author-banner
NaoMiura
NaoMiura
Author

Novels by NaoMiura

Bilur Bulir Bertaut

Bilur Bulir Bertaut

Naomi memulai perjalanan karir di perusahaan kecil yang hampir bangkrut. Lalu dia berkembang dan bertumbuh hingga ke perusahaan besar. Sang Social Butterfly selalu berusaha dan membantu tim dalam mengembangkan perusahaan. Tak sedikit orang yang meminta bantuannya. Ketika Naomi mengalami satu masalah, orang-orang di sekitarnya tidak mendukungnya bahkan menggunjingnya. Tapi senyum sang kupu-kupu tidak pernah pudar. Tidak ada yang tahu bahwa di luar dia selalu mengembangkan sayapnya dengan indah. Tapi di dalam, sayapnya terlipat dan terluka. Satu kesalahannya menghapus semua kebaikan yang dia lakukan. Lalu apa pilihan Naomi?
Read
Chapter: Kekhawatiran Mareeq
“Pergilah.” Kali ini suara Mareeq lebih tegas.Beberapa detik mereka saling menatap. Akhirnya Leon menghela napas dan berbalik. Sebelum keluar, ia sempat melihat sekali lagi ke arah meja Naomi. Kosong. Tidak ada Naomi. Tidak ada penjelasan. Leon meninggalkan ruangan. Pintu tertutup. Ruangan kembali sunyi.Flora menatap Mareeq. “Jadi... sebenarnya apa yang terjadi?” tanyanya berharap Mareeq memberi tahu apa yang dia ketahui.“Tidak ada.” Mareeq kembali ke ruangannya.Flora menatap punggung Mareeq yang menghilang ke balik pintu. Lalu, pintu yang baru saja dilewati Leon. Kemudian ia melihat meja Naomi. Ada sesuatu yang tidak masuk akal. Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.Kalau Naomi benar-benar hanya pulang karena tidak enak badan, pulang ke mana dia? Mengapa Leon terlihat seperti orang yang kehilangan arah? Dan mengapa Mareeq terlihat seperti seseorang yang sedang menyembunyikan sesuatu? Tidak seorang pu
Last Updated: 2026-09-10
Chapter: Menghindar
“Kamu bisa menginap di rumahku.” Mareeq menawarkan.Naomi langsung menoleh. “Tidak.”“Naomi.”“Aku tidak mau merepotkanmu.” ujar Naomi kemudian.“Kamu tidak merepotkan.”Naomi menggeleng lagi. Naomi terlihat sangat kacau. Mareeq tidak memaksanya. Naomi terdiam cukup lama.“Ke apartemen kakakku saja.” ujar Naomi kemudian.Rupanya diam Naomi sedang berpikir. Untung saja dia memutuskan akan tinggal di mana. Jika tidak ada pilihan, Mareeq sebenarnya ingin menyarankan ke hotel untuk sementara.Mareeq mengangguk. “Oke.”Tidak ada pertanyaan lebih lanjut. Sepanjang perjalanan, Naomi lebih banyak diam. Ia menyandarkan kepala ke jendela sambil memandangi jalan yang perlahan berubah menjadi ramai.Ponselnya beberapa kali bergetar. Rentetan pesan dan telepon dari Leon. Pesan dari beberapa orang kantor. Namun Naomi tidak membuka satu pun.
