LOGINSetelah Khai menjauh beberapa langkah, Erina langsung menggoyangkan lengan Mao. "Mao! Dari dekat dia gantengnya nggak masuk akal! Kulitnya bersih banget, terus suaranya... kamu dengar nggak tadi? Berat-berat adem gimana gitu!"
Mao hanya bisa mengatur napasnya yang sempat tertahan. Ia meremas pinggiran kertas pengumuman itu.
"Dia itu menyebalkan, Erina. Kamu lihat caranya bicara bukan?"
"Tapi dia terlihat perhatian sama kamu," Erina menggoda sambil menarik Mao masuk ke toilet. "Ayo cepat, nanti dosen keburu datang!"
Mao mendengus, membiarkan dirinya ditarik Erina masuk ke area toilet. Begitu sampai di depan cermin besar, Mao langsung mencuci tangannya. Ia menatap pantulannya yang terlihat sedikit kacau mungkin efek lari-larian dan stres menghadapi jadwal Senin-Selasa yang padat.
"Perhatian apanya?" gerutu Mao sambil meraih tisu dari tempatnya. "Dia itu tipe dosen yang senang melihat mahasiswanya terpojok. Dia tahu aku anak Psikologi, jadi dia sengaja pakai istilah-istilah itu buat memancingku. Itu namanya provokasi, bukan perhatian."
Erina yang sedang membenarkan lipstiknya di depan cermin, hanya tertawa kecil. "Duh, Mao... analisis psikologimu itu terlalu berlebihan. Coba lihat dari sudut pandang cewek normal sekali-kali. Dia itu dosen muda, ganteng, auranya misterius, dan dia notice keberadaanmu. Kalau dia cuma mau provokasi, dia bisa lakukan itu ke semua orang, tapi dia cuma menyapa kamu, kan?"
Mao terdiam sebentar, bayangan Khai dari kejauhan tadi terlintas lagi. "Itu karena aku satu-satunya orang yang tertangkap basah makan burger di kelas, makanya dia ingat."
Mao melirik kertas di tangannya yang kini sedikit lecek. Esai tentang Bahasa dan Identitas. Tema yang sebenarnya ia sukai, tapi karena Khai yang memberikannya, ada rasa gengsi yang menghalangi.
"Ayo, dosen pasti sudah di kelas!" Erina menarik tangan Mao keluar dari toilet.
Saat mereka berjalan kembali menyusuri selasar lantai satu menuju tangga. Mao secara otomatis melirik ke arah lapangan tengah. Khai sudah tidak ada di sana. Ruang dosen pun sudah tertutup rapat. Lapangan rumput itu tampak kosong, hanya menyisakan bayangan gedung yang mulai memanjang karena matahari mulai bergeser.
***
Maorielle melihat langit di atas lapangan nampak sedikit muram. Gumpalan awan abu-abu menahan sisa panas matahari agar tidak jatuh terlalu terik ke bumi. Angin bertiup membawa aroma tanah basah. Pertanda hujan akan segera turun membasahi taman kecil yang memisahkan gedung Psikologi dengan gedung MKU.
Mao baru saja keluar dari ruang dosen Psikologi setelah menyerahkan draf tugasnya kepada Pak Angin. Dosen muda yang selalu menjadi tempat konsultasi favorit mahasiswa. Saat ia hendak melangkah menuju tangga, pandangannya tertahan pada dua sosok yang berdiri di bawah naungan atap selasar gedung penghubung.
Pak Angin sedang berbincang dengan seorang pria yang mengenakan kemeja linen berwarna putih gading. Maorielle tidak perlu melihat wajahnya untuk tahu siapa itu. Postur bahu yang tegak dan cara pria itu menyilangkan tangan di depan dada sudah sangat familiar di ingatannya. Itu Khai.
Mao berniat untuk berbalik arah agar tidak terlihat. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar tawa akrab Pak Angin pecah di lorong yang sepi itu. Pak Angin nampak sangat santai, bahkan menepuk bahu Khai berkali-kali seperti sedang berbicara dengan teman lama.
"Kamu ini, Khai. Sudah kubilang, jangan terlalu keras pada anak-anak. Ini mata kuliah umum, bukan kelas spesialisasi," ujar Pak Angin sambil terkekeh.
Khai menyahut dengan nada yang jauh lebih rileks daripada saat di kelas. "Saya tidak keras, Mas Angin. Saya hanya ingin mereka tahu kalau bahasa itu punya nyawa."
Mao terpaku di balik pilar. Mas Angin? Panggilan itu sangat tidak formal untuk lingkungan kampus yang kaku. Hubungan mereka jelas lebih dari sekadar rekan sejawat antarfakultas.
"Anak Psikologi yang katanya membuatmu berkesan di hari pertama. Maorielle, kan? Dia salah satu mahasiswa mata kuliahku yang paling tajam analisisnya."
Mao merasa jantungnya berdegup kencang. Namanya disebut di tengah percakapan privat itu.
