LOGIN“Saya kesepian, Dok.” Kalimat itu keluar begitu pelan dari mulutnya.
Clara kembali mendongak—duduk dengan postur sempurna, tapi kedua tangannya saling menggenggam erat di pangkuan. Ada getar halus di jemarinya yang Bagas tangkap sekilas. Bagas diam sejenak. Lalu ia kembali tersenyum menunjukkan sisi profesionalitas-nya. “Jadi, begitu ya, Bu?” Bagas menarik nafas pelan. “Apa ibu baru saja kehilangan seseorang?” tanyanya kembali. Clara menggeleng pelan. “Saya tidak kehilangan siapa-siapa, Dok. Saya hanya kehilangan diri saya sebagai seorang istri,” katanya pelan dengan wajah ditekuk. Bibirnya nampak bergetar saat ingin melanjutkan kata-katanya. “Saya tinggal bersama suami saya, Dok. Tapi… rasanya seperti tinggal bersama orang asing.” Bagas menatapnya sejenak, lalu menulis beberapa catatan kecil di bukunya. “Sudah berapa lama ibu merasa seperti itu?” tanya Bagas kembali. “Mungkin… dua tahun, Dok.” “Apa ibu sudah mencoba berbicara dengan suami ibu tentang hal ini?” Clara tertawa kecil, namun getir. “Apa yang harus saya bicarakan, Dok? Alasannya selalu sama saat saya minta untuk di sentuh. Capek. Letih. Ngantuk. Hanya itu dan itu saja Dok alasannya.” Matanya mulai berkaca-kaca. “Begitu ya, Bu?” Bagas menghela nafas berat sambil kembali menulis beberapa catatan kecil di bukunya. “Dan sekarang… dia malah jarang pulang, Dok. Alasannya lembur, pekerjaan mendadak di luar kota. Tapi saya tau, Dok. Dia… mempunyai wanita lain di luar sana.” Akhirnya setitik air matanya terjatuh membasahi pipi. Dia buru-buru menyeka dengan punggung tangannya. “Maaf, Dok.” “Tidak perlu minta maaf, Bu Clara.” Suara Bagas terdengar tenang, seperti sedang menenangkan pasien yang baru saja membuka luka lamanya. “Menangis itu wajar. Kadang, dengan menangis saja, sebagian beban bisa keluar.” Clara mengangguk pelan, tapi suaranya bergetar saat berbicara. “Saya tidak tahu kenapa, Dok… rasanya seperti saya hidup di rumah yang dingin. Saya bangun setiap pagi untuk menyiapkan sarapan, tapi tidak ada siapa pun yang memakannya. Saya berdandan, tapi tidak ada yang melihat saya. Saya… sudah tidak tahu lagi harus jadi apa supaya dianggap.” Ruangan hening sejenak, hanya menyisakan suara detak jam dinding dan suara Clara yang terisak pelan. Beberapa saat kemudian, Clara mendongak. Untuk sesaat pandangannya dan Bagas bertemu. “Apa… apa saya tidak terlihat menarik lagi, Dok? hingga suami saya tidak lagi menyentuh saya dan memilih menyentuh wanita lain?” tanyanya pelan. Bagas tidak langsung menjawab, ia membiarkan pandangannya sedikit lebih lama bertatapan dengan Clara. Mereka saling bertatapan dan sama-sama diam. Anda akan menyembuhkan mereka dengan cara yang berbeda. Tiba-tiba suara Renata kembali terngiang di kepala Bagas. Ingat, Dok. Tidak ada batasan dalam metode penyembuhan disini. Suara Renata seolah bermain di kepala Bagas. Akhirnya ia menurunkan pandangannya. “Bukan begitu, Bu Clara. Alasannya bukan karena anda tidak menarik lagi.” Bagas masih berusaha bersikap profesional. “Kehilangan keintiman dalam hubungan tidak selalu berarti kehilangan nilai diri,” lanjut Bagas. “Terkadang masalahnya bukan pada siapa yang kita peluk, melainkan pada apa yang kita pikirkan tentang diri kita sendiri.” Setelah mendengar jawaban dari Bagas, Clara menatapnya cukup lama. Ia tiba-tiba bangkit, mendekati Bagas dan duduk di sebelahnya. Tatapannya terlihat berbeda. “Jadi… menurut Dokter, saya masih menarik?” tanyanya pelan sambil memegang paha Bagas. Bagas terkejut. “Dok…” Clara kembali berbisik pelan. Tangannya bergerak lembut di atas paha Bagas. Wajahnya begitu dekat hingga Bagas dapat mendengar nafas Clara yang mulai tidak beraturan. “Saya ingin disentuh, Dok. Saya ingin merasa menjadi wanita kembali.” Bagas menelan ludahnya. Ia masih berusaha mempertahankan logikanya. Walau kini hasrat yang terkubur di dalam dirinya perlahan mulai bangkit. “Maaf, Bu Clara. Saya rasa ini sudah berlebihan.” Clara menggeleng pelan, ia semakin mendekat hingga kini lengan mereka berdua bersentuhan. “Saya hanya menginginkan itu, Dok. Tolong buat saya kembali merasa menjadi wanita seutuhnya.” “Tapi, Bu. Bukan begini—” Suara Bagas tertahan saat Clara memegang pipinya. “Dok. Lihat saya,” lirihnya lagi. Bagas