Last Updated: 2026-09-09
Chapter: Emotional Apnea
Naomi tidak berhenti. Beberapa detik kemudian, ia menyadari sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada kemarahan. Naomi bahkan tidak menangis, bahkan tidak marah.Mareeq masih menunggu di tempat parkir. Ia sempat melihat jam di dashboard. Tidak sampai lama. Masih sepuluh menit menunggu, tapi baginya terasa lama.Naomi muncul dari lobi, Mareeq langsung menyadari ada sesuatu yang salah. Dia berjalan cepat. Terlalu cepat. Wajahnya pucat. Langkahnya sedikit tidak stabil.Naomi langsung membuka pintu penumpang dan masuk. Dia tidak mengatakan apa pun. Bahkan ekspresinya berbeda, tidak seperti sebelum dia masuk ke apartemen. Mareeq menatapnya dengan khawatir.“Naomi, ada apa?” tanya Mareeq yang khawatir.Naomi masih diam. Napasnya pendek. Ia menatap lurus ke depan, tetapi tatapannya seperti tidak benar-benar melihat apa pun. Mareeq mengulurkan tangannya menyentuh bahunya.“Naomi.”Baru saat itu Naomi menoleh. Matanya
Last Updated: 2026-09-08
Chapter: Kejutan
“Dan bilang pada dia, saya berharap dia tidak mengecewakan saya.”Naomi tersenyum. “Saya yakin dia tidak akan mengecewakan Bapak.”Pak Rino kemudian pamit karena harus menemui seseorang di tempat lain. Naomi menundukkan kepala sedikit.“Terima kasih banyak, Pak Rino.”“Ya. Saya tunggu kabarnya dari Leon.”Setelah Pak Rino pergi, Naomi berdiri beberapa detik sambil melihat ke arahnya. Mareeq akhirnya berjalan mendekat.“Kamu baru saja menyelamatkan proyek Leon.”Naomi menoleh. “Aku hanya menyampaikan apa yang aku tahu.”Mareeq tersenyum tipis. “Kamu sangat yakin padanya.”Naomi terdiam sebentar."Aku juga ingin melihat Leon berhasil."Mareeq memperhatikan wajah Naomi. Ada rasa aneh dalam diri Mareeq melihat Naomi berusaha untuk orang lain. Padahal sudah sewajarnya memang Naomi membantu Leon, pacarnya.Setelah makan sia
Last Updated: 2026-09-07
Chapter: Bantu
Keesokan harinya, suasana kantor kembali dipenuhi kesibukan. Sejak pagi, Naomi sudah duduk di depan komputernya. Beberapa dokumen terbuka di layar, sementara tangannya sibuk mencatat poin-poin penting dari laporan yang harus diselesaikannya hari itu. Sesekali ia memeriksa email masuk, kemudian kembali fokus pada pekerjaannya.Pagi itu berjalan cukup tenang sampai sebuah pesan dari Leon masuk ke ponselnya.Leon: Hari ini aku mungkin kerja dari apartemen dulu. Ada beberapa hal yang harus diselesaikan bareng Maya.Naomi membaca pesan itu sebentar.Naomi: Oke. Jangan lupa makan.Tidak sampai satu menit, balasan masuk.Leon: Oke, Sayang. Kamu juga jangan terlalu capek.Naomi tersenyum kecil melihat jawabannya. Ia kemudian kembali bekerja.Menjelang siang setelah meeting di luar, Naomi keluar bersama Mareeq untuk makan. Mereka berjalan menuju restoran yang tidak terlalu jauh dari kantor. Mareeq membawa ponselnya sambil sesekali membi
Last Updated: 2026-09-06
Chapter: Dokumen dan Nasi Goreng
"Sudah." Naomi menggenggam tangan Leon. "Kamu mandi dulu." pintanya.Leon menatapnya. "Aku harus selesaikan ini. Besok harus bertemu klien lagi.""Kamu sudah terlalu lama duduk di sini." Naomi mengambil beberapa lembar dokumen dari hadapannya. "Aku akan bantu."Leon tampak ragu. Naomi tersenyum kecil, meyakinkan kekasihnya bahwa semuanya tidak harus diselesaikan malam ini. Dia tahu Leon sedang bersemangat, tapi tubuhnya butuh istirahat."Pergi mandi. Setelah itu kita lanjutkan." bujuk Naomi.Leon menatap Naomi beberapa detik. Akhirnya ia menyerah. Leon berdiri. Kemudian dia masuk ke kamar mandi.Begitu suara air terdengar, Naomi mulai memperhatikan dokumen-dokumen yang berserakan. Ia membaca satu per satu. Tidak butuh waktu lama sampai Naomi menyadari masalahnya.Bukan pekerjaannya yang terlalu sulit. Dokumen-dokumen itu hanya bercampur. Ada data klien, permintaan revisi, catatan internal, serta dokumen yang sebenarnya sudah sel
Last Updated: 2026-09-05
Terikat Tatapan Pak Dosen

Terikat Tatapan Pak Dosen

Mao, mahasiswi ceria dan lembut, suka duduk di bangku paling belakang. Di sana, dia mengamati Khai, dosen muda yang tenang dan berwibawa. Tidak ada silabus yang mengatur perasaan, tidak ada aturan yang membimbing tatapan yang diam-diam terlalu panjang. Di antara kelas, catatan, dan senyum yang jarang diucapkan, hati mereka belajar hal-hal yang tidak ada di buku panduan. “Silabus yang Tak Pernah Ditulis” adalah kisah tentang rindu yang tumbuh di tempat yang seharusnya profesional—tentang cinta yang harus tetap diam, namun tidak bisa diabaikan.
