Masuk"Jadi nama gue Lilian Emanuel?"
Mungkin jika ada orang yang melihatnya sekarang, Kath akan disangka gila karena berbicara dengan cermin. Tetapi untung saja, setelah dirinya bangun dari pingsan tidak ada satupun manusia yang berada di rumah. Mengenai dua orang pria yang Kath tebak sebagai Leo dan Sean, mereka telah pergi entah kemana, meninggalkan Kath di atas tempat tidur tanpa membantu sama sekali. Shit! Setidaknya mereka bisa menemaninya sampai dia bangun dan menjelaskan segalanya tanpa harus membuat Kath menerka-nerka hingga membuat kepalanya pusing ketulungan. Dasar tidak tau diri, makinya. Tapi mau bagaimana lagi, Leo dan Sean adalah tokoh favoritnya di novel secret dark. Walaupun sudah diberikan title sebagai kang nginep yang mau untungnya saja--- dalam artian hanya menikmati tubuh Lilian saja namun tetap saja Kath masih mengidolakan mereka. Akh, Kath sukses berdilema ria. Di satu sisi Kath ingin menikmati keindahan dua pria yang wajahnya lebih tampan dari semua pria yang Kath kenal. Tetapi di sisi lain, bukannya nanti Lilian akan dibunuh oleh mereka berdua, yang secara otomatis akan membuat Kath kembali menghadapi kematian kedua. Kath menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia harus bertahan hidup, dia tidak ingin dibunuh, dia ingin hidup sentosa, damai dan bahagia. Satu cara agar dia bisa mencapai keinginannya adalah... Sebisa mungkin Kath harus menjauhi dua tokoh pemeran utama pria. Baiklah, untuk menjauhi mereka Kath harus mengatur strategi. Latar dalam novel ini adalah Bali. Apa perlu dia pindah tempat agar Leo dan Sean tidak menemuinya lagi? Sekali lagi Kath menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dengan kuasa yang dimiliki mereka berdua, menemukan satu ekor semut diantara kumpulan gajah sangatlah mudah. Kath akan segera ditemukan dan akan kembali dibawa mereka untuk digiring bersamaan. Kath mengacak rambutnya kesal, Kalau dia belum bisa mengatur strategi, dia bisa mati lagi. Kath tidak ingin mati dengan cara mengenaskan yaitu dibunuh tanpa tau alasan di baliknya. Hanya karena balas dendam atas perlakuan keluarga Emanuel dahulu? Bahkan ketika semua itu terjadi, Lilian masih bocah yang kencing saja harus ada yang menemani. Tetapi kenapa mereka menargetkan Lilian yang notabenenya tidak punya salah sama sekali. "Nona Lilian, air mandinya sudah siap." Kath tersentak dan kaget sejadi-jadinya karena mendapati seorang wanita paruh baya sudah ada di belakangnya. Lah, saat Kath periksa seluruh rumah dia tidak menemukan keberadaan satupun orang di sini. Sekarang mengapa... "Kamu siapa?" Wanita paruh baya itu mengeryit seakan tidak mengerti dengan pertanyaan Kath, namun pada akhirnya wanita itu menjawab. "Saya Siya, pelayan pribadi anda." Anjim, jadi lo Siya, mata-mata berkedok pelayan yang dikirim oleh Leo dan Sean untuk mengawasi setiap gerak-gerik Lilian? Batin Kath. Kath ingat, di novel secret dark dijelaskan bahwa Siya diberikan oleh Leo dan Sean untuk membantu Lilian mengurus rumah. Namun, karena emang isi otak Leo dan Sean udah bejat dari sononya, setelah seminggu berkerja Siya malah ditugaskan untuk mengawasi pergerakan Lilian dan memberikan hasil pengawasannya kepada Leo dan Sean dalam waktu 24 jam tanpa sepengetahuan Lilian. Kalau begitu, bukankah tingkah mereka sudah hampir sama dengan stalker? Apa perlu Kath lapor polisi? "Darimana saja kamu?" Kath bertanya hanya karena penasaran, apalagi melihat bahwa dia sudah memeriksa seluruh rumah dan tidak mendapati keberadaan Siya. "Saya sedang menyirami tanaman di taman belakang rumah." Pantes. "Siya... Sebelum itu ada yang ingin gue--- maksudnya saya bicarakan." Kath menggaruk tengkuknya, dia benar-benar tidak terbiasa berbicara dengan orang yang dia anggap asing sekarang. "Saya akan mendengarkan." Kath menatap Siya dengan serius dan dengan satu tarikan nafas, Kath mengutarakan keinginannya. "Mulai hari ini kamu saya pecat." ---- Kath sudah berhasil melewati satu langkah untuk menjauhi bendera kematiannya. Ya walaupun dengan susah payah karena penolakan Siya yang kekeuh tidak ingin dipecat. Dengan memecat Siya maka pergerakannya tidak lagi diamati oleh Leo dan Sean, dengan kata lain Kath bisa bebas berbuat apapun, termasuk mengatur rencana untuk menghindari mereka. Minusnya hanya satu, Kath tidak lagi memiliki pengurus yang akan mengurus rumah Lilian. Tidak apa, dia sudah terbiasa