LOGINBibir mereka berdua mulai bertautan lembut. Namun Bagas masih terlihat pasif, ia masih mencoba mencerna semua ini. Tapi tidak dengan Clara. Ia mendekap lembut pinggang Bagas menarik ke arah dirinya. Bagas dapat merasakan kedua bukit kembar wanita itu di dadanya yang terhimpit.
Nafas Clara semakin menggebu. Bahkan kini ia mulai melepas kancing kemeja Bagas satu persatu. Tangannya menelusup ke dalam—mengelus lembut dada bidang pria itu. Darah Bagas langsung mendesir merasakan sentuhan hangat yang kini mulai membangkitkan gairahnya. Ia mulai terbawa suasana, hingga tangannya kini ikut terangkat melingkar di pinggang Clara. Bagas mulai merasakan sesuatu, selalu sisi yang sempat mati dalam dirinya kini mulai hidup kembali. Namun lagi-lagi, gelar Dokter yang ia sandang seakan berbisik. “Ini salah.” Logika dan gairahnya mulai bertarung membuat Bagas mempertanyakan tentang siapa dirinya sendiri. Sementara Clara, semakin lama semakin liar. Bagian atas kemejanya telah terbuka memperlihatkan bahu putih mulus dan bukit kembarnya yang masih dibalut bra. Begitu lama bibir mereka bertautan—saling memberikan kehangatan. Namun saat Clara ingin melangkah lebih jauh—saat tangannya mulai menyentuh resleting celana bahan yang Bahasa kenakan… akhirnya Bahasa berhenti. “Maaf, Bu Clara. Saya tidak bisa.” Akhirnya Bagas melepaskan wanita itu. Ia mundur beberapa langkah. Sementara Clara, dia nampak begitu kecewa, wajahnya di tekuk. Ia masih membiarkan bagian atas tubuhnya terlihat bebas. Bagas langsung kembali duduk di sofa, rasa gugup jelas masih terlihat di wajahnya. “Sesi konseling hari ini, saya rasa sudah cukup, Bu. Kita akan lanjut sesi berikutnya besok.” Clara masih berdiri diam, wajahnya murung. Perlahan jari lentiknya memegang kemeja yang terbuka, ia memakainya kembali. Clara berjalan pelan, mengambil outernya di sebelah Bagas. Ia berhenti dan sejenak menatap Bagas kembali. Bagas diam, ia begitu gugup. “Sampai bertemu besok, Bu Clara,” ucapnya canggung. Tanpa menjawab, Clara mengambil tas kecil dan meninggalkan ruang konseling. Setelah pintu tertutup, Bagas duduk diam. Memikirkan sejenak apa yang terjadi tadi. Hatinya gelisah, pikirannya tidak karuan. Bagas membuka kembali catatan yang ia tulis tentang Clara tadi. Ia memandangnya sejenak, lalu ia tutup kembali. Bagas merebahkan punggungnya di sofa, pandangannya menatap nanar ke langit-langit ruangan. Bayang Clara masih tergambar jelas di benaknya. Senyumnya, hangat bibirnya, bahkan dua bukit miliknya yang menggugah bermain liar di pikirannya. Ada rasa ingin memiliki dan menyentuh, namun lagi-lagi sisi lain dirinya membantah. Bagas mengusap wajahnya kasar, bayangan Clara terus bermain di kepalanya. Entah mengapa, semakin ia mencoba melupakan, semakin besar harta yang muncul dari dalam dirinya. Beberapa saat kemudian… Tok Tok! “Dok, Dokter Bagas.” Suara Mayra dari balik pintu membuyarkan semua lamunannya. “Masuk,” ucap Bagas pelan. Pintu terbuka, Mayra muncul dari luar. Bagas langsung memperbaiki posisi duduknya dan berusaha bersikap seperti biasa. “Ada apa, Sus?” Mayra tersenyum. “Bagaimana sesi pertama anda, Dok?” “Sempurna,” jawabnya sedikit gugup. Mayra tampak sedikit menaikkan alisnya. Dia