author-banner
NaoMiura
NaoMiura
Author

Novel-novel oleh NaoMiura

Bilur Bulir Bertaut

Bilur Bulir Bertaut

Naomi memulai perjalanan karir di perusahaan kecil yang hampir bangkrut. Lalu dia berkembang dan bertumbuh hingga ke perusahaan besar. Sang Social Butterfly selalu berusaha dan membantu tim dalam mengembangkan perusahaan. Tak sedikit orang yang meminta bantuannya. Ketika Naomi mengalami satu masalah, orang-orang di sekitarnya tidak mendukungnya bahkan menggunjingnya. Tapi senyum sang kupu-kupu tidak pernah pudar. Tidak ada yang tahu bahwa di luar dia selalu mengembangkan sayapnya dengan indah. Tapi di dalam, sayapnya terlipat dan terluka. Satu kesalahannya menghapus semua kebaikan yang dia lakukan. Lalu apa pilihan Naomi?
Baca
Chapter: Oleh-oleh
Jumat siang yang terik itu terasa berbeda bagi Naomi. Saat ia berjalan menuju area parkir kantor untuk mengambil sesuatu yang tertinggal di mobil, langkahnya mendadak terkunci. Di sana, di sebelah mobilnya, seharusnya itu tempat kosong. Tapi, dia melihat sebuah mobil hitam yang sangat ia kenali. Mobil Mareeq.Tiiinn! Mareeq menekan klakson singkat yang membuat Naomi tersentak terkejut. Naomi berjalan mendekat dengan perasaan campur aduk antara senang dan bingung. Ia mengetuk kaca jendela mobil yang gelap itu perlahan. Begitu kaca diturunkan, Mareeq sudah menyambutnya dengan senyum lebar yang selama ini Naomi rindukan di kantor."Kamu sudah pulang? Bukannya seharusnya masih di luar negeri sampai akhir pekan? Dan ini kan masih hari liburmu, kenapa malah ke kantor?" berondong Naomi dengan rentetan pertanyaan.Mareeq tertawa kecil melihat ekspresi panik sekaligus lega yang terpancar di wajah Naomi. Mareeq tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, lalu menep
Terakhir Diperbarui: 2026-01-26
Chapter: Mengapa kamu tidak menyukaiku?
Suasana di ruang rapat terasa dingin, meskipun pendingin ruangan sudah disetel ke suhu normal. Di ujung meja, Rahaal duduk dengan wibawa yang tak tergoyahkan, sementara kursi di sampingnya, yang seharusnya ditempati Mareeq, kosong melompong karena yang bersangkutan masih berada di luar negeri.Agenda hari ini menentukan project untuk semester depan. Di layar proyektor, terpampang dua proposal besar. Project "Authentic Roots" ide dari Mareeq dan Project "Glacier Chill" dari Rahaal."Ide Authentic Roots terlalu berisiko," buka Rahaal sambil mengetukkan pena di meja. "Pasar herbal sudah jenuh. Kita butuh inovasi teknis seperti Glacier Chill untuk memimpin pasar."Naomi, yang sejak tadi hanya diam, merasa dadanya sesak. Ia tahu betul berapa lama Mareeq meriset bahan-bahan herbal itu. Ia juga tahu bahwa ide Mareeq jauh lebih ramah lingkungan."Saya tidak setuju, Pak," potong Naomi, membuat beberapa rekan kerja di sana menahan napas. Rahaal menoleh perlah
Terakhir Diperbarui: 2026-01-24
Chapter: Menghindar
Setelah pertemuan yang memalukan di ruangan itu, Naomi sebisa mungkin menarik diri. Selama Mareeq masih cuti dan tidak ada di kantor, Naomi seolah memiliki misi rahasia: menghindari Rahaal. Ia selalu mencari jalan memutar jika melihat sosok Rahaal dari kejauhan, melewatkan jam makan siang yang biasa, dan hanya berkomunikasi melalui email atau pesan singkat untuk urusan pekerjaan yang benar-benar darurat.Namun, persembunyian itu berakhir ketika sebuah pesan masuk ke Slack. Rahaal memintanya datang ke ruangan. Naomi masuk dengan langkah ragu. Ia berdiri cukup jauh dari meja Rahaal, bersikap seformal mungkin. Rahaal tidak membahas soal konfrontasi mereka yang lalu, ia langsung pada intinya."Aku sedang meninjau target ekspansi kita untuk kuartal depan," ujar Rahaal tanpa basa-basi sambil membolak-balik berkas. "Kita butuh akses ke perusahaan Gigantic. Aku dengar persaingan untuk masuk ke sana sangat ketat."Rahaal mendongak, menatap Naomi dengan intensita
