Chapter: TraktiranKeesokan harinya, kampus masih terasa ramai karena sisa-sisa kegiatan bakti sosial kemarin. Beberapa spanduk belum dilepas, dan di halaman fakultas masih ada mahasiswa yang membicarakan acara itu.Maorielle berdiri di depan sebuah kedai kopi kecil dekat gerbang kampus. Ia memegang dua gelas kopi hangat di tangannya. Uap tipis mengepul pelan, sementara jantungnya justru berdebar lebih cepat dari biasanya.Semalam ia tidak bisa berhenti memikirkan kejadian kecil itu. Khai diam-diam membelikannya burger. Ia tahu karena Erina yang tanpa sengaja membocorkan rahasia kecil itu. Sejak saat itu, Maorielle merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Bukan perasaan aneh… hanya saja ia merasa ingin membalas kebaikan itu.“Cuma kopi,” gumamnya pelan. “Bukan hal besar.”Namun tetap saja tangannya terasa sedikit gugup. Tak lama kemudian, sosok yang ia tunggu muncul dari arah parkiran dosen. Khai berjalan santai dengan tas ransel di bahunya. Kemeja putihnya digulung sampai siku, membuat penampilan
最終更新日: 2026-03-12
Chapter: Burger SpesialMeja distribusi semakin ramai menjelang siang. Kardus-kardus buku sudah mulai dipindahkan, pakaian disortir, dan paket sembako disusun rapi di atas meja panjang. Khai berniat ikut membantu.Setelah membantu memindahkan beberapa kardus, Khai tetap berada di area tenda bersama mahasiswa lain. Kadang membantu mengangkat barang, kadang berdiri di dekat meja registrasi bersama Arvan untuk mencatat jumlah donasi yang datang.Banyak mahasiswa terlihat sedikit canggung pada awalnya. Tidak setiap hari mereka bekerja berdampingan dengan dosen. Namun Khai terlihat santai saja.“Berapa paket yang masuk dari jurusan ekonomi?” tanya Khai pada Arvan.Arvan melihat daftar di clipboard. “Lima belas, Pak.”Khai mengangguk lalu menunduk melihat kertas catatan di meja. Ia meraih pulpen di sakunya, tapi berhenti. Sakunya kosong. Khai menghela napas kecil.“Sepertinya saya kehabisan pulpen.”Arvan langsung meraba sakunya sendiri. “Sebentar, Pak."Namun sebelum Arvan menemukan apa pun, sebuah tangan sudah l
最終更新日: 2026-03-11
Chapter: Bakti SosialKeesokan paginya kampus terasa lebih hidup dari biasanya. Langit cerah setelah beberapa hari hujan. Cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela panjang di koridor jurusan.Maorielle berjalan pelan sambil memeluk buku catatannya. Tubuhnya sudah jauh lebih baik, meskipun sisa lemas masih terasa sedikit. Ia menarik napas panjang. Sehari tidak masuk kelas membuatnya merasa seperti kembali ke kampus setelah waktu yang lama.Di depannya, koridor jurusan masih cukup sepi. Beberapa mahasiswa lewat sambil mengobrol, tapi suasananya belum terlalu ramai. Maorielle menunduk sebentar membuka jadwal kuliahnya di ponsel.Saat itulah... dari arah berlawanan seseorang berjalan cepat menyusuri lorong. Langkahnya tenang, ritmis, dan sangat familiar. Maorielle baru menyadarinya ketika jarak mereka tinggal beberapa meter. Khai.Dosen itu membawa beberapa buku di tangannya, kemeja putihnya rapi seperti biasa. Tatapannya awalnya lurus ke depan sampai akhirnya berhenti tepat pada Maorielle. Langkah mereka
最終更新日: 2026-03-10
Chapter: KetidakhadiranPagi itu kelas Bahasa Indonesia berjalan seperti biasa. Khai berdiri di depan kelas dengan spidol di tangan. Di papan tulis sudah tertulis satu kata: Metafora.Mahasiswa duduk rapi, sebagian mencatat, sebagian hanya menatap layar proyektor. Khai mulai menjelaskan seperti biasanya. Tenang, runtut, dan tanpa banyak basa-basi.“Dalam puisi, metafora bukan sekadar hiasan. Ia cara penyair memindahkan makna—” Ia berhenti sejenak.Tatapannya bergerak ke arah barisandi tengah. Bangku itu kosong. Khai melanjutkan kalimatnya, tapi ritmenya sedikit berubah.“—memindahkan makna… dari sesuatu yang konkret… ke sesuatu yang lebih… personal.”Beberapa mahasiswa menulis. Beberapa mengangguk. Namun tanpa sadar, Khai kembali melirik bangku yang sama. Kosong.Biasanya di sana duduk seseorang yang selalu membuka buku lebih dulu daripada yang lain. Selalu memperhatikan apa yang diterangkan Khai. Dan selalu menjadi bulan-bulanan Khai dalam memberi contoh. Hari ini tidak ada. Khai menutup spidolnya sebentar.
