Share

Bab 05 — Peringatan

Penulis: Senia Dea
last update Tanggal publikasi: 2026-08-29 22:01:55

Sepanjang pelajaran terakhir, Aeloria sama sekali tidak bisa fokus. Bukan karena materi yang diberikan guru terlalu sulit, melainkan karena satu kalimat Alaric terus terngiang di kepalanya: nanti pulang tunggu gue. Ia bahkan sudah tiga kali membuka buku yang sama, tetapi tidak satu pun halaman berhasil masuk ke kepalanya.

Begitu bel pulang berbunyi, Aeloria langsung memasukkan buku ke dalam tas. Ia sengaja bergerak cepat supaya bisa keluar sebelum Alaric datang, tetapi Freyana sudah lebih dulu menarik lengannya.

“Lo mau kabur?”

“Bukan kabur. Gue cuma mau pulang.”

“Bukannya tadi ada yang nyuruh nunggu?”

Aeloria melirik pintu kelas. “Gue nggak peduli.”

Vania yang sedang merapikan buku ikut menoleh. “Kalau gue jadi lo, gue nggak akan bikin ketua Black Vortex nunggu.”

“Justru karena dia ketua Black Vortex, gue harus menjauh.”

Aeloria menarik tasnya dan berjalan keluar. Namun langkahnya langsung melambat ketika melihat beberapa siswa berkumpul di ujung koridor. Ia mengenali salah satu wajah di antara kerumunan itu—seorang cowok dari kelas sebelah yang beberapa kali menyapanya sejak awal semester.

Cowok itu langsung mendekat ketika melihat Aeloria. “Aeloria, gue boleh ngomong sebentar?”

Aeloria menoleh ke belakang, berharap Freyana dan Vania masih berada di dekatnya. Sayangnya, dua sahabatnya justru masih sibuk memasukkan buku ke tas.

“Ngomong aja.”

Cowok itu menarik napas panjang. Tangannya terlihat menggenggam tali tas sendiri sebelum akhirnya memberanikan diri menatap Aeloria.

“Gue suka sama lo.”

Aeloria terdiam, suasana koridor yang tadinya ramai terasa sedikit berbeda. Beberapa siswa yang mendengar pengakuan itu langsung memperlambat langkah, sementara Aeloria hanya berdiri dengan kedua tangan memegang tali tas.

“Gue tahu mungkin ini mendadak,” lanjut cowok itu, “tapi gue serius. Kalau lo belum punya pacar, gue mau kenal lebih dekat sama lo.”

Aeloria membuka mulut untuk menjawab. Ia sebenarnya ingin menolak dengan baik, tetapi belum sempat satu kata pun keluar, sebuah suara terdengar dari belakangnya.

“Dia udah punya pacar.”

Aeloria langsung mengenali suara itu, ia menoleh dan mendapati Alaric berjalan mendekat dari ujung koridor. Freyana dan Vania yang baru keluar dari kelas ikut berhenti beberapa langkah di belakang Aeloria, lalu saling pandang sebelum memilih diam.

Cowok di depan Aeloria terlihat bingung. “Siapa?”

Alaric berhenti tepat di samping Aeloria. “Gue.”

Aeloria refleks menatapnya. “Lo dari mana?”

“Dari kelas.”

“Terus kenapa tiba-tiba—”

“Gue nyari lo.”

Alaric mengalihkan pandangan kepada cowok tadi. Tatapannya tidak berubah, tetapi membuat senyum di wajah cowok tersebut perlahan menghilang.

“Dia udah bilang punya pacar,” kata Alaric.

Cowok itu menelan ludah. “Tapi gue nggak pernah lihat mereka bareng.”

“Sekarang lo lihat.”

Aeloria menghela napas. “Alaric, nggak perlu—”

Cowok itu masih belum menyerah. “Kalau emang pacar lo, gue cuma mau dengar langsung dari Aeloria.”

Aeloria membeku. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan dilempar kepadanya, apalagi saat semakin banyak siswa mulai memperhatikan mereka.

