Share

Halusinasi?

Author: ORI GAMII
last update publish date: 2025-12-14 20:42:08

Di dalam kamar, Amanda tampak terburu-buru mencium bibir Eric. Hasrat yang lama ia pendam akhirnya menemukan jalannya ketika bibir mereka bertaut.

Ia telah menunggu lama momen ini, bahkan sejak sebelum wisuda kelulusan mereka. Tapi selama ini, Amanda memilih diam dan mengubur keinginan itu. Ia tahu Eric hanya menganggapnya teman, dan ia tak ingin merusak batas itu.

Namun kini semuanya terasa berbeda. Pertemuan mereka kembali membuka ruang yang dulu tertutup. Cara Eric menatapnya, caranya bersik
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (7)
goodnovel comment avatar
Yasni Fahalsikum
kok hati saya ikut merasakan apa yang di rasakan Louisa ......
goodnovel comment avatar
Bintang Ihsan
eric menyadari perasaannya saat lou akan pergi, lou sudah meliwat awalnya ,,
goodnovel comment avatar
𝑰𝒄𝒉𝒂 𝑸𝒂𝒛𝒂
Nah loh baru sadar kan, betapa berartinya Lou di mata mu..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Tergoda Teman Papa    Kebahagiaan yang utuh. ~TAMAT~

    “Daddy…” Alodie dan Aldric berlari kencang memasuki area kafe. Kedua bocah itu langsung mencari keberadaan Daddy-nya, sementara Bricia berjalan santai di belakang mereka. “Daddy…” Sekali lagi suara itu melengking, dan Andrew langsung keluar dari area pantry. “Wah… wah… siapa ini yang datang?” Andrew berjongkok di depan kedua anaknya, lalu membuka tangan lebar. “Hug Daddy dulu…” Alodie dan Aldric langsung masuk ke dalam pelukannya bersamaan. Setelah itu, Andrew menunjuk kedua pipinya. “Kiss juga dong pipi Daddy.” Keduanya menurut, mencium pipi kanan dan kiri Andrew tanpa ragu. “Anak pintar,” ucap Andrew, tersenyum lebar. “Daddy… Daddy, Alodie mau kasih tahu. Tugas berhitung Alodie dapat seratus.” Alodie menunjukkan lembar kertas dengan bangga. “Wah… pintar sekali jagoan Daddy,” puji Andrew, matanya ikut berbinar. “Tapi Aldric nggak dapat seratus,” tambah Alodie polos. Andrew menoleh ke arah putranya. Aldric langsung menunduk, wajahnya sedikit berubah. “Dapat berapa, hm?”

  • Tergoda Teman Papa    Sederhana yang istimewa

    “Ya ampun… Aldric!” Pekikan kaget Andrew justru disambut gelak tawa Bricia. Perempuan itu tertawa lepas sampai memukul sisi ranjang di sampingnya. Retno yang berada di luar kamar langsung panik. Ia bergegas masuk, takut terjadi sesuatu. “Ada apa ini?” tanyanya cepat. Ia berdiri kaku sambil memegang sutil di tangannya. Bricia masih belum menjawab. Ia masih terbahak, tangannya menunjuk ke arah Andrew yang kini diam mematung. Wajah pria itu basah, bukan oleh keringat, melainkan karena kencing Aldric. “Astaga…” gumam Retno, antara kaget dan menahan tawa. Andrew menutup mata sebentar, menghela napas panjang, lalu menatap bayi laki-lakinya yang tampak tak berdosa. “Kamu ya…” ucapnya pasrah. Bricia semakin keras tertawa. “Makanya, jangan sok jago. Tadi yang pengen Aldric siapa?” “Nggak ada yang pengen, tadi kamu yang nyuruh suit, Baby,” balas Andrew, masih dengan wajah basah. Sebulan sudah berlalu sejak perjuangan panjang Bricia siang itu. Kini rumah mereka selalu dipenuhi tang

  • Tergoda Teman Papa    Alodie dan Aldric

    Perawat itu segera keluar memanggil dokter. Tak lama, dokter kandungan Bricia kembali masuk ke dalam ruangan, langkahnya tenang namun sigap. Ia berdiri di sisi ranjang, menatap Bricia dan Andrew bergantian. “Bu Bricia, Pak Andrew… saya ingin memastikan sekali lagi,” ujarnya hati-hati. “Apakah keputusan untuk operasi sesar ini sudah dipertimbangkan dengan matang?” Bricia menatap Andrew sekilas, lalu kembali pada dokter. Meski wajahnya pucat dan dipenuhi rasa lelah, anggukannya kali ini tegas. “Iya, Dok… saya mau operasi saja.” Andrew mengusap punggung tangan Bricia pelan, lalu ikut mengangguk. “Kami sepakat, Dok.” Dokter itu tersenyum tipis, mencoba menenangkan. “Baik. Kami akan segera siapkan tindakan. Mohon tetap tenang, ya. Tim kami akan menangani sebaik mungkin.” Beberapa perawat langsung bergerak cepat. Alat-alat mulai disiapkan, suasana ruangan berubah menjadi lebih sibuk dan terarah. Andrew masih di sisi Bricia, tak melepaskan genggamannya sedikit pun. Karena sed