最終更新日: 2026-03-09
Chapter: HarapanMatahari sore sudah mulai turun. Suara musik dari area festival terdengar sampai ke taman jurusan yang agak jauh dari keramaian. Lampu-lampu kecil dari stan makanan dan permainan terlihat berkilau di antara pepohonan.Maorielle, Erina, dan Arvan sedang duduk di bangku taman sambil menikmati minuman yang baru mereka beli. Angin mulai terasa sejuk, membuat suasana kampus yang biasanya ramai terasa lebih santai. Tiba-tiba suara dari pengeras suara terdengar jelas dari arah lapangan utama.“Perhatian untuk seluruh pengunjung festival budaya! Lima belas menit lagi kita akan mengadakan pelepasan lampion bersama di lapangan tengah. Bagi yang ingin ikut, silakan menuju area utama. Lampion akan dibagikan oleh panitia!”Erina langsung menoleh dengan mata berbinar.“Lampion!” katanya antusias. “Aku mau lihat!”Arvan tertawa kecil. “Kamu selalu tertarik sama hal yang menyala di langit.”“Karena itu romantis,” balas Erina cepat.Maorielle yang sejak tadi diam akhirnya tersenyum kecil. Cahaya lampu
最終更新日: 2026-03-08
Chapter: Melepas PenyamaranMatahari siang menggantung cukup tinggi di langit kampus, memantulkan cahaya hangat pada deretan stan yang berjajar di sepanjang lapangan. Kain-kain warna-warni yang dipasang sebagai dekorasi festival berkibar pelan tertiup angin. Suara musik dari panggung utama bercampur dengan riuh tawa mahasiswa yang lalu-lalang membawa makanan.Aroma takoyaki, sosis bakar, dan minuman manis bercampur menjadi satu, membuat suasana terasa hidup. Maorielle, Erina, dan beberapa teman mereka berhenti di sebuah stan minuman kekinian yang antriannya cukup panjang.“Aku matcha saja,” kata Maorielle sambil melihat menu yang tergantung di papan akrilik.“Less sugar?” tanya penjual.“Iya.”Erina langsung menyahut dari sampingnya. “Kalau aku brown sugar milk tea.”Setelah memesan, mereka menyingkir sedikit dari depan meja agar memberi ruang untuk pelanggan berikutnya.Maorielle berdiri sambil melipat satu tangan di depan perutnya. Ia menunggu pesanan dengan sabar, tetapi matanya mulai bergerak ke sana kemari.
最終更新日: 2026-03-07
Chapter: Hadiah untuk FreyaBeberapa detik berlalu, akhirnya Mareeq menghela napas panjang dan menyerah. Dia meminggirkan mobilnya di tepi jalan. Dia benar-benar gila menuruti kata-kata istrinya yang tidak masuk akal.Raya menatap ke luar jendela. Sebuah taksi berhenti di depan mobil mereka. Raya lalu menoleh pada Mareeq."Taksi sudah datang. Kamu bisa mengantar Naomi pulang." ujar Raya kemudian.Mareeq masih duduk di tempatnya beberapa detik, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata itu tidak pernah benar-benar keluar. “Aku akan menghubungimu nanti,” katanya akhirnya.Raya hanya mengangguk kecil. Dia lalu keluar dari mobil dan berjalan menuju taksinya. Mareeq masih terdiam di sana, memastikan bahwa itu benar-benar taksi yang Raya pesan.Raya masuk ke taksi dan duduk. Dia tertegun dengan apa yang dilakukannya. Dia menatap ke belakang, ke arah mobil Mareeq."Sesuai dengan aplikasi?" tanya sopir."Iya, pak.""Kita berangkat." ujarnya.