Khai sedikit memiringkan kepalanya. Dari posisinya, Mao bisa melihat garis rahang Khai yang mengeras sebelum akhirnya melunak menjadi senyuman tipis."Oh, Mao? Dia memang menarik. Selain burger, dia punya cara unik untuk menolak 'kata sifat' yang saya berikan. Saya tidak menyangka dia mahasiswa bimbinganmu, Mas."
"Hati-hati, Khai. Dia bisa membaca bahasa tubuhmu lebih baik daripada kamu membaca esainya," canda Pak Angin lagi.
Khai tertawa rendah menanggapi candaan seniornya. Sebuah suara tawa yang jujur dan tanpa beban, sangat berbeda dengan tawa formal yang biasa ia tunjukkan di kelas. Mereka terihat mensejajarkan badan tanda mereka akan berjalan beriringan.
Melihat kedua pria itu mulai melangkah, Mao segera memundurkan tubuhnya. Dia bersembunyi di balik dinding tebal yang membatasi selasar. Ia menahan napas, membiarkan bunyi langkah sepatu mereka yang berirama melewati tempat persembunyiannya.
Dari balik tembok, Mao bisa mendengar suara Khai yang masih terdengar ringan, sesekali menyahuti ucapan Pak Angin dengan nada santai. Nada bicara yang hanya digunakan oleh orang-orang yang sudah memiliki tingkat kepercayaan tinggi satu sama lain.
Mao baru berani muncul dari balik bayangan pilar setelah sosok mereka menghilang di ujung lorong. Ia menyandarkan punggungnya pada tembok dingin, menatap lapangan tengah yang kini mulai basah oleh rintik hujan halus. Bau tanah basah yang menyeruak ke selasar tidak mampu mengalihkan pikirannya dari kenyataan baru yang baru saja ia temukan.
Ada rasa campur aduk yang sulit didefinisikan dalam dada Mao. Di satu sisi, ia merasa sedikit terancam karena 'lawan' debatnya di kelas ternyata adalah orang dekat dari dosennya sendiri. Namun di sisi lain, tawa rendah Khai yang baru saja ia dengar terus terngiang di kepalanya. Tawa itu menghapus sejenak bayangan Khai sebagai dosen yang kaku dan penuh rahasia di matanya.
Hujan akhirnya jatuh sepenuhnya, membasahi lapangan rumput dan mengubah aroma tanah menjadi udara dingin yang menusuk. Mao masih terpaku di posisinya, menatap ujung selasar tempat Khai dan Pak Angin menghilang, sampai sebuah suara keras membuyarkan lamunan itu.
"Mao! Astaga, aku cari ke mana-mana!"
Erina muncul dari balik lorong. Ia melihat Mao yang berdiri mematung dengan tatapan kosong ke arah lapangan. Erina kemudian melirik ke arah gedung penghubung yang sepi.
"Kamu kenapa? Lagi mempraktikkan teori blank stare ya?" canda Erina sambil menarik lengan sahabatnya itu. "Ayo cepat, hujannya makin deras. Kalau kita tidak segera ke tempat parkir, kita bakal terjebak di gedung."
Mao hanya menggeleng kecil, mencoba mengusir sisa suara tawa rendah Khai dari kepalanya. "Bukan apa-apa. Aku baru sadar kalau kampus ini ternyata jauh lebih sempit dari yang kubayangkan. Ayo pergi!"
Angin di taman kampus siang itu berembus kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Maorielle. Di hadapannya, Arvan berdiri dengan senyum yang begitu tulus, tangannya terangkat menyapa."Mao," panggil Arvan, suaranya terdengar berat karena gugup.Morielle pun memberikan senyumya sebagai balasan. Dia lalu duduk di sebelah Arvan. Dia yakin bahwa Erina akan datang juga pada mereka.Namun, fokus Maorielle terpecah. Erina tidak juga datang. Instingnya memaksa matanya untuk menengok ke ruang dosen. Erina tadi mengatakan akan menemui pak Angin. Maorielle menyipitkan mata. Ia mencari sosok Erina yang katanya ingin menemui Pak Angin, namun yang ia temukan justru Pak Khai.Pak Khai tidak sedang sibuk dengan tumpukan jurnal atau berkas nilai. Ia berdiri tepat di depan pintu yang terbuka, mematung dengan satu tangan di saku celana. Tatapannya tidak tertuju pada pemandangan kampus secara luas, melainkan terkunci tepat pada satu titik: Maorielle dan Arvan.Dari jarak sejauh itu, ekspresi Khai suli
Sepanjang kuliah, Khai beberapa kali kehilangan ritme bicara. Matanya terus beralih dari layar proyektor ke arah Maorielle. Setiap kali Maorielle tidak sengaja menatapnya, Khai akan memberikan tatapan yang sangat intens seperti singa yang mengawasi mangsanya.Maorielle semakin bingung. Dia merasa terjebak di tengah medan magnet yang kuat antara Erina yang bersikap acuh tak acuh dan Khai yang tampak gelisah. Apa yang mereka bicarakan di jendela tadi.Khai berdiri di depan layar proyektor dengan tangan terlipat di depan dada. Ia tidak langsung menggeser slide selanjutnya, melainkan menatap mahasiswanya satu per satu dengan pandangan analitis."Kita akan mencoba melakukan dekonstruksi makna pada sebuah karya," suara bariton Khai memecah kesunyian. "Sebuah lagu. Karena bahasa juga tentang apa yang diucapkan dan apa yang dirasakan."Khai berjalan mendekati barisan tengah, langkahnya berhenti tepat di depan meja Maorielle. Erina, yang duduk di sampingnya tetap
