MasukSafna duduk di salah satu kursi dengan punggung tegak, tetapi jemarinya saling meremas di atas pangkuan. Gerakan kecil itu berulang tanpa ia sadari—menjadi satu-satunya tanda bahwa ia sedang tidak baik-baik saja. Napasnya pelan, tapi tidak stabil. Matanya sesekali melirik ke arah pintu, lalu kembali menunduk.Di sampingnya, Edgar duduk dengan posisi santai. Punggungnya bersandar, satu kaki sedikit maju, tangannya bertumpu tenang di sandaran kursi. Wajahnya… datar seperti biasa. Tidak ada tanda gugup. Tidak ada gelisah. Seolah situasi ini bukan sesuatu yang perlu ia khawatirkan. Kontras itu terlalu jelas.Safna menelan ludah pelan.Di hadapan mereka, Albert berdiri dekat meja kerjanya. Sementara Sofia duduk di sofa lain, menatap keduanya tanpa bicara. Tatapan seorang ibu—penuh pertanyaan, tapi juga menahan diri. Tidak ada yang berbicara.Getaran ponsel memecah keheningan.Edgar melirik layar ponselnya. Nama Malik muncul di sana. Tanpa banyak gerakan, ia mengangkat panggilan itu.“Ya.”
Pagi itu, suasana kantor terasa lebih tenang dari biasanya. Tidak ada lagi bisik-bisik tajam atau tatapan penuh rasa penasaran seperti beberapa hari lalu. Semua kembali berjalan seperti biasa—setidaknya di permukaan.Safna berdiri di depan pintu ruang kerja Edgar dengan sebuah map di tangannya. Ia menatap pintu itu beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat—bukan karena gugup bekerja, tapi karena… orang di balik pintu itu.Dua hari. Sudah dua hari sejak terakhir kali mereka bertemu di apartemen Mila. Dan sejak saat itu… tidak ada pembicaraan lagi.Safna menghela napas pelan, lalu mengetuk pintu.“Masuk.”Suara itu tetap sama—tenang, datar, dan… terlalu familiar. Safna membuka pintu perlahan, lalu melangkah masuk. Edgar duduk di balik meja kerjanya, fokus pada dokumen di depannya. Bahkan tidak langsung menatapnya.“Ada apa?” tanyanya tanpa mengangkat kepala.Safna menelan ludah pelan. Ia melangkah mendekat, meletakkan map di atas meja.“Doku
“Heh! Kamu ngapain aja sama Kak Edgar pas aku tinggal tadi malam?” tanya Mila melalui panggilan telepon.Safna terdiam. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang yang sudah dua hari tidak ditinggali. Gadis itu menghela napas sebentar sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari sahabatnya.“Nggak ngapa-ngapain. Seharusnya aku yang tanya, kamu ke mana sama Malik? Kenapa pas aku pulang kalian belum pulang?” “Nggak ke mana-mana. Dia cuma ngajak makan doang. Dia nggak bolehin aku naik, katanya nggak boleh ganggu kalian. Padahal itu apartemen aku,” ujar Mila mencibir Safna.“Bilang aja kamu kurang puas ngintipnya.”“Iih, kok tahu, sih? Mana nanggung banget lagi kurang dikit lagi kalian bakal ciuman. Sayang banget si Malik Malik itu datang. Coba kalau nggak–”“Mila!” geram Safna yang merasa malu pada sahabatnya itu.“Apa sih?”“Udah ah, malu ege.”Mila langsung terkekeh di seberang sana. Suaranya ringan, tapi jelas penuh godaan.“Maluuuu?” ulangnya panjang. “Tumben banget ada yang bikin Safna si pali
Pintu yang terbuka itu seperti memutus sesuatu yang hampir terjadi. Udara di ruang tamu mendadak berubah.Safna langsung menjauh setengah langkah, napasnya masih belum stabil. Sementara Edgar… tetap di tempatnya. Tatapannya masih tenang, tapi rahangnya sedikit mengeras—gangguan yang datang di momen yang tidak tepat.Di ambang pintu, Malik berdiri tegak. Matanya masih tertuju pada keduanya, lalu perlahan bergeser—menilai situasi dengan cepat, seperti kebiasaannya.“Maaf,” ucap Malik akhirnya, datar. “Sepertinya saya datang di waktu yang tidak tepat.”Nada suaranya sopan. Profesional. Seolah yang barusan ia lihat bukan sesuatu yang… personal.Safna menunduk sedikit, merasa canggung.Edgar tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Malik sekilas, lalu mengalihkan pandangannya.“Masuk,” ucapnya singkat.Malik menggeleng tipis. “Tidak perlu, Pak. Saya hanya ingin memastikan keadaan Nona Safna.”Kalimat itu terdengar formal. Terlalu formal untuk situasi seperti ini.Safna mengangkat wajahnya
“Astaga—Safna… Kak Edgar di depan.”Kalimat itu jatuh seperti petir di siang bolong. Safna tidak langsung bergerak. Napasnya tertahan di tenggorokan, jantungnya yang semula hanya berdegup cepat kini seperti menghantam dinding dadanya sendiri, liar, tak terkendali. Tidak. Tidak sekarang.“Buka,” ucapnya akhirnya, pelan—terlalu pelan untuk seseorang yang baru saja panik.Mila menatapnya ragu beberapa detik, seolah berharap Safna akan berubah pikiran. Tapi tidak. Pada akhirnya, ia tetap memutar gagang pintu. Dan di sanalah dia. Edgar berdiri tegak dengan setelan rapi yang selalu melekat pada dirinya, seolah dunia tidak pernah cukup berantakan untuk mengusik penampilannya. Wajahnya tenang, terlalu tenang—namun matanya… Llangsung menemukan Safna.Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan. Hanya tatapan dalam yang terasa seperti menarik Safna masuk ke sesuatu yang belum selesai.“Masuk dulu,” sela Mila cepat, suaranya sedikit lebih tinggi dari biasanya, mencoba menambal ketegangan yang tiba-tiba
Sudah satu minggu setelah berita skandal Edgar muncul. Kini kabar perselingkuhan dan kandasnya hubungan Maya dan Edgar sudah mulai hilang, tenggelam dengan berita lain. Bahkan, opini publik pun sudah mereda tidak sepanas beberapa waktu lalu.“Semua sudah selesai, Nak?” tanya Albert saat mereka sedang di halaman belakang rumah sambil minum teh di pagi hari.“Sudah. Semua sesuai rencana, Pah.”Albert mengangguk. Ia melipat koran di tangan lalu mengambil tablet di meja.“Bagus. Papa selalu percaya sama kamu. Coba lihat, perusahaan orang tua Maya mulai mencari klien baru yang mau investasi. Dia juga meminta papa supaya tidak membatalkan kerjasama. Menurutmu bagaimana?” ujar Albert sambil memperlihatkan tabletnya pada Edgar. Edgar mengambil gawai tersebut dan membaca email di dalamnya. Wajahnya masih datar seolah isi di dalamnya tak berarti apa-apa. Setelah selesai membaca, Edgar memgembalikan benda tersebut kepada papanya.Edgar terlihat berpikir sebentar sebelum akhirnya membuka suarany







