بيت / Young Adult / Terikat Tatapan Pak Dosen / Langit Di Atas Lapangan

مشاركة

Langit Di Atas Lapangan

مؤلف: NaoMiura
last update تاريخ النشر: 2026-01-06 19:57:33

Setelah Khai menjauh beberapa langkah, Erina langsung menggoyangkan lengan Mao. "Mao! Dari dekat dia gantengnya nggak masuk akal! Kulitnya bersih banget, terus suaranya... kamu dengar nggak tadi? Berat-berat adem gimana gitu!"

Mao hanya bisa mengatur napasnya yang sempat tertahan. Ia meremas pinggiran kertas pengumuman itu.

"Dia itu menyebalkan, Erina. Kamu lihat caranya bicara bukan?"

"Tapi dia terlihat perhatian sama kamu," Erina menggoda sambil menarik Mao masuk ke toilet. "Ayo cepat, nanti dosen keburu datang!"

Mao mendengus, membiarkan dirinya ditarik Erina masuk ke area toilet. Begitu sampai di depan cermin besar, Mao langsung mencuci tangannya. Ia menatap pantulannya yang terlihat sedikit kacau mungkin efek lari-larian dan stres menghadapi jadwal Senin-Selasa yang padat.

"Perhatian apanya?" gerutu Mao sambil meraih tisu dari tempatnya. "Dia itu tipe dosen yang senang melihat mahasiswanya terpojok. Dia tahu aku anak Psikologi, jadi dia sengaja pakai istilah-istilah itu buat memancingku. Itu namanya provokasi, bukan perhatian."

Erina yang sedang membenarkan lipstiknya di depan cermin, hanya tertawa kecil. "Duh, Mao... analisis psikologimu itu terlalu berlebihan. Coba lihat dari sudut pandang cewek normal sekali-kali. Dia itu dosen muda, ganteng, auranya misterius, dan dia notice keberadaanmu. Kalau dia cuma mau provokasi, dia bisa lakukan itu ke semua orang, tapi dia cuma menyapa kamu, kan?"

Mao terdiam sebentar, bayangan Khai dari kejauhan tadi terlintas lagi. "Itu karena aku satu-satunya orang yang tertangkap basah makan burger di kelas, makanya dia ingat."

Mao melirik kertas di tangannya yang kini sedikit lecek. Esai tentang Bahasa dan Identitas. Tema yang sebenarnya ia sukai, tapi karena Khai yang memberikannya, ada rasa gengsi yang menghalangi.

"Ayo, dosen pasti sudah di kelas!" Erina menarik tangan Mao keluar dari toilet.

Saat mereka berjalan kembali menyusuri selasar lantai satu menuju tangga. Mao secara otomatis melirik ke arah lapangan tengah. Khai sudah tidak ada di sana. Ruang dosen pun sudah tertutup rapat. Lapangan rumput itu tampak kosong, hanya menyisakan bayangan gedung yang mulai memanjang karena matahari mulai bergeser.

***

Maorielle melihat langit di atas lapangan nampak sedikit muram. Gumpalan awan abu-abu menahan sisa panas matahari agar tidak jatuh terlalu terik ke bumi. Angin bertiup membawa aroma tanah basah. Pertanda hujan akan segera turun membasahi taman kecil yang memisahkan gedung Psikologi dengan gedung MKU.

Mao baru saja keluar dari ruang dosen Psikologi setelah menyerahkan draf tugasnya kepada Pak Angin. Dosen muda yang selalu menjadi tempat konsultasi favorit mahasiswa. Saat ia hendak melangkah menuju tangga, pandangannya tertahan pada dua sosok yang berdiri di bawah naungan atap selasar gedung penghubung.

Pak Angin sedang berbincang dengan seorang pria yang mengenakan kemeja linen berwarna putih gading. Maorielle tidak perlu melihat wajahnya untuk tahu siapa itu. Postur bahu yang tegak dan cara pria itu menyilangkan tangan di depan dada sudah sangat familiar di ingatannya. Itu Khai.

Mao berniat untuk berbalik arah agar tidak terlihat. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar tawa akrab Pak Angin pecah di lorong yang sepi itu. Pak Angin nampak sangat santai, bahkan menepuk bahu Khai berkali-kali seperti sedang berbicara dengan teman lama.

"Kamu ini, Khai. Sudah kubilang, jangan terlalu keras pada anak-anak. Ini mata kuliah umum, bukan kelas spesialisasi," ujar Pak Angin sambil terkekeh.

