Mag-log inGedung Fakultas Psikologi tempat Mao bernaung membentuk sisi panjang dari huruf L terbalik, menghadap langsung ke lapangan rumput yang luas. Sebelah sisi kiri luar lapangan ada gedung lebih kecil yang memunggungi lapangan, di sanalah kelas mata kuliah umum bahasa Indonesia kemarin diadakan. Selasar penghubung di antara keduanya adalah satu-satunya jalan pintas bagi Mao jika ingin menuju kantin atau sekadar menghindari terik matahari.
Selasa siang itu terasa lebih bersahabat, setidaknya bagi Mao yang hanya memiliki dua mata kuliah. Beban di pundaknya tak seberat hari Senin yang brutal. Begitu langkah kakinya keluar dari ruang kelas di lantai dua, ia disambut oleh embusan angin yang menyusup melalui koridor terbuka gedung jurusannya.
Secara insting, Mao menghentikan langkah. Ia berdiri di tepi pagar pembatas selasar, lalu melirik ke arah gedung di depan kirinya. Gedung berlantai tiga itu kini memiliki kesan yang berbeda di matanya. Jika kemarin ia menganggapnya sebagai penjara bahasa, kini gedung itu tampak seperti teka-teki.
Mao menyipitkan mata, mencoba mencari tempat ia duduk kemarin. Pikirannya melayang pada pria ber-hoodie abu-abu yang ternyata adalah seorang dosen. Baru saja ia ingin membuang napas lega karena merasa "aman" hari ini, matanya menangkap siluet seseorang di gedung seberang.
Pandangan Mao terhenti pada satu jendela yang terbuka lebar. Di sana, Khai sedang berdiri. Ia tidak lagi memakai hoodie abu-abunya, melainkan kemeja biru navy yang lengannya digulung hingga siku. Pria itu tampak sedang beristirahat di sela-sela jam mengajarnya, berdiri tegak di dekat jendela sambil menghirup dalam-dalam udara segar yang berembus dari lapangan.
Kedua tangannya bertumpu pada bingkai jendela, dan kepalanya sedikit mendongak, membiarkan angin mempermainkan rambut hitamnya. Untuk sesaat, Khai tidak terlihat seperti dosen "rewel" yang mengintimidasi, melainkan hanya seorang pria yang sedang mencari ketenangan di tengah hiruk-pikuk kampus.
Mao terpaku sejenak. Dari jarak ini, dipisahkan oleh hamparan rumput lapangan, Khai tampak seperti sebuah sketsa yang hidup. Mao, dengan insting mahasiswi Psikologinya, tanpa sadar mulai menganalisis gestur pria itu. Bagaimana bahunya yang tegap tampak rileks dan bagaimana ekspresi wajahnya terlihat jauh lebih lembut saat sedang sendirian.
Seolah memiliki indra keenam, Khai tiba-tiba meluruskan pandangannya dan menoleh tepat ke arah gedung Psikologi. Ke arah Mao. Mata mereka bertemu di antara jarak udara terbuka. Mao tersentak, merasa tertangkap basah sedang melakukan observasi ilegal. Ia hampir saja berbalik lari, namun Khai tidak memberikan tatapan mengusir. Pria itu justru mengulas senyum tipis. Jenis senyum yang seolah berkata, "Ketahuan lagi?".
Mao mendengus kecil, meski jantungnya berdegup tak keruan. Ia membalas dengan anggukan kaku sebelum akhirnya berjalan cepat menjauh dari selasar.
"Sial!" bisik Mao pada dirinya sendiri sambil menuruni tangga. "Kenapa dia mengajar lagi di sana, sih?"
Ia tidak tahu bahwa di seberang sana, Khai masih berdiri di dekat jendela, memerhatikan punggung Mao yang menghilang di balik pilar dengan binar jenaka yang masih tertinggal di matanya.
"Mao! Apa yang kamu lakukan? Ayo!" teriak Erina yang sudah berada di ambang pintu di ujung gedung yang sama.
Teriakan Erina memecah keheningan selasar, menarik Mao kembali ke realitas. "Iya! Sebentar!" balas Mao gugup. Ia merapikan tali tasnya yang sebenarnya tidak bergeser, hanya untuk menutupi rasa salah tingkahnya.
Mao sempat menoleh sekali lagi ke arah gedung sebelah kiri. Khai masih di sana, tampak tenang seolah sedang menonton sebuah drama pendek dari kejauhan. Pria itu sedikit memiringkan kepala, menyaksikan Mao yang kini berjalan terburu-buru, nyaris tersandung kakinya sendiri, menuju arah Erina.
"Kamu lihat apa, sih? Serius banget," tanya Erina curiga begitu Mao sampai di depannya. Erina menoleh ke arah lapangan, mencoba mencari tahu apa yang menarik perhatian sahabatnya.
"Bukan apa-apa," dusta Mao sambil mendorong pundak Erina agar segera berjalan masuk ke dalam gedung.
Mao dan Erina yang sudah memilih tempat duduk, tapi masih ada waktu sebelum jam kuliah mulai. Erina menyenggol lengan Mao. "Mao, ayo ke toilet sebentar," bisik Erina.
