Compartilhar

Jangan Baper!

Autor: CitraAurora
last update Data de publicação: 2026-10-01 17:52:43

"Kamu yakin Mas akan menjodohkan mereka?" tanya Alya lembut begitu pintu villa tertutup rapat, meninggalkan ruang sunyi usai kehebohan Fira dan Devan.

​Dewa tersenyum tipis, lalu menarik Alya lembut ke dalam pelukannya. "Iya, Sayang. Devan itu pria yang sangat baik, loyal, dan pekerja keras. Sayang sekali kalau pria berkemampuan hebat seperti dia malah berjodoh dengan wanita lain. Aku sudah mengenalnya bertahun-tahun, aku tahu betul kualitas dirinya. Dia pria yang tepat untuk menjaga Fira."

​Di
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Terapi Gila Atasanku   Aku Akan Tahu Setelah Pulang!

    "Fira tidak ikut, Bu Alya. Fira ada di rumah," jawab Devan seraya menatap Dewa dan Alya dengan raut wajah agak was-was.​Sebenarnya sejak kejadian pertengkaran di kantor hari itu, Devan dan Fira memang benar-benar menjaga jarak. Entah sikapnya tergolong keterlaluan atau tidak, namun rasa sakit hati akibat merasa dibohongi membuat Devan memilih untuk menutup diri dan tidak ingin diganggu oleh Fira untuk sementara waktu.​"Tumben dia cuma di rumah? Apa kalian berdua sedang ada masalah?" tanya Dewa memicingkan mata, menatap Devan penuh kecurigaan.​Devan segera menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Tidak, Pak Dewa. Kami tidak ada masalah apa-apa," dusta Devan berusaha menutupi.​Tak selang berapa lama, ponsel di dalam saku jas Dewa berdering nyaring. Panggilan masuk dari Mamanya. Dewa pun menggeser layar dan mengangkatnya.​"Halo, Ma?"​"Dewa, apakah kamu dan Alya sudah tiba di bandara?" tanya sang mama dari seberang telepon.​"Baru saja tiba, Ma. Ini kami baru mau perjalanan pulang ke

  • Terapi Gila Atasanku   Fira Mana?

    "Kamu tadi pingsan, Fir. Sekarang ceritakan sama Om dan Tante, sebenarnya kenapa sampai bisa pingsan begini?" tanya Mama Dewa dengan raut wajah penuh cemas, menatap Fira yang masih terbaring lemah di sofa. ​Fira menunduk dalam-dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya yang pucat. Tak lama kemudian, air matanya kembali menetes membasahi punggung tangannya.​"Ada masalah sedikit, Tante... Tapi Tante sama Om jangan khawatir, Fira tidak apa-apa kok," jawab Fira lirih. Wanita muda itu dengan sengaja menolak untuk berterus terang, enggan menceritakan pertengkarannya dengan Devan.​Mendengar jawaban itu, Papa Dewa ikut menimpali dengan nada tegas namun penuh perhatian. "Fira, cobalah cerita ada apa sebenarnya. Siapa tahu Om dan Tante bisa membantu mencarikan jalan keluar untuk masalahmu, daripada kamu memendamnya sendiri seperti ini? Lihat fisikmu, makanmu tidak teratur, kondisi tubuhmu sangat lemah sampai pingsan begini. Kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu, bagaimana Om dan Tante harus me

  • Terapi Gila Atasanku   Pingsan

    Waktu berjalan dengan begitu cepat. Perjalanan liburan romantis Dewa dan Alya terus berlanjut melintasi negara-negara indah di Benua Biru. Dari keasrian pegunungan Swiss, mereka terbang menikmati hangatnya Spanyol, menjelajahi terusan kanal di Belanda, menyusuri sudut-sudut bersejarah Jerman, menikmati momen manis di Prancis, hingga mengagumi indahnya pesisir Yunani dan beberapa negara Eropa lainnya. ​Mereka benar-benar menikmati momen berharga berdua, melepaskan segala beban dan kejenuhan yang ada. Hingga tanpa terasa, malam ini telah menjadi malam terakhir keberadaan mereka di benua Eropa. ​Di dalam kamar hotel berbintang tempat mereka menginap, Alya bersandar di dada bidang Dewa seraya menatap kerlap-kerlip lampu kota dari balik jendela. ​"Rasanya baru kemarin kita berangkat dari Jakarta ya, Mas... eh, sekarang tahu-tahu sudah mau pulang saja," celetuk Alya sedikit berat hati. ​Dewa menunduk, mengusap lembut bahu polos istrinya lalu tersenyum manis. "Kenapa, Sayang? Apa kamu ma