bersih-bersih. Flatnya bahkan dia bersihkan sendiri sebulan sekali. Baiklah, jangan mengejeknya. Jujur sebenarnya Kath malas bersih-bersih. Sepertinya dia perlu mengerjakan satu orang untuk mengurus rumah ini dan pastinya harus bebas hubungan dari dua komplotan yang akan membunuhnya. Dan sebelum melakukan itu semua, Kath harus mengumpulkan energi dengan mengisi perutnya yang sudah berdisko sadari tadi. Kath keluar dari kamar dan berniat melangkah menuju ke arah dapur. Sesampainya di dapur, langsung saja dia membuka lemari pendingin, melihat makanan apa yang bisa dia makan langsung. Sebenarnya Kath bisa dikatakan jago masak, terlebih sudah bertahun-tahun lamanya Kath tinggal sendiri sehingga dia dipaksakan untuk dapat lebih mandiri. Namun sekarang, dia sedang terlalu malas untuk meracik makanan yang alhasil membuatnya hanya menikmati dua buah apel sebagai sarapan. Nanti siang dia berjanji akan memasak tetapi untuk saat ini biarkan tubuhnya bersantai terlebih dahulu. Kath duduk di tempat yang terlihat seperti bar yang letaknya menghadap ke dapur. Jika ada seseorang yang memasak pastinya dia bisa melihat dengan jelas dari sini. Saat sedang menikmati apelnya, Kath dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang berhasil membuka pintu rumah ini tanpa masalah sedikit pun--- mengingat rumah ini dibuat dengan keamanan yang cukup ketat. Sosok pria tampan yang memakai setelan jas formal menghampirinya dan duduk di sampingnya. Sembari cengengesan pria itu berkata, "Kakak udah baikan? Gue khawatir banget lho pas lihat kakak tiba-tiba pingsan." Kath tidak bisa berkata-kata, dia mematung diam di tempat, terpana melihat Sean--- prianya Lilian yang lebih muda tiga tahun di bawah Lilian. Pria yang berprofesi sebagai penyanyi ini memang punya pesona tersendiri. Jika Leo terlihat tegas dan sexy, Sean malah terlihat sexy dan menggemaskan. Dua-duanya memang sexy sih. Kalau tidak mana mungkin Lilian menjadikan mereka 'mainan' yang selalu menemani kesepiannya. Kath terlonjak kaget di kala Sean melepaskan jasnya, dasi kupu-kupu yang melingkar di leher Sean dan kancing atas kemejanya yang telah terbuka semakin menambah daya tarik hingga Kath tidak sengaja tersedak air ludahnya sendiri. Ini cowok benar-benar godaan terberat, batinnya. "Kak Lilian, lo gak apa?" tanya Sean kebingungan karena mendapati Kath dengan mulut menganga. Menyadari kekonyolannya, Kath langsung menutup mulut. Untung saja ilernya gak netes sama sekali. "Gu... gue, itu..." Kath malah gelagapan, matanya semakin tidak fokus. Pandangannya bergantian tertuju pada wajah tampan Sean dan juga dada Sean yang terpampang jelas akibat kancing kemeja pria itu yang entah karena sengaja dibiarkan terbuka begitu saja. Tadi pagi kayaknya Sean gak semempesona ini. Apa karena Kath yang terlalu shock saat mengetahui bahwa dirinya terjebak di dunia novel? Jadi dia tidak terlalu memperhatikan pesona Sean. Fix, Kath bisa gak sih pingsan lagi? Dia sudah tidak sanggup berhadapan dengan tokoh idolanya yang super tampan ini. Jika memang ada kamera tersembunyi Kath sudah terlebih dahulu melambaikan tangan tanda menyerah. Kath menggeleng kepalanya dengan cepat, dia berusaha memotivasi diri agar tidak lemah. Ingat, Sean yang menusuk Lilian dengan menggunakan pisau yang artinya Sean adalah musuh utamanya yang harus dihindari oleh Kath. Jangan tergoda pada bagian luarnya, asli dalamnya bangsad gak ketulungan, batin Kath. Dengan mengumpulkan keberanian Kath berucap, "Gue mau lo berhenti temui gue." Kath mengucapkan kalimat tersebut dalam satu tarikan nafas hingga membuatnya sukses ngos-ngosan. "Lo lagi gak mabuk?" "Gue?" Kath menunjuk dirinya sendiri, "Gue seratus persen sadar, dalam keadaan sehat tanpa sakit sedikitpun." Setelah Kath mengatakan hal tersebut, Sean malah menarik tengkuknya hingga jarak antara keduanya semakin dekat. "Bilang salah gue apa." "Lo gak salah apa-apa. Gue cuma mau hidup tenang tanpa ada satupun gangguan lagi." "Jadi lo mikir gue adalah gangguan?" Suara Sean tidak seriang tadi, yang Kath dengar sekarang hanyalah suara berat penuh intimidasi. Dengan takut Kath mengangguk. Mau Sean marah ataupun enggak Kath tidak peduli, yang terpenting nyawanya selamat di masa depan. "Kak, lo gak pernah kayak gini." Sean berbisik. Tangan pria itu turun dari tengkuk Kath menuju pinggang, kemudian perlahan berakhir di lekuk lutut Kath. Kath terlonjak ketika Sean menggendong dan membawanya ke arah sofa lalu membantingnya dengan keras. Shit, punggung Kath terasa sakit sekarang walaupun Sean melempar tubuhnya di atas benda empuk. Kini Sean berada di atasnya, pria itu menatap Kath dengan tajam seolah Kath adalah mangsa yang siap untuk dijadikan santapan. Kath merasa ngeri sekaligus takut, dia baru sadar sekarang sifat asli Sean setelah mengingat isi dari novel secret dark yang dia baca. Bisa dikatakan Sean adalah sosok sadis yang tertutupi dengan penampilan masokis. Sialannya lagi Kath berhasil membangunkan sifat sadis Sean dengan perkataannya barusan. Tanpa bisa Kath hentikan Sean langsung melumat bibir Kath dengan kasar. Kath tentu saja berusaha mendorong tubuh Sean, namun sayangnya tidak berhasil karena tenaganya tidak sebanding dengan pria yang tengah sibuk menjelajahi bibirnya. Kath tidak berani membuka mulutnya. Sungguh, sekarang adalah pengalaman pertama dia berciuman dan dia belum terlalu paham dengan teknik yang sering dilakukan pasangan pada umumnya. Sean mengeram karena mengetahui Kath tidak merespon apa yang tengah dilakukannya. Hal ini membuat pria itu mencubit keras pinggang Kath hingga gadis itu mengaduh dan membuka mulut. Pada akhirnya Sean lah yang menang. Kath tidak dapat berbuat banyak untuk menolak, karena bagaimanapun Kath melawan tetap saja dia akan kalah melawan malaikat mautnya ini.Lilian menarik nafas perlahan. Lalu dengan sisas kendali yang dia punya, Lilian mencoba tersenyum manis. Bibirnya melengkung sempurna, matanya sedikit menyipit agar terlihat normal di kamera. Di sampingnya, Leo meraih pinggangnya Lilian, menarik Lilian mendekat. tubuh mereka kini hanya berjarak tipis. Lilian menahan nafas. "Tatap satu sama lain, ya," pinta sang fotografer. Lilian tetap diam beberapa detik. Hingga secara perlahan dirinya mengangkat wajahnya. Tatapannya bertemu dengan manik mata Leo dan saat itu juga, sesat semua suara di sekitar mereka seperti menghilang. "Kamu kaku banget," gumam Leo pelan, dan hanya Lilian yang mendengarkannya. Dengan wajah memelas Lilian berucap, "Aku mau pulang...." Bayangkan saja, sejak tadi Lilian sudah sangat lelah. Di awali dengan memilihh gaun pengantin yang rasanya tidak ada ujungnya. Sampai kemudian, menjelang sore saat ini, dia harus berpose romantis bersama Leo. Klik. Suara kamera berbunyi. Mengabadikan memon yang tidak
Keesokan paginya, Lilian terbangun seperti biasa. Namun belum sempat kesadarannya terkumpul sepenuhnya, tubuhnya langsung tersentak kaget karena kehadiran seseorang yang berada di sampingnya. Leo, pria itu terbaring santai di sisinya. Satu tangan menopang kepala, menatapnya dengan senyuman tipis, berlagak seolah mereka memang menghabiskan malam bersama seperti pasangan pada umumnya. Nafas Lilian tercekat, dia tidak salah ingat, kemarin Mira benar-benar mengantarnya pulang ke toko, bahkan setelah itu Lilian sengaja menutup toko lebih awal dan mengurung diri di kamar untuk menghindari kemungkinan orang yang dikenalnya akan datang. Lalu sekarang mengapa Leo ada di sini? "Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Lilian, tubuhnya refleks menjauh. "Aku hanya ingin menjemputmu," jawab Leo santai. "Menjemputku?" "Kamu lupa?" Leo sedikit memiringkan kepalanya, "Hari ini kita cari gaun pernikahan, sekalian foto prewedding." Lilian menatap Leo tajam. Bukankah dia sudah menolak? dan s
Lilian kembali ke unit apartemennya yang sudah lama dia tinggalkan, bersama orang yang sama sekali tidak ingin dia temui. Bukan karena benci, melainkan dia tidak ingin hatinya tergoyahkan oleh perasaan lama. Lilian tidak ingin kembali menjadi dirinya yang dulu, dia tidak ingin kembali menjadi Emanuel. Maka dari itu dia harus menanggalkan seluruh hal mengenai Emanuel, termasuk Leo, pria yang duduk di hadapannya yang sangat berkaitan erat dengan keluarganya di masa lalu. Mereka kini berada di ruang tengah duduk saling berhadapan di sofa. sSuasana terasa kaku dipenuhi dengan ketegangan yang belum terselesaikan. Tampak di sisi Leo, Mira-- perempuan itu sebelumnya berada di depan pintu apartemennya, menunggu Leo dan Lilian datang. "Setelah ini, apa yang kamu mau?" tanyanya blak-blakan. Leo terkekeh pelan, seperti tidak percaya dengan situasi yang terjadi saat ini. sosok yang selama ini dia anggap sudah mati kini duduk di depannya, benar-benar bernafas dan berbicara dengannya.