Terakhir Diperbarui: 2026-01-23
Chapter: Melabrak Rahaal
Sebuah kabar sampai ke telinga Naomi seperti bisikan beracun. Seorang teman setim Leon menghampirinya. Dia mengatakan bahwa Leon baru saja didepak secara sepihak dari proyek yang dipimpin oleh Rahaal.Sepanjang jalan pulang, pikiran Naomi berkecamuk. Ia tahu ada ketegangan dingin antara Rahaal dan Leon. Naomi selalu berpikir bahwa Rahaal tidak menyukai Leon sejak mereka berpacaran.Begitu sampai di apartemen, Naomi menemukan Leon sedang duduk di sofa ruang tamu, menatap layar televisi yang menayangkan program sepak bola. Bahunya tampak merosot, menciptakan siluet pria yang sedang dihancurkan oleh keadaan."Leon," panggil Naomi lirih. Ia meletakkan tasnya dan duduk di samping pria itu. "Aku dengar kamu dikeluarkan dari project yang dipimpin Rahaal. Apa itu benar?"Leon menghela napas panjang, sebuah suara berat yang penuh dengan beban. Ia menoleh perlahan, menatap Naomi dengan mata yang tampak sayu. "Ya, itu benar," jawab Leon pelan. "Aku keluar dari tim R
Terakhir Diperbarui: 2026-01-22
Chapter: Killa
"Aku pikir Rahaal hanya berusaha melindungi rumah tangga saudaranya. Dia tidak sedang menjahatimu, dia hanya melakukan apa yang harus dilakukan." ucap Killa, suaranya tenang namun tajam.Kata-kata Killa menghujam tepat di titik yang selama ini Naomi coba abaikan. Di hadapan kejujuran Killa yang brutal, Naomi menyadari bahwa kegalauannya bukan sekadar karena kerinduan pada Mareeq, melainkan karena ia sedang berdiri di atas fondasi yang salah. Selama ini ia menganggap Rahaal sebagai penghalang yang jahat, tanpa mau mengakui bahwa dalam norma apa pun, dirinyalah yang berada di posisi yang keliru.Killa, dengan cara yang paling tidak nyaman, baru saja meruntuhkan semua tembok penyangkalan yang Naomi bangun. Kebenaran itu kini telanjang di depannya. Ia mencintai pria yang sudah memiliki keluarga, dan Rahaal hanya sedang menjaga keutuhan keluarga sepupunya."Aku harus bagaimana?" tanya Naomi dengan suara bergetar, nyaris berupa bisikan yang putus asa.Killa tid
Terakhir Diperbarui: 2026-01-21
Chapter: Sahabat
Naomi menyesap matcha latte-nya dengan lemas. Satu-satunya awan mendung yang menggelayuti kepalanya hanyalah kerinduan pada Mareeq. Anehnya padahal baru kemarin mereka bersama. Itulah alasan utama mengapa ia langsung mengiyakan ajakan Killa untuk makan siang. Ia butuh pengalihan. Ia butuh mengobrol dengan satu-satunya sahabat yang ia percayai."Kenapa murung? Apa sesuatu terjadi?" ujar Killa begitu melihat Naomi menghela nafas."Tidak ada. Aku hanya merasa kesepian," Naomi berusaha meredakan sesak di dadanya.Killa menaikkan sebelah alisnya, mengamati wajah sahabatnya dengan saksama. "Kesepian kenapa? Leon meninggalkanmu?"Naomi menggeleng pelan, memaksakan sebuah senyum tipis agar suasana tidak menjadi terlalu melankolis. "Tidak apa-apa. Lupakan saja. Apa yang membuatmu mengajakku makan siang?" Tanya Naomi.Killa menyesap minumannya sejenak, lalu meletakkan gelasnya dengan denting pelan yang terdengar mantap. "Aku berhenti bekerja di Legacy."
