LOGINSiang itu, suasana ruang kerja Edgar terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Langit di luar jendela tampak cerah, tapi tidak dengan atmosfer di dalam ruangan itu. Edgar berdiri membelakangi pintu, menatap kota dari ketinggian. Kedua tangannya bertumpu di meja, bahunya kaku.“Semua laporan sudah masuk, Pak.”Suara Malik terdengar tenang seperti biasa, meski situasinya jelas tidak biasa.Edgar tidak langsung menoleh. “Termasuk rekaman CCTV?”“Sudah. Orang yang menabrak Nona Safna menggunakan hoodie. Wajahnya tidak terlihat jelas, tapi pola pergerakannya… terlatih.”“Dan?” tanya Edgar pelan.“Dia menghindari titik kamera. Masuk ke area blind spot, lalu keluar lewat tangga darurat. Mobil yang digunakan memakai plat palsu.”Edgar menghela napas panjang. Rahangnya mengeras. “Seperti yang saya duga.”Malik terdiam sejenak sebelum akhirnya bertanya, “Perintah selanjutnya, Pak?”Kali ini Edgar berbalik. Tatapannya dingin, tapi lebih dari itu—terlihat sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Terencana
“Kalian baik-baik saja?”Safna dan Mila tersentak. Hampir saja mereka berteriak saat mendengar suara Edgar yang kini sudah ada di depannya bersama Malik.“Kak Ega….” Safna melebarkan kedua bola matanya saat Edgar langsung memeluknya begitu saja. “Aku baik-baik saja, Kak,” ujar Safna mencoba melepaskan pelukannya. Namun, sulit karena Edgar memeluknya erat.“Kaak, udah. Aku nggak bisa napas,” lanjut Safna sambil menepuk pelan punggung Edgar.Edgar seperti baru tersadar. Pelukannya mengendur, tapi tangannya masih bertahan di bahu Safna, seolah memastikan gadis itu benar-benar ada di depannya. Tatapannya menyapu wajah Safna cepat—dari mata, pipi, hingga bibir—mencari tanda luka lain yang mungkin terlewat.“Kamu terluka lagi?” tanyanya rendah, masih dengan nada tegang yang belum sepenuhnya hilang.Safna menggeleng pelan. “Nggak, Kak. Aku beneran nggak apa-apa.”Edgar tidak langsung percaya. Tangannya beralih memeriksa lengan Safna, lalu pergelangan tangannya yang kemarin sempat terluka. G
Malik menahan napas sejenak sebelum menjawab. Ia tahu, satu kalimat yang salah bisa memperburuk situasi.“Pak, kalau mereka menyeret Nona Safna, pasti ada yang lihat,” ujarnya hati-hati. “Mall ini ramai. Bahkan di area sepi pun masih ada kemungkinan saksi.”Edgar menatapnya tanpa berkedip. “Lanjutkan.”“Tidak ada laporan keributan. Tidak ada yang berteriak. Bahkan tidak ada pengunjung yang terlihat panik,” tambah Malik. “Artinya… kemungkinan besar Nona Safna tidak diseret secara paksa.”Edgar terdiam sebentar mencerna kata-kata Malik. Kemudian ia menghela napas saat menyadari sesuatu.“Atau… mungkin ini salah satu rencana Maya lainnya?” gumam Edgar.Malik mengernyitkan dahinya. Baru saja ia hendak membuka mulutnya, Edgar sudah lebih dulu bersuara.“Hubungi Mila. Tanyakan keberadaan mereka,” perintah Edgar.Malik langsung mencari nomor Mila dan menekan tombol panggil meski belum sepenuhnya mengerti. Nada sambung terdengar beberapa kali. Terlalu lama.Edgar menatap lurus ke depan, rahan
“Bagaimana mereka bisa kehilangan Safna, Malik?” tanya Edgar dengan khawatir. Ia berlari tanpa memperdulikan tatapan orang-orang dan beberapa kali hampir saja menabrak pengunjung lain. Napasnya mulai berat, tapi langkahnya tidak melambat sedikit pun.“Nona Safna pergi ke toilet, Pak. Tapi lama nggak keluar, akhirnya mereka menyusul ke dalam dan tidak menemukan siapa pun termasuk, Mila.”“Bodoh! Kenapa mereka bisa kecolongan?” Hampir saja Edgar berteriak jika tidak ingat sekarang mereka ada di mana.“Sepertinya, Maya sengaja mengalihkan perhatian kita supaya dia bisa mencelakai Nona Safna, Pak.”“Kalau sampai itu terjadi, Maya akan mendapatkan ganjaran yang setimpal.”Edgar mencoba menghubungi Safna. Namun, panggilan itu direject. Edgar berhenti sepersekian detik. Rahangnya mengeras.Safna… menolak panggilannya?“Nomornya aktif. Coba kamu lacak nomor ponselnya.”“Baik, Pak.”Mereka berhenti berlari tepat di depan lift. Beberapa detik berlalu terasa sangat lama bagi Edgar. Angka di atas
