เข้าสู่ระบบNasrul menatap lelehan air mata Arum di pipi yang meredupkan rona cantiknya, dada pria itu terasa seperti sesak menelan kepulan asap yang memenuhi ruangan. Rasa bersalahnya membuncah, lebih kuat daripada rasa lelah atau pikiran tentang ruko tadi. Ia tak tega. Tak sanggup melihat perempuan yang selama ini selalu memberi segalanya tersiksa perih karena kebodohannya.Tanpa bicara lagi, Nasrul merengkuh bahu Arum dengan kedua tangan, seperti musafir yang ingin segera menyelamatkan mawar yang ditemukannya sekarat dipinggir jalan. Meski ia tahu itu botol air terakhirnya, namun ia tanpa ragu menyirami sang mawar agar tak cepat mati.Nasrul menarik tubuh arum yang masih setengah terbuka ke dalam pelukannya. “Rum… jangan nangis. Aku nggak nolak kamu. Aku cuma… bodoh tadi. Sekarang aku mau kamu. Banget.”Arum menggeleng pelan, wajahnya masih dinaungi mendung yang tersisa meski hujan air mata sudah turun deras. Ia mencoba mendorong dada telanjang Nasrul, suaranya parau karena ngambek. “Nggak us
Arum berdiri di depan cermin kamar di rumah kosong miliknya, rambut basah menempel di bahu putihnya, hanya handuk putih tipis yang melilit tubuh dari dada hingga paha atas. Senyumnya manja, matanya menatap kamera dengan pandangan menggoda, dan..CEKREK! CEKREK!Foto hasil jepretan itu pun langsung melayang secepat cahaya, dari galeri ponsel Arum berpindah ke ponsel Nasrul via chat.“Aku habis mandi nih Mas, hati-hati di jalan ya…, nggak usah ngebut.”Entah apa maksudnya, Arum tiba-tiba tanpa ragu mengirim beberapa swafoto seksinya itu ke Nasrul. Jantung Nasrul berdegup kencang sepanjang perjalanan menuju kota sebelah yang hanya berjarak sekitar 30 menit dari kota “K”. Pesan terakhir dari Arum masih terngiang, ditambah foto selfie yang membuat napasnya tersengal sesaat.“Tunggu aku ya, Rum. Sebentar lagi.” balasnya singkat.Setiap putaran roda motornya terasa seperti kocokan dadu yang menyiratkan pertaruhan antara hasrat dan logika. Ia tahu ini salah, tapi tubuhnya sudah tak bisa boho
Arum berdiri di bawah guyuran shower, kulit putih bersih yang tanpa cacat memendar di balik buliran air yang mengalir dari ujung rambutnya. Payudara montoknya tegak sempurna, putingnya menjulang menantang. Pinggang rampingnya, paha panjang yang mulus, dan bokong bulat yang seolah menantang gravitasi, nampak semakin sensual seiring gerakan jemarinya yang bergerilya menyusuri tubuhnya sendiri.Tiba-tiba, ketukan pelan di pintu kamar mandi membuat jantungnya berhenti sesaat. "Siapa?" tanyanya lirih, tapi tak ada jawaban. Arum membuka pintu sedikit, dan Nasrul muncul di ambang pintu. Mata coklatnya langsung mendarat pada tubuh telanjang Arum. Tak ada kata. Hanya pandangan yang membara. “Aku mau mandi bareng kamu, Rum” Nasrul berkata tiba-tiba, tanpa meminta persetujuan langsung masuk ke dalam dan mengunci pintu kamar mandi. Pria 34 tahun itu melepas kaosnya tanpa ragu, memperlihatkan dada bidang berotot coklat sawo matang yang berkilau keringat tipis, lengan berurat, jambang dan kumis t
"Ini... ini harus berhasil. Aku harus berpura-pura semuanya normal. Demi rahasia ini, demi anak di perutku yang nggak bersalah" Batin Ningsih bergemuruh. Dengan tangan gemetar Ningsih membuka pintu lemari, mengeluarkan baju tidur seksi yang sudah lama tak dipakai: camisole putih tipis dengan dada rendah, dan hotpan yang nyaris tak menutupi paha mulusnya. Di depan cermin, Ningsih memandangi pantulannya sendiri. Tubuhnya masih ramping, payudaranya masih kencang dan montok seperti biasa, pinggang kecil tanpa tonjolan apa pun. "Masih ramping, tak ada yang terlihat. Alhamdulillah, tapi... apa ini benar? Aku hamil, dan bukan dari suamiku. Ya Allah, astaghfirullah... Ini semua karena kebodohanku dengan Bayu," pikirannya bergejolak, tangannya pelan menyentuh perut bawah, menggerayangi kulit halus di sana, merasakan kehangatan yang sekarang terasa asing, seperti ada rahasia hidup di dalamnya yang tak bisa dia bagi siapa pun.Ningsih menarik napas dalam, berusaha tenang. "Ayo, Ning, kamu bisa
“Hamil?” Bayu mengulang pelan, suaranya serak. “Mbak… beneran?” Bayu serasa dihentak oleh suara halilintar tepat di atas kepalanya.Ningsih masih duduk di tepi kasur tipis di kontrakan Bayu, tangannya memeluk lutut erat-erat. Udara pagi menjelang siang di kamar kecil itu terasa lebih pengap dari seharusnya. Matanya merah, bukan hanya karena menangis, tapi juga karena dilanda kepanikan yang sudah berjam-jam menggerogoti dadanya.Hari itu, pagi-pagi sekali Ningsih mendatangi kontrakan Bayu, masuk dengan kunci duplikat yang selama ini ia pegang, sengaja menunggu sang adik iparnya pulang dari shif malam di hotel, untuk menyampaikan hal penting tersebut.Bayu berdiri membeku, menyandarkan punggungnya di tembok kamar. Wajah yang biasanya penuh senyum nakal kini tampak pucat mendengar pengakuan dari kakak iparnya.“Mbak, jangan nakut-nakutin aku, pliss” Bayu masih tak percaya.Ningsih tak menjawab, tangannya merogoh tas selempang, mengeluarkan test pack yang sudah dibungkus plastik hitam. Du
SATU SETENGAH MILIAR RUPIAH.Angka itu seolah terus menari-nari dan melayang di atas ubun-ubun Nasrul pada Minggu pagi itu, seperti mimpi yang tiba-tiba mewujud menjadi realita. Transfer pertama sudah mendarat: Rp 450 juta, sisanya akan menyusul dalam hitungan hari.Nasrul memelototi angka saldo banknya berulang-ulang, jarinya gemetar menyentuh layar, takut kalau-kalau angka itu lenyap begitu dia kedip. Tiga bulan yang penuh begadang, mata merah, dan keheningan di rumah akhirnya berbuah sesuatu seperti yang dia bayangkan sebelumnya, namun baginya itu terlampau besar. Pikirnya, paling besar hanya seratusan juta, itu pun total semua ditambah komisi dan akomodasi, yang nantinya sudah cukup untuk sewa ruko di kota untuk buta servis dan toko ponsel sederhana.“Alhamdulillah…, Terima kasih Tuhan….” Nasrul kebali sujud syukur entah yang ke berapa kali.Selama tiga bulan terakhir, Nasrul hampir tak lagi memperhatikan dinginnya hubungan dengan Ningsih. Dulu setiap malam dia masih berharap ada







