Beranda / Young Adult / Terikat Tatapan Pak Dosen / Proksemik dan Titik Buta: Teori Tentang Jarak yang Gagal

Share

Proksemik dan Titik Buta: Teori Tentang Jarak yang Gagal

Penulis: NaoMiura
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-12 19:00:40

Senin siang ini, langit di atas kampus membentang jernih. Hamparan warna biru yang begitu bersih seolah-olah hujan deras beberapa hari lalu telah mencuci seluruh debu di atap gedung. Sinar matahari menyelinap di antara celah-celah pilar gedung.

Maorielle melangkah menyusuri selasar menuju ruang kelas dengan perasaan berbeda. Energi Maorielle hari ini sedikit lebih penuh karena kelas sebelumnya diganti dengan tugas daring. Hal ini membuatnya sempat tidur siang di kamar kos Erina.

Setelah insiden cegukan yang memalukan dan pertemuan di kantin yang penuh sindiran. Maorielle harus menyiasati agar ruang kelas tidak terasa seperti medan perang.

"Mao, kamu cepat sekali. Kita masih punya sepuluh menit," Erina terengah-engah, rambut panjangnya sedikit berantakan. "Jangan bilang kamu mau duduk di baris paling depan?"

"Tidak!" sahut Mao tanpa menoleh. "Aku mau di sudut yang paling tidak terjangkau radar." Maorielle tidak ingin lagi ada insiden apapun. Ia tidak ingin

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   Tawaran di Antara Coretan Biru

    Khai tidak memberikan diskon waktu, jadi kelas berakhir sesuai jam belajar. Ia menunggu sampai semua mahasiswa mulai beranjak keluar. Dia mengawasi pergerakan Maorielle."Maorielle, bisa ke depan sebentar?" ucap Khai datar sambil merapikan kabel laptopnya.Erina mengepalkan tangannya dan menatap Maorielle dengan pandangan 'Semangat, Sahabatku!' sebelum akhirnya terpaksa keluar kelas lebih dulu. Mao menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah menuju meja dosen, tempat Khai menunggunya.Maorielle berdiri di depan meja dengan sikap sesempurna mungkin, berusaha menyembunyikan jemarinya yang saling bertaut di balik punggung. Ruang kelas kini hanya menyisakan suara dengung lampu neon dan langkah kaki mahasiswa yang menjauh di selasar.Khai tidak langsung bicara. Ia menutup laptopnya dengan bunyi klik yang tegas, lalu menyandarkan pinggulnya di tepi meja, menatap Maorielle dengan intensitas yang membuat gadis itu merasa seolah sedang menjalani sesi terapi klinis.

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   Proksemik dan Titik Buta: Teori Tentang Jarak yang Gagal

    Senin siang ini, langit di atas kampus membentang jernih. Hamparan warna biru yang begitu bersih seolah-olah hujan deras beberapa hari lalu telah mencuci seluruh debu di atap gedung. Sinar matahari menyelinap di antara celah-celah pilar gedung.Maorielle melangkah menyusuri selasar menuju ruang kelas dengan perasaan berbeda. Energi Maorielle hari ini sedikit lebih penuh karena kelas sebelumnya diganti dengan tugas daring. Hal ini membuatnya sempat tidur siang di kamar kos Erina.Setelah insiden cegukan yang memalukan dan pertemuan di kantin yang penuh sindiran. Maorielle harus menyiasati agar ruang kelas tidak terasa seperti medan perang."Mao, kamu cepat sekali. Kita masih punya sepuluh menit," Erina terengah-engah, rambut panjangnya sedikit berantakan. "Jangan bilang kamu mau duduk di baris paling depan?""Tidak!" sahut Mao tanpa menoleh. "Aku mau di sudut yang paling tidak terjangkau radar." Maorielle tidak ingin lagi ada insiden apapun. Ia tidak ingin