Keesokan paginya, tidak seperti biasa Lilian tidak keluar dari kamarnya. Dia tetap berada di kamar pribadinya yang terletak di lantai 2 toko bunga miliknya, duduk santai di atas tempat tidur sambil menyantap semangkuk sereal dengan televisi di depannya yang menayangkan kartun favoritnya. Biasanya di jam seperti ini dia sudah berdiri di depan toko, menyambut pegawai yang datang satu persatu dan membantu membuka etalase atau sekedar berbincang ringan sebelum hari kerja dimulai. Namun hari ini berbeda, di hari peringatan kematiannya Lilian memilih menghindar. Dia tidak ingin mengambil risiko sekecil apapun untuk bertemu dengan orang-orang dari masa lalunya. Lilian malah di ponsel di sampingnya, layar menampilkan rekaman CCTV toko secara langsung, yang menampilkan para pegawainya yang sudah mulai bekerja seperti biasanya. Mengenai urusan toko Lilian tidak terlalu khawatir. Dia percaya pegawainya mampu melayani pelanggan dengan baik tanpa perlu diawasi secara langsung. Di waktu yang
Di belahan kota lain kehidupan berjalan dengan ritmenya sendiri. Lampu studio menyala terang memantul pada lantai putih mengkilap. suara kamera berbunyi bertubi-tubi diiringi arahan fotografer yang tengah memastikan model di depannya bergerak sesuai keinginannya. "Good! Hold that pose, jangan bergerak." Sean berdiri di tengah set pemotretan, mengenakan setelan hitam elegan yang jatuh sempurna di tubuhnya. Ekspresinya begitu profesional, berbeda jauh dari pria flamboyan yang dulu sering dianggap hanya mengandalkan wajah tampan. Kini namanya berada di puncak industri model, wajahnya terpampang di Billboard besar, majalah fashion nasional, hingga kampanye merek-merek ternama. Dia menurunkan dagunya sedikit, mengikuti arahan kamera lalu mengubah pose dengan gerakan halus yang sudah menjadi refleks. "Kita ambil satu pose terakhir!" Beberapa menit kemudian sesi pemotretan selesai. Sean menerima handuk kecil dari staf dan mengusap keringat tipis yang membasahi pelipisnya.
Seorang perempuan tertidur di atas kursi goyang, yang dikelilingi oleh deretan pot bunga yang tertata rapi. Aroma tanah basah dan wangi kelopak memenuhi udara di sekitarnya. Sebuah majalah menutupi wajahnya, yang sebelumnya sempat dia buka dan baca sebelum akhirnya tertidur tanpa sadar. "Untuk bunga lilynya perlu kita warnai? Kelihatannya terlalu polos kalau tetap putih, apalagi untuk edisi hari valentine." Suara seseorang memecahkan keheningan, membangunkannya dari tidur singkat. Akibatnya, majalah yang menutupi wajahnya pun terjatuh di pangkuannya. Perempuan itu mengerjakan mata beberapa kali berusaha mengumpulkan kesadarannya. Cahaya sore menyelinap diantara kaca-kaca rumah bunga, jatuh lembut di rambutnya yang sedikit berantakan "Jam berapa sekarang... ?" gumamnya serak. "Jam lima sore. Toko juga sudah hampir tutup, Bu.," jawab karyawan muda di depannya sambil merapikan deretan bunga lily yang baru datang siang tadi. Perempuan itu bangkit perlahan dari kursi goy







