Mag-log inKhai diam di tempatnya, membiarkan keheningan yang canggung itu menyelimuti ruangan sejenak. Matanya menyapu deretan bangku dari barisan depan hingga paling belakang. Seolah sedang membaca data mentah dari sebuah eksperimen lapangan.
"Ada yang sangat percaya diri konser lagu dangdut menggunakan pulpen sebagai mikrofon di pojok sana," Khai melirik seorang pria yang langsung menunduk malu.
"Ada yang sedang melakukan kursus makeup singkat di jam kuliah. Ada yang menganggap kursi lipat ini sebagai kasur paling nyaman untuk tidur siang."
Tawa kecil pecah di beberapa sudut kelas. Namun, segera senyap saat Khai mengalihkan pandangannya ke barisan tengah. Senyum tipisnya yang misterius semakin jelas terlihat.
"Dan tentu saja ada yang menganggap kelas ini adalah restoran cepat saji." mata Khai terkunci tepat pada satu titik. Khai menatap lurus ke arah Maorielle.
"Mao," panggil Khai yang membuat jantung Maorielle serasa berhenti.
Beberapa orang mengenal siapa di kelas ini yang dipanggil Mao. Mereka secara otomatis menoleh ke arah Maorielle. Maorielle terbengong. Bagaimana bisa dosen itu tahu namanya. Pasti dia mendengar Erina memanggilnya dengan sebutan itu. Sejauh apa dia mendengar pembicaraannya dengan Erina.
"Saya memang sedikit 'rewel' soal aroma burger barbekyu saat sedang mengajar. Jadi, silakan selesaikan gigitan terakhirmu dalam tiga puluh detik, sebelum kita mulai membahas apa itu subjek, predikat, dan... etika berkomunikasi."
Maorielle merasa seluruh burger di perutnya mendadak membatu. Ia hanya bisa mematung dengan burger yang masih berada di tangan. Sementara Erina perlahan menjauhkan kursinya seolah-olah tidak ingin ikut terseret dalam bencana tersebut.
Maorielle langsung memasukkan sisa burgernya ke dalam mulut. Dia mengunyah dengan pelan-pelan seolah menantang pria yang berdiir di depan kelas.
Erina menyenggol lengan Mao. "Mao, cepat habiskan. Jangan cari gara-gara di hari pertama."
Pria itu hanya terdiam, kembali menatap buku sketsanya. "Dalam Psikologi, ada yang disebut dengan First Impression Bias. Kamu yakin ingin kesan pertama dosenmu tentang kelas ini adalah aroma bawang bombay dari burgermu?"
Mao merasa tenggorokannya mendadak kering. Dia segera menelan burgernya yang terasa keras seperti batu. Ia cepat-cepat merapikan bungkus burgernya yang sudah kosong ke dalam tas. Dia tidak ingin memantik rasa kesal dosen padanya.
Khai bersandar di meja dosen, matanya menyapu ruangan.
"Tidak banyak aturan dalam kelasku. Kalian bisa bolos asal kehadiran memenuhi 75%. Kalian boleh makan asal baunya tidak mengganggu konsentrasi," kalimat terakhirnya berhenti tepat pada Maorielle.
Maorielle nampak kikuk dan langsung menundukkan pandangannya. Dia merasa kata-kata dosen itu tepat di arahkan padanya.
"Bahasa bukan sekadar susunan kata di atas kertas. Bahasa adalah alat untuk menunjukkan siapa kita sebelum orang lain mengenal kita lebih dalam." Khai membuka buku presensinya.
"Mari kita mulai dengan sebuah eksperimen kecil. Saya ingin kalian menuliskan satu kalimat yang paling menggambarkan diri kalian saat ini tanpa menggunakan kata sifat. Karena kata sifat sering kali hanya menjadi topeng untuk menutupi kenyataan yang sebenarnya."
"Ada masalah, Mao? Maorielle?" tanya Khai memperjelas nama Maorielle. Seolah sudah menemukan nama lengkap Maorielle dalam daftar hadir. "Atau burgernya membuatmu sulit untuk berpikir tanpa kata sifat?"
Maorielle menegakkan punggungnya, menatap lurus ke arah Khai. "Tidak, Pak." Entah mengapa dosen itu terasa selalu menargetkan Maorielle.
"Hanya saja," lanjut Maorielle, suaranya terdengar stabil meski jantungnya berdentum dua kali lebih cepat, "menurut perspektif psikologi kognitif, otak manusia secara alami mengategorikan realitas menggunakan label. Kata sifat adalah label yang paling efisien. Menghilangkannya justru bisa membuat deskripsi kita menjadi tidak akurat atau bias."
Maorielle bisa merasakan Erina di sebelahnya menahan napas. Seisi kelas yang tadinya tegang kini berubah menjadi penonton sebuah debat yang tidak terduga.
Khai tidak terlihat tersinggung. Ia justru melipat tangan di depan dada, menumpu berat badannya pada satu kaki sambil menatap Maorielle dengan binar ketertarikan yang tidak ditutup-tutupi.