Ia menatap cowok tersebut, lalu sekilas melirik Alaric. Ada dorongan untuk mengatakan semuanya hanya kebohongan, tetapi suara yang keluar justru berbeda.

“Gue... sama Alaric.”

Cowok itu mengangguk pelan, meski wajahnya jelas kecewa. “Oke. Gue ngerti.”

Setelah cowok itu pergi, Aeloria langsung mengembuskan napas lega. Namun rasa lega itu tidak bertahan lama karena Alaric masih berdiri di sampingnya.

“Kenapa lo ikut campur lagi?”

“Karena dia nembak lo.”

“Terus?”

“Gue nggak suka.”

Aeloria mengernyit. “Lo nggak suka apanya?”

“Dia.”

Jawaban itu membuat Aeloria terdiam. Ia memandang Alaric beberapa detik, mencoba mencari tanda-tanda kalau cowok itu sedang bercanda, tetapi ekspresinya terlalu tenang.

“Lo tuh aneh.”

“Gue tahu.”

“Gue bisa nolak sendiri.”

“Gue juga tahu.”

“Terus kenapa lo masih ikut campur?”

Alaric menundukkan wajah sedikit agar sejajar dengan pandangan Aeloria. “Karena gue nggak mau ada cowok lain yang ganggu lo.”

Aeloria merasakan ujung telinganya mulai panas. Ia buru-buru mengalihkan pandangan ke arah lain.

“Lebay.”

Alaric terkekeh kecil. “Terserah.”

Ia kemudian mengambil tas Aeloria dari bahunya sebelum gadis itu sempat mencegah. Aeloria langsung menarik kembali tas tersebut.

“Gue bisa bawa sendiri.”

“Gue tahu.”

“Jangan bilang ‘gue tahu’ terus.”

Alaric justru tersenyum. “Ya udah. Sini.”

Aeloria mempertahankan tasnya, sementara Alaric tidak memaksa. Mereka akhirnya berjalan berdampingan menuju tangga, dengan Freyana dan Vania mengikuti dari belakang sambil menahan ekspresi geli.

Begitu sampai di lantai bawah, Aeloria berhenti. “Lo beneran mau nganterin gue pulang?”

“Kan udah bilang.”

“Gue bisa pulang sendiri.”

“Gue tahu.”

Aeloria menutup mata sebentar. “Alaric!”

Alaric tertawa kecil sebelum berjalan lebih dulu. “Ayo.”

Aeloria berdiri beberapa detik di tempat, lalu mengikuti dengan langkah malas. Entah kenapa, semakin lama Alaric menjalankan peran sebagai pacar palsu, semakin sulit baginya untuk membedakan mana yang sekadar permainan dan mana yang benar-benar serius.

Saat mereka melewati gerbang sekolah, beberapa siswa kembali melirik. Aeloria sudah bersiap mengabaikannya ketika Alaric tiba-tiba berhenti dan menoleh kepadanya.

“Ael.”

“Hm?”

Alaric memasukkan kedua tangannya ke saku celana, lalu berkata santai, “Mulai sekarang, kalau ada cowok yang nanya, bilang aja lo punya gue.”

Aeloria menatapnya tidak percaya. “Apa?”

Alaric kembali berjalan seolah kalimat itu bukan sesuatu yang aneh. “Biar nggak ada yang salah paham.”

Aeloria mengejar langkahnya. “Lo sadar nggak kalau kalimat lo barusan kedengerannya kayak—”

“Kayak apa?”

Aeloria berhenti, Alaric ikut berhenti dan menoleh. Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap di tengah keramaian depan sekolah.

Aeloria akhirnya menggeleng cepat. “Nggak ada.”

Alaric mengangkat alis, lalu berjalan lagi, Aeloria mengikuti dari belakang sambil menggigit bibir bawahnya. Kalimat sederhana itu entah kenapa terus berputar di kepalanya, bahkan setelah mereka meninggalkan gerbang sekolah.

