Chapter: Bab 81 Sial!Shaka keluar dari toilet setelah hampir sepuluh menit berada di sana. Sejak tadi, ia terus memperhatikan ponselnya, dan menanti panggilan dari Bundanya, sama seperti yang terjadi siang tadi ketika Rina menguji Hanifa. Namun, hingga ia memutuskan untuk keluar, ponselnya tak kunjung berdering. Tidak ada panggilan maupun pesan baru dari Rina. Shaka mengembuskan napas pelan, lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh area lantai dua. Ia berharap bisa menemukan keberadaan Bundanya, tetapi sosok wanita itu tak kunjung terlihat. Hingga matanya menangkap sosok Rose yang sedang duduk di sebuah kursi sambil sibuk memainkan ponsel. Shaka segera menghampirinya. Sesekali, pandangannya masih menyapu area sekitar, dan mencari keberadaan Rina. Namun, setelah memastikan bahwa Bundanya tidak berada di dekat Rose, ia mulai mengernyit. “Apa Bunda belum ketemu Rose?” gumamnya pelan. Rose yang sejak tadi fokus pada ponselnya akhirnya mengangkat wajah ketika menyadari ada seseorang yang mendekat. Begitu
Last Updated: 2026-10-19
Chapter: Bab 80 Sifat RoseTrik yang dilakukan Rina siang tadi kepada Hanifa, kini kembali ia gunakan untuk menguji Rose ketika mereka pulang dari kantor. Dengan begitu, ia bisa bersikap adil dalam menilai kedua perempuan tersebut, terutama bagaimana cara mereka mengendalikan emosi dan menyikapi masalah yang terjadi. Setelah menerima pesan dari Shaka bahwa putranya sudah berada di toilet dan meninggalkan Rose di lantai dua, pandangan Rina langsung beredar menyusuri area lantai dua. Sebelumnya, Shaka juga sudah mengirimkan foto Rose agar ibunya tidak salah mengenali perempuan yang akan ditemuinya. Rina terus mengamati orang-orang yang berlalu-lalang hingga matanya menangkap sosok wanita dengan kemeja merah marun dan rok span selutut. Seketika, senyum lebar terbit di bibirnya. Targetnya sudah berada tepat di depan mata. Sama seperti ketika bertemu Hanifa tadi, Rose juga sedang mencari tempat duduk untuk menunggu Shaka. Bedanya, perempuan itu tampak sibuk dengan ponsel di tangannya, bahkan sesekali menge
Last Updated: 2026-10-19
Chapter: Bab 80 Merasa cocokTujuh menit kemudian, Hanifa kembali dengan napas sedikit terengah. Ia berlari kecil sambil membawa sebuah kantong plastik berisi semangka yang baru dibelinya. “Maaf, Bu, lama menunggu. Tadi saya harus mengantre di kasir,” ujarnya begitu tiba di hadapan wanita yang masih duduk di bangku panjang. Hanifa mengeluarkan semangka dari kantong plastik, lalu menyerahkannya kepada wanita itu. “Ini, Bu. Saya sudah menggantinya dengan yang baru. Coba diperiksa dulu, siapa tahu ada yang kurang berkenan.” Rina menerima semangka tersebut, kemudian memeriksanya sekilas sebelum mengangguk. “Sudah bagus. Terima kasih, ya.” “Sama-sama, Bu. Saya juga minta maaf karena tadi kurang berhati-hati.” “Sudahlah, nggak apa-apa. Namanya juga kecelakaan. Untung kamu mau bertanggung jawab.” Hanifa tersenyum kecil. “Iya, Bu. Apalagi Ibu bilang semangka itu untuk anak Ibu. Sayang kalau anak Ibu dikasih semangka rusak dan nggak bisa dimakan.” Rina menatap perempuan di hadapannya dengan saksama. Diam-diam, ia
Last Updated: 2026-10-18
