LOGINRestoran bintang lima yang biasanya bising itu kini sunyi senyap, telah dikosongkan sepenuhnya demi satu tujuan: jamuan makan malam rahasia dewan komisaris Maverick Corp. Cahaya lilin yang temaram memantul di atas peralatan makan perak yang berkilau, namun atmosfer di dalam ruangan itu jauh dari kata hangat—dingin dan mengintimidasi.Di ujung meja panjang berbahan mahoni, Julian Vane duduk dengan senyuman yang tidak pernah menyentuh sepasang matanya. Sementara itu, anggota dewan lainnya—pria-pria paruh baya dengan setelan jas seharga ribuan dolar—menatap Lexy tanpa kedip. Mereka memandangnya seolah-olah wanita itu adalah objek eksperimen laboratorium yang sedang diuji ambang batas ketahanannya. Dante menarik kursi untuk Lexy dengan gerakan yang sangat lembut, namun tekanan tangannya di bahu Lexy seolah memberi peringatan: Jangan membuat kesalahan."Terima kasih, Sayang," bisik Lexy, suaranya terdengar manis di telinga para tamu, meski di dalam hati ia ingin sekali menendang tulang ke
Penthouse Mayfair kini terasa seperti penjara yang perlahan menyempit, mengikis pasokan udara di sekitar Lexy. Kabar mengenai pernikahan yang dipercepat menjadi minggu depan terus berdenging di telinganya, mirip gema yang menyiksa. Saat ini, Dante sedang berada di kantor untuk urusan saham, sementara Victoria sibuk mengomandani para perancang busana."Marcus," panggil Lexy ketika melihat asisten setia Dante itu melintas di ruang tengah."Ya, Nona Alexandra?""Aku tahu Liam akan segera pergi. Dante bilang kau yang mengatur seluruh keberangkatannya. Aku ingin bertemu dengannya untuk terakhir kali. Sebentar saja, kumohon."Marcus seketika termangu. Gurat keraguan tercetak jelas di wajahnya. "Tuan Maverick melarang adanya kontak dalam bentuk apa pun antara Anda dan Tuan Liam, nona.""Aku tidak akan kabur, Marcus! Lihat sekelilingku, pengawal bersenjata ada di setiap sudut," sergah Lexy, suaranya naik satu oktav. "Aku hanya ingin mengembalikan kamera lamanya yang tertinggal. Itu benda k
Suasana di dalam limosin yang membawa mereka pulang dari pesta pertunangan terasa jauh lebih dingin daripada AC yang berhembus. Dante duduk di sudut, wajahnya tertutup bayangan, sementara Lexy terus meremas jemarinya yang gemetar."Dante, aku bisa jelaskan soal Liam—""Tunggu sampai kita sampai di Mayfair, Alexandra. Aku tidak ingin sopirku mendengar sampah yang keluar dari mulutmu," potong Dante tajam. Begitu pintu penthouse tertutup rapat, Dante melempar jasnya ke atas sofa marmer dengan kasar. Dia berbalik, menyudutkan Lexy ke dinding dekat lift."Seminggu yang lalu? Kau masih tinggal bersama pria itu seminggu yang lalu? Hebat, ternyata kau tak sepolos yang kukira," ucap Dante, suaranya menggelegar di ruangan yang sunyi."Kami putus satu bulan yang lalu! Tapi dia belum punya uang untuk pindah, jadi dia masih menetapkan di apartemenku! Kita tidak melakukan apapun, Dante!""Aku tidak peduli kau tidur dengannya atau dengan seluruh fotografer di kota ini!" Dante memukul dinding di sam
Bau antiseptik rumah sakit yang menyengat menyambut Lexy. Di dalam ruang perawatan VIP yang jauh lebih mewah dari apartemen lamanya, seorang remaja laki-laki terbaring pucat dengan berbagai kabel menempel di tubuhnya."Kak Lexy?" suara serak itu membuat pertahanan Lexy runtuh.Lexy menggenggam tangan adiknya, Leo. "Hei, jagoan. Maaf aku baru datang.""Kau pakai baju sebagus itu? Lalu... Apakah kalung itu asli?" Leo menunjuk berlian yang masih melingkar di leher Lexy."Ini... ini hanya pinjaman untuk kerjaan, Leo. Aku mendapatkan kontrak besar. Kau jangan berpikir apa-apa lagi, fokuslah untuk sembuh, oke?""Dante yang membayar semua ini, bukan?" Leo menatap kakaknya lekat. "Aku melihatnya di berita. Kau bertunangan dengannya? Dia orang jahat, Kak. Beritanya bilang kalau dia dingin kayak es."Ceklek.Pintu kamar VIP itu terbuka. Dante berdiri di sana, mengenakan setelan gelap tanpa dasi. Aura dominannya seketika memenuhi ruangan serba putih yang itu."Aku memang dingin seperti es, ta
Ruang kerja Dante yang luas kini disulap berubah menjadi medan tempur. Di atas meja jati yang mahal, bertumpuk berkas profil anggota dewan komisaris Maverick Corp. Dante berdiri di depan jendela besar, sementara Lexy duduk dengan gelisah, membolak-balik foto-foto pria tua berjas formal."Hafalkan wajah-wajah ini, Lexy. Jangan sampai kau salah sebut nama," instruksi Dante tanpa menoleh."Ini seperti ujian sejarah, Dante! Kenapa aku harus tahu kalau Tuan Harrison hobi bermain golf?"Dante berbalik, menatapnya tajam. "Karena jika Harrison tahu kau memperhatikan Hal detail kecil itu, dia akan menganggapmu cerdas. Dan jika dia menganggapmu cerdas, dia tidak akan curiga bahwa pernikahan ini hanyalah sandiwara."Lexy melempar berkas itu ke meja. "Aku fotografer, bukan mata-mata!""Dan sekarang kau adalah keduanya," Dante mendekat, menarik kursi Lexy agar menghadapnya. "Coba kita tes. Siapa wanita di foto ketiga?""Uhmm... Marie Vance. Janda dari pendiri logistik Maverick. Dia menyukai k
Di kamar utama Dante, Lexy berdiri kaku di tengah karpet bulu, sementara pria itu dengan santai melepas dasi dan membuka dua kancing kemeja teratasnya."Sofa itu terlihat cukup empuk untukmu," Lexy menunjuk sofa panjang di sudut ruangan.Dante melirik sofa itu, lalu kembali menatap Lexy. "Itu sofa desainer, bukan tempat untuk tidur. Dan ibuku punya kebiasaan buruk memeriksa kamar anaknya di pagi buta. Kamu tetap tidur di ranjang.""Berdua denganmu? Jangan harap!""Ranjang ini ukurannya King Size, Lexy. Kita bahkan bisa meletakkan pembatas di tengahnya dan tidak akan bersentuhan," Dante melempar jam tangannya ke atas nakas dengan bunyi klunting yang mahal. "Kecuali jika dirimu tidak bisa menahan diri untuk menyentuhku."Lexy mendengus, melempar bantal hias ke arah Dante. "Dalam mimpimu, Maverick! Aku lebih memilih menyentuh kaktus daripada kau.""Baguslah. Simpan tenaga ejekanmu itu untuk besok pagi. Ibuku akan menginterogasimu seperti agen CIA." Dante berjalan menuju walk-in close







