FAZER LOGINSaat Sean sedang menikmati bibir Kath secara sepihak, suara dering ponsel terdengar. Hal ini sontak membuat Sean menghentikan kegiatannya--- yang membuat Kath ingin sekali sujud syukur sekarang.
Jika kegiatan ini terus dilanjutkan Kath yakin pasti akan terjadi sesuatu yang paling tidak dia inginkan. Cukup pikirannya yang tidak suci, Kath tidak ingin tubuhnya ikut tidak suci pula. Ya walaupun, secara harfiah tubuh Lilian sudah sering di 'pake' oleh Sean maupun Leo tetapi kenyataannya yang ada dalam tubuh ini sekarang kan adalah Kath yang notabenenya menganggap bahwa hal yang berbau intim adalah tindakan yang sangat tidak lumrah terjadi. "Shit, kalau lo nelpon gue cuma mau kasih tau hal yang gak penting. Gue pecat lo!" Kath terlonjak kaget, dia bahkan tidak sadar bahwa Sean sudah menjauh dari tubuhnya dan tengah duduk di kursi bar yang sebelumnya pria itu duduki. "Kenapa gak bilang sebelumnya, Bangsat?" Setelah mengatakan kalimat tersebut dengan keras, Sean segera memakai jasnya dan sibuk merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan akibat kegiatan yang mereka lalui barusan. Kath hanya bisa ternganga melihat sifat Sean yang berubah seratus delapan puluh derajat. Kini Kath tidak lagi melihat sifat Sean yang biasanya manja terhadap Lilian. Dan tentu saja Kath mengetahui alasannya, dia tanpa sengaja berhasil membangkitkan sifat sadis Sean yang jarang kelihatan di novel. "Kak, lo ikut gue sekarang!" perintah Sean yang membuat Kath yang masih berbaring di atas sofa tak khayal bangkit dan melangkah menuju Sean. "Gak bisa, gue sibuk." Ucapnya yang langsung dihadiahi tatapan keji dari Sean. Seketika karena hal tersebut Kath merinding. Sean menghela nafas frustasi, "Lo sebenarnya kesambet apa sih kak?" Seharusnya gue nanya, kenapa jiwa gue malah disambet sama ini tubuh, batin Kath. "Gue... gue capek, pengen tidur." Kath memberikan alasan lain. "Lo bisa tidur di tempat gue." Makin bahaya lah Bambang. Kath melambaikan telapak tangannya tanda menolak, "Gak perlu, gue bisa istirahat di rumah gue sendiri." "Kak, lo masih hutang penjelasan mengenai permintaan lo yang gak masuk akal tadi." Sean seperti berusaha menahan diri dengan melembutkan nada suaranya, walaupun begitu Kath masih saja tetap ketakutan akan aura intimidasi yang menguar dari diri Sean. "Dan gue butuh jawaban dari lo secepatnya." Kath kembali terlonjak kaget karena Sean yang sekali lagi menggendong tubuhnya. Tujuan mereka bukanlah ke arah sofa namun ke arah luar rumah di mana mobil berwarna hitam legam dengan merek ternama terparkir di depan pintu rumah Lilian. Kath dimasukkan dengan paksa ke dalam mobil dan didudukkan di kursi penumpang depan, sedangkan Sean dengan gerakan tergesa-gesa juga masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku pengemudi. Kath yang belum siap dengan situasi ini dan juga tidak tau harus berbuat apa hanya bisa menatap Sean dengan ekspresi kebingungan. Mau kabur emang dia harus kabur kemana? Apalagi kini Sean sudah menghidupkan mesin mobil dan mulai menjalankannya. Jika Kath nekat keluar dari mobil yang ada bukannya selamat malah Kath menjemput maut di awal tahun. Kalau si artis viral kan menjemput 'rezeki' di awal tahun. Kath memukul pelan dahinya, dalam keadaan seperti ini sempat-sempatnya Kath kepikiran gibahin orang. "Sebenarnya lo mau bawa gue kemana?" tanya Kath kepada Sean, terlebih dia hanya memakai piyama satin berwarna putih dan berlengan pendek pula--- pakaian yang sangat tidak cocok sekali dipakai untuk keluar rumah. "Nanti juga lo bakalan tau." Nah gini nih yang Kath gak suka, sok misterius yang mentoknya