Mao mengangguk setuju. Mereka menuruni tangga menuju lantai bawah, tempat toilet berada. Saat mereka berjalan menyusuri lorong menuju toilet, Mao tanpa sadar kembali melirik ke arah lapangan. Dari posisi bawah ini, ia bisa melihat jelas deretan pilar gedung sebelah kiri, wilayah kekuasaan Khai.
Tepat saat mereka di persimpangan lorong, pintu ruang dosen yang berada di hadapan mereka terbuka. Seorang pria keluar dari sana dengan beberapa tumpukan kertas di tangan kirinya, sementara tangan kanannya masih memegang gagang pintu.
Langkah Mao mendadak terkunci. Khai tampaknya keluar dari pintu itu. Jarak mereka hanya terpaut sekitar tiga meter. Tanpa sekat jendela, tanpa jarak lapangan. Aroma parfum maskulin yang tipis namun segar. Campuran antara kayu cendana dan citrus langsung menyapa indra penciuman Mao.
Khai melepaskan gagang pintu dan berdiri tegak. Matanya yang tajam menatap Mao dan Erina bergantian, lalu berhenti tepat di mata Mao. "Bolos di jam kedua, Mao?" tanya Khai dengan nada rendah yang terdengar seperti godaan daripada teguran. Salah satu sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum tipis yang mematikan.
Erina mematung sejenak sebelum matanya berbinar melihat Khai dari jarak yang hanya terpaut beberapa langkah. Berbeda dengan Mao yang merasa terintimidasi, Erina justru melihat ini sebagai kesempatan emas.
"Eh, Pak Khai! Selamat siang," ujar Erina dengan nada suara yang naik satu oktav, lengkap dengan senyum paling manisnya. "Bukan bolos kok, Pak. Ini mau ke toilet sebentar." Erina menyenggol lengan Mao dengan keras, seolah memberi kode agar sahabatnya itu tidak memasang wajah seperti sedang melihat hantu.
Khai beralih menatap Erina, lalu kembali pada Mao yang masih kaku. "Kebetulan? Di gedung ini, 'kebetulan' hanyalah sekumpulan peristiwa yang memang sudah diatur oleh arsiteknya agar kita sering berpapasan," sahut Khai filosofis, namun matanya tetap terlihat jenaka.
Khai kemudian melangkah mendekat, membuat Mao refleks mundur satu langkah hingga punggungnya hampir menyentuh dinding lorong. Khai menyodorkan salah satu lembar kertas yang ia bawa. Sebuah selebaran pengumuman lomba esai nasional.
"Mao, kamu tertarik dengan ini? Jurusan Psikologi biasanya punya sudut pandang unik untuk tema 'Bahasa dan Identitas'," ucap Khai.
Ia menyodorkannya tepat di depan wajah Mao. Mao terpaksa mengulurkan tangan, dan saat ujung jari mereka bersentuhan secara tidak sengaja ketika mengambil kertas itu, Mao merasakan sengatan kecil yang membuatnya makin gugup. "Terima kasih, Pak," gumam Mao pendek, matanya tertuju pada kertas agar tidak perlu menatap mata Khai.
"Kalian bisa ikuti lomba ini. Ajak teman-teman kalian," tambah Khai sambil berlalu melewati mereka.
Angin di taman kampus siang itu berembus kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Maorielle. Di hadapannya, Arvan berdiri dengan senyum yang begitu tulus, tangannya terangkat menyapa."Mao," panggil Arvan, suaranya terdengar berat karena gugup.Morielle pun memberikan senyumya sebagai balasan. Dia lalu duduk di sebelah Arvan. Dia yakin bahwa Erina akan datang juga pada mereka.Namun, fokus Maorielle terpecah. Erina tidak juga datang. Instingnya memaksa matanya untuk menengok ke ruang dosen. Erina tadi mengatakan akan menemui pak Angin. Maorielle menyipitkan mata. Ia mencari sosok Erina yang katanya ingin menemui Pak Angin, namun yang ia temukan justru Pak Khai.Pak Khai tidak sedang sibuk dengan tumpukan jurnal atau berkas nilai. Ia berdiri tepat di depan pintu yang terbuka, mematung dengan satu tangan di saku celana. Tatapannya tidak tertuju pada pemandangan kampus secara luas, melainkan terkunci tepat pada satu titik: Maorielle dan Arvan.Dari jarak sejauh itu, ekspresi Khai suli
Sepanjang kuliah, Khai beberapa kali kehilangan ritme bicara. Matanya terus beralih dari layar proyektor ke arah Maorielle. Setiap kali Maorielle tidak sengaja menatapnya, Khai akan memberikan tatapan yang sangat intens seperti singa yang mengawasi mangsanya.Maorielle semakin bingung. Dia merasa terjebak di tengah medan magnet yang kuat antara Erina yang bersikap acuh tak acuh dan Khai yang tampak gelisah. Apa yang mereka bicarakan di jendela tadi.Khai berdiri di depan layar proyektor dengan tangan terlipat di depan dada. Ia tidak langsung menggeser slide selanjutnya, melainkan menatap mahasiswanya satu per satu dengan pandangan analitis."Kita akan mencoba melakukan dekonstruksi makna pada sebuah karya," suara bariton Khai memecah kesunyian. "Sebuah lagu. Karena bahasa juga tentang apa yang diucapkan dan apa yang dirasakan."Khai berjalan mendekati barisan tengah, langkahnya berhenti tepat di depan meja Maorielle. Erina, yang duduk di sampingnya tetap
