Home / Urban / Terapi Hasrat Dokter Bagas / Bab 5 — Gairah Kembali Lahir

Share

Bab 5 — Gairah Kembali Lahir

Author: Dark_Pen
last update Last Updated: 2025-10-16 09:27:13

Bibir mereka berdua mulai bertautan lembut. Namun Bagas masih terlihat pasif, ia masih mencoba mencerna semua ini. Tapi tidak dengan Clara. Ia mendekap lembut pinggang Bagas menarik ke arah dirinya. Bagas dapat merasakan kedua bukit kembar wanita itu di dadanya yang terhimpit.

Nafas Clara semakin menggebu. Bahkan kini ia mulai melepas kancing kemeja Bagas satu persatu. Tangannya menelusup ke dalam—mengelus lembut dada bidang pria itu.

Darah Bagas langsung mendesir merasakan sentuhan hangat yang kini mulai membangkitkan gairahnya. Ia mulai terbawa suasana, hingga tangannya kini ikut terangkat melingkar di pinggang Clara. Bagas mulai merasakan sesuatu, selalu sisi yang sempat mati dalam dirinya kini mulai hidup kembali.

Namun lagi-lagi, gelar Dokter yang ia sandang seakan berbisik.

“Ini salah.”

Logika dan gairahnya mulai bertarung membuat Bagas mempertanyakan tentang siapa dirinya sendiri.

Sementara Clara, semakin lama semakin liar. Bagian atas kemejanya telah terbuka memperlihatkan bahu putih mulus dan bukit kembarnya yang masih dibalut bra. Begitu lama bibir mereka bertautan—saling memberikan kehangatan. Namun saat Clara ingin melangkah lebih jauh—saat tangannya mulai menyentuh resleting celana bahan yang Bahasa kenakan… akhirnya Bahasa berhenti.

“Maaf, Bu Clara. Saya tidak bisa.”

Akhirnya Bagas melepaskan wanita itu. Ia mundur beberapa langkah. Sementara Clara, dia nampak begitu kecewa, wajahnya di tekuk. Ia masih membiarkan bagian atas tubuhnya terlihat bebas.

Bagas langsung kembali duduk di sofa, rasa gugup jelas masih terlihat di wajahnya.

“Sesi konseling hari ini, saya rasa sudah cukup, Bu. Kita akan lanjut sesi berikutnya besok.”

Clara masih berdiri diam, wajahnya murung. Perlahan jari lentiknya memegang kemeja yang terbuka, ia memakainya kembali.

Clara berjalan pelan, mengambil outernya di sebelah Bagas. Ia berhenti dan sejenak menatap Bagas kembali.

Bagas diam, ia begitu gugup. “Sampai bertemu besok, Bu Clara,” ucapnya canggung.

Tanpa menjawab, Clara mengambil tas kecil dan meninggalkan ruang konseling.

Setelah pintu tertutup, Bagas duduk diam. Memikirkan sejenak apa yang terjadi tadi. Hatinya gelisah, pikirannya tidak karuan.

Bagas membuka kembali catatan yang ia tulis tentang Clara tadi. Ia memandangnya sejenak, lalu ia tutup kembali.

Bagas merebahkan punggungnya di sofa, pandangannya menatap nanar ke langit-langit ruangan.

Bayang Clara masih tergambar jelas di benaknya. Senyumnya, hangat bibirnya, bahkan dua bukit miliknya yang menggugah bermain liar di pikirannya.

Ada rasa ingin memiliki dan menyentuh, namun lagi-lagi sisi lain dirinya membantah.

Bagas mengusap wajahnya kasar, bayangan Clara terus bermain di kepalanya. Entah mengapa, semakin ia mencoba melupakan, semakin besar harta yang muncul dari dalam dirinya.

Beberapa saat kemudian…

Tok Tok!

“Dok, Dokter Bagas.”

Suara Mayra dari balik pintu membuyarkan semua lamunannya.

“Masuk,” ucap Bagas pelan.

Pintu terbuka, Mayra muncul dari luar. Bagas langsung memperbaiki posisi duduknya dan berusaha bersikap seperti biasa.

“Ada apa, Sus?”

Mayra tersenyum. “Bagaimana sesi pertama anda, Dok?”

“Sempurna,” jawabnya sedikit gugup.