Chapter: Bab 78 PebinorPerintah Shaka benar-benar menjadi kenyataan keesokan harinya. Tepat lima belas menit sebelum jam istirahat makan siang, lelaki itu menghampiri meja Hanifa dan langsung memintanya ikut. Maria yang melihat kejadian itu tak tampak terkejut. Ia hanya mengembuskan napas berat sambil memperhatikan keduanya. Dugaannya semakin kuat bahwa Shaka sebenarnya masih menyimpan perasaan kepada Hanifa. Namun, Maria tak berani menyampaikan kecurigaannya secara langsung kepada sang sahabat, terlebih ketika Hanifa masih menghadapi prahara dalam rumah tangganya. Sementara itu, Hanifa bahkan tak diberi kesempatan untuk menolak. Mau tak mau, ia mengikuti Shaka menuju mobil. Sepanjang perjalanan hingga mereka tiba di mal terdekat, Hanifa hanya diam sambil menatap jalanan di luar jendela. Sesekali, ia melirik Shaka yang fokus menyetir, dan berharap lelaki itu berbaik hati menjelaskan tujuan mereka. Sayangnya, Shaka sama sekali tak membuka suara. "Ayo, turun," ujar Shaka begitu mobilnya memasuki area
Last Updated: 2026-10-18
Chapter: Bab 77 Pesan ShakaSetelah pergi bersama Maria, Hanifa tak langsung pulang ke rumah. Ia justru berbelok menuju rumah ayahnya. Tak peduli jika Prabu akan marah atau mungkin mengomelinya nanti, yang pasti malam ini Hanifa hanya ingin melakukan apa yang ia mau tanpa harus memikirkan perasaan suaminya.Setelah makan malam, Hanifa, Yudi, dan Siti duduk bersama di ruang keluarga. Meski waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam, Hanifa masih enggan beranjak pulang."Nanti pulangnya Ayah yang antar, ya, Fa."Hanifa yang sedang duduk santai sambil memainkan ponselnya akhirnya menoleh."Nggak usah, Yah. Ifa pulang sendiri aja.""Ini sudah malam, lho."Hanifa tertawa kecil. "Malam apanya? Jalanan juga masih ramai, kok. Ayah nggak perlu khawatir."Semenjak mengetahui kisah hidup Hanifa yang sebenarnya, sikap Yudi memang mulai melunak. Pria itu tak lagi bersikap dingin seperti dahulu. Bahkan, kini ia tak segan menunjukkan perhatiannya dengan mengirim pesan dan menanyakan keadaan putrinya.Meski begitu, Y
Last Updated: 2026-10-17
Chapter: Bab. 76 Penuh kejutan"Shaka, kok malah melamun!" Rina menepuk lengan putranya karena Shaka tak kunjung memberikan jawaban. Sejak tadi, lelaki itu justru sibuk dengan pikirannya sendiri. "Tapi, kayaknya nggak usah ketemu, deh, Bun. Aku takutnya Rose malah bertingkah macam-macam setelah bertemu Bunda." "Nggak akan ada yang begitu. Pokoknya, kamu bilang sama Rose kalau Bunda ingin bertemu dengannya." Shaka membuka mulut hendak membantah, tetapi Rina lebih dulu melayangkan tatapan tegas. Seketika, niatnya untuk menolak kembali urung. Tak ada lagi kesempatan bagi Shaka untuk mengelak. Kalau sudah begini, perkataan Rina memang lebih mirip titah seorang raja daripada permintaan seorang ibu. Rina kemudian memiringkan tubuhnya, ia memperhatikan putranya yang masih terlihat gelisah. Sebuah senyum samar terbit di bibirnya sebelum ia melontarkan pertanyaan. "Ada yang kamu sembunyikan dari Bunda?" "Nggak ada," jawab Shaka cepat. Rina menyipitkan mata. "Jangan bohong. Bunda paling tahu anak Bunda sendiri." Sh
Last Updated: 2026-10-16