Khai menyahut dengan nada yang jauh lebih rileks daripada saat di kelas. "Saya tidak keras, Mas Angin. Saya hanya ingin mereka tahu kalau bahasa itu punya nyawa."

Mao terpaku di balik pilar. Mas Angin? Panggilan itu sangat tidak formal untuk lingkungan kampus yang kaku. Hubungan mereka jelas lebih dari sekadar rekan sejawat antarfakultas.

"Anak Psikologi yang katanya membuatmu berkesan di hari pertama. Maorielle, kan? Dia salah satu mahasiswa mata kuliahku yang paling tajam analisisnya."

Mao merasa jantungnya berdegup kencang. Namanya disebut di tengah percakapan privat itu.

Khai sedikit memiringkan kepalanya. Dari posisinya, Mao bisa melihat garis rahang Khai yang mengeras sebelum akhirnya melunak menjadi senyuman tipis.

"Oh, Mao? Dia memang menarik. Selain burger, dia punya cara unik untuk menolak 'kata sifat' yang saya berikan. Saya tidak menyangka dia mahasiswa bimbinganmu, Mas."

"Hati-hati, Khai. Dia bisa membaca bahasa tubuhmu lebih baik daripada kamu membaca esainya," canda Pak Angin lagi.

Khai tertawa rendah menanggapi candaan seniornya. Sebuah suara tawa yang jujur dan tanpa beban, sangat berbeda dengan tawa formal yang biasa ia tunjukkan di kelas. Mereka terihat mensejajarkan badan tanda mereka akan berjalan beriringan.

Melihat kedua pria itu mulai melangkah, Mao segera memundurkan tubuhnya. Dia bersembunyi di balik dinding tebal yang membatasi selasar. Ia menahan napas, membiarkan bunyi langkah sepatu mereka yang berirama melewati tempat persembunyiannya.

Dari balik tembok, Mao bisa mendengar suara Khai yang masih terdengar ringan, sesekali menyahuti ucapan Pak Angin dengan nada santai. Nada bicara yang hanya digunakan oleh orang-orang yang sudah memiliki tingkat kepercayaan tinggi satu sama lain.

Mao baru berani muncul dari balik bayangan pilar setelah sosok mereka menghilang di ujung lorong. Ia menyandarkan punggungnya pada tembok dingin, menatap lapangan tengah yang kini mulai basah oleh rintik hujan halus. Bau tanah basah yang menyeruak ke selasar tidak mampu mengalihkan pikirannya dari kenyataan baru yang baru saja ia temukan.

Ada rasa campur aduk yang sulit didefinisikan dalam dada Mao. Di satu sisi, ia merasa sedikit terancam karena 'lawan' debatnya di kelas ternyata adalah orang dekat dari dosennya sendiri. Namun di sisi lain, tawa rendah Khai yang baru saja ia dengar terus terngiang di kepalanya. Tawa itu menghapus sejenak bayangan Khai sebagai dosen yang kaku dan penuh rahasia di matanya.

Hujan akhirnya jatuh sepenuhnya, membasahi lapangan rumput dan mengubah aroma tanah menjadi udara dingin yang menusuk. Mao masih terpaku di posisinya, menatap ujung selasar tempat Khai dan Pak Angin menghilang, sampai sebuah suara keras membuyarkan lamunan itu.

"Mao! Astaga, aku cari ke mana-mana!"

Erina muncul dari balik lorong. Ia melihat Mao yang berdiri mematung dengan tatapan kosong ke arah lapangan. Erina kemudian melirik ke arah gedung penghubung yang sepi.

"Kamu kenapa? Lagi mempraktikkan teori blank stare ya?" canda Erina sambil menarik lengan sahabatnya itu. "Ayo cepat, hujannya makin deras. Kalau kita tidak segera ke tempat parkir, kita bakal terjebak di gedung."

Mao hanya menggeleng kecil, mencoba mengusir sisa suara tawa rendah Khai dari kepalanya. "Bukan apa-apa. Aku baru sadar kalau kampus ini ternyata jauh lebih sempit dari yang kubayangkan. Ayo pergi!"