Mayra tampak sedikit menaikkan alisnya. Dia mendekat. “Tapi kancing baju anda terbuka, Dok.” Ia sedikit menunduk. “Anda juga terlihat gelisah,” ucapnya kembali.

“Hah?”

Bagas terkejut saat menyadari kancing kemejanya masih terbuka di bagian atas. Ia buru-buru merapikannya lalu berdiri tegak.

“Maaf! Saya sedikit gerah tadi,” jawab Bagas beralasan.

“Oh, ternyata anda juga bisa gerah ya Dok, di ruangan ber-AC begini?” ucap Mayra kembali seolah mengintrogasi Bagas.

“Bukan, tadi AC-nya mati sendiri. Sekarang baru menyala lagi.”

Mayra tidak lagi menjawab, ia hanya mengangguk pelan. Namun tatapannya tampak berbeda ke arah Bagas.

“Iya, Dok. Saya percaya kok. Dokter jangan gugup begitu.”

Bagas tersenyum, berusaha bersikap normal agar tidak di curigai.

“Oh ya, Dok. Madame Renata ingin bertemu anda.”

“Oh, Renata, ya?”

“Beliau menunggu anda di ruangannya.”

“Iya, saya akan ke sana.”

“Mari Dok, saya antar.”

“Tidak perlu, saya bisa sendiri.”

Mayra kembali tersenyum. “Baik, Dok. Kalau begitu, saya permisi.”

“Iya. Terima kasih, Sus.”

Mayra mengangguk lalu kembali menutup pintu meninggalkan Bagas di sana.

“Hmm… ada apa ya?”

Bagas menghela nafas berat. Ia mengambil catatan kecilnya dan keluar menuju ke ruangan Renata.

Di depan ruang Madame Renata, ia berdiri sejenak sebelum masuk. Ia penasaran, kiranya apa yang ingin dikatakan oleh wanita itu.

Bagas mengetuk pintu pelan.

“Masuk.” Suara Madame Renata terdengar samar dari dalam.

Bagas menarik nafas pelan untuk melegakan paru-parunya, lalu ia masuk ke dalam.

“Maaf Madame. Kata Maya, anda memanggil saya?”

“Iya,” jawabnya singkat. Lalu mendongak dan menatap Bagas. “Duduk,” katanya lagi.

Bagas langsung duduk di hadapan Renata yang hari ini nampak mempesona dengan blazer coklat muda yang membalut tubuhnya.

Bagas sedikit mengerutkan keningnya melihat Renata dengan raut wajah kesal hari ini. Ia mulai bertanya-tanya ada apa.

“Bagaimana sesi pertama terapi anda, Dok?” tanya Renata, suaranya datar.

“Berjalan lancar, Madame.”

“Lancar apanya?”

Bagas terkejut, suara Renata sedikit meninggi.

“Saya mendapat laporan dari Clara, jika sesi terapi anda begitu kaku, Dok.”

“Kaku bagaimana? Saya hanya melakukan sesuai prosedur. Lagi pula penyembuhan mental issue harus bertahap, tidak bisa langsung.”

“Bukankah sudah saya katakan, disini kita menggunakan metode yang berbeda.”

Suasana mulai tegang sejenak, Bagas tercekat.

“Metode apa? Berbeda bagaimana?” Bagas bangkit. “Anda selalu saja mengatakan metode yang berbeda, tapi anda tidak pernah memberitahu saya bagaimana metodenya.” Ia nampak sedikit kesal.

Renata tersenyum, ia bangkit dan berjalan memutari meja lalu mendekat ke arah Bagas.

“Dokter, apa anda tahu fungsi ranjang di ruang kerja anda?” Renata semakin mendekat, tatapannya nampak beda.

Bagas terdiam, pikirannya langsung melayang ke informasi yang ia temukan semalam.

“Dokter. Ranjang itu akan selalu basah jika metode anda benar. Tidak perlu banyak bicara, jika cara yang anda lakukan benar mereka akan sembuh dengan sendirinya.”

Renata berhenti tepat di hadapan Bagas.

“Cara apa? Sebenarnya apa yang anda maksud?”

Renata kembali tersenyum samar, ia menggeleng pelan. Tatapannya berubah menjadi begitu menggoda. Perlahan, ia mulai membuka blazer yang ia pakai, lalu dijatuhkan ke lantai dengan gaya begitu menggoda.

