LOGINHiperosmia. Itu nama mimpi buruk Dimas. Hidungnya terlalu sensitif. Semua bau dari sate ayam sampai knalpot angkot bisa berubah jadi monster yang siap mengganyangnya. Sebagai sarjana pengangguran, kutukan ini bikin dia nggak bisa kerja. Apalagi ngejar cita-cita pacaran. Baginya, semua aroma cewek itu setara gigitan monster. Sampai dia ketemu Azura. Satu-satunya anomali. Yang wanginya nggak bikin Dimas kejang-kejang. Demi ngedapetin dia, Dimas nekat kerja di toko parfum—sarangnya para monster aroma—milik Pak Badar. Siapa dia? Oh, cuma bapaknya Azura sekaligus mantan preman legendaris yang nganggap Dimas itu spesies gagal.
View More“MBAK! TUNGGU!”
Dimas berlari, napasnya memburu.
Di depannya, sosok gadis bercadar hitam itu bergerak cepat, melangkah lebar menaiki jalanan yang menanjak.
Kenapa lari?! Apa salahku?
Tas punggung dan kantong belanjaan besar di tangan kanan Dimas—berisi waifu edisi terbatas—terayun-ayun tak terkendali.
Dikit lagi! Dikit lagi!
Dimas mengulurkan tangan kirinya, mencoba meraih lengan gadis itu. Jaraknya hanya tinggal sejengkal. Tidak menyadari tali kantong yang tipis mulai meregang, hingga menjerit tak mampu lagi menahan beban mainan mahalnya.
Sebuah kotak action figure terlepas dari situ, menghantam aspal dengan kasar. Dan—karena jalanan turun—kotak itu langsung menggelinding ke bawah dengan kecepatan yang menyebalkan.
“WADUH! MAI-CHAN!”
Dimas membeku. Dilema paling horor dalam hidupnya.
Ia menoleh ke bawah. Waifu-nya, patung ninja Mai Shininjapi seharga cicilan motor, menggelinding menjauh. Ia menoleh ke atas. Si gadis bercadar sudah hampir sampai di puncak, tempat halte bus berada.
Sial! Sial! Sial! Pilih, Dimas, pilih! Cintaku atau … gadis itu?!
Instingnya mengambil alih. Dengan jeritan tertahan, Dimas berbalik dan berlari menuruni jalanan, mengejar kotaknya. “Tunggu! Istriku!”
Ia baru berlari beberapa langkah ke bawah saat ia melirik ke atas lagi. Ragu.
Gadis itu sudah sampai di halte. Sebuah bus kota berwarna hijau berhenti tepat di depannya. Pintu bus terbuka.
Aduh! Tidak ada waktu!
Dimas berhenti berlari. Ia menatap nanar kotak mainannya yang terus menggelinding, pasrah. Lalu ia memejamkan mata sejenak, hatinya menjerit.
Maafkan aku, Mai!
Tanpa menoleh lagi ke belakang, ia memfokuskan seluruh sisa tenaganya, berbalik, dan berlari menanjak sekuat tenaga. Sayangnya, takdir sepertinya hobi sekali mengerjainya.
Tepat saat ia hampir mendekat, pintu bus tertutup. Si gadis sudah naik.
Dimas menambah kecepatan, tangannya menggapai-gapai udara.
“Tungguuu! Pak! Berhenti, Pak!”
Percuma. Bus itu menjawabnya dengan kepulan asap hitam tebal sebelum melaju pergi.
Dimas refleks menghentikan langkahnya. Untuk sesaat ia tak lagi memikirkan bus itu. Sesuatu yang lain merebut perhatiannya.
Asap itu.
Asap hitam pekat yang ditinggalkan bus tadi tidak menipis. Tidak menyebar ditiup angin. Justru sebaliknya. Asap itu menggumpal di tengah jalan, memadat, berdenyut pelan seperti sesuatu yang hidup. Jelaga hitam itu menarik debu dan kerikil dari aspal, lalu mulai meninggi.
Ia membentuk sebuah siluet. Sesuatu yang samar-samar menyerupai postur manusia, tapi terlalu tinggi dan bengkok. Bagaikan bayangan yang berdiri tegak di siang bolong, sosok itu menoleh, menatap Dimas.
Dimas membeku. Seluruh darah di wajahnya serasa ditarik keluar. Rasa putus asa kehilangan si gadis seketika lenyap, tergantikan oleh jenis teror yang jauh lebih primal.
Oh, tidak. Jangan sekarang.
Tangannya gemetar hebat memasang masker respirator ke wajahnya. Dengan gerakan panik dan terburu-buru, ia membentangkan tali-talinya dan memasangkannya ke wajah, menekan segelnya kuat-kuat.