mendekat. “Tapi kancing baju anda terbuka, Dok.” Ia sedikit menunduk. “Anda juga terlihat gelisah,” ucapnya kembali. “Hah?” Bagas terkejut saat menyadari kancing kemejanya masih terbuka di bagian atas. Ia buru-buru merapikannya lalu berdiri tegak. “Maaf! Saya sedikit gerah tadi,” jawab Bagas beralasan. “Oh, ternyata anda juga bisa gerah ya Dok, di ruangan ber-AC begini?” ucap Mayra kembali seolah mengintrogasi Bagas. “Bukan, tadi AC-nya mati sendiri. Sekarang baru menyala lagi.” Mayra tidak lagi menjawab, ia hanya mengangguk pelan. Namun tatapannya tampak berbeda ke arah Bagas. “Iya, Dok. Saya percaya kok. Dokter jangan gugup begitu.” Bagas tersenyum, berusaha bersikap normal agar tidak di curigai. “Oh ya, Dok. Madame Renata ingin bertemu anda.” “Oh, Renata, ya?” “Beliau menunggu anda di ruangannya.” “Iya, saya akan ke sana.” “Mari Dok, saya antar.” “Tidak perlu, saya bisa sendiri.” Mayra kembali tersenyum. “Baik, Dok. Kalau begitu, saya permisi.” “Iya. Terima kasih, Sus.” Mayra mengangguk lalu kembali menutup pintu meninggalkan Bagas di sana. “Hmm… ada apa ya?” Bagas menghela nafas berat. Ia mengambil catatan kecilnya dan keluar menuju ke ruangan Renata. — Di depan ruang Madame Renata, ia berdiri sejenak sebelum masuk. Ia penasaran, kiranya apa yang ingin dikatakan oleh wanita itu. Bagas mengetuk pintu pelan. “Masuk.” Suara Madame Renata terdengar samar dari dalam. Bagas menarik nafas pelan untuk melegakan paru-parunya, lalu ia masuk ke dalam. “Maaf Madame. Kata Maya, anda memanggil saya?” “Iya,” jawabnya singkat. Lalu mendongak dan menatap Bagas. “Duduk,” katanya lagi. Bagas langsung duduk di hadapan Renata yang hari ini nampak mempesona dengan blazer coklat muda yang membalut tubuhnya. Bagas sedikit mengerutkan keningnya melihat Renata dengan raut wajah kesal hari ini. Ia mulai bertanya-tanya ada apa. “Bagaimana sesi pertama terapi anda, Dok?” tanya Renata, suaranya datar. “Berjalan lancar, Madame.” “Lancar apanya?” Bagas terkejut, suara Renata sedikit meninggi. “Saya mendapat laporan dari Clara, jika sesi terapi anda begitu kaku, Dok.” “Kaku bagaimana? Saya hanya melakukan sesuai prosedur. Lagi pula penyembuhan mental issue harus bertahap, tidak bisa langsung.” “Bukankah sudah saya katakan, disini kita menggunakan metode yang berbeda.” Suasana mulai tegang sejenak, Bagas tercekat. “Metode apa? Berbeda bagaimana?” Bagas bangkit. “Anda selalu saja mengatakan metode yang berbeda, tapi anda tidak pernah memberitahu saya bagaimana metodenya.” Ia nampak sedikit kesal. Renata tersenyum, ia bangkit dan berjalan memutari meja lalu mendekat ke arah Bagas. “Dokter, apa anda tahu fungsi ranjang di ruang kerja anda?” Renata semakin mendekat, tatapannya nampak beda. Bagas terdiam, pikirannya langsung melayang ke informasi yang ia temukan semalam. “Dokter. Ranjang itu akan selalu basah jika metode anda benar. Tidak perlu banyak bicara, jika cara yang anda lakukan benar mereka akan sembuh dengan sendirinya.” Renata berhenti tepat di hadapan Bagas. “Cara apa? Sebenarnya apa yang anda maksud?” Renata kembali tersenyum samar, ia menggeleng pelan. Tatapannya berubah menjadi begitu menggoda. Perlahan, ia mulai membuka blazer yang ia pakai, lalu dijatuhkan