menoleh, wajah mereka kini begitu dekat hanya berjarak satu desahan nafas saja. Ia berusaha tenang, namun gelora di dalam jiwanya mulai memberontak. “Dok…” Clara kembali berbisik. Tangannya kini lebih berani mulai memegang area paha hingga Bagas merasakan sentuhan di area kejantanannya. “Cukup, Bu Clara.” Bagas bangkit. Sisi profesionalitas-nya kembali ia tunjukan di balik gelora yang semakin mendesak keluar. “Kenapa, Dok? Apa saya kurang menarik?” Clara bangkit sambil melepas outer biru muda yang membalut tubuhnya. Tanpa lapisan itu, lekuk tubuhnya terlihat jelas di balik kemeja ketat yang menonjolkan dua gundukan sempurna di bawah lehernya. “Saya hanya ingin merasa jadi perempuan seutuhnya,” bisiknya, menatap Bagas tanpa berkedip. Bagas membeku—mencoba memisahkan antara logika dan hasratnya. Jantungnya berdebar hebat saat Clara kini berjalan mendekat. “Dok. Saya hanya ingin kehangatan.” Clara melingkarkan tangannya di leher Bagas. Tatapannya seolah menelanjangi Bagas dan menantang gelora di dalam dirinya. “Tolong, Dok,” lirihnya kembali. Wajah mereka semakin dekat, sangat dekat—hingga bibir mereka berdua bersentuhan. Nafas yang tidak teratur mulai beradu, dua hasrat yang ingin dilepaskan mulai terlihat.Dua hari berlalu dengan kesibukan yang luar biasa. Mayra menjalankan tugasnya dengan sempurna; ia mengawasi Santi dalam mengatur sistem janji temu, memastikan dr. Elina memiliki semua instrumen tes yang dibutuhkan, dan mengarahkan Mirna untuk menjaga kebersihan lobi agar tetap mengkilap. Di lantai dua, Mayra juga mulai terbiasa dengan meja kerja barunya yang elegan, tempat di mana ia merasa seperti seorang ratu kecil yang menjaga pintu masuk ke dunia Bagas.Sesuai instruksi Bagas, acara peresmian sore itu dibuat sangat terbatas dan eksklusif.Pukul lima sore, lobi lantai satu sudah disulap menjadi ruang resepsi yang mewah. Aroma bunga lili putih dan melati menyatu dengan wangi parfum-parfum kelas atas. Beberapa kolega dokter dari rumah sakit Bagas sudah hadir, berbincang mengenai prospek klinik baru ini. Santi dan Mirna tampak sibuk melayani tamu dengan minuman, sementara dr. Elina berbincang santai dengan beberapa tamu sejawat.“Selamat Dokter Bagas, saya ikut senang dengan peresmian
Pagi harinya, Mayra terjaga. Badannya terasa pegal, selangkangannya masih sedikit nyeri akibat ukuran milik Bagas yang menghujam nya dengan sangat ganas semalam.Ia berbalik namun tangannya hanya menyentuh ruang kosong. Mayra langsung sadar jika Bagas tidak ada lagi di sana.Dengan mata yang masih sayu, Mayra berusaha bangkit. Tubuh polosnya masih tersembunyi di balik selimut.“Bagas?!” panggilnya lembut. “Kamu di mana?”“Mayra, kamu sudah bangun?”Bagas muncul dari arah balkon, ia memegang secangkir kopi hangat di tangannya. Sepertinya dokter itu baru selesai mandi, terlihat dari jubah mandi yang masih membalut tubuhnya.Bagas langsung mendekat, meletakkan cangkir kopinya di atas nakas.Ia menunduk, menatap Mayra yang masih duduk sambil memegang selimut menutupi tubuhnya.Mayra juga ikut tersenyum, saat satu kecupan lembut mendarat di keningnya.“Mandi dulu,” kata Bagas pelan. “Ada beberapa staf yang akan datang nanti. Mereka akan mengisi beberapa posisi di klinik ini.”Mayra mengang
Mayra mencoba menguasai rasa gugupnya. Dengan bimbingan tangan Bagas yang memegangi kepalanya, ia mulai menggerakkan kepalanya maju mundur, mencoba mengakomodasi ukuran kejantanan Bagas yang luar biasa. Lidahnya yang lembut mulai mengeksplorasi setiap jengkal tekstur kejantanan pria itu, membuat Bagas mengerang rendah sambil memejamkan mata."Nghhh... May, seperti itu... ahh, bagus sekali," desah Bagas dengan suara parau.Dorongan Bagas di dalam mulut Mayra menjadi semakin dalam dan berirama. Mayra masih canggung. Gerakan mulut dan lidahnya masih kaku. Ini kali pertama baginya.“Ugh!”Hampir saja Mayra tersedak saat Bagas mendorong miliknya masuk hingga menyentuh kerongkongannya.“Ah! Sayang, pelan-pelan. Aku belum biasa,” rengek Mayra dengan liur yang mulai membasahi bibirnya.Bagas tersenyum. “Maaf sayang, aku terlalu bersemangat.”Ia kembali, mengarahkan kejantanannya ke dalam mulut Mayra. Gadis itu kembali membuka mulutnya dan menyambut benda asing itu ke dalam hangat kulumannya.