Untuk pertama kalinya, Aeloria berharap Alaric tidak terlalu sering mengucapkan kalimat seperti itu. Bukan karena ia membencinya, tetapi karena setiap kali mendengarnya, jantung Aeloria selalu berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjebak Cinta Ketua Geng   Part 105

    Aeloria baru saja duduk di bangkunya ketika Freyana menyodorkan sebuah kotak kecil ke hadapannya. Gadis itu mengernyit, melirik kotak tersebut, lalu menatap sahabatnya dengan curiga. “Apaan ini?” “Buka aja.” “Kalau isinya cicak, gue masukin ke tas elo.” “Ya ampun, Ael! Mana mungkin gue ngasih elo cicak?” “Elo pernah masukin permen karet ke rambut gue waktu kelas sepuluh. Jadi, jangan tanya kenapa gue nggak percaya sama elo.” Vania yang sedang merapikan buku langsung tertawa. Freyana mendengus kesal, lalu mendorong kotak itu lebih dekat. Dengan ekspresi seolah sedang melakukan pemeriksaan barang bukti, Aeloria membuka tutupnya dan menemukan beberapa penjepit buku berbentuk bunga kecil. “Lucu, kan?” ujar Freyana. “Gue lihat kemarin, terus kepikiran elo.” Aeloria mengambil salah satunya dan memeriksa bagian belakangnya. “Lumayan. Tapi kenapa bunganya warna kuning? Gue nggak terlalu suka kuning.” “BALIKIN!” Aeloria buru-buru menutup kotak itu dan menariknya menjauh. “Elo sendiri

  • Terjebak Cinta Ketua Geng   Part 104

    Aeloria baru saja tiba di sekolah ketika Freyana menyodorkan setumpuk kertas ke hadapannya. Gadis itu bahkan belum sempat meletakkan tas, tetapi sudah disambut tugas tambahan yang membuat dahinya langsung berkerut. “Apaan lagi, Frey?” “Daftar pembagian tugas buat acara kelas. Ketua kelas minta kita bantu beresin sebelum istirahat kedua.” Aeloria mengambil kertas itu, membaca beberapa baris, lalu mengangkat wajah dengan ekspresi tidak percaya. “Kenapa nama gue ada di bagian dekorasi, konsumsi, sama perlengkapan? Gue ini murid atau pegawai serabutan?” Vania yang sedang mengeluarkan buku dari tasnya buru-buru menahan tawa. “Katanya elo paling bisa diandalkan.” “Siapa yang bilang? Sini, suruh tanggung jawab di depan gue!” Freyana menarik kursi, lalu duduk sambil mengabaikan tatapan tajam sahabatnya. “Udah, Ael. Kita bagi tugas lagi nanti. Elo nggak harus ngerjain semuanya sendiri.” “Bagus. Karena kalau ada yang berani nyuruh gue mengangkat meja sendirian, gue angkat orangnya sekali

  • Terjebak Cinta Ketua Geng   Part 103

    Aeloria sudah memutuskan satu hal sejak pagi: hari ini dia ingin pulang tanpa mendengar satu pun panggilan “Sayang” dari mulut Alaric. Keputusan itu terdengar sederhana sampai cowok tersebut muncul di depan kelasnya saat bel pulang berbunyi, bersandar di dinding dengan wajah santai yang langsung membuat emosinya naik. “Akhirnya keluar juga. Ayo, gue anter pulang.” Aeloria memasukkan buku terakhir ke dalam tas, lalu meliriknya dari ujung mata. “Elo pikir gue nggak punya kaki?” “Punya. Dua, malah.” “Kalau tahu, minggir. Gue bisa jalan sendiri.” Alaric menahan tawa ketika Aeloria melewatinya begitu saja. Dia akhirnya mengikuti dari belakang, sementara Freyana dan Vania yang berjalan di samping Aeloria saling bertukar pandang. Keduanya sudah terbiasa melihat pasangan itu berdebat untuk hal-hal sepele, tetapi tetap saja tingkah mereka selalu berhasil menjadi hiburan gratis. “Gue heran, deh,” ujar Freyana. “Kalian tuh kalau ketemu selalu ribut. Nggak capek apa?” “Gue capek,” jawab Ae

