Home / Romansa / Terapi Gila Atasanku / Perpisahan Termanis

Share

Perpisahan Termanis

Author: CitraAurora
last update publish date: 2026-10-13 19:51:44

Siang itu, suasana kantor Devan cukup sibuk. Begitu jarum jam menunjukkan pukul dua belas, jam istirahat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Fira yang baru saja merapikan berkas-berkas di mejanya menghela napas lega. Namun, kelegaannya tak bertahan lama saat layar ponselnya menyala, menampilkan sebuah notifikasi pesan dari Dafa.

​“Nanti sore aku akan kembali ke kotaku. Bisa enggak kita bertemu?”

​Membaca pesan itu, Fira mendadak dilanda rasa bingung yang luar biasa. Jemarinya menggantung di atas pap
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terapi Gila Atasanku   Pelukan Terakhir

    Setelah menyelesaikan makan siang dan mengobrol asyik, kini waktunya Fira untuk segera kembali ke kantor. Jam istirahat sudah hampir usai. Begitu pula dengan Dafa, pria itu harus bersiap-siap kembali ke kota asalnya untuk mengurus berkas dan segala persiapan penerbangannya ke Amerika Serikat.​"Kamu yakin enggak mau aku antar, Fir?" tanya Dafa memastikan seraya mereka berjalan bersama menuju pintu keluar restoran.​"Enggak usah, Mas. Aku bisa naik taksi online. Lagipula kantor tempatku bekerja dan hotel tempatmu menginap kan arahnya berlawanan," tolak Fira secara halus.​Dafa tertawa kecil. "Ya sudah kalau begitu. Aku juga enggak mau memaksa, nanti malah mau lagi aku antar hehe."​Fira yang merasa digoda langsung melayangkan cubitan gemas ke perut Dafa. "Kamu ini lucu banget sih, Mas! Kenapa dulu pas kuliah enggak coba daftar jadi pelawak saja?"​Dafa terkekeh renyah sambil memegangi perutnya. "Sudah pernah daftar, tapi sayangnya kalah bersaing sama pelawak-pelawak senior."​Gelak taw

  • Terapi Gila Atasanku   Perpisahan Termanis

    Siang itu, suasana kantor Devan cukup sibuk. Begitu jarum jam menunjukkan pukul dua belas, jam istirahat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Fira yang baru saja merapikan berkas-berkas di mejanya menghela napas lega. Namun, kelegaannya tak bertahan lama saat layar ponselnya menyala, menampilkan sebuah notifikasi pesan dari Dafa.​“Nanti sore aku akan kembali ke kotaku. Bisa enggak kita bertemu?”​Membaca pesan itu, Fira mendadak dilanda rasa bingung yang luar biasa. Jemarinya menggantung di atas papan ketik ponselnya. Sebenarnya, ada rasa tak enak hati yang bersarang di dada Fira terhadap Dafa. Selama Dafa berada di ibu kota (pria yang sejatinya datang khusus hanya demi menemui dirinya) Fira terus-menerus menolak untuk bertemu. Ia melakukan itu semua bukan tanpa alasan. Fira hanya ingin menjaga perasaan Devan dan tidak ingin kekasihnya itu terbakar cemburu.​Karena Fira tak kunjung membalas, beberapa menit kemudian Dafa kembali mengirimkan pesan lanjutan.​“Anggap saja ini makan siang perp

  • Terapi Gila Atasanku   Visi Menggoda Gagal

    Keesokan harinya, Dewa dan Alya kembali ke hotel utama mereka di pusat Kota London. Tanpa menunda waktu, Dewa segera membuat janji temu dengan dokter di rumah sakit terdekat untuk memeriksakan kondisi kesehatan dan reproduksi istrinya.​Untuk penyakit yang kerap dikeluhkan Alya selama ini, dokter menyatakan tidak ada hal serius yang perlu dikhawatirkan. Namun, terkait ketakutan Alya soal kesulitan memiliki anak, dokter kandungan di rumah sakit tersebut langsung melakukan pemeriksaan menyeluruh.​Dari hasil USG, organ reproduksi Alya tampak sangat sehat dan tidak ditemukan kelainan apa pun.​"Dari hasil pemeriksaan, tidak ada hambatan atau kelainan yang mengganggu proses reproduksi di dalam rahim Anda. Sebelumnya, apakah Anda pernah atau sedang menggunakan kontrasepsi seperti KB?" tanya dokter ramah.​"Iya, Dok... Sebelumnya saya pernah menggunakan pil KB," jawab Alya jujur.​Dokter mengangguk paham. "Penggunaan pil KB memang kerap memengaruhi keseimbangan hormon untuk sementara waktu.