buat orang kesel. "Lo gak lihat gue make baju apa sekarang?" Karena suara Kath yang terbilang keras, Sean mengerem mendadak mobilnya yang sontak membuat dahi Kath kepentok dashboard. Seolah tidak mempedulikan ringisan Kath, Sean berbicara. "Gue gak pernah lihat lo sebar-bar ini sebelumnya. Lilian yang gue kenal itu lembut, penyayang dan gak pernah tinggiin suaranya di depan gue!" "Kalau lo bisa tinggiin suara lo, kenapa gue gak bisa?" Kath melawan, apalagi mengingat dahinya yang sakit hingga sontak menambah emosinya--- yang alhasil membuat Sean semakin berang. "Gue gak suka lo yang kayak gini, Kak!" "Kalau gak suka lo bisa tinggalin gue, hidup tenang tanpa gue. Gampang 'kan?" teriak Kath tidak mau kalah. Sean berdecih, namun tiba-tiba saja pandangan pria itu teduh menatap Kath, "Dengan sikap lo yang berubah seperti ini. Gue pastiin lo bakalan habis sama Leo." tangan pria itu kemudian bergerak menyentuh sebelah wajah Kath. "Jadi please, berhenti melawan dan kembali menjadi Lilian yang kami kenal." "Lo mau lapor ke Leo?" tanya Kath memastikan, tanpa menyadari bahwa dia tengah memancing iblis di hadapannya untuk bertindak liar dari biasanya. "Kalau lo jadi anak penurut gue bakalan tutup mulut." "Dan bertindak menjadi si Lilian polos yang mau aja kalian pelarat? Terus berakhir mengenaskan karena kalian bunuh dengan keji?" Sean melebarkan matanya, begitu juga Kath. Gadis itu dengan cepat menutup mulutnya. Sial, bisa-bisanya dia keceplosan. "Lupain perkataan gue barusan," ujar Kath tanpa melepaskan telapak tangannya dari mulut. Mereka berdua terdiam cukup lama, sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Hingga setelahnya Sean terlebih dahulu buka suara. "Kak, lo tau rencana kita. Karena itu lo berubah?" Kath menggeleng cepat, dalam hati dia terus memaki mulutnya yang dengan gampangnya membeberkan rahasia terbesar yang dia tau. Padahal belum sehari dia berada di dunia novel ini. Fix, hidupnya sudah dipastikan bakalan gak lama di dunia ini. Kesempatan kedua dari Tuhan sudah dia sia-siakan dalam waktu sesingkat-singkatnya. "Lo punya mulut untuk ngomong 'kan?" Sean dengan kasar menghentak tangan Kath hingga mulutnya tidak lagi tertutup. Kath mengigit bibir bawahnya, berbeda dari sebelumnya gadis itu sangat ketakutan. Kali ini Sean benar-benar terlihat seperti jelmaan iblis berparas manusia. Seketika Kath merindukan Sean yang suka gelayutan manja kepada Lilian. Salahnya juga sebenarnya karena sudah memancing amarah Sean. Jadi kan susah dibalikin ke normal lagi. Tunggu sebentar. Bukankah Kath hanya perlu mengembalikan Sean ke mode normal agar dia selamat hari ini. Dia mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Cara ampuh tiba-tiba saja terlintas di pikirannya. Tetapi sayangnya dia ragu untuk melakukannya. Selain kurang pengalaman, Kath juga malu untuk berbuat senekat itu. Kath memantapkan dirinya, dia berusaha tersenyum semanis mungkin di hadapan Sean dan mulai menggerakkan tubuhnya untuk dapat memeluk pria itu. Semoga saja dengan Kath yang tengah memeluk Sean sekarang, Sean bisa melupakan pembicaraan yang terjadi mengenai dirinya yang keceplosan barusan. Tetapi sayangnya, baru beberapa detik setelah dia memeluk Sean, tubuhnya merasa lemas di saat Sean menusuk tengkuknya dengan menggunakan jarum suntik yang entah dari mana letak asalnya. Kath yang tidak mampu berbuat banyak untuk dapat melawan hanya bisa meringis kesakitan sembari meremas ujung pakaian yang dikenakan Sean. "Are you killing me now?" tanya Kath dengan nafas yang memburu, pertanda dia hampir kehilangan kesadarannya. Sean menjauhkan sedikit jarak darinya