最終更新日: 2026-03-12
Chapter: Percakapan Suami dan Istri"Kalau begitu, hati-hati, Naomi. Aku harap kamu datang besok." ujar Raya, lalu melangkah ke tempat mobil meninggalkan Mareeq dan Naomi. Raya tahu Mareeq akan berbicara sebentar sebelum berpisah."Sampai jumpa." Naomi tersenyum, memerhatikan Raya yang menjauh."Apa kamu baik-baik saja?" tanya Mareeq.Naomi menatap Mareeq. Dia memberikan senyuman paling tulus. "Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir.""Kamu akan datang besok?" Mareeq masih tidak bisa melepaskan rasa khawatirnya."Kamu bertanya lagi?"Mareeq terdiam, menatap Naomi dengan tatapan yang sarat akan rasa bersalah sekaligus kekaguman. Di bawah sinar matahari yang masih terik, senyum tulus Naomi justru terasa seperti sembilu yang mengiris hatinya. Ia tahu, di balik kata "tidak apa-apa" itu, ada beban mental yang luar biasa berat yang baru saja dipikul Naomi sendirian di depan istrinya.Naomi tertawa kecil, sebuah tawa hambar yang tidak mencapai matanya. "Jangan merasa khawatir. Sem
最終更新日: 2026-03-11
Chapter: Berteman"Aku juga banyak dengar tentang kalian dari Claudia," ujar Naomi."Ya. Kami menjadi berteman ketika Mareeq mengenalkan kami ketika perjalanan bisnis ke Turki. Dia sangat ramah dan menyenangkan. Hampir setiap hari kami berkirim pesan. Dia sudah seperti CCTV yang menyanpaikan apapun yang Mareeq lakukan." puji Raya.Nama Turki yang disebut Raya seketika memicu dentum di dada Naomi. Ada sedikit rasa cemburu di dalam hati Naomi. Dulu memang Mareeq lebih sering membawa Claudia dalam perjalanan bisnis. Naomi selalu mengira itu murni urusan pekerjaan, namun mendengar Mareeq mengajaknya bertemu dengan keluarganya membuat Naomi selangkah di belakang Claudia.Naomi mengalihkan pembicaraan ke arah lain. Dia tidak ingin suasana semakin canggung. Naomi memeras otaknya untuk mencari pembicaraan yang lebih hangat dan ceria.Tawa di meja makan itu berhenti ketika Raya mendapatkan sebuah panggilan. Dia melihat ke layar ponselnya sambil tersenyum. Kemudian dia menatap ke ar
最終更新日: 2026-03-10
Chapter: Kebekuan yang Mencair"Mareeq mungkin juga sama. Dia tidak akan mengingat hal kecil," jawab Naomi, mencoba memberikan senyum paling profesional yang ia miliki. "Cheese cake dan matcha, Mareeq ingat karena aku sering memesannya setiap hari. Tidak lebih dari itu."Raya manggut-manggut. Namun kilatan di matanya mengatakan bahwa ia tidak mempercayai sepenuhnya penjelasan Naomi. "Ahh... tentu saja."Raya mengambil tiramisu dan menikmati suapan pertama. Dia memejamkan mata sejenak seolah sedang menikmati kemenangan kecil."Aku dengar kamu sudah punya pacar, Naomi?" ujar Raya tiba-tiba.Denting sendok perak Raya yang menyentuh piring porselen terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangan Naomi. Pertanyaan itu meluncur begitu mulus, hampir tanpa beban. Namun dampaknya membuat Naomi merasa seolah gravitasi di ruangan itu mendadak hilang.Naomi melirik Mareeq. Pria itu nyaris tersedak air putihnya sendiri. Wajah Mareeq berubah dari kaku menjadi pucat pasi. Sebuah reaksi yang
最終更新日: 2026-03-09
Chapter: Dessert yang Terasa PahitPertanyaan itu terdengar seperti pujian, namun bagi Naomi, itu adalah ujian paling berat. Ia bisa merasakan keringat dingin mulai muncul di tengkuknya.Naomi hanya menanggapi dengan senyuman. Naomi melirik ke arah Mareeq. Pria itu hanya diam dan fokus pada makanannya. Tapi tak berapa lama, Mareeq melihat tatapan Naomi yang seolah meminta bantuan.Mareeq berdehem keras, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Aku sudah memesan dessert untuk kalian.""Benarkah? Apakah kamu memesan kesukaanku?" tanya Raya pada Mareq."Hmm." gumam Mareeq sambil mengangguk."Apa yang kamu pesan? Kamu sering lupa apa yang aku suka." gerutu Raya dengan canda. "Dia hanya mengingat segala hal tentang Freya." ujarnya menatap ke arah Naomi.Nama anak itu disebut, dan seketika atmosfir di ruangan itu berubah bagi Naomi. Freya. Nama yang selama ini hanya ia dengar sekilas dari keluhan Mareeq tentang rindu, kini mewujud dalam kalimat santai seorang istri yang sedang mengolok su
最終更新日: 2026-03-08
Chapter: Jamuan yang MencekamCahaya matahari Sabtu pagi yang biasanya menenangkan kini terasa menyengat di mata Naomi. Ia masih bergelung di bawah selimut, menikmati aroma kopi yang sedang diseduh Leon di dapur, sampai getaran ponsel di atas nakas menghancurkan ketenangannya. Nama Mareeq berkedip di layar."Ya, Mareeq?" jawab Naomi dengan suara serak khas bangun tidur."Naomi..." Suara Mareeq terdengar ragu, ada kebisingan latar belakang yang terdengar seperti suara tawa anak kecil dan seorang wanita yang bercanda. "Raya bilang ingin bertemu dengamu. Dia ingin mengajakmu makan siang hari ini."Naomi terduduk tegak seketika. Jantungnya berdegup kencang. "Bertemu aku? Untuk apa?""Dia ingin tahu siapa orang yang aku cinta," Mareeq menghela napas panjang. "Jika kamu menolak, aku akan mencarikan alasan. Aku tidak ingin membebanimu."Naomi terdiam, lidahnya kelu. Bagaimana bisa Mareeq dengan mudah mengatakan bahwa dirinya orang yang dia cinta pada istrinya. Bertemu Raya adalah hal
最終更新日: 2026-03-07