LOGINPokoknya makin asyik, buat nemani hari-hari sahabat pembaca, lanjut terus ya guys!
“Boleh aku bertamu dan masuk ke rumah kamu Tante Vega?” Satria menatap si cantik yang makin matang ini, tubuhnya juga makin menggiurkan di usia 37 tahunan ini.“B-boleh Satria, ayooh masuk,” Tante Vega buru-buru membuka pintu dan Satria mengikuti dari belakang.“Makin montok ajee ni cewek,” batinnya, tapi tentu saja Satria dulu dan kini beda, dia tidak mau menunjukan ke bangoranya pada si mantan istri Om Brata ini, dia adalah pria matang dan kenyang pengalaman.Dengan gaya yang sopan dan elegan Tante Vega kini menatap pria yang pernah bikin dia sayang dan jatuh cinta...hasilnya, si Irwansyah itulah, anaknya yang tampan, tapi sayangnya autis, tanpa setahu Satria pastinya.“Di mana suami kamu sekarang, papanya Irwansyah?” tanya Satria berbasa-basi, Tante Vega kontan terdiam, hampir saja ia mengaku.Tapi saat ingat wanita yang bersama Satria di mal Plaza Indonesia, kontan Tante Vega menahan mulutnya.“Kami…sudah pisah, dia tak mau punya anak autis. Yaah tak apalah, aku tetap akan besarka
Dan Soraya terpekik manja, saat dari belakang Satria langsung serbu pantat bohaynya dan melumatnya dengan ganas, sehingga acara coba-coba baju baru tertunda, karena Soraya mlenguh-lenguh lagi di hajar si bangor cap biawak ini dengan gaya doggy style.“Manaa tahaannn…liat bokong semok kamu,” canda Satria sambil pompa Soraya hingga kamar ini berubah jadi lenguhan-lenguhan dan desahan manja Soraya.“Silahkan Bang, mulai saat ini, kapanpun Abang mau, aku berikan,” bisik Soraya sambil menahan tubuhnya yang terguncang-guncang aduhai ini, upoiii….!Pertandingan senggama dengan beragam gaya ini berakhir setelah keduanya sama mencapai puncaknya, dengan seperti biasa 3-1, alias Soraya 3X klimaks dan Satria 1X klimaks.Sejak hari itulah, Satria membiarkan Soraya tinggal di rumah besar dan mewahnya dan berlakon bak istri, Satria tak tidak tega ‘mengusirnya’ pulang. Lagian…adanya Soraya membuatnya kini jadi betah di rumah, sebab Soraya selalu perhatikan kesehariannya dan juga cara berpakaiannya
Dengan perban di lehernya, Soraya yang selamat dari aksi nekat Joni, kini tetap lanjutkan belanjanya tadi, dan dia malah merasa makin aman dengan adanya Satria di sisinya.Satria hanya geleng-geleng kepala. "Kelamaan tinggal di kampung kaleee," batin Satria dan membiarkan saja ulah Soraya. Kepolisian sektor terlihat berbincang dengan Satria dan mereka (polisi) kini lacak taksi yang membawa Joni kabur.Satria dan Soraya lalu memutuskan pulang, setelah membayar semua belanjaan Soraya, si cantik ini juga membelikan pakaian buat Satria, dengan alasan biar Satria makin berkelas, Satria iya-iya...!“Nggak di sangka si Joni bisa se gila tadi ya Bang? Tapi lebih gila lagi Abang yang melompat segitu tinggi kejar penjahat itu” kata Soraya sambil menatap Satria yang santai saja bawa mobil mahalnya dan bikin Soraya makin klepek-klepek, makin melotot lagi saat tahu harganya yang lebih 18 embeeer.“Sayangnya dia berhasil kabur, eh bagaiman leher kamu, masih sakitkah?” sahut Satria pendek, sambil m
Satria membiarkan Soraya kini belanja sepuasnya di Plaza Indonesia, misinya untuk memancing Joni agar mendekati Soraya di mulai saat ini.Soraya yang kini bak ‘istri’ saja, siang malam menikmati melayani Satria, walaupun dia rela siang malam dua lubang kenikmatannya di hajar si pejantan tangguh ini.“Lama-lama nggak sanggup juga aku rujuk dengannya, mana tahan malam 2X, pagi satu kali di hajarnya,” batin Soraya, yang antara ngeri dan menikmati juga selama tinggal dengan Satria.Tapi satu hal yang bikin Soraya betah. Satria adalah tipikal laki-laki yang royal, apapun keinginannya, tak banyak cincong langsung diiyakan Satria, termasuk hobby semua wanita, yakni shopping.Satria tak pernah perhitungan, sampai-sampai Soraya bingung, apa bisnis Satria hingga se kaya raya begini dan enteng saja keluar duit buatnya.“Andai dulu aku tak egois, mungkin aku sudah hidup enak bak ratu di sisinya, kalaupun aku tak sanggup, tak masalah dia mau poligami, tuh hartanya agaknya nggak bakalan habis 10 tur
