan ruangan. Begitu keluar dari gedung rektorat, ia berhenti di bawah pohon dan membuka aplikasi mobile banking.
Saldo: Rp286.700.
Ia menatap angka itu cukup lama, lalu tertawa kecil tanpa merasa lucu sedikit pun. Gaji dari kedai kopi tempatnya bekerja paruh waktu baru cair minggu depan, itu pun hanya sekitar satu juta enam ratus ribu rupiah.
'Aku menjual ginjal saja sekalian.'
Pikiran itu hanya bercanda, tetapi keadaan Ryan memang tidak jauh dari putus asa.
Tiga tahun lalu, ia tidak pernah membayangkan harus menghadapi semua ini seorang diri. Ayahnya bekerja sebagai fotografer lepas, sementara ibunya menerima pesanan jahitan dari rumah. Kehidupan mereka sederhana, tetapi kebutuhan sekolah dan makan selalu terpenuhi.
Semua berubah ketika kedua orang tuanya menghilang.
Motor ayah ditemukan di pinggir jalan luar kota. Tas milik ibunya masih berada di bagasi, bersama dompet dan beberapa pakaian. Tidak ada darah, tidak ada tanda perkelahian, dan tidak ada saksi yang melihat ke mana mereka pergi.
Polisi melakukan pencarian berbulan-bulan, tetapi hasilnya nihil.
Sejak saat itu, Ryan hidup sendiri.
Ia sebenarnya masih memiliki rumah peninggalan orang tuanya di pinggiran Surabaya. Namun karena terlalu jauh dari kampus, Ryan memilih menyewa kamar kecil dekat universitas dan hanya sesekali pulang untuk membersihkan rumah.
Kini rumah itu mungkin menjadi satu-satunya jalan keluar.
“Ayah masih punya kamera lama.”
Ryan teringat lemari dan gudang yang belum pernah benar-benar ia bongkar. Kamera, lensa, alat rekam, mesin jahit ibunya, bahkan beberapa peralatan elektronik lama mungkin masih bisa dijual.
Malam itu juga, Ryan pulang ke rumah tersebut.
Ketika pintu dibuka, aroma debu dan kayu lembap langsung menyambutnya. Ruang tengah masih hampir sama seperti tiga tahun lalu. Foto keluarga tergantung di dinding, kalender lama belum pernah diganti, dan mesin jahit ibunya masih tertutup kain bermotif bunga.
Ryan sengaja tidak memandang semuanya terlalu lama.
“Aku datang untuk mencari uang.”
Ia mengambil senter lalu menuju gudang belakang. Pintu kayunya macet dan baru terbuka setelah didorong beberapa kali menggunakan bahu.
Debu beterbangan begitu pintu terbuka.
“Kalau tidak dapat uang, setidaknya aku dapat penyakit pernapasan.”
Ryan mulai membongkar kardus.
Ia menemukan sebuah kamera DSLR lama yang mungkin masih bernilai satu juta rupiah, dua lensa yang kondisinya belum diketahui, beberapa tripod, radio, lampu fotografi, serta puluhan kabel yang fungsi sebenarnya sudah tidak ia ingat.
Tidak cukup.
Bahkan jika semuanya laku, belum tentu uangnya mencapai tujuh juta.
Ryan sedang menggeser sebuah koper ketika melihat kotak plastik hitam terselip di bawah rak. Ia menariknya keluar, membersihkan debu di atasnya, lalu membuka tutup.
Sebuah ponsel hitam berada di dalam.
Ryan langsung mengenalinya.
“Ponsel Ayah?”
Ponsel itu sudah cukup tua. Bahkan ketika ayahnya masih ada, perangkat tersebut hampir tidak pernah digunakan untuk menelepon atau mengirim pesan.
Ryan menekan tombol daya.
Tidak terjadi apa-apa.
“Sudah kuduga.”
Ia hampir melemparkannya ke tumpukan barang elektronik yang akan dijual ketika layar mendadak menyala.
Ryan berhenti.
Tidak muncul logo merek maupun animasi sistem operasi. Layar langsung menampilkan latar hitam dengan sebuah ikon kamera berwarna putih.
Di bawahnya tertulis:
[SIARAN TENGAH MALAM]
Ryan mengernyit. “Aplikasi apa ini?”
Ia menyentuh ikon tersebut.
Layar berubah dan menampilkan sebuah pertanyaan.
[Apakah kamu percaya bahwa di dunia ini terdapat sesuatu yang tidak dapat dilihat manusia?]
Pilihan jawabannya hanya dua.
[PERCAYA]
[TIDAK TAHU]
Ryan memilih yang kedua.
Layar berkedip sesaat.
[Jawaban diterima.]
[Pengguna sebelumnya tidak lagi dapat menyelesaikan misi.]
[Perangkat sedang mencari penerus.]
Senyum Ryan perlahan menghilang.
“Pengguna sebelumnya?”
Ponsel itu milik ayahnya.
Sebelum Ryan sempat memikirkan kemungkinan tersebut lebih jauh, tulisan baru muncul.
[Identitas pengguna dikonfirmasi.]
[Nama: Ryan Pradana]
[Status: Tidak Dikenal]
[Pengikut: 13]
[Siaran Selesai: 0]
[Kasus Terselesaikan: 0]
Ryan menatap namanya sendiri.
Ia tidak pernah memasukkannya.
“Bagaimana kamu tahu namaku?”
Ponsel hitam itu bergetar.
[Selamat datang di Siaran Tengah Malam.]
[Jika ingin mendapatkan sesuatu, selesaikan misi.]
[Jika ingin menemukan mereka, jangan berhenti di tengah jalan.]
Ryan membeku.
Matanya terpaku pada satu kata.
“Mereka?”
Selama tiga tahun, hanya ada dua orang yang selalu muncul di kepalanya setiap kali mendengar kata itu.
Ayah dan ibunya.
Layar kembali berubah.
[MISI HARIAN TERSEDIA]
Ryan menggenggam ponsel hitam itu semakin erat.
Untuk beberapa saat, ia bahkan melupakan tagihan UKT yang membawanya kembali ke rumah ini.
Ryan tidak tahu apakah sosok tadi berkaitan dengan gelar Disukai Para Arwah atau berasal dari Surat Cinta Terkutuk.Yang jelas, membuang surat tersebut bukan pilihan terbaik. Jika sistem memberikan benda itu sebagai hadiah langka, kemungkinan besar benda tersebut memiliki fungsi yang belum ia pahami.Ryan mengambil kotak plastik kecil, memasukkan surat beserta pembungkusnya, lalu memasukkannya ke dalam ransel.“Aku tidak tahu kamu bisa melakukan apa, tapi malam ini jangan membuat masalah.”Tentu saja tidak ada jawaban.Setelah rasa gugupnya sedikit mereda, Ryan kembali memikirkan masalah yang jauh lebih mendesak.Rumah Susun Purnama.Kasus Percobaan hanya bisa dilakukan sekali. Jika ia melewatkan waktunya, jalur kasus tersebut akan tertutup selamanya.Lebih penting lagi, ayahnya pernah berada di sana beberapa hari sebelum menghilang.Ryan membuka laptop dan mulai mencari informasi mengenai Rumah Susun P
Jarum Roda Kesialan bergerak semakin pelan sebelum akhirnya berhenti pada satu petak berwarna merah tua.Ryan mencondongkan tubuh, menunggu tulisan di layar berubah. Entah kenapa, hanya dengan melihat warna petak tersebut, ia sudah merasa keputusan menekan tombol putar tadi mungkin bukan ide yang bagus.Beberapa detik kemudian, layar ponsel hitam berkedip.﹣﹣﹣﹣﹣﹣﹣﹣﹣﹣﹣﹣﹣﹣﹣﹣﹣﹣HASIL RODA KESIALANPutaran selesai.Hadiah diperoleh:Surat Cinta TerkutukTipe:
“Kenapa riasannya bisa membuat orang hidup terlihat seperti sudah meninggal?”Pertanyaan Nadira membuat Ryan terdiam sesaat. Sebagai mahasiswa kedokteran, perempuan itu pernah berhadapan dengan kadaver saat praktikum anatomi dan beberapa kali mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan forensik. Ryan bisa mengarang alasan kepada Sinta atau Faris, tetapi Nadira jelas akan menyadari kalau penjelasannya terlalu asal.“Teknik riasnya memang agak khusus,” jawab Ryan akhirnya. “Aku memainkan warna kulit, bayangan di sekitar mata, dan pencahayaan. Ditambah suasana rumah yang sudah membuat kalian tegang sejak awal, otak bisa menangkap wajah Sinta dengan cara berbeda.”Nadira masih memperhatikan Sinta selama beberapa detik. “Kamu belajar rias seperti ini dari internet?”“Kurang lebih.”Jawaban itu sengaja dibuat pendek. Ryan tidak mungkin mengatakan bahwa pengetahuan merias jenazah mendadak muncul di kepalanya setelah menyelesaikan ritual cermin dari ponsel peninggalan ayahnya.Nadira tampaknya m
“Yang membuat aku pingsan itu cerminnya.”Faris mengucapkan kalimat itu sambil duduk di sofa dengan wajah masih pucat. Nadira baru saja selesai memeriksa denyut nadi dan pupil matanya, sementara Sinta berdiri tidak jauh dari mereka sambil terus melirik lorong menuju kamar mandi.Ryan yang sedang memegang ponsel hitam langsung berhenti.Ucapan Faris membuatnya teringat Misi Mimpi Buruk semalam. Sosok di dalam cermin seharusnya gagal keluar karena sesuatu telah menghalanginya. Boneka kain milik ibunya juga muncul tanpa penjelasan dan salah satu lengannya ditemukan gosong.Namun kejadian beberapa menit lalu membuktikan satu hal.Makhluk itu belum pergi.Ia mungkin tidak lagi terjebak hanya di cermin kamar mandi. Selama eksperimen, sosok perempuan muncul di kamera lorong, memengaruhi Faris, bahkan membuat kamera merekam dua Faris pada waktu yang sama.Ryan menatap layar ponsel hitam.[Entitas tidak dikenal telah menemukan jalur menuju dunia pengguna.]Kalimat itu terasa jauh lebih menggan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
avaliações