Home / Young Adult / Terjebak Cinta Ketua Geng / Part 04 — Pacar Palsu 24 Jam

Share

Part 04 — Pacar Palsu 24 Jam

Author: Senia Dea
last update publish date: 2026-08-27 18:57:47

Sejak kejadian di depan kelas kemarin, Aeloria berharap Alaric akan kembali sibuk dengan urusannya sendiri. Mereka bahkan berbeda kelas, jadi seharusnya tidak sulit untuk menghindari cowok itu sepanjang hari. Sayangnya, harapan Aeloria ternyata terlalu sederhana untuk menghadapi seseorang seperti Alaric Zieroun.

Pagi itu, baru saja Aeloria keluar dari kelas bersama Freyana dan Vania, langkahnya langsung terhenti ketika melihat seseorang berdiri di ujung koridor. Alaric bersandar di dekat jendela sambil memainkan ponselnya, ditemani beberapa anggota BLACK VORTEX yang sedang mengobrol santai. Begitu pandangan mereka bertemu, Alaric memasukkan ponselnya ke saku dan berjalan mendekat.

Aeloria langsung memelankan langkah. “Kenapa dia ada di sini?”

Freyana melirik ke depan, lalu menyenggol lengan Aeloria. “Kayaknya nungguin lo.”

“Ngapain?”

“Mana gue tahu. Tanya aja.”

Aeloria menggeleng cepat dan mempercepat langkah. Namun baru beberapa meter, suara Alaric terdengar dari belakang.

“Ael.”

Aeloria berhenti sambil memejamkan mata sebentar. Ia berbalik dengan wajah yang sudah menunjukkan rasa tidak sabar, sementara Freyana dan Vania malah mundur beberapa langkah, sengaja memberikan ruang.

“Apa?” tanya Aeloria.

“Belum sarapan?”

Aeloria mengerutkan kening. “Apa hubungannya sama lo?”

Alaric mengangkat sebuah roti yang sejak tadi berada di tangannya. “Makan.”

Aeloria menatap roti tersebut, lalu menatap wajah Alaric. “Gue bisa beli sendiri.”

“Gue tahu.”

“Terus kenapa kasih gue?”

“Karena gue mau.”

Jawaban singkat itu membuat Aeloria kehabisan kata-kata. Ia akhirnya mengambil roti tersebut hanya supaya Alaric berhenti berdiri di depannya, lalu segera memasukkannya ke dalam tas.

“Nah. Udah, kan?” katanya.

Alaric mengangguk. “Udah.”

“Sekarang lo pergi.”

“Gue kelas di sebelah.”

“Terus?”

“Berarti nanti ketemu lagi.”

Aeloria langsung memutar mata dan meninggalkannya. Dari belakang, ia masih bisa mendengar Freyana menahan tawa.

“Kayaknya lo punya pacar beneran, deh.”

“Jangan ngomong begitu.”

“Kenapa?”

“Karena dia bukan pacar gue.”

Vania menyelipkan kedua tangannya ke saku rok. “Tapi dia kelihatannya nggak tahu aturan itu.”

Aeloria tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tali tas lebih erat sambil terus berjalan menuju kelas.

---

Saat jam istirahat, Aeloria baru saja membuka makanan ketika sebuah bayangan berhenti di samping mejanya. Ia bahkan tidak perlu mendongak untuk mengetahui siapa orangnya.

“Lo lagi?” keluh Aeloria.

Alaric menarik kursi kosong di depan meja Aeloria, lalu duduk. “Gue lagi.”

Freyana langsung menahan senyum. “Gue ke kantin dulu, ya.”

“Gue ikut,” sahut Vania cepat.

Aeloria menatap kedua sahabatnya dengan tatapan tidak percaya. “Kalian ninggalin gue?”

“Bukan ninggalin. Memberi ruang untuk pasangan muda.”

“Freyana!”

Kedua gadis itu pergi sambil tertawa, meninggalkan Aeloria yang sekarang harus berhadapan langsung dengan Alaric. Ia membuka bekalnya lagi dan berusaha mengabaikan keberadaan cowok itu.