Chapter: Kebahagiaan yang utuh. ~TAMAT~“Daddy…” Alodie dan Aldric berlari kencang memasuki area kafe. Kedua bocah itu langsung mencari keberadaan Daddy-nya, sementara Bricia berjalan santai di belakang mereka. “Daddy…” Sekali lagi suara itu melengking, dan Andrew langsung keluar dari area pantry. “Wah… wah… siapa ini yang datang?” Andrew berjongkok di depan kedua anaknya, lalu membuka tangan lebar. “Hug Daddy dulu…” Alodie dan Aldric langsung masuk ke dalam pelukannya bersamaan. Setelah itu, Andrew menunjuk kedua pipinya. “Kiss juga dong pipi Daddy.” Keduanya menurut, mencium pipi kanan dan kiri Andrew tanpa ragu. “Anak pintar,” ucap Andrew, tersenyum lebar. “Daddy… Daddy, Alodie mau kasih tahu. Tugas berhitung Alodie dapat seratus.” Alodie menunjukkan lembar kertas dengan bangga. “Wah… pintar sekali jagoan Daddy,” puji Andrew, matanya ikut berbinar. “Tapi Aldric nggak dapat seratus,” tambah Alodie polos. Andrew menoleh ke arah putranya. Aldric langsung menunduk, wajahnya sedikit berubah. “Dapat berapa, hm?”
Last Updated: 2026-04-09
Chapter: Sederhana yang istimewa“Ya ampun… Aldric!” Pekikan kaget Andrew justru disambut gelak tawa Bricia. Perempuan itu tertawa lepas sampai memukul sisi ranjang di sampingnya. Retno yang berada di luar kamar langsung panik. Ia bergegas masuk, takut terjadi sesuatu. “Ada apa ini?” tanyanya cepat. Ia berdiri kaku sambil memegang sutil di tangannya. Bricia masih belum menjawab. Ia masih terbahak, tangannya menunjuk ke arah Andrew yang kini diam mematung. Wajah pria itu basah, bukan oleh keringat, melainkan karena kencing Aldric. “Astaga…” gumam Retno, antara kaget dan menahan tawa. Andrew menutup mata sebentar, menghela napas panjang, lalu menatap bayi laki-lakinya yang tampak tak berdosa. “Kamu ya…” ucapnya pasrah. Bricia semakin keras tertawa. “Makanya, jangan sok jago. Tadi yang pengen Aldric siapa?” “Nggak ada yang pengen, tadi kamu yang nyuruh suit, Baby,” balas Andrew, masih dengan wajah basah. Sebulan sudah berlalu sejak perjuangan panjang Bricia siang itu. Kini rumah mereka selalu dipenuhi tang
Last Updated: 2026-04-09
Chapter: Alodie dan AldricPerawat itu segera keluar memanggil dokter. Tak lama, dokter kandungan Bricia kembali masuk ke dalam ruangan, langkahnya tenang namun sigap. Ia berdiri di sisi ranjang, menatap Bricia dan Andrew bergantian. “Bu Bricia, Pak Andrew… saya ingin memastikan sekali lagi,” ujarnya hati-hati. “Apakah keputusan untuk operasi sesar ini sudah dipertimbangkan dengan matang?” Bricia menatap Andrew sekilas, lalu kembali pada dokter. Meski wajahnya pucat dan dipenuhi rasa lelah, anggukannya kali ini tegas. “Iya, Dok… saya mau operasi saja.” Andrew mengusap punggung tangan Bricia pelan, lalu ikut mengangguk. “Kami sepakat, Dok.” Dokter itu tersenyum tipis, mencoba menenangkan. “Baik. Kami akan segera siapkan tindakan. Mohon tetap tenang, ya. Tim kami akan menangani sebaik mungkin.” Beberapa perawat langsung bergerak cepat. Alat-alat mulai disiapkan, suasana ruangan berubah menjadi lebih sibuk dan terarah. Andrew masih di sisi Bricia, tak melepaskan genggamannya sedikit pun. Karena sed
Last Updated: 2026-04-08
