LOGINAeloria Valeska hanya ingin menjalani masa sekolahnya dengan tenang. Namun, karena terlalu sering didekati cowok, ia nekat berbohong bahwa dirinya sudah memiliki pacar. Masalahnya, nama yang Aeloria gunakan bukan nama sembarangan. Alaric Zieroun—ketua Black Vortex, cowok paling ditakuti di sekolah. Bukannya marah setelah mengetahui kebohongan itu, Alaric justru memutuskan untuk memainkan peran sebagai pacar Aeloria. Awalnya hanya pura-pura. Namun, ketika Alaric mulai terlalu serius menjalankan perannya, Aeloria justru terjebak dalam hubungan yang seharusnya tidak pernah ada. Dan yang paling berbahaya adalah ketika pura-pura mulai terasa nyata.
View MoreBel masuk berbunyi nyaring di seluruh gedung SMA Negeri Garuda, menandakan jam pelajaran akan segera dimulai. Aeloria Valeska baru saja menarik kursinya ketika seorang cowok berhenti di samping mejanya. Tangannya yang hendak membuka buku pun terpaksa berhenti.
“Ael.” Aeloria mendongak dan mendapati cowok itu sedang menyodorkan sebuah cokelat kecil yang dibungkus rapi. Ia menatap benda itu sebentar sebelum mengalihkan pandangan ke wajah cowok tersebut. “Buat lo,” katanya sambil tersenyum. “Gue nggak suka cokelat.” “Terus gue kasih yang lain.” “Gue juga nggak suka bunga.” “Kalau makanan?” “Gue bisa beli sendiri.” Cowok itu terkekeh, bukannya menyerah. Ia malah menarik kursi kosong di depan meja Aeloria dan duduk santai, seolah penolakan barusan sama sekali tidak berarti. Aeloria hanya memandangnya datar sambil mengetuk-ngetukkan ujung pulpen ke permukaan meja. “Kalau gitu gue temenin lo aja.” Aeloria mengembuskan napas panjang. Ia sudah bisa menebak ke mana arah percakapan ini, dan jujur saja, kepalanya mulai terasa penuh hanya dengan membayangkannya. “Lo masih mau duduk di situ?” tanyanya. “Iya.” “Kenapa?” “Karena gue suka sama lo.” Aeloria menunjuk kursi yang sedang diduduki cowok itu. “Gue nggak suka sama lo.” “Belum.” “Sekarang juga nggak.” Cowok itu malah tertawa kecil. “Galak banget.” “Terus kenapa?” “Nggak apa-apa. Malah makin suka.” Aeloria memutar bola mata sebelum kembali membuka bukunya. Ia sengaja mengabaikan cowok itu dan mulai membaca halaman pertama, berharap isyarat tersebut cukup jelas untuk membuatnya pergi. Beberapa detik kemudian, kursi di depannya bergeser dan suara langkah kaki terdengar menjauh. “Gue pergi dulu.” Aeloria tidak mengangkat kepala. “Bagus.” “Tapi gue nggak bakal nyerah.” Barulah Aeloria mendongak. Cowok itu sudah berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana, masih memasang senyum yang sama. “Silakan,” balas Aeloria santai. “Gue juga nggak bakal berubah pikiran.” Cowok itu akhirnya pergi. Begitu sosoknya menghilang di balik pintu kelas, Aeloria menjatuhkan tubuhnya ke sandaran kursi sambil mengusap wajah dengan kedua tangan. Ia bahkan belum sempat menikmati suasana pagi, tetapi sudah harus menghadapi satu orang yang datang dengan niat mendekatinya. Dan itu bukan kejadian pertama. Rambut hitam panjang yang tergerai melewati bahunya sering membuat beberapa kepala menoleh ketika Aeloria berjalan melewati koridor. Wajahnya yang manis, kulit cerah, dan sorot mata yang bisa berubah tajam ketika sedang kesal membuatnya cukup mudah dikenali di antara ratusan siswa SMA Negeri Garuda. Bahkan dengan seragam yang sama seperti siswi lainnya, Aeloria tetap sering menjadi bahan pembicaraan. Sayangnya, perhatian seperti itu bukan sesuatu yang ia cari. “Ael, lo sadar nggak sih?” Freyana Jasmine tiba-tiba menarik kursi di sampingnya. Gadis itu menopang dagu dengan satu tangan sambil menahan tawa, sedangkan Vania Azalea ikut mendekat dari meja sebelah. “Apaan?” “Setiap hari ada aja yang nyamperin lo.” Aeloria melirik pintu kelas yang tadi dilewati cowok tersebut. “Gue sadar.” Vania tertawa kecil. “Harusnya lo bersyukur. Banyak yang suka sama lo.” Aeloria langsung menatapnya. “Bersyukur