Terakhir Diperbarui: 2026-01-20
Terikat Tatapan Pak Dosen

Terikat Tatapan Pak Dosen

Mao, mahasiswi ceria dan lembut, suka duduk di bangku paling belakang. Di sana, dia mengamati Khai, dosen muda yang tenang dan berwibawa. Tidak ada silabus yang mengatur perasaan, tidak ada aturan yang membimbing tatapan yang diam-diam terlalu panjang. Di antara kelas, catatan, dan senyum yang jarang diucapkan, hati mereka belajar hal-hal yang tidak ada di buku panduan. “Silabus yang Tak Pernah Ditulis” adalah kisah tentang rindu yang tumbuh di tempat yang seharusnya profesional—tentang cinta yang harus tetap diam, namun tidak bisa diabaikan.
Baca
Chapter: Diksi dan Anomali
Khai kembali melirik jam tangannya. Jarum menunjukkan pukul 13.00 tepat. Ia sudah berada di depan pintu kelas. Namun melalui celah kecil, ia melihat Maorielle baru saja membuka bungkusan makanannya dengan wajah lelah yang sangat kentara.Khai menghela napas, lalu kembali menyandarkan punggungnya di tembok koridor. Ia mengeluarkan ponsel, berpura-pura sangat sibuk. Padahal ia hanya sedang memberikan 'ruang' bagi gadis itu. Sepuluh menit berlalu. Lima belas menit berlalu.Bagi mahasiswa lain, Khai mungkin dianggap dosen yang santai atau sedang sibuk. Namun bagi Erina yang telah membaca silabus di kepala dosen itu, keterlambatan ini adalah sebuah kesengajaan. Seorang Khairen yang biasanya teratur, kini sedang berdiri mematung di luar kelas. Sengaja membuang waktunya agar seorang mahasiswi bisa makan tanpa tersedak."Mao, cepat habiskan makananmu," bisik Erina sambil menahan senyum geli. "Pawangmu berjaga di luar tuh nungguin."Maorielle nyaris tersedak. "Paw
Terakhir Diperbarui: 2026-01-26
Chapter: Terjebak di Ambang Jendela
Khai berusaha keras memanggil kembali sisa-sisa kewarasan logikanya. Sebagai seorang akademisi, ia mencoba mendiagnosis perasaannya sendiri. Mungkin ini hanya lonjakan dopamin sesaat karena sudah terlalu lama menutup diri dari urusan hati. Ia meyakinkan diri bahwa ia bisa bertahan, setidaknya sampai semester berakhir. Menjaga jarak profesional adalah satu-satunya cara menyelamatkan reputasinya yang selama ini tanpa cela.Namun, mata pria itu seolah memiliki kehendaknya sendiri. Pandangannya berpindah ke lantai dua gedung sebelah. Ia melihat Maorielle dan Erina sedang berjalan di koridor terbuka. Tiba-tiba, sosok Maorielle menghilang dari jangkauan pandangannya karena gadis itu membungkuk. Entah apa yang dilakukannya.Di saat itulah, mata Khai justru bertabrakan dengan tatapan Erina. Erina berdiri tepat di belakang Maorielle, sedang menatap tajam ke arah tempat Khai berada. Diserang tatapan menyelidik seperti itu, Khai yang biasanya tak tergoyahkan, langsung membuang mu
Terakhir Diperbarui: 2026-01-25
Chapter: Observasi Tak Kasat Mata
Selasa siang, langit di atas kampus tampak sedikit mendung. Seharusnya ia fokus pada jurnal yang terbuka di layar laptopnya. Namun matanya terus teralihkan ke arah jendela besar di ruang kelas lantai dua gedung MKU. Dari sana, ia memiliki sudut pandang sempurna untuk mengamati pelataran gedung jurusan Psikologi, tempat Maorielle berada.Khai menyipitkan mata. Di taman kecil di depan jurusan psikologi, ia melihat Maorielle. Namun, dia tidak sendirian. Gadis itu sedang berbincang dengan seorang pria yang mengenakan jaket hoodie. Pria itu tampak tinggi, memiliki senyum yang lepas, dan yang paling mengganggu Khai adalah betapa akrabnya mereka.Meski pun ada beberapa mahasiswa bersama mereka. Tapi, kedekatan mereka sangat mencolok. Pria itu kemudian merogoh saku hoodie-nya dan memberikan sesuatu. Sebuah benda kecil dan Maorielle menerima dengan senyumnya yang lebar.Khai terus memperhatikan saat pria berhoodie itu mencondongkan tubuh, membisikkan sesuatu yang membuat