  • Terapi Gila Atasanku   Kambuh Lagi

    Meskipun sempat bersenang-senang dan mencoba beberapa wahana permainan di pasar malam, nyatanya bayang-bayang ucapan sang nenek peramal tidak pernah benar-benar pergi dari benak Alya.​Sesampainya di kamar hotelnya, benak Alya justru semakin riuh. Otaknya dipenuhi ketakutan yang kian liar. Dia benar-benar takut jika penerawangan peramal itu kenyataan—bagaimana jika dirinya tidak bisa hamil? Bagaimana jika Dewa perlahan menjauh dan meninggalkannya? Kalaupun Dewa tak mempermasalahkan dirinya yang tidak hamil, lantas bagaimana dengan mertuanya? Papa dan Mama Erlangga jelas sangat merindukan kehadiran seorang cucu sebagai penerus takhta keluarga.​Pikiran-pikiran buruk itu terus merayap, membuat Alya merasa sangat frustrasi dan tertekan. Dan entah mengapa, penyakit lama yang sudah sangat jarang kambuh itu tiba-tiba merayapi tubuhnya malam ini. ​"Nggkh... sakit..." cicit Alya lirih.​Jari-jari Alya mulai meremas kain bantal dengan kencang. Ia mencoba menahan denyutan nyeri yang meremukkan

  • Terapi Gila Atasanku   Naik Bianglala

    "Apa, Nek? Kesulitan hamil? Apa maksudnya saya mandul?!" tanya Alya dengan mata nanar dan suara bergetar menahan tangis.​Nenek tua itu tersenyum tipis penuh arti. "Menurut penerawanganku, jalan keturunan kalian memang tidak mudah..." jawab wanita tua itu tenang.​Mendengar itu, emosi Dewa seketika tersulut. Tanpa membuang waktu, ia merogoh dompetnya dan meletakkan beberapa lembar pecahan uang Poundsterling dalam jumlah besar ke atas meja. "Sudah ayo pergi dari tempet ini!"Tanpa aba-aba lagi, Dewa langsung menarik tangan Alya untuk segera keluar dari tenda remang-remang tersebut."Mas apa mungkin aku tidak akan punya anak?" Kata Alya. ​"Sudah, jangan didengarkan ramalan itu," bujuk Dewa begitu mereka tiba di luar tak jauh dari tenda peramal tersebut."Kita ini manusia beragama, kita percaya penuh kepada Tuhan. Urusan takdir dan keturunan, siapa yang tahu selain Dia?"​Alya masih terdiam seribu bahasa. Langkah kakinya terasa berat, hingga akhirnya perlahan air matanya tetes demi tet

  • Terapi Gila Atasanku   Sulit Hamil

    ​"Iya, Mas... pasti," sahut Alya tersenyum haru, matanya berkaca-kaca.​"Katanya pria itu nanti akan mengalami masa puber kedua. Mereka akan merasakan jatuh cinta kembali... Dan kalau saat itu tiba, aku berharap orang yang membuatku jatuh cinta tetaplah kamu. Aku ingin berkali-kali jatuh cinta pada wanita yang sama, yaitu kamu, Alya," ungkap Dewa dengan tatapan mendalam.​Mendengar ucapan manis dari suaminya, Alya menatap Dewa penuh haru. "Aku juga sama, Mas. Aku juga ingin berkali-kali jatuh cinta pada orang yang sama... yaitu kamu."​Keduanya pun saling merengkuh erat di depan pagar cinta tersebut, menikmati kehangatan di tengah sejuknya angin kota London.​Usai menyematkan gembok cinta, Dewa dan Alya berjalan santai menuju stasiun kereta terdekat. Dewa ingin mengajak istrinya mencoba pengalaman berbeda dengan menaiki kereta antarkota secara acak.​"Kita mau ke mana lagi, Mas?" tanya Alya saat mereka berdiri di peron.​"Sudahlah, kita ikuti saja ke mana kereta ini membawa kita. Nant

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status