apanya?” “Ya, berarti lo laku.” “Gue lebih suka nggak laku.” Freyana tertawa sampai bahunya berguncang. “Aneh banget.” “Gue cuma mau sekolah dengan tenang.” Vania mengangkat alis. “Terus kenapa nggak punya pacar aja?” “Pacar?” Aeloria mengernyit. “Buat apa? Biar yang ngejar gue pindah status jadi mantan?” Freyana dan Vania saling pandang sebelum tertawa bersamaan. Aeloria hanya menghela napas dan memasukkan bukunya ke dalam tas ketika bel istirahat berbunyi. Sayangnya, ketenangan yang ia cari kembali tidak bertahan lama. Kantin SMA Negeri Garuda sudah dipenuhi siswa ketika Aeloria, Freyana, dan Vania duduk di salah satu meja. Aeloria baru mengambil sendok ketika seorang cowok dari kelas sebelah datang membawa minuman dingin dan berhenti tepat di hadapannya. “Ini buat lo, Ael.” Aeloria menatap gelas tersebut, lalu menggesernya kembali menggunakan dua jari. “Gue nggak mau.” “Coba dulu.” “Gue bilang nggak mau.” Cowok itu menghela napas. “Kenapa sih susah banget dideketin?” “Karena gue nggak tertarik.” “Lo punya pacar?” Tangan Aeloria yang sedang memegang sendok berhenti. Freyana ikut menurunkan gelasnya, sementara Vania perlahan menoleh dengan tatapan penasaran. Cowok itu kembali bertanya, “Lo punya pacar?” Aeloria sebenarnya bisa saja menjawab tidak seperti biasanya. Namun, setelah mengingat semua cowok yang sudah berkali-kali mendekatinya, ia merasa jawaban itu hanya akan membuat masalah baru. Kalau bilang tidak, cowok ini mungkin akan terus mengejar; kalau bilang iya, mungkin semuanya bisa selesai hari ini. “Punya.” Jawaban itu keluar begitu saja. Freyana langsung membelalakkan mata. “Hah?” Vania hampir tersedak minumannya sendiri. “Lo punya pacar?” Aeloria mengabaikan keduanya dan tetap menatap cowok di depannya. “Kenapa?” Cowok itu masih terlihat tidak percaya. “Serius?” “Iya.” “Siapa?” Aeloria mendadak kehilangan jawaban. Matanya bergerak ke sekitar kantin, mencari nama yang sekiranya cukup ampuh untuk membuat cowok ini mundur dan tidak pernah bertanya lagi. Lalu sebuah nama muncul begitu saja di kepalanya. “Alaric.” Cowok itu mengernyit. “Alaric siapa?” Aeloria menarik napas pendek sebelum menyebut nama lengkapnya. “Alaric Zieroun.” Gelas di tangan Vania nyaris terlepas. Freyana menatap Aeloria dengan mata membesar, sedangkan cowok di hadapan mereka perlahan menghilangkan senyum dari wajahnya. “Alaric Zieroun?” Aeloria mengangguk mantap. “Iya.” “Ketua BLACK VORTEX?” “Iya.” Cowok itu terdiam beberapa detik. Tatapannya berpindah dari Aeloria ke minuman yang masih berada di atas meja, kemudian kembali menatap Aeloria. “Oke.” Aeloria mengangkat alis. “Oke?” “Gue pergi dulu.” Cowok itu langsung mengambil minumannya dan berbalik. Kali ini tidak ada rayuan, tidak ada janji akan terus mengejar, bahkan tidak ada usaha untuk meminta kesempatan kedua. Aeloria menatap punggungnya yang semakin jauh, lalu perlahan menyandarkan tubuh ke kursi. Sudut bibirnya terangkat tanpa sadar. Berhasil. “Gila, Ael.” Freyana masih menatapnya seperti tidak percaya. “Lo barusan ngaku pacaran sama Alaric Zieroun.” Aeloria mengambil minumannya dengan santai. “Terus?” “Lo sadar nggak siapa yang namanya baru aja lo pakai?” “Ketua BLACK VORTEX.” Vania menggeleng pelan. “Dan lo nggak takut?” Aeloria memasukkan sedotan ke dalam gelas, lalu mengaduk es batu dengan santai. “Kenapa harus takut? Dia juga nggak bakal tahu.” Freyana menghela napas panjang. “Semoga aja.” Aeloria tersenyum puas sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. Untuk pertama kalinya, ia berhasil membuat seseorang mundur tanpa harus menolak berkali-kali. Kalau cara ini berhasil, mungkin mulai sekarang ia benar-benar bisa menjalani hari-harinya tanpa gangguan.Keesokan paginya, Aeloria sengaja datang lebih awal ke sekolah. Ia berharap bisa masuk kelas sebelum Alaric muncul dan menjalani beberapa jam tanpa harus mendengar kalimat seperti “pacar gue” atau “dia punya gue”. Namun, baru saja ia meletakkan tas di atas meja, sebuah suara dari ambang pintu membuat tangannya berhenti. “Ael.” Aeloria menoleh dan langsung menghela napas. Alaric berdiri di depan kelasnya dengan satu tangan masuk ke saku celana, sementara beberapa siswa di dalam kelas mulai memperhatikan kedatangan cowok itu. Aeloria bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri sebelum teman-teman sekelasnya mulai membuat kesimpulan sendiri. “Ngapain lo ke sini?” “Ngasih ini.” Alaric menyerahkan sebuah kotak kecil berisi roti dan susu. Aeloria menatap benda itu beberapa detik sebelum menerimanya dengan wajah bingung. “Gue bisa beli sendiri.” “Gue tahu.” “Terus kenapa kasih gue?” “Karena kemarin lo belum sarapan.” Aeloria terdiam. Ia memang hampir tidak sempat sarapan pagi ta
Sepanjang pelajaran terakhir, Aeloria sama sekali tidak bisa fokus. Bukan karena materi yang diberikan guru terlalu sulit, melainkan karena satu kalimat Alaric terus terngiang di kepalanya: nanti pulang tunggu gue. Ia bahkan sudah tiga kali membuka buku yang sama, tetapi tidak satu pun halaman berhasil masuk ke kepalanya.Begitu bel pulang berbunyi, Aeloria langsung memasukkan buku ke dalam tas. Ia sengaja bergerak cepat supaya bisa keluar sebelum Alaric datang, tetapi Freyana sudah lebih dulu menarik lengannya.“Lo mau kabur?”“Bukan kabur. Gue cuma mau pulang.”“Bukannya tadi ada yang nyuruh nunggu?”Aeloria melirik pintu kelas. “Gue nggak peduli.”Vania yang sedang merapikan buku ikut menoleh. “Kalau gue jadi lo, gue nggak akan bikin ketua Black Vortex nunggu.”“Justru karena dia ketua Black Vortex, gue harus menjauh.”Aeloria menarik tasnya dan berjalan keluar. Namun langkahnya langsung melambat ketika melihat beberapa siswa berkumpul di ujung koridor. Ia mengenali salah satu waja
Sejak kejadian di depan kelas kemarin, Aeloria berharap Alaric akan kembali sibuk dengan urusannya sendiri. Mereka bahkan berbeda kelas, jadi seharusnya tidak sulit untuk menghindari cowok itu sepanjang hari. Sayangnya, harapan Aeloria ternyata terlalu sederhana untuk menghadapi seseorang seperti Alaric Zieroun.Pagi itu, baru saja Aeloria keluar dari kelas bersama Freyana dan Vania, langkahnya langsung terhenti ketika melihat seseorang berdiri di ujung koridor. Alaric bersandar di dekat jendela sambil memainkan ponselnya, ditemani beberapa anggota BLACK VORTEX yang sedang mengobrol santai. Begitu pandangan mereka bertemu, Alaric memasukkan ponselnya ke saku dan berjalan mendekat.Aeloria langsung memelankan langkah. “Kenapa dia ada di sini?”Freyana melirik ke depan, lalu menyenggol lengan Aeloria. “Kayaknya nungguin lo.”“Ngapain?”“Mana gue tahu. Tanya aja.”Aeloria menggeleng cepat dan mempercepat langkah. Namun baru beberapa meter, suara Alaric terdengar dari belakang.“Ael.”Ael
Sejak meninggalkan koridor tadi, Aeloria belum berhenti mengomel dalam hati. Langkahnya cepat menuju kelas, sementara satu tangannya sibuk memasukkan ponsel ke dalam tas dengan gerakan kasar. Begitu sampai di bangku, ia langsung menjatuhkan tas ke atas meja dan mengembuskan napas panjang.Freyana yang baru saja duduk menoleh. “Kenapa muka lo kayak habis dikejar debt collector?”Aeloria langsung menarik kursi. “Gue baru ketemu Alaric.”Vania yang sedang membuka bungkus makanan berhenti. “Alaric?”“Alaric Zieroun.”Freyana menatap Vania, lalu kembali menatap Aeloria. “Yang ketua BLACK VORTEX itu?”Aeloria mengangguk cepat. “Iya. Dan gue baru tahu setelah gue ngobrol sama dia.”Vania perlahan meletakkan makanannya. “Lo ngobrol sama Alaric?”“Bukan cuma ngobrol.” Aeloria menutup wajah dengan kedua tangan. “Gue nabrak dia, numpahin minuman ke sepatunya, bilang dia sombong, terus gue ancam pakai nama dia sendiri.”Freyana terdiam, Vania juga terdiam, karena menurut mereka ini cerita serius,
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.