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   Adegan dari Jendela

    Kantin mulai sedikit lengang ketika mereka selesai. Matahari sudah naik lebih tinggi, membuat halaman kampus terlihat lebih terang dari sebelumnya.“Ayo ke taman,” ajak Erina, berdiri sambil membawa minumannya.Maorielle mengangguk. “Boleh.”Taman kampus dipenuhi mahasiswa yang duduk santai di bawah pohon. Angin siang berhembus pelan, membawa suasana yang lebih ringan dibandingkan ruang kelas. Maorielle dan Erina baru saja duduk ketika Arvan datang menghampiri.“Kalian di sini ternyata,” katanya santai, lalu ikut duduk di dekat mereka.Obrolan pun mengalir ringan. Tidak ada yang serius. Hanya candaan kecil, cerita acak, dan tawa yang sesekali muncul.“Aku bilang juga tadi lighting-nya kurang,” kata Arvan, masih membahas acara kemarin.Maorielle terkekeh. “Kamu dari tadi itu-itu saja.”“Ya soalnya kamu tidak mau mengakui,” balas Arvan cepat.Maorielle menggeleng, lalu tanpa sadar menatap ke arah lain sejenak. Di lantai atas gedung sebelah. Jendela itu. Kelas Khai. Ia tidak berpikir ban

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   Saujana

    Setelah kelas selesai, Maorielle merapikan bukunya perlahan. Suara kursi yang digeser dan obrolan mahasiswa yang kembali ramai memenuhi ruangan, tapi ia tetap tenang di tempatnya.“Ayo kantin?” ajak Erina.“Kamu duluan saja. Aku ke ruang dosen,” jawab Maorielle.Erina mengangguk. “Jangan lama-lama.”Maorielle hanya tersenyum kecil, lalu berjalan keluar kelas.Lorong menuju ruang dosen terasa lebih sepi dibandingkan area lain. Langkahnya bergema pelan di lantai. Sementara pikirannya mulai beralih ke urusan yang harus ia selesaikan, menemui Dosen Angin.Ia berhenti di depan pintu ruang dosen. Tangannya baru saja hendak mengetuk ketika sesuatu membuatnya terdiam. Sebuah lagu. Pelan. Hampir seperti hanya menjadi latar. Tapi cukup jelas untuk dikenali. Saujana.Maorielle membeku di tempat. Nada pembukanya yang lembut langsung terasa familiar di telinganya. Ia tidak salah dengar. Itu lagu favoritnya. Ia pernah menyebutkannya sekali. Hanya sekali. Saat kelas Khai ketika membedah lagu.Tapi s

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   Tas Baru

    Mobil Khai berhenti pelan di depan rumah Maorielle. Mesin masih menyala, tapi suasana di dalamnya terasa lebih tenang dari sebelumnya. Seperti perjalanan tadi menyisakan sesuatu yang belum sepenuhnya selesai, tapi juga tidak perlu dipaksakan.Maorielle membuka sabuk pengamannya.“Terima kasih,” ucapnya pelan.Khai hanya mengangguk. “Hati-hati.”Singkat. Seperti biasa.Maorielle sempat ragu sejenak, tangannya sudah menyentuh gagang pintu, tapi ia belum langsung turun. Ada jeda kecil. Hampir seperti ia ingin mengatakan sesuatu lagi. Tapi akhirnya tidak.Maorielle membuka pintu, lalu turun. Begitu kakinya menyentuh halaman, suara langkah lain terdengar dari arah gerbang. Maorielle menoleh. Raviel dan mama. Keduanya baru saja pulang, masing-masing membawa beberapa kantong belanja. Langkah Maorielle langsung melambat.Sementara itu, dari dalam mobil, Khai yang menyadari keberadaan mereka ikut menoleh. Tatapannya sempat bertemu dengan Raviel dan mama, lalu ia mengangguk sopan. Sebuah sapaa

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   Pulang

    Maorielle mengangkat kepala perlahan, melirik ke arah Khai. Dan seperti kebetulan, Khai juga menoleh. Tatapan mereka bertemu sekejap. Hanya sepersekian detik. Tapi cukup untuk membuat Maorielle langsung memalingkan wajah, pura-pura fokus ke panggung. Pipinya mulai terasa hangat.Di sampingnya, Arvan masih berbicara pada Erina tentang penampilan berikutnya.“…katanya nanti ada kolaborasi sama musik modern juga—”Tapi suara itu seperti memudar di telinga Maorielle. Karena pikirannya masih tertahan pada pria yang tak jauh darinya.“Kenapa?” bisik Erina tiba-tiba.Maorielle tersentak kecil. “Apaan?”“Senyum-senyum sendiri dari tadi,” Erina menyipitkan mata. “Serem tau.”Maorielle langsung menggeleng cepat. “Nggak ada apa-apa.”“Tuh kan,” Arvan ikut menimpali ringan. “Dari tadi juga gue ngerasa.”Maorielle berdeham kecil, berusaha menenangkan ekspresinya. Lalu perlahan, tanpa sadar senyumnya kembali muncul. Tipis. Diam-diam.Pertunjukan masih berlangsung. Tepuk tangan mulai terdengar di be