Kini hanya menyisakan kemeja putih sedikit transparan dan memperlihatkan pakaian dalamnya. Garis pada lekukan indah di bagian atas tubuhnya mengintip samar dari balik kancing atas yang sedikit terbuka.

Bagas menelan ludahnya.

Renata semakin mendekat—sambil membuka kancing kemejanya satu persatu.

“Ma-Madame, apa yang anda lakukan?” ucap Bagas seraya mundur perlahan.

“Loh! Kenapa terkejut, dr. Bagas? Bukankah anda ingin tahu bagaimana metode di klinik kami?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terapi Hasrat Dokter Bagas   Bab 148 — Akhir Kisah

    Matahari mulai condong ke arah barat, menciptakan bias warna oranye kemasan yang memantul di deretan pohon pinus Desa Gunung Jati. Udara sore itu terasa sejuk, membawa aroma tanah basah dan wangi bunga kopi yang mekar di kejauhan. Bagas berdiri di teras rumah kayunya, menyandarkan tubuh pada tiang penyangga yang kokoh. Ia menghela napas panjang, sebuah tarikan napas yang penuh dengan rasa syukur dan kedamaian yang belum pernah ia rasakan selama puluhan tahun hidup di hiruk-pikuk kota.Di depannya, hamparan kebun yang ia rawat sendiri kini mulai membuahkan hasil. Sayur-mayur tumbuh subur, dan beberapa pohon buah yang ia tanam setahun lalu mulai menampakkan kuncupnya. Namun, bukan kebun itu yang menjadi sumber kebahagiaan utamanya.Suara tawa renyah terdengar dari dalam rumah. Bagas menoleh dan melihat pemandangan yang selalu berhasil menghangatkan hatinya. Mayra, dengan perut yang kini sudah membulat besar di usia tujuh bulan, duduk di sofa panjang sambil melipat pakaian bayi yang baru

  • Terapi Hasrat Dokter Bagas   Bab 147 — Obsesi Sarah

    Hari-hari yang mereka lalui kini begitu hangat, perut Mayra semakin buncit, kehamilan Tania semakin baik. Bagas merasa hidupnya begitu lengkap dengan kehadiran dua wanita yang sama-sama sedang mengandung benihnya ini.Bahkan kini Bagas sudah lebih terbuka dan bergaul dengan warga desa. Mantan psikolog itu benar-benar telah berdamai dengan hidupnya. Bagas benar-benar telah melupakan kehidupan gelapnya di kota.Kini, umur kandungan Mayra sudah jalan 7 bulan. Perut wanita itu semakin Buncit, dan kehamilan Tania mulai berjalan empat bulan, perutnya juga mulai tampak membesar walau tidak sebesar Mayra.Para warga yang terkadang datang hanya untuk menyapa benar-benar kagum kepada Bagas. Bagaimana tidak, Bagas memiliki dua orang istri yang sama-sama hamil tetapi bisa hidup dengan rukun.Sore itu, Sarah yang kini sudah sangat dekat dengan keluarga Bagas terlihat datang bertamu. Resepsionis puskesmas itu datang membawa buah di tangannya.“Hai, Mas Bagas,” sapanya lembut saat melihat Bagas seda

  • Terapi Hasrat Dokter Bagas   Bab 146 — Malam Panas

    Malam itu, hujan turun dengan sangat deras di lereng Gunung Jati, seolah alam pun tahu bahwa ada api yang siap berkobar di dalam rumah kayu itu. Suasana di dalam kamar utama terasa begitu pekat dengan aroma terapi cendana dan hawa dingin yang justru memicu adrenalin.Tania berdiri di tepi ranjang, mengenakan daster tipis transparan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang kini lebih berisi. Kabar dari bidan tadi siang benar-benar membakar mentalnya. Di sisi lain, Mayra sudah bersandar di bantal, menatap Bagas dengan tatapan yang seolah berkata bahwa malam ini adalah pesta untuk mereka bertiga.Bagas mendekat, ia melepaskan kemejanya, memamerkan dada bidang dan otot perutnya yang mengeras karena kerja keras di kebun. Ia menarik Tania ke dalam pelukannya, melumat bibir wanita itu dengan sangat lapar—sebuah ciuman penebusan atas puasa sebulan penuh.Bagas merebahkan Tania di tengah ranjang, diapit oleh dirinya dan Mayra. Tidak ada lagi kecanggungan. Mayra mulai membantu melepaskan pakaian

  • Terapi Hasrat Dokter Bagas   Bab 145 — Tania Lega

    Tidak terasa, waktu satu bulan berlalu. Hari ini, jadwal Bagas membawa dua wanitanya untuk kembali ke puskesmas. Ia ingin memastikan kandungan dua wanitanya dalam keadaan sehat dan baik-baik saja.Bagas menuntun Mayra masuk ke dalam mobil. Perut gadis itu kini sudah semakin membesar di usia kandungannya yang jalan empat bulan. Tania ikut berjalan di belakang mereka, keadaan fisik Tania cukup baik akhir-akhir ini, tapi tidak dengan mentalnya. Wanita itu begitu rindu sentuhan Bagas. Cukup sesak rasanya memendam rasa di saat pria yang ia cintai bersenggama dengan Mayra tepat di sebelahnya. Namun apa boleh buat, ia tidak bisa apa-apa.Tania masuk ke dalam mobil. Ia tersenyum kepada Mayra. Ia sangat berharap hari ini ada kabar baik dari bidan. Semoga hari ini adalah akhir dari puasanya akan sentuhan Bagas.Mobil sedan putih milik Bagas perlahan memasuki area parkir Puskesmas Gunung Jati. Udara pagi itu cukup cerah, namun suasana di dalam mobil terasa sedikit tegang karena harapan besar yan

  • Terapi Hasrat Dokter Bagas   Bab 144 — Kenikmatan Yang Berbeda

    Keesokan paginya, Bagas beraktivitas seperti biasanya di kebunnya. Ia sibuk merawat tanamannya yang mulai tumbuh.Sementara di dalam, Mayra sibuk mengerjakan pekerjaan rumah yang ringan-ringan. Tania juga ikut membantu, walau Mayra sudah melarangnya berulang kali.“Enggak apa-apa, May, cuma cuci piring, kok,” ujarnya lembut.“Tapi kan kata bidan kamu harus bedrest total, Tan,” sela Mayra sambil memasukkan baju ke dalam mesin cuci.“Ya kalau cumi tidur mulu yang ada tambah stres nanti aku, bosan May.” Tania masih bersikeras sambil terus membilas piring di wastafel.“Ya udah, deh. Tapi nanti kalau Bagas marah, aku enggak tanggung jawab, ya?”Tania mengulum senyum. “Emang Bagas bisa marah sama kita, May?” Tania menoleh sambil tersenyum tipis.“Hehe, iya sih. Mana mungkin dia bisa marah sama kita, ya?”Dua wanita yang sama-sama mencintai Bagas itupun tertawa bersama. Hidup mereka cukup rukun walau sebenarnya hingga kini tidak ada ikatan pernikahan resmi di antara mereka.“May, buatin kopi

  • Terapi Hasrat Dokter Bagas   Bab 143 — Rumah Sarah

    Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Hujan mulai reda menyisakan gerimis yang masih membawa udara sejuk di malam hari.“Mbak Sarah mau pulang sekarang?” tanya Bagas setelah memeriksa keluar jika hujan sudah mulai reda.Sarah mengangguk pelan. “Boleh, Mas,” katanya.“Ya sudah, sebentar ya, saya ambil payung dulu.” Bagas langsung ke belakang untuk mengambil payung yang tadi ia simpan. Tidak lama kemudian Bagas kembali dan melihat Sarah sudah berdiri dan bersiap-siap untuk pulang.“Sayang, kamu hati-hati, ya?” ujar Mayra sambil mendekat ke arah Bagas. Tania pun sama, ia memegang lengan Bagas sambil tersenyum. “Nanti langsung balik ya?” katanya.Sarah hanya berdiri diam melihat kehangatan keluarga itu. Tidak pernah terbayang di dalam benaknya jika ada pria beristri dua, namun kedua istrinya tampak akur dan rukun. Ini anomali, semua kasus yang pernah di lihat Sarah pasti akan ada pertengkaran apabila seorang lelaki memiliki dua wanita.Pipi Sarah merona merah saat ia tidak sengaja membaya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status