Terakhir Diperbarui: 2026-01-24
Chapter: Resonansi dalam Keheningan
Senin pagi, kampus masih terasa begitu tenang. Mata kuliah sebelumnya hanya berlangsung singkat. Maorielle merasa energinya kembali setelah dari kantin. Tapi, rasa kantuk mulai menyerang.Ia melirik ke arah gedung MKU. Ia melihat Khai berjalan menuju ruang dosen dengan setumpuk map di tangannya. Maorielle menghitung waktu. Dengan tumpukan sebanyak itu, Khai pasti akan tertahan di kantornya sampai jam kelas dimulai.Merasa aman, Maorielle melangkah menuju ruang kelas Khai. Seperti dugaannya, kelas itu benar-benar kosong. Ia butuh tempat tenang untuk memejamkan mata sejenak. Ia memilih kursi di barisan tengah. Maorielle meletakkan tasnya sebagai bantal, lalu menyandarkan kepalanya di atas lipatan tangan di meja. Semilir angin dari jendela yang terbuka membuatnya sangat rileks.Dalam hitungan menit, Maorielle benar-benar tertidur pulas. Dia tidak menyadari bahwa rencana "aman" yang ia bangun memiliki celah. Maorielle tidak tahu bahwa sepuluh menit kemudian, pintu k
Terakhir Diperbarui: 2026-01-23
Chapter: Realitas di Atas Persahabatan
Sore itu, Erina ke rumah Angin untuk mengantarkan beberapa dokumen fakultas yang tertinggal. Mereka duduk di teras samping yang asri. Ditemani aroma kopi hitam yang kuat, selera Angin. Setelah basa-basi singkat, Erina tidak tahan untuk tidak mengungkit kejadian di perpustakaan tempo hari."Yang di perpustakaan. Pak Khai benar-benar mencari asisten riset?"Angin tertawa kecil, menyandarkan punggungnya ke kursi rotan. "Anggap saja aku sedang eksperimen sosial kecil-kecilan. Aku sebenarnya kasihan melihat Khai. Dia terlihat frustrasi sekali."Erina menaikkan alisnya, tertarik. "Frustrasi kenapa?""Aku tahu betul Khai itu tipe pria yang dunianya harus presisi. Dia melihat Maorielle dan dia jatuh hati. Tapi masalahnya, Maorielle itu seperti dinding beton. Khai tidak terbiasa dengan ketidakpastian." Angin menyesap kopinya sejenak sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih serius."Khai itu sangat pragmatis. Dia punya prinsip cut loss yang sangat
Terakhir Diperbarui: 2026-01-22
Chapter: Variabel yang Tak Terkendali
Perpustakaan jurusan siang itu terasa sunyi, hanya terdengar suara gesekan kertas dan denting pendingin ruangan yang konsisten. Maorielle dan Erina duduk berhadapan, tenggelam dalam tumpukan bacaan. Angin muncul dan menarik kursi di samping mereka tanpa permintaah izin khusus."Serius sekali kalian," sapa Pak Angin dengan nada santai yang langsung memecah konsentrasi Erina."Eh, Pak Angin. Tumben ke perpustakaan?" Erina mendongak, sementara Maorielle hanya tersenyum sopan sambil tetap menandai kalimat di bukunya.Pak Angin menyandarkan punggung, matanya melirik Maorielle sesaat sebelum melemparkan umpan. "Tadi saya baru saja dari ruang Khai. Karena Maorielle sepertinya belum memberikan kepastian soal tawaran riset. Khai akhirnya memutuskan untuk mencari asisten lain."Gerakan bolpoin Maorielle berhenti sejenak, namun wajahnya tetap menunduk datar."Lho, Pak Khai cari orang lain?" Erina tampak kaget."Iya. Saya sempat menyarankan namamu, Erin
Terakhir Diperbarui: 2026-01-21
Anda juga akan menyukai
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status