Erina menahan napas. Jantungnya berpacu. Ia merasa kepastian sudah berada di depan matanya.Suasana di dalam kelas itu semakin sunyi. Pandangan Erina dan Khai terfokus pada titik yang sama. Gedung seberang, di mana Maorielle baru saja melangkah keluar dari ruang kelasnya.Erina, dengan senyum yang sulit diartikan, mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Ia melambai dengan gerakan yang lebar untuk menyapa Maorielle yang melihat ke arah mereka. Sebuah gestur yang tampak ramah namun sarat akan klaim tersembunyi.Di seberang sana, Maorielle mematung. Jarak di antara kedua gedung itu tidak cukup jauh untuk menyembunyikan keterkejutan di wajahnya. Melihat sahabatnya berdiri begitu dekat di samping Khai, pria yang selama ini mengawasinya dari kejauhan. Membuat dunia Maorielle seolah berhenti berputar.Khai memperhatikan ekspresi Maorielle dari kejauhan. Ada sebuah getaran halus di sudut matanya yang biasanya sedingin es. Khai mengembangkan senyumnya pada Maorielle unt
Pagi itu, gedung Sastra masih diselimuti kabut tipis dan aroma tanah basah. Koridor lantai dua masih sunyi. Hanya suara langkah sepatu Erina yang beradu dengan lantai marmer, menciptakan gema yang tegas.Pikiran Erina kini terbagi menjadi dua skenario yang sangat kontras. Di satu sisi ada Arvan. Pemuda baik yang selalu berhasil menarik perhatiannya, namun selalu terpaku pada Maorielle. Di sisi lain, ada Khai. Sosok otoriter yang prestisius, yang mencari frekuensi yang tepat untuknya agar bisa menghilangkan radar Maorielle."Mao, kamu terlalu lambat membaca kode. Kalau kamu nggak berani ambil langkah. Jangan salahkan kalau Pak Khai memilih yang lain." gumam Erina.Erina tidak datang dengan kemeja seperti biasanya. Ia mengenakan kemeja silk berwarna pastel yang pas di tubuhnya, dipadukan dengan celana kain potongan rapi. Ia tampak dewasa, cerdas, dan yang paling penting: tidak memalukan.Erina sengaja datang ke kelas Khai lebih awal dari biasanya, tepatnya
Sore itu, mendung menggantung rendah di atas rumah dosen Angin. Seperti biasa, dia bermain ke rumah sang dosen untuk mencicipi masakan rumahan. Satu-satunya rumah dosen muda yang bisa Erina datangi tanpa rasa takut.Setelah mencicipi masakan pemilik rumah, Erina menemani Angin bersantai di teras belakang. Mereka basa-basi singkat tentang nilai dan organisasi. Lalu, Erina mulai melancarkan serangan halus, dia mengorek informasi tentang Khai."Om, Pak Khai kadang bisa seram ya?" Erina memulai sambil menyesap teh hangat yang disuguhkan. "Kelihatannya dia lagi banyak pikiran. Beberapa hari yang lalu dia di kelas agak seram."Pak Angin tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar sangat santai hingga membuat suasana yang tadinya sepi menjadi riuh. Angin menyesap kopinya. Lalu menatap Erina dengan binar mata yang seolah mengatakan bahwa ia punya segudang cerita tentang rekan sejawatnya itu."Khai memang kadang begitu, Erina. Dia itu ibarat kamus berjalan yang cov
Maorielle kembali fokus menyimak lagu yang dibawakan oleh sebuah band kampus. Lalu tak berapa lama, bayangan seseorang berhenti di depan mereka.“Wah, kalian di sini juga!.”Erina mendongak lebih dulu. “Lho? Arvan?”Arvan tersenyum santai, tangannya masuk ke saku celana jeans. Ia tidak terlihat seperti penonton biasa. Terlalu percaya diri, terlalu nyaman berada di tengah keramaian.“Kok bisa ada di sini?” tanya Erina cepat.“Salah satu peserta itu kakak kelasku waktu SMA,” jawabnya ringan. “Mei. Kami satu ekskul dulu. Sudah janji mau datang dukung.”“Serius?” Erina langsung tampak antusias. “Yang tadi pakai kostum merah itu?”Arvan mengangguk. “Iya. Dia memang ambisius dari dulu.”Maorielle ikut menoleh ke arah panggung, berusaha terlihat tertarik pada pembicaraan itu.Dari arah meja juri, Khai mengangkat kepala tepat di saat