Namun Alaric justru memperhatikan buku yang terbuka di samping bekalnya. “Tugas sejarah udah?”

“Belum selesai.”

“Mana?”

Aeloria langsung menutup bukunya. “Buat apa?”

“Lihat.”

“Lo mau nyontek?”

“Gue mau bantu.”

Aeloria mendengus, tetapi akhirnya menyerahkan buku tersebut. Alaric membacanya beberapa saat, lalu menunjuk satu bagian yang kosong.

“Yang ini jawabannya bukan dari halaman sebelumnya. Cari di bab enam.”

Aeloria mengambil bukunya kembali dan membuka halaman yang dimaksud. Beberapa detik kemudian, ia menemukan jawabannya.

“Bener.”

Alaric hanya mengangkat bahu. “Makanya jangan keras kepala.”

Aeloria mendongak. “Lo yang jangan sok tahu.”

“Gue cuma bantu pacar gue.”

Aeloria langsung menutup buku. “Berhenti bilang pacar.”

“Kenapa?”

“Gue nggak terbiasa.”

Alaric terdiam sebentar, lalu bersandar di kursinya. “Ya udah. Biasain.”

Aeloria menatapnya dengan mulut sedikit terbuka. Ia ingin membalas, tetapi suara langkah beberapa siswa dari arah pintu membuat perhatiannya teralihkan. Seorang cowok dari kelas lain berhenti di dekat meja mereka dan menatap Aeloria.

“Aeloria, nanti pulang bareng, yuk?”

Aeloria belum sempat menjawab ketika Alaric sudah lebih dulu menoleh.

“Dia nggak bisa.”

Cowok itu mengerutkan kening. “Kenapa?”

“Karena pulangnya sama gue.”

Aeloria spontan menatap Alaric. “Gue belum bilang mau pulang sama lo.”

Alaric justru menatapnya santai. “Sekarang gue bilang.”

Cowok tadi terlihat ragu sebelum akhirnya mengangguk dan pergi. Aeloria mengikuti kepergiannya dengan pandangan, lalu kembali menatap Alaric.

“Lo sadar nggak sih kalau lo suka ikut campur?”

“Dia ngajak lo pulang.”

“Terus?”

“Gue nggak suka.”

Aeloria terdiam. Entah kenapa, dua kata sederhana itu membuat dadanya terasa aneh. Ia buru-buru menunduk dan pura-pura sibuk merapikan bekal.

“Gue nggak minta dijagain.”

“Gue tahu.”

“Terus kenapa lo lakuin?”

Alaric tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri, memasukkan kedua tangannya ke saku celana, kemudian menatap Aeloria beberapa detik.

“Karena sekarang gue pacar lo.”

Aeloria mengangkat wajah. “Palsu.”

“Palsu juga tetap pacar.”

“Logika dari mana?”

“Logika gue.”

Aeloria menghela napas panjang. Rasanya percuma berdebat dengan orang yang selalu punya jawaban untuk segala hal.

Bel masuk akhirnya berbunyi. Alaric berdiri dan menggeser kursinya kembali ke tempat semula.

“Gue balik kelas.”

“Bagus.”

“Nanti pulang tunggu gue.”

Aeloria langsung menoleh. “Hah?”

Alaric sudah berjalan menjauh sebelum menjawab, “Jangan pulang dulu.”

Aeloria menatap punggungnya dengan kesal. Tangannya mengepal di atas meja, sementara dari kejauhan Freyana dan Vania baru kembali ke kelas.

“Dia nyuruh lo nunggu?” tanya Freyana.

Aeloria mengangguk dengan wajah masam. “Katanya nanti pulang sama dia.”

Vania langsung tersenyum lebar. “Wah, makin serius.”

“Justru itu masalahnya.”

Aeloria menyandarkan tubuh ke kursi dan mengusap wajahnya pelan. Kemarin ia cuma ingin menggunakan nama Alaric supaya para cowok berhenti mendekatinya, tetapi sekarang pemilik nama itu malah datang sendiri, membawakan makanan, membantu tugas, mengusir cowok lain, bahkan mengatur kepulangannya.