"Analisis yang menarik. Namun, dalam Bahasa Indonesia, kita punya kekuatan yang disebut 'verba' atau kata kerja. Kata kerja menunjukkan aksi, perjuangan, dan eksistensi. Kata sifat hanya menunjukkan permukaan." jelas Khai dengan nada bicara yang berubah formal, seolah baru saja menekan tombol 'mode dosen' dalam dirinya.
Khai berjalan beberapa langkah mendekati barisan mahasiswa. "Jika kamu menyebut dirimu 'lelah', itu adalah label. Tapi jika kamu menyebut dirimu 'sedang bertahan dari maraton selama delapan jam perkuliahan', itu adalah realitas yang punya jiwa. Kamu mengerti bedanya, Mao?"
Maorielle tertegun saat namanya disebut dengan begitu natural oleh pria itu. Kata 'Mao' yang meluncur dari bibirnya terdengar begitu akrab, kontras dengan setelan kemeja formal dan wibawa dosen yang ia sandang. Ia belum sempat memperkenalkan diri secara formal. Pria ini apakah dia memang suka sok akrab seperti ini.
"Saya mengerti, Pak," jawab Maorielle singkat, tidak ingin memberikan celah lebih jauh.
"Bagus. Kalau begitu, saya tunggu kalimat tanpa kata sifatmu di akhir kelas," ucap Khai sambil kembali ke depan kelas. "Dan untuk yang lain, jangan biarkan mahasiswi psikologi ini mengintimidasi kalian dengan istilah kognitifnya."
Sepanjang sisa jam pelajaran, Mao mendapati dirinya sulit untuk benar-benar membenci cara Khai mengajar. Pria itu tidak menggunakan buku teks yang membosankan. Ia membedah lagu, potongan berita, bahkan gestur mahasiswa untuk menjelaskan betapa kuatnya sebuah diksi.
Saat jam menunjukkan pukul 14.20, Khai merapikan tasnya. "Silakan tulis tugas kalian ke selembar kertas dan kumpulkan di meja. Aku memberi diskon waktu agar kalian bisa pulang lebih cepat."
Maorielle menatap jam dinding yang masih menunjukkan pukul 14.20 dengan tidak percaya. Ini adalah anomali. Di saat dosen lain biasanya akan menambah durasi kuliah karena merasa materi belum selesai, Khai justru melakukan hal sebaliknya.
Jemarinya bergerak ragu sejenak di atas kertas putih itu, memikirkan kembali tantangan Khai: satu kalimat tanpa kata sifat:
Saya sedang menempuh ribuan langkah hanya untuk menemukan di mana saya seharusnya berhenti.
Tidak ada kata sifat. Hanya ada subjek, kata kerja, dan keterangan.
Maorielle berdiri, mengikuti arus mahasiswa yang mulai bergerak menuju meja depan. Suasana kelas yang tadinya tegang kini berubah menjadi riuh penuh syukur karena 'diskon waktu' yang diberikan sang dosen.
Saat giliran Maorielle sampai di depan meja, Khai sedang berdiri di samping podium sambil memeriksa ponselnya. Namun, begitu Maorielle meletakkan kertasnya di tumpukan paling atas, Khai mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu. Kali ini tidak ada tudung hoodie yang menghalangi.
"Kalimat yang kuat," bisik Khai, suaranya bisa didengar oleh Maorielle.
Maorielle berusaha tetap tenang. "Saya hanya mengikuti instruksi Anda, Pak. Satu kalimat tanpa kata sifat,"
Maorielle berbalik dan segera menyusul Erina.
Angin di taman kampus siang itu berembus kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Maorielle. Di hadapannya, Arvan berdiri dengan senyum yang begitu tulus, tangannya terangkat menyapa."Mao," panggil Arvan, suaranya terdengar berat karena gugup.Morielle pun memberikan senyumya sebagai balasan. Dia lalu duduk di sebelah Arvan. Dia yakin bahwa Erina akan datang juga pada mereka.Namun, fokus Maorielle terpecah. Erina tidak juga datang. Instingnya memaksa matanya untuk menengok ke ruang dosen. Erina tadi mengatakan akan menemui pak Angin. Maorielle menyipitkan mata. Ia mencari sosok Erina yang katanya ingin menemui Pak Angin, namun yang ia temukan justru Pak Khai.Pak Khai tidak sedang sibuk dengan tumpukan jurnal atau berkas nilai. Ia berdiri tepat di depan pintu yang terbuka, mematung dengan satu tangan di saku celana. Tatapannya tidak tertuju pada pemandangan kampus secara luas, melainkan terkunci tepat pada satu titik: Maorielle dan Arvan.Dari jarak sejauh itu, ekspresi Khai suli