ke lantai dengan gaya begitu menggoda. Kini hanya menyisakan kemeja putih sedikit transparan dan memperlihatkan pakaian dalamnya. Garis pada lekukan indah di bagian atas tubuhnya mengintip samar dari balik kancing atas yang sedikit terbuka. Bagas menelan ludahnya. Renata semakin mendekat—sambil membuka kancing kemejanya satu persatu. “Ma-Madame, apa yang anda lakukan?” ucap Bagas seraya mundur perlahan. “Loh! Kenapa terkejut, dr. Bagas? Bukankah anda ingin tahu bagaimana metode di klinik kami?”Bagas melangkah keluar dari lift lantai dua. Ia melihat Mayra sedang sibuk menyusun jadwal di meja resepsionis. Gadis itu menatapnya dengan binar mata yang biasa, tanpa tahu bahwa beberapa jam lagi, tempat kerjanya akan menjadi saksi sebuah kegilaan baru.Mayra bangkit menyambut Bagas dengan senyum hangat.“Dok?” sapanya pelan.Bagas mendekat, mendekap lalu mengecup bibirnya dengan lembut. Mayra langsung tersipu malu.Ia langsung melingkarkan tangannya di leher Bagas. “Kenapa tadi pagi begitu buru-buru?” tanya Mayra dengan wajah manja.Bagas mengusap lembut pipi wanita manis itu. “Aku tadi buru-buru. Ada rapat di rumah sakit.”Mayra kembali tersenyum. Ia mengeluarkan secarik kertas yang tadi pagi ditinggalkan Bagas. Ia membuka kertas tersebut lalu kembali menatap Bagas. “I love you to, Dokter Bagas,” katanya lembut sambil tersenyum genit.Bagas langsung memegang wajah Mayra dan melumat bibirnya dengan lembut dan cukup dalam. Mayra tersentak, ia meremas secarik kertas di tangannya. Bag
Setelah rapat selesai. Terlihat Bagas dan Helena duduk sambil menikmati segelas kopi di pantry rumah sakit.“Kapan kamu bertemu dengan Tania?” tanya Bagas penasaran. Kata-kata Helena sebelum rapat tadi terus menghantui pikirannya.“Semalam, aku tidak sengaja bertemu dengan dia di pusat perbelanjaan di kota,” jawab Helena sambil menyesap kopi hangat di tangannya. Lalu ia kembali meletakkan cangkir dengan lembut.“Tania ingin ketemu kamu, Bagas,” katanya lagi.“Untuk apa?” tanya Bagas tanpa menoleh. Tangannya masih sibuk mengaduk kopi di atas meja.Helena mengangkat bahunya sebagai respon. “Tidak ada yang tahu, dia mau minta maaf maybe, atau kemungkinan lainnya… dia ingin menjadi bagian hidupmu lagi.”Tangan Bagas terhenti, ia langsung menoleh ke arah Helena.“Jangan bercanda Helena, itu sama sekali tidak mungkin.”“Tidak ada yang tidak mungkin Bagas. Perempuan itu jenis makhluk yang paling kompleks, kadang perasaan dapat mengalahkan rasionalitasnya. Mungkin saja Tania menyesal, atau… d
Esok harinya, Bagas terjaga. Ia membuka matanya sambil menguap pelan. Pandangannya langsung jatuh pada tubuh Mayra yang masih terlelap dalam dekapannya di balik selimut. Setelah permainan yang begitu luar semalam, akhirnya mereka berdua terkapar dan terlelap sambil berpelukan.Bagas sedikit menarik tubuhnya, tidak langsung bangun. Ia bertumpu dengan siku sambil satu tangannya membelai rambut Mayra. Gadis itu begitu cantik, wajahnya sangat manis.Bagas menarik diri pelan-pelan, tidak ingin membangunkan Mayra yang masih terlelap. Ia menyibak selimut dan tersenyum tipis saat melihat kondisi mereka berdua ternyata masih telanjang bulat. Bahkan sisa kenikmatan semalam masih terlihat di kejantanan dan pangkal perut Mayra.Kejantanan Bagas kembali berdenyut saat ia melihat tubuh polos Mayra yang masih meringkuk di atas tempat tidur. Tapi ia segera turun dan mengalihkan pikirannya. Hari ini ia harus berangkat lebih awal ke rumah sakit. Jadi, Bagas tidak boleh menghabiskan staminanya pagi ini