Dan yang paling menyebalkan, Aeloria mulai tidak tahu harus menganggap semua itu sebagai candaan atau sesuatu yang benar-benar serius.

Karena kalau Alaric terus seperti ini, kebohongan kecil yang awalnya ia buat untuk menyelamatkan ketenangan hidupnya justru bisa berubah menjadi masalah yang jauh lebih besar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak Cinta Ketua Geng   Part 104

    Aeloria baru saja tiba di sekolah ketika Freyana menyodorkan setumpuk kertas ke hadapannya. Gadis itu bahkan belum sempat meletakkan tas, tetapi sudah disambut tugas tambahan yang membuat dahinya langsung berkerut. “Apaan lagi, Frey?” “Daftar pembagian tugas buat acara kelas. Ketua kelas minta kita bantu beresin sebelum istirahat kedua.” Aeloria mengambil kertas itu, membaca beberapa baris, lalu mengangkat wajah dengan ekspresi tidak percaya. “Kenapa nama gue ada di bagian dekorasi, konsumsi, sama perlengkapan? Gue ini murid atau pegawai serabutan?” Vania yang sedang mengeluarkan buku dari tasnya buru-buru menahan tawa. “Katanya elo paling bisa diandalkan.” “Siapa yang bilang? Sini, suruh tanggung jawab di depan gue!” Freyana menarik kursi, lalu duduk sambil mengabaikan tatapan tajam sahabatnya. “Udah, Ael. Kita bagi tugas lagi nanti. Elo nggak harus ngerjain semuanya sendiri.” “Bagus. Karena kalau ada yang berani nyuruh gue mengangkat meja sendirian, gue angkat orangnya sekali

  • Terjebak Cinta Ketua Geng   Part 103

    Aeloria sudah memutuskan satu hal sejak pagi: hari ini dia ingin pulang tanpa mendengar satu pun panggilan “Sayang” dari mulut Alaric. Keputusan itu terdengar sederhana sampai cowok tersebut muncul di depan kelasnya saat bel pulang berbunyi, bersandar di dinding dengan wajah santai yang langsung membuat emosinya naik. “Akhirnya keluar juga. Ayo, gue anter pulang.” Aeloria memasukkan buku terakhir ke dalam tas, lalu meliriknya dari ujung mata. “Elo pikir gue nggak punya kaki?” “Punya. Dua, malah.” “Kalau tahu, minggir. Gue bisa jalan sendiri.” Alaric menahan tawa ketika Aeloria melewatinya begitu saja. Dia akhirnya mengikuti dari belakang, sementara Freyana dan Vania yang berjalan di samping Aeloria saling bertukar pandang. Keduanya sudah terbiasa melihat pasangan itu berdebat untuk hal-hal sepele, tetapi tetap saja tingkah mereka selalu berhasil menjadi hiburan gratis. “Gue heran, deh,” ujar Freyana. “Kalian tuh kalau ketemu selalu ribut. Nggak capek apa?” “Gue capek,” jawab Ae

  • Terjebak Cinta Ketua Geng   Part 102

    Aeloria baru saja keluar dari kelas ketika Freyana tiba-tiba menarik lengannya menuju tangga. Gadis itu langsung mengernyit, lalu menatap tangan Freyana yang masih mencengkeram pergelangannya seolah-olah temannya sedang berusaha menyeret tahanan kabur. “Apaan, sih? Gue bisa jalan sendiri!” “Bisa, tapi kalau nggak gue tarik, elo bakal sibuk baca novel sampai kantin tutup.” “Terus? Kantin juga nggak bakal pindah ke luar negeri.” Vania yang berjalan di belakang mereka langsung terkekeh. “Gue heran, ya. Alaric bisa tahan pacaran sama elo setiap hari.” Aeloria berhenti mendadak sampai Freyana hampir menabrak punggungnya. “Mau gue kasih tahu rahasianya?” “Apa?” tanya Vania penasaran. “Karena dia belum sadar kalau pacarnya punya potensi membahayakan keselamatan orang lain.” Freyana tertawa keras, sementara Vania menggeleng sambil melanjutkan langkah. Aeloria mendengus puas, lalu kembali berjalan dengan dagu terangkat. Setidaknya, pagi ini dia masih bisa mengancam orang tanpa harus be