Sepanjang kuliah, Khai beberapa kali kehilangan ritme bicara. Matanya terus beralih dari layar proyektor ke arah Maorielle. Setiap kali Maorielle tidak sengaja menatapnya, Khai akan memberikan tatapan yang sangat intens seperti singa yang mengawasi mangsanya.Maorielle semakin bingung. Dia merasa terjebak di tengah medan magnet yang kuat antara Erina yang bersikap acuh tak acuh dan Khai yang tampak gelisah. Apa yang mereka bicarakan di jendela tadi.Khai berdiri di depan layar proyektor dengan tangan terlipat di depan dada. Ia tidak langsung menggeser slide selanjutnya, melainkan menatap mahasiswanya satu per satu dengan pandangan analitis."Kita akan mencoba melakukan dekonstruksi makna pada sebuah karya," suara bariton Khai memecah kesunyian. "Sebuah lagu. Karena bahasa juga tentang apa yang diucapkan dan apa yang dirasakan."Khai berjalan mendekati barisan tengah, langkahnya berhenti tepat di depan meja Maorielle. Erina, yang duduk di sampingnya tetap
Erina menahan napas. Jantungnya berpacu. Ia merasa kepastian sudah berada di depan matanya.Suasana di dalam kelas itu semakin sunyi. Pandangan Erina dan Khai terfokus pada titik yang sama. Gedung seberang, di mana Maorielle baru saja melangkah keluar dari ruang kelasnya.Erina, dengan senyum yang sulit diartikan, mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Ia melambai dengan gerakan yang lebar untuk menyapa Maorielle yang melihat ke arah mereka. Sebuah gestur yang tampak ramah namun sarat akan klaim tersembunyi.Di seberang sana, Maorielle mematung. Jarak di antara kedua gedung itu tidak cukup jauh untuk menyembunyikan keterkejutan di wajahnya. Melihat sahabatnya berdiri begitu dekat di samping Khai, pria yang selama ini mengawasinya dari kejauhan. Membuat dunia Maorielle seolah berhenti berputar.Khai memperhatikan ekspresi Maorielle dari kejauhan. Ada sebuah getaran halus di sudut matanya yang biasanya sedingin es. Khai mengembangkan senyumnya pada Maorielle unt
Pagi itu, gedung Sastra masih diselimuti kabut tipis dan aroma tanah basah. Koridor lantai dua masih sunyi. Hanya suara langkah sepatu Erina yang beradu dengan lantai marmer, menciptakan gema yang tegas.Pikiran Erina kini terbagi menjadi dua skenario yang sangat kontras. Di satu sisi ada Arvan. Pemuda baik yang selalu berhasil menarik perhatiannya, namun selalu terpaku pada Maorielle. Di sisi lain, ada Khai. Sosok otoriter yang prestisius, yang mencari frekuensi yang tepat untuknya agar bisa menghilangkan radar Maorielle."Mao, kamu terlalu lambat membaca kode. Kalau kamu nggak berani ambil langkah. Jangan salahkan kalau Pak Khai memilih yang lain." gumam Erina.Erina tidak datang dengan kemeja seperti biasanya. Ia mengenakan kemeja silk berwarna pastel yang pas di tubuhnya, dipadukan dengan celana kain potongan rapi. Ia tampak dewasa, cerdas, dan yang paling penting: tidak memalukan.Erina sengaja datang ke kelas Khai lebih awal dari biasanya, tepatnya
Sore itu, mendung menggantung rendah di atas rumah dosen Angin. Seperti biasa, dia bermain ke rumah sang dosen untuk mencicipi masakan rumahan. Satu-satunya rumah dosen muda yang bisa Erina datangi tanpa rasa takut.Setelah mencicipi masakan pemilik rumah, Erina menemani Angin bersantai di teras belakang. Mereka basa-basi singkat tentang nilai dan organisasi. Lalu, Erina mulai melancarkan serangan halus, dia mengorek informasi tentang Khai."Om, Pak Khai kadang bisa seram ya?" Erina memulai sambil menyesap teh hangat yang disuguhkan. "Kelihatannya dia lagi banyak pikiran. Beberapa hari yang lalu dia di kelas agak seram."Pak Angin tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar sangat santai hingga membuat suasana yang tadinya sepi menjadi riuh. Angin menyesap kopinya. Lalu menatap Erina dengan binar mata yang seolah mengatakan bahwa ia punya segudang cerita tentang rekan sejawatnya itu."Khai memang kadang begitu, Erina. Dia itu ibarat kamus berjalan yang cov
Maorielle kembali fokus menyimak lagu yang dibawakan oleh sebuah band kampus. Lalu tak berapa lama, bayangan seseorang berhenti di depan mereka.“Wah, kalian di sini juga!.”Erina mendongak lebih dulu. “Lho? Arvan?”Arvan tersenyum santai, tangannya masuk ke saku celana jeans. Ia tidak terlihat seperti penonton biasa. Terlalu percaya diri, terlalu nyaman berada di tengah keramaian.“Kok bisa ada di sini?” tanya Erina cepat.“Salah satu peserta itu kakak kelasku waktu SMA,” jawabnya ringan. “Mei. Kami satu ekskul dulu. Sudah janji mau datang dukung.”“Serius?” Erina langsung tampak antusias. “Yang tadi pakai kostum merah itu?”Arvan mengangguk. “Iya. Dia memang ambisius dari dulu.”Maorielle ikut menoleh ke arah panggung, berusaha terlihat tertarik pada pembicaraan itu.Dari arah meja juri, Khai mengangkat kepala tepat di saat