Chapter: OperasiAndrew berlari kencang dari arah parkiran rumah sakit. Harry yang masih berada di balik kemudi hanya bisa melihatnya pergi tanpa sempat mencegah. Ia tahu, kepanikan itu tak bisa ditahan, Andrew pasti sudah tak sabar ingin sampai ke ruang persalinan, memastikan keadaan Bricia. Sebelumnya, Andrew ada janji temu dengan rekan bisnisnya di sebuah hotel. Namun, rencana itu berubah. Ia memilih memindahkan pertemuan ke kafe miliknya karena ada beberapa dokumen penting yang tertinggal di sana. Beruntung, rekan bisnisnya tidak keberatan. Mereka sepakat untuk bertemu di kafe tersebut. Namun, baru saja Andrew tiba dan belum sempat duduk, ponselnya berdering. Nama Feli muncul di layar. Dan dari sanalah semuanya berubah. Feli mengabarkan bahwa Bricia sudah dibawa ke rumah sakit. Andrew tak membuang waktu. Begitu melewati pintu utama rumah sakit, langkahnya langsung berbelok menuju area lift. Jarum penunjuk lantai masih berada di atas, dan perlahan turun satu per satu. Itu terasa terlalu lama
Last Updated: 2026-04-08
Chapter: Kepanikan kecilBeberapa purnama telah terlewati. Hari demi hari dijalani Bricia dengan penuh perjuangan dalam kehamilan kembarnya.Bulan ini memasuki masa HPL kehamilan Bricia. Tak ada yang pasti, bisa pagi, siang, atau malam, kapan kedua buah hatinya akan hadir ke dunia.Berbagai keluhan mulai ia rasakan. Wajah dan kakinya sesekali membengkak, perutnya terasa begah karena mengandung dua bayi sekaligus, hingga malam-malam yang sering ia lalui tanpa bisa tidur dengan nyenyak.Namun, di tengah semua itu, Andrew selalu ada. Menjadi suami siaga yang tak pernah absen, hadir kapan pun Bricia membutuhkan.“Bri… mau makan buah mangga?” suara Feli terdengar dari dapur. Ia sedang bersama Retno di sana.Sudah dua hari terakhir Feli dan Retno menginap di rumah Andrew. Tentu saja, Harry ikut serta. Semua itu atas permintaan Bricia yang mulai diliputi rasa takut menjelang persalinan.Rencananya, siang ini Eric, Louisa, dan Erlio juga akan menyusul, membuat rumah itu semakin ramai.“Nggak mau mangga, Fel,” seru Br
Last Updated: 2026-04-07
Chapter: "Aku mau sekarang, Bang... "Setelah menghabiskan waktu seharian, Feli dan Harry kembali ke kamar hotelnya. Sudah waktunya mereka beristirahat, atau mungkin justru melakukan kegiatan lain. “Abang yang bersih-bersih dulu, ya.” Feli menyodorkan pakaian ganti Harry yang ia ambil dari dalam lemari. Tak ada penolakan, Harry menerima baju itu lalu mengangguk. Ia berjalan ke kamar mandi dengan langkah tenang. Setelah Harry masuk, Feli kembali membuka lemarinya. Ia mengambil baju yang sudah dibelikan Bricia, sebuah lingerie berwarna merah menyala. Feli memejamkan mata sejenak. Ia geli sendiri melihat betapa minimnya pakaian itu. Bahkan terlihat sedikit transparan. Lalu, bagaimana jika nanti ia mengenakannya? Bisa saja hampir seluruh tubuhnya terekspos. Namun, Feli mencoba meyakinkan dirinya. Bukankah sebagai seorang istri, ia juga ingin menyenangkan suaminya? Pada akhirnya, ia tetap mengambilnya. Dipeluknya pakaian itu, lalu ia duduk di tepi ranjang sambil menunggu Harry keluar. Di detik-detik itu, Feli menarik na
Last Updated: 2026-04-06