LOGINTawaran apakah itu...???
"Hemmm…tak salah dugaannku,” batin Satria menahan amarah yang mau meledak di dadanya, saat tahu pelaku penabrak Soraya adalah Joni, mantan suami Soraya.Kini Satria terus kuntit dua orang itu yang terihat berjalan dan menuju ke sebuah THM merangkap spa, Satria melihat arlojinya dan ini sudah sore jelang malam.“Mau kemana Om?” tahan seorang penjaga saat melihat Satria yang berbaju preman ingin nyelonong masuk ke tempat ini.“Aku….ingin message,” sahut Satria sekenanya, sebab matanya melihat-lihat kemana dua orang tadi ngilangnya di THM dan spa ini.Satria lalu cabut dompetnya dan serahkan 2 lembar 100 ribuan, kemudian dengan terbungkuk-bungkuk si penjaga ini arahkan Satria ke bagian resepsionest.“Met sore jelang malam, silahkan Om, mau yang kategori A, B atau C?” kata si resepsionest ini.“Kok ada yang kategori segala, sebutin apa kelebihannya,” sahut Satria heran sendiri, sebab baru pertama kali ketempat ginian.“Kalau yang C, per jam-nya 250 ribu, hanya di kamar yang di lapisi dind
Tapi….Tante Vega kembali tertawa berderai dan menggelengkan kepala, geli juga hatinya, Satria tetap tak berubah, masih nakal dan ganjen.“Sat, aku sudah tua, ku harap kamu jangan memaksa aku begitu lagi, walaupun secara hati, aku pun kangen denganmu, tapi saat ini...jujur aku lagi nggak mood, lagian aku lagi merah,” sahut Tante Vega dan Satria pun tak memaksa.Setelah berbasa-basi, Satria pun pamit dan Tante Vega hanya bisa hela nafas panjang. “Aku belum siap terbuka Sat, kalau kita sudah memiliki anak yang autis,” batin Tante Vega, sambil menatap mobil mewah Satria keluar dari pagar rumahnya.Satria pun hargai penolakan Tante Vega dan bukan tipikal dia yang memaksakan kehendak. Satria lau fokuskan ke tugasnya yang tersisa 6 harian lagi di Bandung sini.Pas di hari ke 6 setelah selesai ngajar, Satria bukan main terkejutnya saat dapat telpon dari ART-nya, yang mengatakan ada insiden yang menimpa Soraya. “Non Soraya Tuan muda, beliau kecelakaan dan di sekarang ada di rumah sakit,” ka
“Boleh aku bertamu dan masuk ke rumah kamu Tante Vega?” Satria menatap si cantik yang makin matang ini, tubuhnya juga makin menggiurkan di usia 37 tahunan ini.“B-boleh Satria, ayooh masuk,” Tante Vega buru-buru membuka pintu dan Satria mengikuti dari belakang.“Makin montok ajee ni cewek,” batinnya, tapi tentu saja Satria dulu dan kini beda, dia tidak mau menunjukan ke bangoranya pada si mantan istri Om Brata ini, dia adalah pria matang dan kenyang pengalaman.Dengan gaya yang sopan dan elegan Tante Vega kini menatap pria yang pernah bikin dia sayang dan jatuh cinta...hasilnya, si Irwansyah itulah, anaknya yang tampan, tapi sayangnya autis, tanpa setahu Satria pastinya.“Di mana suami kamu sekarang, papanya Irwansyah?” tanya Satria berbasa-basi, Tante Vega kontan terdiam, hampir saja ia mengaku.Tapi saat ingat wanita yang bersama Satria di mal Plaza Indonesia, kontan Tante Vega menahan mulutnya.“Kami…sudah pisah, dia tak mau punya anak autis. Yaah tak apalah, aku tetap akan besarka
Dan Soraya terpekik manja, saat dari belakang Satria langsung serbu pantat bohaynya dan melumatnya dengan ganas, sehingga acara coba-coba baju baru tertunda, karena Soraya mlenguh-lenguh lagi di hajar si bangor cap biawak ini dengan gaya doggy style.“Manaa tahaannn…liat bokong semok kamu,” canda Satria sambil pompa Soraya hingga kamar ini berubah jadi lenguhan-lenguhan dan desahan manja Soraya.“Silahkan Bang, mulai saat ini, kapanpun Abang mau, aku berikan,” bisik Soraya sambil menahan tubuhnya yang terguncang-guncang aduhai ini, upoiii….!Pertandingan senggama dengan beragam gaya ini berakhir setelah keduanya sama mencapai puncaknya, dengan seperti biasa 3-1, alias Soraya 3X klimaks dan Satria 1X klimaks.Sejak hari itulah, Satria membiarkan Soraya tinggal di rumah besar dan mewahnya dan berlakon bak istri, Satria tak tidak tega ‘mengusirnya’ pulang. Lagian…adanya Soraya membuatnya kini jadi betah di rumah, sebab Soraya selalu perhatikan kesehariannya dan juga cara berpakaiannya