  • Tergoda Teman Papa    Operasi

    Andrew berlari kencang dari arah parkiran rumah sakit. Harry yang masih berada di balik kemudi hanya bisa melihatnya pergi tanpa sempat mencegah. Ia tahu, kepanikan itu tak bisa ditahan, Andrew pasti sudah tak sabar ingin sampai ke ruang persalinan, memastikan keadaan Bricia. Sebelumnya, Andrew ada janji temu dengan rekan bisnisnya di sebuah hotel. Namun, rencana itu berubah. Ia memilih memindahkan pertemuan ke kafe miliknya karena ada beberapa dokumen penting yang tertinggal di sana. Beruntung, rekan bisnisnya tidak keberatan. Mereka sepakat untuk bertemu di kafe tersebut. Namun, baru saja Andrew tiba dan belum sempat duduk, ponselnya berdering. Nama Feli muncul di layar. Dan dari sanalah semuanya berubah. Feli mengabarkan bahwa Bricia sudah dibawa ke rumah sakit. Andrew tak membuang waktu. Begitu melewati pintu utama rumah sakit, langkahnya langsung berbelok menuju area lift. Jarum penunjuk lantai masih berada di atas, dan perlahan turun satu per satu. Itu terasa terlalu lama

  • Tergoda Teman Papa    Kepanikan kecil

    Beberapa purnama telah terlewati. Hari demi hari dijalani Bricia dengan penuh perjuangan dalam kehamilan kembarnya.Bulan ini memasuki masa HPL kehamilan Bricia. Tak ada yang pasti, bisa pagi, siang, atau malam, kapan kedua buah hatinya akan hadir ke dunia.Berbagai keluhan mulai ia rasakan. Wajah dan kakinya sesekali membengkak, perutnya terasa begah karena mengandung dua bayi sekaligus, hingga malam-malam yang sering ia lalui tanpa bisa tidur dengan nyenyak.Namun, di tengah semua itu, Andrew selalu ada. Menjadi suami siaga yang tak pernah absen, hadir kapan pun Bricia membutuhkan.“Bri… mau makan buah mangga?” suara Feli terdengar dari dapur. Ia sedang bersama Retno di sana.Sudah dua hari terakhir Feli dan Retno menginap di rumah Andrew. Tentu saja, Harry ikut serta. Semua itu atas permintaan Bricia yang mulai diliputi rasa takut menjelang persalinan.Rencananya, siang ini Eric, Louisa, dan Erlio juga akan menyusul, membuat rumah itu semakin ramai.“Nggak mau mangga, Fel,” seru Br

  • Tergoda Teman Papa    "Aku mau sekarang, Bang... "

    Setelah menghabiskan waktu seharian, Feli dan Harry kembali ke kamar hotelnya. Sudah waktunya mereka beristirahat, atau mungkin justru melakukan kegiatan lain. “Abang yang bersih-bersih dulu, ya.” Feli menyodorkan pakaian ganti Harry yang ia ambil dari dalam lemari. Tak ada penolakan, Harry menerima baju itu lalu mengangguk. Ia berjalan ke kamar mandi dengan langkah tenang. Setelah Harry masuk, Feli kembali membuka lemarinya. Ia mengambil baju yang sudah dibelikan Bricia, sebuah lingerie berwarna merah menyala. Feli memejamkan mata sejenak. Ia geli sendiri melihat betapa minimnya pakaian itu. Bahkan terlihat sedikit transparan. Lalu, bagaimana jika nanti ia mengenakannya? Bisa saja hampir seluruh tubuhnya terekspos. Namun, Feli mencoba meyakinkan dirinya. Bukankah sebagai seorang istri, ia juga ingin menyenangkan suaminya? Pada akhirnya, ia tetap mengambilnya. Dipeluknya pakaian itu, lalu ia duduk di tepi ranjang sambil menunggu Harry keluar. Di detik-detik itu, Feli menarik na

  • Tergoda Teman Papa    Calon istri

    “Om Enduuw sakit?” Pertanyaan polos bocah lima tahun itu membuat suasana kamar mendadak hening. Chelsea masih melompat-lompat kecil di tempatnya, matanya menatap Andrew penuh rasa ingin tahu, seolah tak peduli dengan tatapan orang-orang di sekitarnya. Jessy yang menyadari situasi itu segera mende

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • Tergoda Teman Papa    Salah paham

    Baru saja masuk ke dalam mobil, Jessy langsung mengerutkan kening saat melihat wajah Andrew. Lelaki itu tampak pucat, matanya sayu, dan jauh dari kesan bersemangat. “Kamu sakit, Ndrew?” tanyanya. Andrew yang baru saja memasang sabuk pengaman menoleh sekilas. “Sedikit pusing aja. Kemarin sempat ke

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • Tergoda Teman Papa    Diblokir?

    Sepanjang malam, Bricia tak bisa memejamkan mata. Setiap kali kelopak itu terpejam, bayangan Andrew dan wanita yang dilihatnya kembali muncul terus berulang, seolah sengaja menyiksanya. Ia sudah mencoba banyak cara agar bisa tertidur. Mengubah posisi, memejamkan mata lebih lama, bahkan memaksa tub

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • Tergoda Teman Papa    Thanks Mom

    Bricia menarik napas panjang. Dadanya terasa sesak, tapi ia memaksa suaranya tetap stabil. “Tapi…” ia berhenti sejenak, menelan ludah. Matanya menatap lantai, bukan karena tak berani menatap sang Papa, tapi karena takut air matanya jatuh lebih dulu. “…apa alasannya, Pa?” Eric terdiam. Brici

    last updateLast Updated : 2026-03-29
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status