  • Terapi Gila Atasanku   Gatal dan Gatal

    Alea melangkah gontai meninggalkan ruang kerja suaminya dengan air mata yang tumpah semakin deras membasahi pipinya. Setibanya di kamar pribadinya, ia langsung menutup pintu dan merosot jatuh duduk di lantai, bersandar di balik daun pintu sambil memeluk kedua lututnya erat-erat. Tangisnya pecah sekencang-kencangnya, menyalurkan segala sesak yang menghimpit rongga dadanya.​"Aku sangat mencintaimu, Mas... sungguh, sangat-sangat cinta." gumam Alea di antara isak tangisnya yang memilukan. "Tapi kenapa! kamu memperlakukanku dengan seburuk ini?"​Sementara itu di ruang kerjanya, kekacauan yang sama tengah terjadi di dalam batin David. Pria itu menatap nanar meja kerjanya, lalu dengan napas memburu dan emosi yang meledak-ledak, ia menyapu bersih semua buku, berkas, dan cangkir yang ada di atas meja hingga berserakan jatuh ke lantai. Pecahan keramik dan buku-buku berhamburan ke segala arah.​David mencengkeram tepi meja kuat-kuat, rahangnya mengeras hebat. Jantungnya bergemuruh menolak tenan

  • Terapi Gila Atasanku   Melakukan Di Depan Matamu!

    Dasar Dewa! Tak peduli di dalam kamar, kamar mandi, balkon, bahkan di tempat terbuka yang rawan terlihat orang pun, begitu hasratnya muncul, ia selalu ingin melampiaskannya saat itu juga. Untung saja ini di negeri barat, di mana hal-hal yang dianggar tabu di sana kerap dianggap lumrah di negeri ini. ​"Baiklah, tapi sebentar saja ya! Jangan lama-lama!" ancam Alya sambil cemberut. ​"Iya, iya, Sayang... enggak lama kok, cuma sebentar. Paling-paling cuma satu jam," kekeh Dewa. ​Alya mendengus kesal. Satu jam itu sangat lama! Ia takut sewaktu-waktu ada penduduk lokal atau wisatawan yang melintas di sekitar sungai tersembunyi ini. ​"Sejauh mataku memandang, tidak ada orang sama sekali di sini, Sayang," rayu Dewa lembut seraya makin mempererat dekapannya. ​"Kenapa sih, Mas? Enggak nanti saja di hotel? Kamu ini mengganggu saja, padahal aku ingin jalan-jalan dengan tenang menikmati keindahan alam negeri ini," protes Alya manja. ​"Maka dari itu, ayo biar cepat selesai!" bujuk Dewa tak sa

  • Terapi Gila Atasanku   Sungai Aare

    Setibanya di rumah, Fira langsung melangkah tergesa-gesa menuju lantai atas. Meskipun di ruang tengah tampak Mama Dewa sedang duduk bersantai, ia sama sekali tidak berniat menyapa atau sekadar melirik tantenya itu. Langkah kakinya mendaki anak tangga dengan cepat, menyembunyikan wajahnya yang masih basah oleh air mata. ​"Fira... tumben jam segini sudah pulang?" tanya Mama Dewa heran, menatap punggung keponakannya yang berlalu begitu saja. ​Namun, Fira bergeming seribu bahasa. Ia mengabaikan pertanyaan itu sepenuhnya, dan yang terdengar hanyalah suara ketukan sepatunya yang bergegas menaiki tangga. ​Anak itu kenapa, ya? gumam Mama Dewa dalam hati, merasa ada yang tidak beres dengan perangai Fira hari itu. Di dalam kamarnya Fira langsung ambruk di tempat tidur, dia menangis di bawah bantal. "Kenapa sih harus begini, aku dan Mas Dafa tidak ada hubungan apa-apa Mas." ​Di belahan bumi yang lain, suasana duka dan canggung di rumah terasa sangat kontras dengan keindahan pemandangan di

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status