KLIK. HSSSS.
Begitu kedua cartridge filter terpasang dengan benar, ia menarik napas pertamanya yang bersih dan steril. Ia memberanikan diri membuka mata yang tadi terpejam erat.
Sosok itu ... berangsur menghilang.
Awan jelaga yang tadi menggumpal itu lenyap tak berbekas, tersedot kembali ke dalam aspal, meninggalkan Dimas sendirian di sana, terengah-engah di balik masker setengah robotnya.
Belum puas bernapas lega, ia melihat pemandangan yang memacu jantungnya lagi: bus hijau itu kini hampir terlihat seperti titik, semakin menjauh di ujung jalan.
Sial, aku harus cepat.
Saat itulah matanya menangkap satu-satunya harapan: seorang abang ojek online yang sedang mangkal di bawah pohon, asyik mencet-mencet layar ponselnya. Tanpa pikir panjang, Dimas berlari menghampirinya.
“Bang! Kejar bus ijo di depan itu, Bang! Cepet!” seru Dimas sambil menunjuk-nunjuk.
Si abang ojol bermuka bulat berkumis tebal ini bahkan tidak mau repot-repot menoleh. “Lewat aplikasi, Mas,” katanya sambil sibuk main geser-geser permen di layar.
“Nggak sempet, Bang! Ini darurat! Nanti keburu ilang!”
Si abang akhirnya mengangkat kepala, menatapnya dengan tenang, dari ujung rambut sampai ujung sepatu. “Darurat?” Seulas senyum licik tersungging di bibirnya. “Banget?”
Sepercik harapan muncul di wajah Dimas. “Iya, Bang, darurat tingkat dewa ini!”
Si abang memasang muka prihatin yang dibuat-buat. “Waduh, kalau setingkat itu ya ….” Ia berhenti bicara, lalu menggesekkan ibu jarinya ke telunjuk dan jari tengah. Sebuah gestur purba yang artinya cuma satu.
Dimas langsung paham. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan dompet, dan menyodorkan lembaran uang terbesarnya. “Nih, Bang! Seratus ribu! Tunai!”
Si abang melirik uang itu, lalu mendengus. “Cepek buat ngebut-ngebutan? Walah, resiko, Mas. Kena tilang, bensin, belum kalo nyerempet.”
“Dua ratus!” tawar Dimas lagi, suaranya serak makin putus asa.
Si abang tampak berpikir, mengelus-elus dagunya seolah sedang menimbang proposal bisnis miliaran rupiah. “Masalahnya, saya lagi nunggu orderan prioritas, e,” katanya dengan tampang belimbing wuluh.
Dimas pasrah. Ia merogoh semua uang di dompetnya. “Nih! Tiga ratus empat puluh lima ribu lima … eh, tujuh ratus perak! Semua duitku! Ambil, Bang! Ayo berangkat!”
Si abang menatap tumpukan uang dengan jumlah yang sangat spesifik itu. Ia tampak ragu. “Nanggung amat, Mas. Digenepin empat ratus ribu gitu kan enak ….”
Tepat saat Dimas hendak mengumpat, terdengar suara motor mendekat. Seorang ojek lain hendak ikutan mangkal.
Seketika, sikap si abang ojol berputar 180 derajat kayak kepala burung hantu. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia langsung menyambar tumpukan uang dari tangan Dimas.
“OKE, DEAL! NAIK, MAS! CEPET!” suaranya terdengar panik.
Dimas, yang masih agak bingung dengan perubahan drastis itu, buru-buru naik ke jok belakang.
“Pegangan, Mas, kita gasken!”
Motor matic itu melesat, mesinnya meraung-raung kayak jagoan Bollywood. Tapi percuma, jarak mereka sudah terlalu jauh. Tepat di persimpangan, bus itu menyalakan sein kiri dan berbelok, lenyap di balik bangunan.
“Yah! Ilang, Bang!” jerit Dimas panik.
“Santai, Mas.” Si abang ojol dengan ketenangan seorang maestro berbelok tajam ke kiri, masuk ke sebuah gang perkampungan yang lebarnya cuma pas buat satu motor.
“Lho? Kok lewat sini?”
“Ini namanya jalan tikus, Mas,” jawab si abang sambil menaikkan alisnya dua kali.
Bener aja. Tak jauh di depan mereka, seekor induk tikus got seukuran anak kucing bersama lima bocilnya sedang menyeberang gang dengan riangnya.
Dimas tak sadar meremas pundak si abang ojek. “ADA TIKUS, BAAAAANG!”
“MINGGEEEER!” Persona cool si abang ojol hancur berkeping-keping.
