MasukFeng Bingwen adalah seorang pangeran yang dulu sering disebut sebagai jenius bela diri. Tapi sebuah kudeta yang dilakukan sang paman, membuat dirinya kini dirundung. Ia bahkan hampir mati di jurang jika tidak ditolong Kakek Guozhi, seorang guru misterius, yang mendadak mengajarinya ilmu tradisional dalam 5 elemen. Bagaimana nasib Feng Bingwen? Berhasilkah ia menguasainya dan mengembalikan kerajaan, serta statusnya?
Lihat lebih banyakMalam telah jatuh. Langit hanya menampilkan bintang-bintang kecil, tertutup awan tipis yang menyapu perlahan. Tak ada angin. Hanya suara debu yang merayap di tanah kering, seperti bisikan lembut dunia yang menyimpan rahasia.Bingwen duduk di tempat yang sama. Pohon kecil yang mati kini tak lagi menemaninya. Tapi di sampingnya, kecambah baru itu tetap tumbuh, seolah tak peduli dengan dunia. Cahaya tipis dari batu giok kecokelatan masih mengendap di telapak tangannya, berdenyut pelan seperti nadi bumi.Ia tak tidur. Tak lapar. Tak haus.Entah kenapa, setelah keluar dari celah tanah itu, tubuhnya seperti diselaraskan. Energi mengalir dalam aliran-aliran halus, bukan dari kekuatan luar, tapi dari dalam dirinya sendiri.Namun, malam ini berbeda.Tanah di bawahnya terasa gelisah.Awalnya, hanya getaran kecil. Tapi kemudian, seperti langkah kaki. Berat. Perlahan. Tapi pasti.Bingwen membuka mata. Ia tak bergerak, hanya mendengarkan.Satu... dua... tiga langkah.Tanah bukan hanya berbicara pa
Tanah masih diam. Sunyi. Namun bukan lagi sunyi yang dingin dan menakutkan seperti awal kedatangannya. Sekarang, keheningan itu terasa seperti pelukan. Bukan pelukan hangat, tapi pelukan yang jujur. Yang membuat seseorang tak bisa lari dari dirinya sendiri. Bingwen duduk bersila di samping pohon kecil yang perlahan menguning. Akarnya menggenggam bumi, meski kering dan rapuh. Seperti satu-satunya saksi perjalanan Bingwen dalam penguasaan Elemen Tanah. Ia menutup mata. Tak ada mantra. Tak ada jurus. Hanya napas yang diselaraskan dengan denyut bumi. Dulu, ia berpikir bahwa menguasai elemen berarti menaklukkannya. Sekarang, ia tahu, tanah tak bisa ditaklukkan. Ia hanya bisa diterima. Keheningan itu mulai bergeser. Ada getaran halus yang menjalar dari bawah. Bingwen membuka mata perlahan. Pohon itu bergetar. Daun-daunnya yang tersisa menggigil, lalu satu per satu jatuh ke tanah. Dari akar pohon, tanah merekah. Sebuah celah terbuka—sempit, gelap, dan dalam. Bukan retakan biasa, tapi sema
Tangannya gemetar saat memegang batu tajam yang dipakai menggali. Jemari yang dulu lincah menangkis serangan kini pecah-pecah, penuh luka dan debu. Setiap goresan di kulitnya seolah mengingatkan bahwa ia bukan lagi murid di bawah naungan Kakek Guozhi. Di sini, di tempat sunyi dan tandus ini, dia bukan siapa-siapa. Hanya manusia biasa yang berhadapan dengan batas tubuh dan pikirannya sendiri.Ia berhenti sejenak, mengangkat wajah yang kotor dan penuh peluh ke arah langit yang tak bergerak. Tak ada awan. Tak ada angin. Hanya langit kaku seperti dinding batu yang mengawasinya tanpa simpati.Tapi tanah… tanah terasa berbeda.Dengan gemetar, Bingwen menempelkan telinga ke permukaan keras itu. Ia pejamkan mata, meredam seluruh hiruk-pikuk pikirannya. Dalam diam itulah, ia merasakannya: denyut samar seperti detak jantung yang dalam dan berat. Seolah tanah sedang bernafas.Ia menahan napas, takut mengusik keheningan itu. Getaran itu nyata. Aliran energi yang perlahan mengalir jauh di bawah sa
Bingwen berdiri di atas tanah kering dan retak, tatapannya menyapu sekeliling. Gunung gersang ini tidak seperti tempat-tempat sebelumnya yang pernah dia lalui. Tidak ada pepohonan yang bisa memberinya naungan, tidak ada sungai yang bisa memberinya seteguk air, dan yang paling membuatnya gelisah—tidak ada tanda-tanda keberadaan Kakek Guozhi.“Kakek?” panggilnya, berharap suara berat gurunya akan menyahut. Namun, yang terdengar hanya suara angin yang menyapu debu dan kerikil di sekelilingnya.Dia sama sekali tidak menyangka jika sang guru telah pergi, karena sejak awal Chi milik Kakek Guozhi tidak pernah terasa oleh Bingwen. Dan dalam waktu sekejap, dirinya harus dihadapkan rintangan yang harus dia hadapi seorang diri tanpa arahan dari sang guru lagi.Bingwen mengepalkan tangan, menenangkan dirinya. Ini adalah ujian. Kakek Guozhi telah mengatakan bahwa untuk benar-benar memahami Elemen Tanah, dia harus menyatu dengannya, memahami bagaimana tanah bernapas, bagaimana ia menyimpan kekuatan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak