Share

10. KENAPA BISA BEGINI?

Author: LUFI
last update publish date: 2025-10-02 00:31:46
Arum dan Nasrul saling menatap panik. Tubuh mereka masih saling melekatl, sulit bergerak.

“Mas… cepat bangun,” bisik Arum terbata, pipinya yang putih mulus samar-samar berganti jadi merah.

“Aku nggak bisa, Rum. Posisi kita kejepit kursi,” jawab Nasrul, suaranya rendah. Ia menelan ludah, dada berdegup kencang.

Arum menggeliat, tapi semakin ia berusaha, semakin tubuh mereka beradu. Helaian rambut Arum jatuh ke pipi Nasrul, leher mereka nyaris bersentuhan.

“Diam dulu…” bisik Nasrul di telinganya, n
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tergoda dengan Tetangga Daun Muda   37. MALAM TEMARAM YANG SERAM

    Arum mematung di depan pintu rumahnya dengan tangan yang masih gemetar. Bau sabun mandi dan sisa cairan hasrat Nasrul masih samar-samar menempel di kulitnya meski ia sudah mandi kilat di rumah kosong tadi. Rambutnya masih sedikit kuyup, gestur wajahnya berusaha ia kondisikan agar terlihat normal. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum memutar gagang pintu.Suara obrolan samar antara ibu dan suaminya terdengar menggema.“Sayang..…?”Deni berdiri di antara sofa dan meja marmer, masih memakai kemeja lengan panjang yang sedikit kusut karena perjalanan. Koper hitam besar tergeletak di samping sofa. Senyum lebar terpampang di wajahnya, sementara ibu dan ayah Arum seolah sepakat langsung paham situasi, memberi waktu anak dan menantunya itu mencairkan rindu yang berbulan-bulan ini menggumpalkan di dalam kalbu, mereka bergeser ke ruang belakang.“Akhirnya… aku ke rumah!” serunya, langkahnya cepat mendekati Arum. Ia langsung merengkuh istrinya dalam pelukan erat. “Kejutan, ya? Aku sengaja nggak b

  • Tergoda dengan Tetangga Daun Muda   36. PERCIKAN HASRAT YANG MEMBASUH TUBUH

    Nasrul menatap lelehan air mata Arum di pipi yang meredupkan rona cantiknya, dada pria itu terasa seperti sesak menelan kepulan asap yang memenuhi ruangan. Rasa bersalahnya membuncah, lebih kuat daripada rasa lelah atau pikiran tentang ruko tadi. Ia tak tega. Tak sanggup melihat perempuan yang selama ini selalu memberi segalanya tersiksa perih karena kebodohannya.Tanpa bicara lagi, Nasrul merengkuh bahu Arum dengan kedua tangan, seperti musafir yang ingin segera menyelamatkan mawar yang ditemukannya sekarat dipinggir jalan. Meski ia tahu itu botol air terakhirnya, namun ia tanpa ragu menyirami sang mawar agar tak cepat mati.Nasrul menarik tubuh arum yang masih setengah terbuka ke dalam pelukannya. “Rum… jangan nangis. Aku nggak nolak kamu. Aku cuma… bodoh tadi. Sekarang aku mau kamu. Banget.”Arum menggeleng pelan, wajahnya masih dinaungi mendung yang tersisa meski hujan air mata sudah turun deras. Ia mencoba mendorong dada telanjang Nasrul, suaranya parau karena ngambek. “Nggak us

  • Tergoda dengan Tetangga Daun Muda   35. HABIS MANIS SEPAH DIBUANG?

    Arum berdiri di depan cermin kamar di rumah kosong miliknya, rambut basah menempel di bahu putihnya, hanya handuk putih tipis yang melilit tubuh dari dada hingga paha atas. Senyumnya manja, matanya menatap kamera dengan pandangan menggoda, dan..CEKREK! CEKREK!Foto hasil jepretan itu pun langsung melayang secepat cahaya, dari galeri ponsel Arum berpindah ke ponsel Nasrul via chat.“Aku habis mandi nih Mas, hati-hati di jalan ya…, nggak usah ngebut.”Entah apa maksudnya, Arum tiba-tiba tanpa ragu mengirim beberapa swafoto seksinya itu ke Nasrul. Jantung Nasrul berdegup kencang sepanjang perjalanan menuju kota sebelah yang hanya berjarak sekitar 30 menit dari kota “K”. Pesan terakhir dari Arum masih terngiang, ditambah foto selfie yang membuat napasnya tersengal sesaat.“Tunggu aku ya, Rum. Sebentar lagi.” balasnya singkat.Setiap putaran roda motornya terasa seperti kocokan dadu yang menyiratkan pertaruhan antara hasrat dan logika. Ia tahu ini salah, tapi tubuhnya sudah tak bisa boho