Alih-alih ngerem, si abang justru refleks tancap gas. Melindas polisi gendut yang tiduran di depan mereka buat bikin momentum lompat. Untuk sepersekian detik, Dimas dan si abang jadi duo akrobat dadakan, melayang di atas keluarga tikus yang lari kocar-kacir. Dimas hanya bisa memejamkan mata, kakinya diangkat setinggi mungkin, merasakan sensasi terbang yang bikin anunya linu.
GEDEBRUS!
Roda belakang menghantam aspal duluan, mengirimkan guncangan hebat sampai ke tulang ekor. Motornya oleng liar, setangnya bergoyang-goyang kayak orang kesurupan. Tapi dengan kombinasi rem, gas, dan doa orang tua, si abang berhasil menstabilkan motornya kembali.
Mereka balik ke jalan besar. Harapan Dimas membuncah tinggi saat melihat sebuah bus hijau di depan. “Itu dia, Bang!” Serunya penuh semangat.
Tapi seketika ambyar saat motor mereka mendekati perempatan lampu merah. Di hadapan mereka, berjajar rapi, bukan cuma satu, tapi tiga bus kota kembar berwarna hijau.
Materi terakhir telah tertutup bersamaan dengan aroma sisa praktikum yang menguap di udara kelas. Azura berdiri di depan meja laboratoriumnya, merapikan beberapa catatan dengan gerakan yang tenang dan khidmat. Ia kemudian menengadah, menatap kedua muridnya dengan binar mata yang jernih."Alhamdulillah," ucap Azura lirih namun terdengar jelas ke seluruh penjuru ruangan. "Puji syukur kepada Sang Pemilik Segala Aroma, seluruh materi telah tuntas kita pelajari bersama. Tidak ada lagi teori yang tersisa, yang ada kini hanyalah pembuktian."Ia menjeda sejenak, membiarkan suasana senyap itu menekankan bobot kata-katanya. "Satu minggu setelah hari raya Idul Fitri nanti, kompetisi 'Legenda Layla' akan resmi diadakan. Ini bukan sekadar ujian, melainkan perjalanan untuk memanggil kembali ingatan yang telah lama hilang."Azura
Kabar itu datang seperti petir di siang bolong bagi Dimas. Azura tumbang karena kelelahan, dan di saat yang sama, Layla Badar menerima pesanan masif: sepuluh ribu botol parfum yang harus selesai dalam waktu singkat."Secara kontrak, kau itu pustakawan aroma, Dimas. Tugas kau melayani tamu dan menawarkan parfum, bukan meracik," ujar Pak Badar sambil menyiapkan meja lab."Saya mau bantu, Pak. Di luar jam kerja tidak ada masalah," balas Dimas tegas. Ia tidak bisa diam saja membayangkan Azura yang sedang terbaring sakit sementara beban toko menumpuk.Malam itu, laboratorium Layla Badar menjadi saksi sebuah kerja keras. Dimas terpaku melihat kecepatan tangan Pak Badar. Namun, yang lebih mengejutkan adalah Eyang. Wanita tua itu bergerak sedikit lebih cepat, tangannya menari di antara botol-botol esens dengan presisi yang
Aroma sabun yang segar masih menguar dari tubuh Dimas saat ia duduk di ruang tengah. Matanya berbinar menatap sebuah meja kayu yang sudah tertata rapi. Di sana, Pak Badar duduk bersila dengan tenang, tangannya bertumpu pada sebuah tudung saji anyaman tua yang menyembunyikan harta karun paling berharga di dunia."Kau siap?" tanya Pak Badar dengan nada penuh misteri.Dimas mengangguk mantap, napasnya tertahan."Saksikanlah!" Pak Badar mengangkat tudung saji itu dengan heroik.Seketika, cahaya putih menyilaukan keluar dari bawah tudung tersebut. Dimas refleks memicingkan mata. Saat sinar itu mereda, wajahnya tampak begitu takjub, di hadapannya tersaji hidangan yang baru saja turun dari langit."Sayur bening tanpa garam!" teriak
Di dalam dimensinya, Dimas sedang berpesta. Ia melenting ringan, berputar di udara, dan mendarat dengan ujung kaki yang lincah di atas matras. Di sekelilingnya, belasan prajurit chibi Bergamot—dengan perut buncit dan helm kulit jeruknya—berlarian kacau."Eits, ketinggalan!" goda Dimas sambil melompat melewati kepala salah satu monster mungil itu. Ia menyentil daun di helm mereka satu per satu, membuat mereka terjungkal seperti bola pingpong. Dimas tertawa, rasa percaya dirinya membubung tinggi. Hidungnya kini terasa seperti benteng yang tak tertembus. "Ayo, cuma segini kemamp—"Tiba-tiba, cahaya di sekitarnya meredup. Sebuah bayangan masif merayap cepat dari arah belakang,
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.