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   Pertunjukan Tari

    Suara teman-temannya, hiruk pikuk parkiran, bahkan angin yang lewat. Semua seperti menjauh sejenak.Maorielle mencium bunga itu untuk menandakan bahwa Maorielle menyukainya. Seorang dosen melakukan hal ini di kampus? Gerutu Maorielle meski hatinya senang.Siang itu lapangan kampus berubah jadi panggung terbuka. Musik tradisional bercampur modern mengalun dari pengeras suara, mengiringi para penari yang bergerak luwes di tengah lingkaran penonton.Mahasiswa duduk lesehan berkelompok, membentuk barisan-barisan santai di atas rumput.Maorielle duduk di salah satu barisan depan, bersila dengan tas di sampingnya. Matanya sesekali mengikuti gerakan penari, tapi pikirannya tidak sepenuhnya di sana.Di sebelahnya, Arvan sedang bercerita sesuatu. Entah tentang acara radio atau komentar ringan soal penampilan di depan.“Bagian itu tadi bagus banget, lighting-nya dapet,” ujar Arvan, santai.Maorielle mengangguk kecil. “Iya, lumayan.” Jawabannya pendek.Arvan melirik sekilas, seperti menyadari ad

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   Bunga

    Maorielle tersenyum tipis, tapi matanya mulai terasa hangat. Ia tidak langsung menjawab. Ia menggigit bibir bawahnya pelan, lalu mengetik.Maorielle: Aku merasa kamu menyukaiku. Tapi, ketika melihatmu dengan cewek lain. Aku merasa sangat kecewa. Jadi aku menjauh agar aku tidak kecewa lebih jauh dan lebih dalam lagi.Kali ini, balasan dari Khai datang lebih lama. Seolah ia benar-benar memikirkan jawabannya. Atau mungkin… memikirkan ulang apa yang Maorielle lakukan selama ini.Khai: Cewek lain?Maorielle menahan napas. Degup jantungnya kembali menguat. Ia menatap kalimat itu lama. Dia tidak ingin langsung ke intinya. Cewek itu Mei. Ia mengetik, pelan, mencari kata yang tepat.Maorielle: Kamu terlihat sangat nyaman dan akrab dengan Mei.Maorielle melepar ponselnya ke tempat tidur. Dia tidak bisa melihat jawaban yang dia tulis. Dia tidak ingin menyesal menulis jawaban itu dan menghapusnya.Tak berapa lama ponselnya kembali bergetar

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   Dua Dosen Muda

    Maorielle mendengus keras, tangannya menekan pulpen ke kertas hingga ujungnya nyaris melubangi buku catatan. Matanya menatap punggung Khai yang kian menjauh di antara kerumunan mahasiswa yang berlari sore."Mao! Mao! Dia memanggil seperti orang dekat!" gerutu Maorielle, suaranya naik satu

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   Observasi

    Ruang kelas terasa sedikit berangin karena beberapa jendela terbuka. Sesekali terdengar bunyi gesekan ranting pohon yang saling bergesekan. Pemandangan yang monoton yang menambah keseriusan suasana di dalam ruangan. Khai melangkah maju, menjauh dari mejanya. Cahaya dari proyektor di belakang memb

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   Radar Sang Pengamat

    Khai diam di tempatnya, membiarkan keheningan yang canggung itu menyelimuti ruangan sejenak. Matanya menyapu deretan bangku dari barisan depan hingga paling belakang. Seolah sedang membaca data mentah dari sebuah eksperimen lapangan."Ada yang sangat percaya diri konser lagu dangdut menggunakan pul

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   Pria Berhoodie

    Satu-satunya penunjuk waktu yang dipercayai Maorielle saat ini hanyalah jam di pergelangan kirinya yang terus berdetak tanpa ampun. Detaknya beradu dengan suara napasnya yang memburu. Maorielle masuk ke ruang kelas mata kuliah umum bahasa Indonesia dengan langkah berat. Rambutnya yang tadi pagi rap

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status