Read
Chapter: Adegan dari Jendela
Kantin mulai sedikit lengang ketika mereka selesai. Matahari sudah naik lebih tinggi, membuat halaman kampus terlihat lebih terang dari sebelumnya.“Ayo ke taman,” ajak Erina, berdiri sambil membawa minumannya.Maorielle mengangguk. “Boleh.”Taman kampus dipenuhi mahasiswa yang duduk santai di bawah pohon. Angin siang berhembus pelan, membawa suasana yang lebih ringan dibandingkan ruang kelas. Maorielle dan Erina baru saja duduk ketika Arvan datang menghampiri.“Kalian di sini ternyata,” katanya santai, lalu ikut duduk di dekat mereka.Obrolan pun mengalir ringan. Tidak ada yang serius. Hanya candaan kecil, cerita acak, dan tawa yang sesekali muncul.“Aku bilang juga tadi lighting-nya kurang,” kata Arvan, masih membahas acara kemarin.Maorielle terkekeh. “Kamu dari tadi itu-itu saja.”“Ya soalnya kamu tidak mau mengakui,” balas Arvan cepat.Maorielle menggeleng, lalu tanpa sadar menatap ke arah lain sejenak. Di lantai atas gedung sebelah. Jendela itu. Kelas Khai. Ia tidak berpikir ban
Last Updated: 2026-04-03
Chapter: Saujana
Setelah kelas selesai, Maorielle merapikan bukunya perlahan. Suara kursi yang digeser dan obrolan mahasiswa yang kembali ramai memenuhi ruangan, tapi ia tetap tenang di tempatnya.“Ayo kantin?” ajak Erina.“Kamu duluan saja. Aku ke ruang dosen,” jawab Maorielle.Erina mengangguk. “Jangan lama-lama.”Maorielle hanya tersenyum kecil, lalu berjalan keluar kelas.Lorong menuju ruang dosen terasa lebih sepi dibandingkan area lain. Langkahnya bergema pelan di lantai. Sementara pikirannya mulai beralih ke urusan yang harus ia selesaikan, menemui Dosen Angin.Ia berhenti di depan pintu ruang dosen. Tangannya baru saja hendak mengetuk ketika sesuatu membuatnya terdiam. Sebuah lagu. Pelan. Hampir seperti hanya menjadi latar. Tapi cukup jelas untuk dikenali. Saujana.Maorielle membeku di tempat. Nada pembukanya yang lembut langsung terasa familiar di telinganya. Ia tidak salah dengar. Itu lagu favoritnya. Ia pernah menyebutkannya sekali. Hanya sekali. Saat kelas Khai ketika membedah lagu.Tapi s
Last Updated: 2026-04-01
Chapter: Tas Baru
Mobil Khai berhenti pelan di depan rumah Maorielle. Mesin masih menyala, tapi suasana di dalamnya terasa lebih tenang dari sebelumnya. Seperti perjalanan tadi menyisakan sesuatu yang belum sepenuhnya selesai, tapi juga tidak perlu dipaksakan.Maorielle membuka sabuk pengamannya.“Terima kasih,” ucapnya pelan.Khai hanya mengangguk. “Hati-hati.”Singkat. Seperti biasa.Maorielle sempat ragu sejenak, tangannya sudah menyentuh gagang pintu, tapi ia belum langsung turun. Ada jeda kecil. Hampir seperti ia ingin mengatakan sesuatu lagi. Tapi akhirnya tidak.Maorielle membuka pintu, lalu turun. Begitu kakinya menyentuh halaman, suara langkah lain terdengar dari arah gerbang. Maorielle menoleh. Raviel dan mama. Keduanya baru saja pulang, masing-masing membawa beberapa kantong belanja. Langkah Maorielle langsung melambat.Sementara itu, dari dalam mobil, Khai yang menyadari keberadaan mereka ikut menoleh. Tatapannya sempat bertemu dengan Raviel dan mama, lalu ia mengangguk sopan. Sebuah sapaa
Last Updated: 2026-03-31
Chapter: Pulang
