Share

Malam Pertama

Author: CitraAurora
last update publish date: 2026-09-30 21:24:57

Usai menyambut tamu yang hadir, Dewa dan Alya akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamar villa mereka. Dewa menyerahkan sisa urusan tamu kepada Devan, Fira, serta mama dan papanya. Ia menegaskan bahwa malam ini tidak boleh ada seorang pun yang mengganggunya.

​"Iya, iya, sana masuk! Mama tahu kamu sudah kebelet dari tadi, kan?" goda sang mama terkekeh.

​"Anakmu ini memang maniak sekali. Bukankah setiap hari kalian juga sudah malam pertama?" sahut sang papa menambahi.

​Dewa terkekeh pelan sera
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Herawati Wiria
karena itu bukan mlm pertama dah sering melakukannya ...hadeuuuh
goodnovel comment avatar
CitraAurora
Iya pikirku mereka udah hot hot an setiap hari.. nanti ya aku bikin yang lebih hehe..
goodnovel comment avatar
Utty
mereka sudah hot tiap hari kak... tp ayo Thor bikin yg lebih hot...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Terapi Gila Atasanku   Alu Harus Tenang

    "Tapi sakit, Mas..." tumpah air mata Alea seraya menahan perih yang mencabik-cabik tubuhnya.​"Itu yang aku mau!" sahut David dingin, tanpa ada sedikit pun rasa iba di matanya.​Pekikan, erangan kesakitan, dan desahan napas kasar berbaur menjadi satu dalam kegelapan kamar malam itu. Alea benar-benar tersiksa lahir dan batin. Padahal, andaikan David mau bersikap lebih lembut sedikit saja, Alea tentu akan melayaninya dengan sepenuh hati sebagai seorang istri yang tulus mencintainya.​Setelah mendapatkan pelampiasan gairah dan emosinya, David akhirnya bangkit dari tempat tidur. Ia membetulkan pakaiannya, merapikan celananya kembali, lalu membiarkan Alea tergeletak telentang tak berdaya di atas ranjang dengan tubuh yang dipenuhi ruam kemerahan bekas perlakuan kasarnya.​"Cepat bersihkan dirimu!" bentak David seraya melangkah menuju sofa kamar dan menyalakan sebatang rokok.​Alea mengangguk pasrah. Dengan sisa tenaga yang ada, ia memaksakan tubuhnya bangkit dari tempat tidur dan berjalan p

  • Terapi Gila Atasanku   Aku Masih Belum Puas!

    "Belum, Ma," jawab Dewa sambil tersenyum menggoda istrinya.​"Kamu ini, badan saja yang besar tapi payah!" kelakarnya sengaja memancing tawa.​Dewa tertawa renyah. "Lagi pula Dewa juga enggak mau buru-buru, Ma. Dewa masih ingin menikmati masa-masa 'pacaran' berdua sama Alya."​"Iya, memang benar kata Dewa," timpal Papa Dewa bijak. "Awal-awal menikah begini kalau langsung memiliki momongan memang akan sedikit menyita waktu kalian berdua. Tapi ingat, jangan terlalu lama bersenang-senangnya. Ingat umur kami yang makin tua ini," pesan sang papa terkekeh.​"Siap, Papa Boss!" sahut Dewa penuh semangat sembari memberi hormat canda.​"Dasar anak kurang ajar," cetus Mama Dewa ikut tertawa gemas melihat kelakuan putranya.​Dewa kemudian membetulkan posisi duduknya dan mengubah topik. "Oh ya, Ma... dua minggu lagi kan acara pertunangan Fira dan Devan. Mama bantu Dewa untuk menyiapkan semua keperluannya ya, Ma. Lalu bagaimana dengan Om dan Tante di kampung? Apa mereka bisa datang ke Jakarta?"​Ra

  • Terapi Gila Atasanku   Apa Sudah Ada Calon Cucu Mama?