Maya keluar dari lift dengan wajah angkuhnya. Namun, saat bertemu dengan pengunjung dan ada yang menyapa, ia menjadi ramah. Langkahnya terhenti saat melihat dua orang tidak jauh darinya.“Suatu kebetulan kita bertemu di sini, Maya,” ujar pria itu dengan wajah datar.“Edgar,” bisik Maya.Perempuan itu tersenyum lalu mendekati Edgar dengan percaya diri. “Berarti kita jodoh. Apa jangan-jangan kamu ngikutin aku, ya, ke sini? Kamu kangen aku, kah?” tanya Maya masih dengan senyum menghiasi wajahnya.“Ikut aku.”Maya menaikan satu alisnya, tapi tetap mengangguk. Ia meraih lengan Edgar dan menggandengnya. Sementara pria itu tidak berkutik karena di depan umum.“Kamu denger, kan? Kalau kita pasangan serasi menurut mereka?” bisik Maya di telinga Edgar.Edgar mendengus. Tangan kiri yang ada di kantong celananya mengepal.“Itu cuma omongan orang. Yang menjalani kita, bukan mereka.”Maya mencebik pelan sebelum kembali tersenyum. “Kamu mau bawa aku ke mana? Harus banget Malik ikut?” tanya Maya sa
“Safna!” teriak Mila saat melihat sahabatnya di lobi mall tempat mereka janji untuk bertemu. “Ssttt!” ujar Safna merasa tidak enak dengan pengunjung di sana. Apalagi sekarang mereka menjadi pusat perhatian.“Bisa nggak kamu jangan teriak-teriak,” desis Safna yang hanya dijawab dengan senyuman oleh Mila.“Abisnya aku seneng banget ketemu kamu setelah satu minggu terakhir nggak lihat kamu,” ujar Mila sambil cemberut.“Ututut…kangen ceritanya?”Mila mengangguk cepat. “Lebih tepatnya kangen di traktir sih.”Safna mencebik. “Oya, kaya Malik, kamu abis ditikam orang? Sekarang gimana keadaan kamu? Kamu nggak papa, kan? Nggak luka, kan? Ini gara-gara aku maksa ketemu jadi kamu terluka,” ujar Mila merasa bersalah.“Aku aman, luka dikit kemarin. Tapi aman, kok.”“Maaf, ya. Aku nggak jenguk kamu.”Safna menggelengkan kepalanya. “Tapi kamu tumben, biasanya paling cerewet kalau tahu aku luka.”“Sebenarnya besok paginya hp aku di sita sama Malik. Terus aku nggak boleh ketemu kamu dulu,” cicit Mil
Safna menutup pintu kamarnya dengan keras–takut jika Edgar menyusul. Ia menghela napas pelan setelah memastikan pintu terkunci.“Untung berhasil lolos,” ujar Safna dengan napas belum stabil.Saat Leo menghubunginya dan Edgar hampir saja menjawab panggilan itu. Dengan segera ia mendorong tubuh Edgar
Sudah dua hari Safna tidak pulang ke rumah. Edgar tahu gadis itu tinggal di rumah Mila. Namun, rasa khawatir tetap menyelimuti dadanya. Di kantor, keadaan jauh lebih menyebalkan. Safna benar-benar menghindar. Setiap Edgar muncul, Safna seperti punya radar sendiri. Gadis itu memilih belok arah, mas
“Safna.”Suara itu membuat Safna refleks menoleh.“Wow! look who’s here,” ucap Jayden begitu melihat Edgar berdiri tak jauh dari meja mereka. Senyumnya masih santai, bahkan nyaris menertawakan wajah sahabatnya yang tampak menegang.“Kak Ega.” Safna hampir saja berdiri terkejut melihat kedatangan Ed
“Ya?” Jane mengernyitkan dahinya melihat ekspresi wajah Edgar dan Safna. “Kalian kenapa? Kok, kayak lihat hantu.”Safna berdehem pelan. “Nggak papa, Kak. Oh ya, ke sini mau ketemu Kak Ega, ya? Kalau gitu aku duluan, ya,” ujar Safna sambil melirik Edgar yang kini sedang menatapnya dalam.“Edgar?” gu