Dengan perban di lehernya, Soraya yang selamat dari aksi nekat Joni, kini tetap lanjutkan belanjanya tadi, dan dia malah merasa makin aman dengan adanya Satria di sisinya.Satria hanya geleng-geleng kepala. "Kelamaan tinggal di kampung kaleee," batin Satria dan membiarkan saja ulah Soraya. Kepolisian sektor terlihat berbincang dengan Satria dan mereka (polisi) kini lacak taksi yang membawa Joni kabur.Satria dan Soraya lalu memutuskan pulang, setelah membayar semua belanjaan Soraya, si cantik ini juga membelikan pakaian buat Satria, dengan alasan biar Satria makin berkelas, Satria iya-iya...!“Nggak di sangka si Joni bisa se gila tadi ya Bang? Tapi lebih gila lagi Abang yang melompat segitu tinggi kejar penjahat itu” kata Soraya sambil menatap Satria yang santai saja bawa mobil mahalnya dan bikin Soraya makin klepek-klepek, makin melotot lagi saat tahu harganya yang lebih 18 embeeer.“Sayangnya dia berhasil kabur, eh bagaiman leher kamu, masih sakitkah?” sahut Satria pendek, sambil m
Satria membiarkan Soraya kini belanja sepuasnya di Plaza Indonesia, misinya untuk memancing Joni agar mendekati Soraya di mulai saat ini.Soraya yang kini bak ‘istri’ saja, siang malam menikmati melayani Satria, walaupun dia rela siang malam dua lubang kenikmatannya di hajar si pejantan tangguh ini.“Lama-lama nggak sanggup juga aku rujuk dengannya, mana tahan malam 2X, pagi satu kali di hajarnya,” batin Soraya, yang antara ngeri dan menikmati juga selama tinggal dengan Satria.Tapi satu hal yang bikin Soraya betah. Satria adalah tipikal laki-laki yang royal, apapun keinginannya, tak banyak cincong langsung diiyakan Satria, termasuk hobby semua wanita, yakni shopping.Satria tak pernah perhitungan, sampai-sampai Soraya bingung, apa bisnis Satria hingga se kaya raya begini dan enteng saja keluar duit buatnya.“Andai dulu aku tak egois, mungkin aku sudah hidup enak bak ratu di sisinya, kalaupun aku tak sanggup, tak masalah dia mau poligami, tuh hartanya agaknya nggak bakalan habis 10 tur
“Hayoo para penumpang yang terhormat, kita sudah sampai nih,” teriak si sopir dan Satria juga Mery yang sangat nyenyak tidur langsung terbangun, bahkan baby Elsa sudah merengek ingin minta ASI pada ibunya.“Mari kita turun, mana barang kamu Mery, biar aku bawakan,” tawar Satria, Mery pun tentu saja
Satria kaget sekaligus senang pastinya, saat di minta Berlina coba dua celana dan 3 him plus 3 kaos, dan begitu melihat sangat cocok di badannya, Berlina langsung bilang...bungkusss!“Waah angin apa nih, kok aku di beri hadiah,” ceplos Satria senang.“Tenaaang, uangku masih cukup kok!” sahut Berlina
“Udah yuks bobo, ini sudah malam,” ajak Bibi Dewi. Tapi melihat Satria, Bibi Dewi bertahan sesaat.“Kenapa…ndak di bolehin Soraya satu ranjang ya…?” pancing Bibi Dewi senyum - senyum penuh pesona bagi mata biawak Satria.“Eee…yah begitulah mam, tak apa mungkin malam ini aku bisa tidur di kamar lain
Satria tak ragu-ragu lagi langsung netoiii kedua buah semangka ranum yang terpampang di depan hidungnya bak bayi lagi kehausan, apalagi tubuh Tante Vega jauh lebih wangi dari tubuh Ajeng.“Argghhh iyahh honey…terusssss..!” desah Tante Vega, yang makin terbakar nafsunya sendiri, Satria benar-benar li