    Devan mematung di tempatnya berdiri. Pria itu merasa serba salah dan bingung harus bertindak seperti apa. Namun, tak bisa dipungkiri oleh batinnya yang paling dalam, rasa rindu yang teramat sangat kepada Fira meletup-letup di dadanya.​Melihat reaksi Devan, Alya perlahan berdiri dari tepi ranjang, memberikan ruang dan tempatnya kepada Devan. Alya melirik sang suami, memberikan kode lewat tatapan mata agar memberi sejoli itu ruang pribadi.​"Kita keluar dulu ya. Kalian bicaralah baik-baik," kata Dewa lembut, lalu melingkarkan jemarinya menggandeng tangan Alya melangkah keluar kamar.​Begitu pintu kamar jati itu tertutup rapat, Fira yang tak sanggup lagi menahan rasa rindunya langsung berhambur merengkuh dan memeluk Devan erat-erat. Ia menyandarkan wajahnya di dada bidang sang calon suami, menangis terisak.​"Aku sangat merindukan kamu, Mas..." bisik Fira dengan suara gemetar. "Aku mohon maafkan aku... Aku tahu aku salah, tapi demi Tuhan aku dan Mas Dafa benar-benar tak ada hubungan apa

  • Terapi Gila Atasanku   Aku Akan Tahu Setelah Pulang!

    "Fira tidak ikut, Bu Alya. Fira ada di rumah," jawab Devan seraya menatap Dewa dan Alya dengan raut wajah agak was-was.​Sebenarnya sejak kejadian pertengkaran di kantor hari itu, Devan dan Fira memang benar-benar menjaga jarak. Entah sikapnya tergolong keterlaluan atau tidak, namun rasa sakit hati akibat merasa dibohongi membuat Devan memilih untuk menutup diri dan tidak ingin diganggu oleh Fira untuk sementara waktu.​"Tumben dia cuma di rumah? Apa kalian berdua sedang ada masalah?" tanya Dewa memicingkan mata, menatap Devan penuh kecurigaan.​Devan segera menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Tidak, Pak Dewa. Kami tidak ada masalah apa-apa," dusta Devan berusaha menutupi.​Tak selang berapa lama, ponsel di dalam saku jas Dewa berdering nyaring. Panggilan masuk dari Mamanya. Dewa pun menggeser layar dan mengangkatnya.​"Halo, Ma?"​"Dewa, apakah kamu dan Alya sudah tiba di bandara?" tanya sang mama dari seberang telepon.​"Baru saja tiba, Ma. Ini kami baru mau perjalanan pulang ke

  • Terapi Gila Atasanku   Fira Mana?

    "Kamu tadi pingsan, Fir. Sekarang ceritakan sama Om dan Tante, sebenarnya kenapa sampai bisa pingsan begini?" tanya Mama Dewa dengan raut wajah penuh cemas, menatap Fira yang masih terbaring lemah di sofa. ​Fira menunduk dalam-dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya yang pucat. Tak lama kemudian, air matanya kembali menetes membasahi punggung tangannya.​"Ada masalah sedikit, Tante... Tapi Tante sama Om jangan khawatir, Fira tidak apa-apa kok," jawab Fira lirih. Wanita muda itu dengan sengaja menolak untuk berterus terang, enggan menceritakan pertengkarannya dengan Devan.​Mendengar jawaban itu, Papa Dewa ikut menimpali dengan nada tegas namun penuh perhatian. "Fira, cobalah cerita ada apa sebenarnya. Siapa tahu Om dan Tante bisa membantu mencarikan jalan keluar untuk masalahmu, daripada kamu memendamnya sendiri seperti ini? Lihat fisikmu, makanmu tidak teratur, kondisi tubuhmu sangat lemah sampai pingsan begini. Kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu, bagaimana Om dan Tante harus me

  • Terapi Gila Atasanku   Pingsan

    Waktu berjalan dengan begitu cepat. Perjalanan liburan romantis Dewa dan Alya terus berlanjut melintasi negara-negara indah di Benua Biru. Dari keasrian pegunungan Swiss, mereka terbang menikmati hangatnya Spanyol, menjelajahi terusan kanal di Belanda, menyusuri sudut-sudut bersejarah Jerman, menikmati momen manis di Prancis, hingga mengagumi indahnya pesisir Yunani dan beberapa negara Eropa lainnya. ​Mereka benar-benar menikmati momen berharga berdua, melepaskan segala beban dan kejenuhan yang ada. Hingga tanpa terasa, malam ini telah menjadi malam terakhir keberadaan mereka di benua Eropa. ​Di dalam kamar hotel berbintang tempat mereka menginap, Alya bersandar di dada bidang Dewa seraya menatap kerlap-kerlip lampu kota dari balik jendela. ​"Rasanya baru kemarin kita berangkat dari Jakarta ya, Mas... eh, sekarang tahu-tahu sudah mau pulang saja," celetuk Alya sedikit berat hati. ​Dewa menunduk, mengusap lembut bahu polos istrinya lalu tersenyum manis. "Kenapa, Sayang? Apa kamu ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status