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   The Beauty with Brains

    Ia berjalan cepat menuju kantin, berniat menyeret Erina pergi dari sana secepat mungkin. Namun, begitu sampai di ambang kantin, pemandangan di depannya membuatnya ingin putar balik. Di salah satu meja, Erina tampak sedang tertawa lebar. Di hadapannya, Pak Angin serta Khai baru saja meletakkan nampan makanan mereka.Erina melambai dengan semangat begitu melihat Mao berdiri mematung di pintu masuk."Mao! Sini! Kebetulan banget ini ada Om Angin sama Pak Khai!" teriak Erina tanpa dosa.Khai, yang sedang mengaduk kopinya, perlahan mendongak. Matanya bertemu dengan mata Maorielle, dan ia mengangkat alisnya sedikit. Sebuah ekspresi yang seolah berkata, aku ada di sini juga lho. Maorielletidak punya pilihan. Menarik Erina pergi sekarang hanya akan membuat suasana jadi aneh. Pria itu pasti akan menertawakannya dalam hati. Dengan langkah yang dipaksakan seanggun mungkin, Mao berjalan menghampiri meja pojok itu."Siang, Pak Angin. Siang, Pak Khai," sapa M

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   Paradoks Di Balik Pilar

    Gedung teater mulai berangsur sepi. Suara ruangan diisi oleh dengung rendah pendingin ruangan yang masih menyala. Khai masih di sana, duduk dengan tenang di balik meja dosennya. Jemarinya lincah menari di atas layar ponsel sementara tumpukan makalah di hadapannya telah berpindah rapi ke dalam tas kulit.Beberapa menit kemudian, pintu kelas terbuka kembali. Maorielle melangkah masuk dengan napas yang sedikit tidak beraturan. Di tangannya, ia menggenggam botol air mineral baru yang masih sangat dingin. Lengkap dengan embun yang membasahi telapak tangannya.Ia berjalan lurus menuju meja Khai, lalu meletakkan botol itu tepat di tempat botol milik Khai tadi berada."Ini gantinya, Pak," ucap Mao, suaranya kini sudah stabil, meski rona merah di pipinya belum sepenuhnya pudar. "Terima kasih untuk bantuan... kemanusiaannya tadi."Khai mengangkat pandangannya dari ponsel. Ia menatap botol baru itu, lalu beralih menatap wajah Mao yang tampak berusaha keras mempertahan

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   Diafragma yang Berbicara

    Sebuah gelas plastik berisi es kopi yang sudah mencair meninggalkan lingkaran embun yang memudar di atas permukaan meja kayu jati di depan kelas. Di sampingnya terdapat sebuah botol kecil air mineral yang masih tersegel utuh. Ada tumpukan makalah yang masih tercium aroma tinta segar tertata rapi, menunggu untuk segera dibedah.Khai hari ini tampil formal dengan kemeja abu-abu gelap dan celana panjang berwarna putih. Ia berdiri di samping meja dosen, matanya menyapu seisi ruangan yang sudah mulai penuh."Selamat siang semuanya," buka Khai, suaranya tenang namun memiliki otoritas yang membuat kegaduhan di barisan belakang seketika sirna. "Hari ini adalah waktu untuk membuktikan apakah mata kalian benar-benar jeli, atau kalian hanya sekadar melihat tanpa mengamati."Khai melirik daftar hadir di tangannya. "Kelompok pertama. Silakan maju ke depan untuk mempresentasikan pengamatan kalian."Jantung Maorielle berdegup kencang. Ia merapikan baju dan rambutnya sec

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   Dua Dosen Muda

    Maorielle mendengus keras, tangannya menekan pulpen ke kertas hingga ujungnya nyaris melubangi buku catatan. Matanya menatap punggung Khai yang kian menjauh di antara kerumunan mahasiswa yang berlari sore."Mao! Mao! Dia memanggil seperti orang dekat!" gerutu Maorielle, suaranya naik satu oktav karena dongkol.Erina yang sejak tadi menahan napas akhirnya bisa tertawa lepas. "Mao, tenang... napas dulu. Lagipula, panggilan 'Mao' itu terdengar... manis kalau dia yang mengucapkannya," Erina terkekeh.Maorielle berdiri dari bangku mulai merasa tidak nyaman berada di sana. Bayangan Khai dengan kaus olahraga hitam dan caranya menatap matanya tadi masih terbayang-bayang di benaknya."Ayo kita pulang. Moodku sudah hancur," ajak Maorielle sambil menyampirkan tasnya dengan kasar."Lho, baru juga dapat tiga subjek. Kurang dua lagi," protes Erina sambil mengekor di belakang sahabatnya."Kita cari subjek lain di jalan saja. Di sini udaranya sudah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status