hingga membuat Kath kini bisa melihat wajah pria itu. Sean menyunggingkan senyuman tipis lalu berucap, "Seharusnya neraka yang sebenarnya akan dimulai lebih lama lagi, tapi karena lo sudah memecahkan rahasia yang kami sembunyikan selama ini. So, gue cuma mau bilang..." "Welcome to our hell, My Sweet Lilian." Bisik Sean, diikuti dengan kesadaran Kath yang perlahan lenyap.Kabar baiknya, Kath tidak jadi mati.Namun kabar buruknya dia malah berakhir diintrogasi.Dalam keadaan bangun dari pingsan--- setelah ditusuk jarum suntik yang Kath yakini berisi obat bius dari Sean, Kath mendapati dirinya berada di kamar tidur yang pastinya bukan kamar tidur Lilian yang sebelumnya dia tinggali. Ditambah, dia juga mendapati Sean dan Leo duduk di atas sofa berhadapan dengan ranjang yang dia tiduri, menatap ke arah dirinya dengan pandangan intimidasi.Kath tertawa dalam hati sembari mengutuk kebodohannya karena sudah membeberkan satu rahasia yang dia ketahui dalam novel. Seharusnya dia diam saja dan terus bertingkah seperti Lilian polos yang tidak tau apa-apa.Ya mau bagaimana lagi, perilaku asli Kath tidak dapat berubah dalam waktu cepat. Jika ada orang yang melawannya Kath juga bisa melawan--- hal ini sudah menjadi hukum alam dalam kehidupannya."Jadi lo udah tau?"Kath menggeleng cepat mendengar pertanyaan Leo dan sebisa mungkin tidak berbicara satu kata pun.Kalau
Saat Sean sedang menikmati bibir Kath secara sepihak, suara dering ponsel terdengar. Hal ini sontak membuat Sean menghentikan kegiatannya--- yang membuat Kath ingin sekali sujud syukur sekarang.Jika kegiatan ini terus dilanjutkan Kath yakin pasti akan terjadi sesuatu yang paling tidak dia inginkan. Cukup pikirannya yang tidak suci, Kath tidak ingin tubuhnya ikut tidak suci pula.Ya walaupun, secara harfiah tubuh Lilian sudah sering di 'pake' oleh Sean maupun Leo tetapi kenyataannya yang ada dalam tubuh ini sekarang kan adalah Kath yang notabenenya menganggap bahwa hal yang berbau intim adalah tindakan yang sangat tidak lumrah terjadi."Shit, kalau lo nelpon gue cuma mau kasih tau hal yang gak penting. Gue pecat lo!"Kath terlonjak kaget, dia bahkan tidak sadar bahwa Sean sudah menjauh dari tubuhnya dan tengah duduk di kursi bar yang sebelumnya pria itu duduki."Kenapa gak bilang sebelumnya, Bangsat?" Setelah mengatakan kalimat tersebut dengan keras, Sean segera memakai jasnya dan s
"Jadi nama gue Lilian Emanuel?"Mungkin jika ada orang yang melihatnya sekarang, Kath akan disangka gila karena berbicara dengan cermin. Tetapi untung saja, setelah dirinya bangun dari pingsan tidak ada satupun manusia yang berada di rumah.Mengenai dua orang pria yang Kath tebak sebagai Leo dan Sean, mereka telah pergi entah kemana, meninggalkan Kath di atas tempat tidur tanpa membantu sama sekali.Shit! Setidaknya mereka bisa menemaninya sampai dia bangun dan menjelaskan segalanya tanpa harus membuat Kath menerka-nerka hingga membuat kepalanya pusing ketulungan.Dasar tidak tau diri, makinya.Tapi mau bagaimana lagi, Leo dan Sean adalah tokoh favoritnya di novel secret dark. Walaupun sudah diberikan title sebagai kang nginep yang mau untungnya saja--- dalam artian hanya menikmati tubuh Lilian saja namun tetap saja Kath masih mengidolakan mereka.Akh, Kath sukses berdilema ria.Di satu sisi Kath ingin menikmati keindahan dua pria yang wajahnya lebih tampan dari semua pria yang Kath k
"Sumpah, gue kasian banget sama Lilian. Ya gue tau kematiannya bakalan jadi alasan kemunculan si pemeran utama, tapi ya masa harus terbunuh sama dua male lead sekaligus?!" "Mana mereka sering tidur bareng, bahkan udah fix jadi kang nginep. