Se connecterKabut tipis menyelimuti Mayfair. Lexy berdiri di depan cermin, mengenakan gaun putih yang jatuh dengan sempurna di tubuhnya. Ia tampak lebih segar, meskipun rasa mual sesekali masih menyapanya."Kau tidak akan pergi kemanapun, sweetheart. Tidak hari ini," suara Dante terdengar dari ambang pintu.Lexy menghela nafas, melihat pantulan suaminya di cermin. "Daniel, hari ini adalah pertemuan pertama dengan dewan direksi yayasan. Aku tidak bisa membatalkannya hanya karena aku merasa sedikit pusing," balas Lexy sambil memasang anting mutiaranya.Dante melangkah masuk, mendekati Lexy dan meletakkan tangannya di pinggang istrinya. "Arvidsson bilang kau butuh istirahat total. Aku bisa mengirim Silas untuk mewakilimu, atau aku bisa membeli seluruh dewan itu dan membubarkannya jika mereka keberatan kau absen."Lexy tertawa kecil, matanya menatap Dante dengan serius. "Kau tidak bisa menyelesaikan segalanya dengan membeli orang, Daniel. Ini proyekku. Ini adalah warisan yang ingin kubangun dengan na
Matahari London menyelinap malu-malu di balik tirai sutra griya tawang, menyinari sisa-sisa malam yang intim antara Dante dan Lexy. Dante terbangun lebih dulu, seperti biasa. Namun, alih-alih langsung meraih ponsel untuk memeriksa pergerakan bursa saham Tokyo, ia memilih untuk tetap berbaring, menatap wajah istrinya yang masih terlelap.Ada sesuatu yang berbeda pada Lexy pagi ini. Wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya. Dante mengulurkan tangan, mengusap dahi Lexy yang sedikit berkeringat."Lexy?" bisiknya pelan.Lexy mengerang kecil, perlahan membuka matanya. "Jam berapa ini?""Baru pukul tujuh. Kau terlihat sangat lelah, sweetheart. Apa kau merasa tidak enak badan?" tanya Dante."Hanya sedikit pening. Mungkin efek jetlag dari Skotlandia baru terasa sekarang. Atau mungkin aku hanya butuh sarapan yang sangat banyak."Dante terkekeh, membantunya bersandar pada tumpukan bantal. "Aku akan menyuruh pelayan membawakanmu apa pun yang kau inginkan. Tapi pertama-tama, aku punya hiburan
Pesawat jet pribadi Maverick Corp menyentuh landasan pacu Heathrow dengan keanggunan yang mematikan. London menyambut mereka dengan hujan gerimis, namun bagi Dante, udara ini terasa seperti kemenangan. Begitu pintu kabin terbuka, barisan mobil hitam mengkilap sudah menunggu di bawah tangga pesawat.Dante melangkah turun, auranya kembali menjadi sosok penguasa yang dingin dan berwibawa."Silas, kirimkan jadwal konferensi pers besok pagi ke seluruh agensi berita utama. Pastikan mereka tahu bahwa aku hanya akan menjawab apa yang ingin aku jawab," perintah Dante sambil melangkah masuk ke dalam Rolls-Royce miliknya."Sudah ku atur. Gedung bursa efek sudah gempar sejak kita meninggalkan Skotlandia. Spekulasi tentang penggabungan asetmu membuat saham Maverick Corp melonjak enam puluh persen dalam waktu empat jam," Silas melaporkan sambil menutup laptopnya.Lexy masuk ke kursi belakang, menatap Dante dengan senyuman. "Kau benar-benar tidak bisa membiarkan dunia tenang sedikit pun, ya?""Duni
Pagi di Dataran Tinggi Skotlandia menyapa dengan kabut tipis yang menari di atas permukaan Loch Ness. Di teras hotel, Dante duduk dengan angkuh, menyilangkan kakinya sambil menikmati espreso. Di depannya, Marcus berdiri dengan setelan jas hitam yang sangat rapi, namun wajahnya tampak seperti orang yang baru saja diperintahkan untuk menjinakkan bom nuklir."Tuan, saya rasa ini tidak perlu," ucap Marcus.Dante meletakkan cangkirnya, lalu melirik kartu Centurion yang tergeletak di meja. "Marcus, aku sudah menghabiskan miliaran dolar untuk riset, senjata, dan teknologi. Tapi aku belum pernah melihatmu membawa seorang wanita ke dalam hidupmu. Ambil kartunya, pergi ke Inverness, dan jangan kembali sebelum kau menghabiskan minimal sepuluh ribu poundsterling untuk dirimu sendiri dan teman kencanmu."Lexy muncul dari balik pintu, mengenakan sweter oversized yang membuatnya tampak sangat menggemaskan namun tetap elegan. Ia membawa sebuah tas kecil berisi perlengkapan dandan."Dan ini, Marcus,