  • Terjebak Cinta Ketua Geng   Part 102

    Aeloria baru saja keluar dari kelas ketika Freyana tiba-tiba menarik lengannya menuju tangga. Gadis itu langsung mengernyit, lalu menatap tangan Freyana yang masih mencengkeram pergelangannya seolah-olah temannya sedang berusaha menyeret tahanan kabur. “Apaan, sih? Gue bisa jalan sendiri!” “Bisa, tapi kalau nggak gue tarik, elo bakal sibuk baca novel sampai kantin tutup.” “Terus? Kantin juga nggak bakal pindah ke luar negeri.” Vania yang berjalan di belakang mereka langsung terkekeh. “Gue heran, ya. Alaric bisa tahan pacaran sama elo setiap hari.” Aeloria berhenti mendadak sampai Freyana hampir menabrak punggungnya. “Mau gue kasih tahu rahasianya?” “Apa?” tanya Vania penasaran. “Karena dia belum sadar kalau pacarnya punya potensi membahayakan keselamatan orang lain.” Freyana tertawa keras, sementara Vania menggeleng sambil melanjutkan langkah. Aeloria mendengus puas, lalu kembali berjalan dengan dagu terangkat. Setidaknya, pagi ini dia masih bisa mengancam orang tanpa harus be

  • Terjebak Cinta Ketua Geng   Part 101

    Pagi itu, Aeloria baru saja duduk di bangkunya ketika Freyana meletakkan sekotak roti di atas meja. Vania yang duduk di sampingnya langsung melirik gantungan kunci berbentuk bulan sabit yang tergantung di tas Alaric, yang kebetulan sedang menunggu Aeloria di depan kelas. “Gue baru sadar, ya. Alaric sekarang bawa gantungan kunci lucu begitu,” celetuk Vania sambil menahan senyum. “Biasanya barang-barang dia serem semua. Ini kayak aksesori punya cewek.” Aeloria menutup bukunya dengan keras. “Terus masalah buat elo apa?” “Lah, gue cuma ngomong.” “Ya, ngomong yang ada manfaatnya.” Freyana terkekeh, sementara Vania mengangkat kedua tangan tanda menyerah. Aeloria kembali membuka bukunya, berusaha terlihat tidak peduli meskipun sudut bibirnya hampir terangkat saat melihat gantungan bulan sabit itu masih terpasang di tas Alaric. Belum sempat ia membaca satu halaman penuh, bayangan seseorang muncul di depan pintu kelas. Alaric berdiri sambil menyandarkan bahu ke kusen, kemudian mengangkat

  • Terjebak Cinta Ketua Geng   Part 100

    Aeloria berdiri di depan gerbang sekolah sambil berkali-kali melirik jam tangannya. Hari ini ia sengaja datang lebih awal karena punya rencana setelah pulang sekolah, tetapi ada satu hal yang lebih penting: memastikan Alaric tidak terlambat menjemputnya lagi. Gadis itu merapikan tali tasnya, lalu mengembuskan napas kesal ketika melihat beberapa siswa sudah berjalan melewatinya. “Kalau dia telat lagi, gue sumpahin kunci mobilnya hilang,” gumamnya. “Nyumpahin siapa, Sayang?” Aeloria langsung menoleh. Alaric berdiri beberapa langkah darinya dengan dua gelas minuman di tangan, sementara senyum jahil sudah menghiasi wajahnya. Gadis itu memeriksa jam tangannya, lalu kembali menatap Alaric dengan ekspresi curiga. “Elo datang tepat waktu?” Alaric mengangkat pergelangan tangannya. “Lima menit lebih awal, malah.” Aeloria menyipitkan mata. “Tumben. Elo habis kesambet apa?” “Gue cuma nggak mau ditinggal pacar sendiri.” “Bagus. Berarti otak elo masih bisa dipakai.” Alaric menyerahkan sala

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status