Malam yang dingin hadir menyelimuti kota. Namun di lantai tiga gedung klinik, suasana terasa begitu hangat. Mayra baru saja selesai membersihkan diri di kamar mandi. Rambutnya masih lembab, ia hanya mengenakan jubah mandi putih untuk menutupi semua aset berharga dari tubuhnya. Sore tadi ia bersama Bagas telah mengambil barang-barang pribadi miliknya di kontrakan.Mayra berdiri di depan cermin, menatap tubuhnya sendiri yang terbalut jubah mandi halus yang begitu nyaman di kulit. Ia tersenyum lembut, rasa senang menyeruak memenuhi dirinya. Bayangan Bagas satu-satunya yang ingatan yang terlintas dalam pikirannya saat ini.Tangannya meraih hairdryer dan mulai mengeringkan rambutnya. Aroma shampo menguar menyapa penciumannya. Begitu tenang. Hangat.Suara putaran hairdryer yang memenuhi ruangan perlahan mereda saat Mayra menekan tombol off. Keheningan menyelimuti kamar studio itu, hanya menyisakan detak jantung Mayra yang masih belum stabil sejak ia menginjakkan kaki di lantai tiga ini. Ia
Bagas melepaskan pautan bibir mereka dengan perlahan, membiarkan napas Renata yang tersenggal memburu di depan wajahnya. Ia mengusap bibir bawah Renata yang sedikit basah dengan ibu jarinya, memberikan tatapan yang seolah menjanjikan surga sekaligus neraka di gedung barunya nanti."Aku tidak pernah membandingkanmu dengan siapa pun, Renata," bisik Bagas serak, memberikan kepastian palsu yang sangat dibutuhkan oleh ego wanita itu. "Tapi profesionalisme dan kesenangan pribadi adalah dua hal yang berbeda. Mayra adalah efisiensi, sedangkan kamu... kamu adalah candu."Renata tersenyum puas, harga dirinya yang sempat terusik kini kembali pulih karena sanjungan maut Bagas. "Pastikan saja kamu menepati janjimu tentang 'Kunci Malam Jumat' itu, Bagas. Karena jika tidak, kamu tahu seberapa jauh tanganku bisa menjangkaumu.""Aku pria yang menepati janji," sahut Bagas sambil berdiri tegak kembali, merapikan kemejanya yang sedikit kusut. “Lagi pula kau pemilik saham terbesar di klinik batuku, mana m
Satu bulan berlalu. Bagas sudah selesai mendesain sebuah gedung yang ia beli melalui agen properti kenalan Renata. Gedung tiga lantai yang terletak tidak jauh dari pusat kota. Secara tempat dan letak, bangunan ini benar-benar sangat strategis dan sesuai keinginan Bagas.Ia sudah mempersiapkan semuanya. Gedung itu siap pakai, tinggal Bagas mengisi beberapa staf untuk membantu dirinya di sana.Orang pertama yang terlintas di pikiran Bagas adalah Suster Mayra. Ia ingin suster cantik itu kembali menjadi asisten pribadinya namun kini di kliniknya sendiri.Bagas keluar dari bangunan tersebut, berdiri di depan menatap tempat yang sebentar lagi akan menjadi istana baru baginya untuk ‘menyembuhkan’ luka para wanita yang kesepian. Ia tersenyum tipis, menarik napas dalam-dalam seolah sedang mengumpulkan energi dan semangat baru.Siang itu, Bagas langsung berangkat menuju ke klinik Re:Vive—klinik yang telah membuat sisi gelap dirinya terbuka dan ia cukup menikmatinya.Klinik itu masih terlihat se