Erina menahan napas. Jantungnya berpacu. Ia merasa kepastian sudah berada di depan matanya.Suasana di dalam kelas itu semakin sunyi. Pandangan Erina dan Khai terfokus pada titik yang sama. Gedung seberang, di mana Maorielle baru saja melangkah keluar dari ruang kelasnya.Erina, dengan senyum yang sulit diartikan, mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Ia melambai dengan gerakan yang lebar untuk menyapa Maorielle yang melihat ke arah mereka. Sebuah gestur yang tampak ramah namun sarat akan klaim tersembunyi.Di seberang sana, Maorielle mematung. Jarak di antara kedua gedung itu tidak cukup jauh untuk menyembunyikan keterkejutan di wajahnya. Melihat sahabatnya berdiri begitu dekat di samping Khai, pria yang selama ini mengawasinya dari kejauhan. Membuat dunia Maorielle seolah berhenti berputar.Khai memperhatikan ekspresi Maorielle dari kejauhan. Ada sebuah getaran halus di sudut matanya yang biasanya sedingin es. Khai mengembangkan senyumnya pada Maorielle unt
Pagi itu, gedung Sastra masih diselimuti kabut tipis dan aroma tanah basah. Koridor lantai dua masih sunyi. Hanya suara langkah sepatu Erina yang beradu dengan lantai marmer, menciptakan gema yang tegas.Pikiran Erina kini terbagi menjadi dua skenario yang sangat kontras. Di satu sisi ada Arvan. Pemuda baik yang selalu berhasil menarik perhatiannya, namun selalu terpaku pada Maorielle. Di sisi lain, ada Khai. Sosok otoriter yang prestisius, yang mencari frekuensi yang tepat untuknya agar bisa menghilangkan radar Maorielle."Mao, kamu terlalu lambat membaca kode. Kalau kamu nggak berani ambil langkah. Jangan salahkan kalau Pak Khai memilih yang lain." gumam Erina.Erina tidak datang dengan kemeja seperti biasanya. Ia mengenakan kemeja silk berwarna pastel yang pas di tubuhnya, dipadukan dengan celana kain potongan rapi. Ia tampak dewasa, cerdas, dan yang paling penting: tidak memalukan.Erina sengaja datang ke kelas Khai lebih awal dari biasanya, tepatnya
Sore itu, mendung menggantung rendah di atas rumah dosen Angin. Seperti biasa, dia bermain ke rumah sang dosen untuk mencicipi masakan rumahan. Satu-satunya rumah dosen muda yang bisa Erina datangi tanpa rasa takut.Setelah mencicipi masakan pemilik rumah, Erina menemani Angin bersantai di teras belakang. Mereka basa-basi singkat tentang nilai dan organisasi. Lalu, Erina mulai melancarkan serangan halus, dia mengorek informasi tentang Khai."Om, Pak Khai kadang bisa seram ya?" Erina memulai sambil menyesap teh hangat yang disuguhkan. "Kelihatannya dia lagi banyak pikiran. Beberapa hari yang lalu dia di kelas agak seram."Pak Angin tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar sangat santai hingga membuat suasana yang tadinya sepi menjadi riuh. Angin menyesap kopinya. Lalu menatap Erina dengan binar mata yang seolah mengatakan bahwa ia punya segudang cerita tentang rekan sejawatnya itu."Khai memang kadang begitu, Erina. Dia itu ibarat kamus berjalan yang cov
Maorielle kembali fokus menyimak lagu yang dibawakan oleh sebuah band kampus. Lalu tak berapa lama, bayangan seseorang berhenti di depan mereka.“Wah, kalian di sini juga!.”Erina mendongak lebih dulu. “Lho? Arvan?”Arvan tersenyum santai, tangannya masuk ke saku celana jeans. Ia tidak terlihat seperti penonton biasa. Terlalu percaya diri, terlalu nyaman berada di tengah keramaian.“Kok bisa ada di sini?” tanya Erina cepat.“Salah satu peserta itu kakak kelasku waktu SMA,” jawabnya ringan. “Mei. Kami satu ekskul dulu. Sudah janji mau datang dukung.”“Serius?” Erina langsung tampak antusias. “Yang tadi pakai kostum merah itu?”Arvan mengangguk. “Iya. Dia memang ambisius dari dulu.”Maorielle ikut menoleh ke arah panggung, berusaha terlihat tertarik pada pembicaraan itu.Dari arah meja juri, Khai mengangkat kepala tepat di saat