Puri Sterling di atas tebing itu kini hanyalah tumpukan arang yang memerah di bawah langit Skotlandia, namun di sebuah griya tawang hotel butik paling eksklusif di tepi Loch Ness, suasana justru berbanding terbalik. Kelegaan yang luar biasa menyelimuti tim kecil itu setelah bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang eksperimen genetik.Dante baru saja selesai mandi, mengenakan kemeja putih yang dibiarkan terbuka di bagian atas, memperlihatkan perban di bahunya. Ia melangkah ke ruang tengah dan menemukan istrinya sedang duduk santai dengan segelas anggur di tangan, sementara Silas dan Marcus berdiri di dekat meja kayu besar."Daniel, lihat ini," Lexy mengangkat kartu hitam Centurion milik Dante yang kini berada di jemarinya. "Aku baru saja memberikan kode akses penuh kepada Silas dan Marcus. Aku menyuruh mereka pergi ke pusat perbelanjaan di Inverness besok pagi untuk membeli apapun yang mereka inginkan."Dante menghentikan langkahnya, menatap kartu kreditnya, lalu menatap dua pengawalny
endaraan Maverick yang berlapis baja terhenti sekitar satu mil dari gerbang utama, tersembunyi di balik barisan pohon pinus yang lebat. Di dalam kendaraan yang sempit dan dipenuhi layar digital, suasana terasa sangat mencekam.Dante sedang memeriksa senjata pendeknya dengan gerakan yang presisi. Wajahnya diterangi oleh cahaya biru dari monitor. Di sampingnya, Marcus sedang menyesuaikan headset komunikasinya."Silas, bagaimana keadaannya?" tanya Dante."Penghitung mundur aktif," sahut Silas, jarinya menari di atas papan ketik. "Dalam tiga detik, aku akan meretas virus ke dalam pusat daya mereka. Tiga... dua... satu... Sekarang."Di kejauhan, lampu-lampu yang menyinari tembok puri Sterling berkedip-kedip, lalu padam total. Kegelapan menelan bangunan itu dalam sekejap."Semua sistem pertahanan mereka sudah buta," lapor Silas. "Kita punya waktu dua puluh menit sebelum protokol darurat manual mereka aktif. Setelah itu, mereka akan menyadari ini bukan sekedar gangguan listrik."Dante menole
Lampu hias di langit-langit penthouse masih menyala terang di kediaman Maverick. Usai acara amal yang terasa mencekik, Lexy menendang heels-nya ke sembarang arah. Kakinya lecet, dan kepalanya berdenyut karena akting senyum selama empat jam di depan kamera."Tolong buka resleting ini, Dante. Aku tid
Lantai marmer penthouse itu terasa dingin saat Lexy digiring menuju kamar rias. Ruangan itu terlihat lebih mirip butik kelas atas di Milan daripada sebuah kamar. Tiga orang berpakaian modis dan stylist sudah menunggu dengan kuas rias dan deretan gaun yang berkilau di bawah lampu kristal."Namanya
Limosin hitam itu meluncur membelah jalanan kota London yang basah. Di dalamnya, keheningan terasa begitu berat, hanya dipecahkan oleh suara napas Lexy yang masih memburu. Dante duduk di hadapannya, sibuk dengan tablet di tangan, seolah-olah wanita yang baru saja ia culik itu hanyalah kursi kosong
"Aku tidak suka mengulang ucapanku, David," gumam Dante sambil membenarkan letak jam tangan Rolex di pergelangan tangannya.Di bawah pendar lampu kristal yang redup, pria itu berdiri dengan ketenangan yang mengerikan. Suaranya tetap rendah, hampir seperti bisikan—jenis suara yang sanggup membuat ny