“Sekarang mau di apain nih?” tanya Soraya malu-malu, tapi membiarkan tangan Satria mulai nakal dan elus-elus tubuh pahanya yang berbulu tipis, hingga Soraya merinding juga.Soraya juga mulai pegang si pelatuk gede ini dan meremasnya gemas. “Udah berapa lama kamu nggak bercinta Soraya?” tanya Satria, nggak mau buru-buru beraksi, dia ingin bikin si cantik ini makin klepek - klepek dulu.“Ehemm…lumayan Bang, hampir 1 tahun, malah aku nggak pernah nyukur, jadi jangan jijai yaa kalau milik aku lebat banget,” sahut Soraya dan mulai mendesah pelan, saat jari tangan Satria mulai meraba rerumputan lebat miliknya.“Wow…makin sempit donk?” gombal Satria dan tangan satunya meremas-remas melonnya yang gede di balik handuk, hingga Soraya makin blingsatan di buatnya.“Ahh aku kan sudah pernah melahirkan Bang!” kata Soraya makin menahan nafas, sebab jari Satria mulai masuk ke lubang perkencingannya, hingga miliknya mulai berkedut dan pelan-pelan mulai basah lagi.Satria dengan nakal cabut jarinya dan
Satria tidak mau buru-buru manfaatkan Soraya, dia ingin rehat dulu, setelah lakukan tugas yang sangat menegangkan selama berbulan-bulan, bahkan hampir saja membuatnya tapa daksa dan cacat seumur hidup.Inilah resiko besar yang harus dia lakukan untuk menangkap gembong narkoboy, sehingga dengan adanya Soraya, sesaat Satria jadi ingat masa remaja mereka yang lucu dan kadang bikin gemes.Apalagi saat ingat kelakuan dua sahabatnya Ujang dan Arik, yang dulu sempat mengintipnya di rumah Soraya ini.Soraya yang melihat Satria terlihat kelelahan memancing Satria apakah mau di pijat malam ini?Saat ini Soraya sudah kenakan gaun bobo yang tipis, hingga beda dan celdamnya membayang dari balik pakaiannya tipisnya ini, Satria sampaai menelan ludah juga.Apalagi saat ingat pengalaman dahulu, tapi sebagai bangor berpengalaman, ia tentu saja menahan diri tidak asal seruduk dan pastinya main slow saja.Apalagi seingatnya, Soraya tak suka bercinta dengan gaya kasar, si cantik denok ini suka yang lembut
Satria tak ragu-ragu lagi langsung netoiii kedua buah semangka ranum yang terpampang di depan hidungnya bak bayi lagi kehausan, apalagi tubuh Tante Vega jauh lebih wangi dari tubuh Ajeng.“Argghhh iyahh honey…terusssss..!” desah Tante Vega, yang makin terbakar nafsunya sendiri, Satria benar-benar li
Satria tak bisa menjawab tawaran ‘fantastis’ si Kades Sujarwo, bingung di usianya yang masih muda ini harus menikahi Soraya yang saat ini sedang….hamidun.“Paman…bolehkah aku minta waktu untuk berpikir dulu?” sahut Satria perlahan, dia tak mau buru-buru beri jawaban.“Tentu nak Satria, tapi ku harap
Sejak sukses hajar 3 preman kampus, nama Satria kontan makin terkenal, tapi dia tak mau sombong, tetap berlakon biasa-biasa, tidak ada yang berubah di kampus ini.Yang berubah hanya satu, yakni Berlina yang makin perhatian padanya, tapi sampai kini Satria belum pede ungkapkn rasa sukanya pada si bin
Mardani menatap tubuh dan wajah anaknya yang kini berubah 180 derajat, setahun yang lalu kurus dan ceking, kini…bertubuh atletis dan wajahnya juga sudah orang kota habis, juga pakaiannya.“Bagus juga ternyata si Brata memelihara kamu,” cetus Mardani, sebut sepupunya itu, tapi dari roman wajahnya, ag