Bagas mendekat, langkahnya pelan dan tenang. Mata Bagas langsung tertuju pada interkom di atas meja Mayra yang masih menyala.“Ah! Jadi itu masalahnya,” gumam Bagas menyadari penyebab yang membuat Mayra merasa sedih.“May,” sapa Bagas lembut, ia berdiri tepat di sebelah Suster tersebut. Tangannya memutar kursi Mayra hingga menghadap ke arahnya.Sementara Mayra ia masih menekuk wajahnya, ia tidak sanggup menatap Bagas. Jika ia melihat Dokter muda itu sekarang, pasti tangisnya akan tumpah.Bagas menghela napas berat, ia akhirnya berlutut di depan Mayra.“May,” katanya lembut. Tangan Bagas mendarat di atas paha Mayra.“Clara itu hanya sebatas pasien, tidak lebih.” Tangan Bagas terangkat pelan dan memegang lembut pipi Mayra. Ia mengusapnya dengan ibu jari.“Dan Renata, dia itu hanya sebatas atasan dan pemegang saham, May,” tambah Bagas.Ia mulai memegang kedua tangan Mayra dan menciumnya lembut.“Sedangkan kamu… kamu wanita yang akan selalu bersamaku, May. Hanya kamu.”Mayra akhirnya meng
Sementara di dalam Bagas sedang memberikan ‘terapi’ kepada Clara, di balik pintu ketegangan mulai terjadi.Madame Renata masih di lobi lantai dua. Ia melihat Mayra yang masih berdiri kaku di balik meja kerja, matanya terpaku pada pintu yang baru saja tertutup.Renata berjalan mendekat ke arah meja Mayra, lalu bersandar di sana dengan santai."Dia sudah mulai," bisik Renata pelan, cukup untuk membuat Mayra merinding. "Clara baru saja membawa kabar besar. Sepertinya Dokter kesayanganmu itu akan punya banyak waktu untuk 'menghibur' janda kaya yang baru saja lahir itu."Mayra menatap Renata dengan tatapan nanar. "Janda? Maksud Madame... Bu Clara sudah bercerai?"Renata terkekeh, ia mengambil sebuah pulpen di meja Mayra dan memainkannya. "Benar. Dan kamu tahu apa artinya itu bagi pria seperti Bagas? Clara tidak lagi punya batasan. Dia akan menyerahkan segalanya—hatinya, uangnya, dan tubuhnya—hanya untuk merasa diinginkan kembali."Renata menatap ke arah pintu ruang praktik yang tertutup ra
Saat Renata masuk, Clara sudah duduk di depan meja Bagas dengan wajah yang ditekuk. Terdengar Isak tangis samar di sana. Renata terdiam sejenak melihat desain ruang terapi yang begitu elegan. Meja kerja Bagas dan ruang konseling dipisah oleh sekat yang berupa partisi seperti rak buku. Dari pintu masuk, ruang terapinya tidak terlihat karena terhalang oleh sekat pemisah. Renata tersenyum tipis, “Ruangan yang menarik,” gumamnya. Lalu ia segera menuju meja kerja Bagas yang terletak beberapa meter di depannya. Langkahnya tenang, menatap Bagas yang sedang duduk di hadapan Clara yang sedang menekuk wajahnya. Sementara Bagas, melihat Renata ikut masuk ke dalam membuatnya segera bangkit. Namun suara dingin Renata segera menghentikan gerakannya. “Tenang saja, Dokter,” katanya pelan. “Saya ke sini hanya untuk mengantar Bu Clara.” Renata berhenti tepat di belakang Clara yang sedang menunduk. Tangannya tera