  • Terjebak Cinta Ketua Geng   Part 101

    Pagi itu, Aeloria baru saja duduk di bangkunya ketika Freyana meletakkan sekotak roti di atas meja. Vania yang duduk di sampingnya langsung melirik gantungan kunci berbentuk bulan sabit yang tergantung di tas Alaric, yang kebetulan sedang menunggu Aeloria di depan kelas. “Gue baru sadar, ya. Alaric sekarang bawa gantungan kunci lucu begitu,” celetuk Vania sambil menahan senyum. “Biasanya barang-barang dia serem semua. Ini kayak aksesori punya cewek.” Aeloria menutup bukunya dengan keras. “Terus masalah buat elo apa?” “Lah, gue cuma ngomong.” “Ya, ngomong yang ada manfaatnya.” Freyana terkekeh, sementara Vania mengangkat kedua tangan tanda menyerah. Aeloria kembali membuka bukunya, berusaha terlihat tidak peduli meskipun sudut bibirnya hampir terangkat saat melihat gantungan bulan sabit itu masih terpasang di tas Alaric. Belum sempat ia membaca satu halaman penuh, bayangan seseorang muncul di depan pintu kelas. Alaric berdiri sambil menyandarkan bahu ke kusen, kemudian mengangkat

  • Terjebak Cinta Ketua Geng   Part 100

    Aeloria berdiri di depan gerbang sekolah sambil berkali-kali melirik jam tangannya. Hari ini ia sengaja datang lebih awal karena punya rencana setelah pulang sekolah, tetapi ada satu hal yang lebih penting: memastikan Alaric tidak terlambat menjemputnya lagi. Gadis itu merapikan tali tasnya, lalu mengembuskan napas kesal ketika melihat beberapa siswa sudah berjalan melewatinya. “Kalau dia telat lagi, gue sumpahin kunci mobilnya hilang,” gumamnya. “Nyumpahin siapa, Sayang?” Aeloria langsung menoleh. Alaric berdiri beberapa langkah darinya dengan dua gelas minuman di tangan, sementara senyum jahil sudah menghiasi wajahnya. Gadis itu memeriksa jam tangannya, lalu kembali menatap Alaric dengan ekspresi curiga. “Elo datang tepat waktu?” Alaric mengangkat pergelangan tangannya. “Lima menit lebih awal, malah.” Aeloria menyipitkan mata. “Tumben. Elo habis kesambet apa?” “Gue cuma nggak mau ditinggal pacar sendiri.” “Bagus. Berarti otak elo masih bisa dipakai.” Alaric menyerahkan sala

  • Terjebak Cinta Ketua Geng   Part 99

    Aeloria menatap layar jam di dinding kelas dengan alis berkerut. Bel pulang sudah berbunyi sejak sepuluh menit lalu, tetapi Alaric belum juga muncul di depan kelas seperti yang dijanjikannya pagi tadi. Gadis itu memasukkan buku ke dalam tas dengan gerakan kasar, sementara Freyana dan Vania berdiri di dekat pintu sambil memperhatikannya. “Elo nggak pulang duluan?” tanya Vania. “Nunggu siapa lagi kalau bukan cowok nggak tahu waktu itu?” gerutu Aeloria. Freyana menyeringai. “Katanya kalau Alaric telat, elo bakal pulang naik ojek.” “Gue bisa berubah pikiran!” “Ya udah, pulang aja.” Aeloria menyambar tasnya, lalu berjalan keluar kelas. “Memangnya gue takut?” Namun, langkahnya melambat begitu tiba di koridor. Ia melirik ke arah tangga, berharap melihat sosok Alaric yang biasanya muncul dengan senyum menyebalkan dan sapaan manisnya. Tidak ada siapa-siapa selain beberapa siswa yang sedang bergegas menuju gerbang. Aeloria mengeluarkan ponselnya, kemudian memasukkannya kembali ke tas ta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status