  • Tergoda dengan Tetangga Daun Muda   34. HASRAT YANG HARUS DITUNTASKAN

    Arum berdiri di bawah guyuran shower, kulit putih bersih yang tanpa cacat memendar di balik buliran air yang mengalir dari ujung rambutnya. Payudara montoknya tegak sempurna, putingnya menjulang menantang. Pinggang rampingnya, paha panjang yang mulus, dan bokong bulat yang seolah menantang gravitasi, nampak semakin sensual seiring gerakan jemarinya yang bergerilya menyusuri tubuhnya sendiri.Tiba-tiba, ketukan pelan di pintu kamar mandi membuat jantungnya berhenti sesaat. "Siapa?" tanyanya lirih, tapi tak ada jawaban. Arum membuka pintu sedikit, dan Nasrul muncul di ambang pintu. Mata coklatnya langsung mendarat pada tubuh telanjang Arum. Tak ada kata. Hanya pandangan yang membara. “Aku mau mandi bareng kamu, Rum” Nasrul berkata tiba-tiba, tanpa meminta persetujuan langsung masuk ke dalam dan mengunci pintu kamar mandi. Pria 34 tahun itu melepas kaosnya tanpa ragu, memperlihatkan dada bidang berotot coklat sawo matang yang berkilau keringat tipis, lengan berurat, jambang dan kumis t

  • Tergoda dengan Tetangga Daun Muda   33. BERCINTA DALAM DILEMA

    "Ini... ini harus berhasil. Aku harus berpura-pura semuanya normal. Demi rahasia ini, demi anak di perutku yang nggak bersalah" Batin Ningsih bergemuruh. Dengan tangan gemetar Ningsih membuka pintu lemari, mengeluarkan baju tidur seksi yang sudah lama tak dipakai: camisole putih tipis dengan dada rendah, dan hotpan yang nyaris tak menutupi paha mulusnya. Di depan cermin, Ningsih memandangi pantulannya sendiri. Tubuhnya masih ramping, payudaranya masih kencang dan montok seperti biasa, pinggang kecil tanpa tonjolan apa pun. "Masih ramping, tak ada yang terlihat. Alhamdulillah, tapi... apa ini benar? Aku hamil, dan bukan dari suamiku. Ya Allah, astaghfirullah... Ini semua karena kebodohanku dengan Bayu," pikirannya bergejolak, tangannya pelan menyentuh perut bawah, menggerayangi kulit halus di sana, merasakan kehangatan yang sekarang terasa asing, seperti ada rahasia hidup di dalamnya yang tak bisa dia bagi siapa pun.Ningsih menarik napas dalam, berusaha tenang. "Ayo, Ning, kamu bisa

  • Tergoda dengan Tetangga Daun Muda   32. MENGUBUR BANGKAI

    “Hamil?” Bayu mengulang pelan, suaranya serak. “Mbak… beneran?” Bayu serasa dihentak oleh suara halilintar tepat di atas kepalanya.Ningsih masih duduk di tepi kasur tipis di kontrakan Bayu, tangannya memeluk lutut erat-erat. Udara pagi menjelang siang di kamar kecil itu terasa lebih pengap dari seharusnya. Matanya merah, bukan hanya karena menangis, tapi juga karena dilanda kepanikan yang sudah berjam-jam menggerogoti dadanya.Hari itu, pagi-pagi sekali Ningsih mendatangi kontrakan Bayu, masuk dengan kunci duplikat yang selama ini ia pegang, sengaja menunggu sang adik iparnya pulang dari shif malam di hotel, untuk menyampaikan hal penting tersebut.Bayu berdiri membeku, menyandarkan punggungnya di tembok kamar. Wajah yang biasanya penuh senyum nakal kini tampak pucat mendengar pengakuan dari kakak iparnya.“Mbak, jangan nakut-nakutin aku, pliss” Bayu masih tak percaya.Ningsih tak menjawab, tangannya merogoh tas selempang, mengeluarkan test pack yang sudah dibungkus plastik hitam. Du

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status