Maorielle mengangkat kepala perlahan, melirik ke arah Khai. Dan seperti kebetulan, Khai juga menoleh. Tatapan mereka bertemu sekejap. Hanya sepersekian detik. Tapi cukup untuk membuat Maorielle langsung memalingkan wajah, pura-pura fokus ke panggung. Pipinya mulai terasa hangat.Di sampingnya, Arvan masih berbicara pada Erina tentang penampilan berikutnya.“…katanya nanti ada kolaborasi sama musik modern juga—”Tapi suara itu seperti memudar di telinga Maorielle. Karena pikirannya masih tertahan pada pria yang tak jauh darinya.“Kenapa?” bisik Erina tiba-tiba.Maorielle tersentak kecil. “Apaan?”“Senyum-senyum sendiri dari tadi,” Erina menyipitkan mata. “Serem tau.”Maorielle langsung menggeleng cepat. “Nggak ada apa-apa.”“Tuh kan,” Arvan ikut menimpali ringan. “Dari tadi juga gue ngerasa.”Maorielle berdeham kecil, berusaha menenangkan ekspresinya. Lalu perlahan, tanpa sadar senyumnya kembali muncul. Tipis. Diam-diam.Pertunjukan masih berlangsung. Tepuk tangan mulai terdengar di be
Last Updated: 2026-03-30
Chapter: Pertunjukan Tari
Suara teman-temannya, hiruk pikuk parkiran, bahkan angin yang lewat. Semua seperti menjauh sejenak.Maorielle mencium bunga itu untuk menandakan bahwa Maorielle menyukainya. Seorang dosen melakukan hal ini di kampus? Gerutu Maorielle meski hatinya senang.Siang itu lapangan kampus berubah jadi panggung terbuka. Musik tradisional bercampur modern mengalun dari pengeras suara, mengiringi para penari yang bergerak luwes di tengah lingkaran penonton.Mahasiswa duduk lesehan berkelompok, membentuk barisan-barisan santai di atas rumput.Maorielle duduk di salah satu barisan depan, bersila dengan tas di sampingnya. Matanya sesekali mengikuti gerakan penari, tapi pikirannya tidak sepenuhnya di sana.Di sebelahnya, Arvan sedang bercerita sesuatu. Entah tentang acara radio atau komentar ringan soal penampilan di depan.“Bagian itu tadi bagus banget, lighting-nya dapet,” ujar Arvan, santai.Maorielle mengangguk kecil. “Iya, lumayan.” Jawabannya pendek.Arvan melirik sekilas, seperti menyadari ad
Last Updated: 2026-03-29
Chapter: Bunga
Maorielle tersenyum tipis, tapi matanya mulai terasa hangat. Ia tidak langsung menjawab. Ia menggigit bibir bawahnya pelan, lalu mengetik.Maorielle: Aku merasa kamu menyukaiku. Tapi, ketika melihatmu dengan cewek lain. Aku merasa sangat kecewa. Jadi aku menjauh agar aku tidak kecewa lebih jauh dan lebih dalam lagi.Kali ini, balasan dari Khai datang lebih lama. Seolah ia benar-benar memikirkan jawabannya. Atau mungkin… memikirkan ulang apa yang Maorielle lakukan selama ini.Khai: Cewek lain?Maorielle menahan napas. Degup jantungnya kembali menguat. Ia menatap kalimat itu lama. Dia tidak ingin langsung ke intinya. Cewek itu Mei. Ia mengetik, pelan, mencari kata yang tepat.Maorielle: Kamu terlihat sangat nyaman dan akrab dengan Mei.Maorielle melepar ponselnya ke tempat tidur. Dia tidak bisa melihat jawaban yang dia tulis. Dia tidak ingin menyesal menulis jawaban itu dan menghapusnya.Tak berapa lama ponselnya kembali bergetar
Last Updated: 2026-03-27
You May Also Like
Rest Area
Rest Area
Young Adult · Desimala
11.7K views
Takdir Ikatan Suci
Takdir Ikatan Suci
Young Adult · Ervin Warda
11.4K views
TO GET HER
TO GET HER
Young Adult · Cherry Blossom
11.1K views
Murid Kesayangan
Murid Kesayangan
Young Adult · Ayunina Sharlyn
11.0K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status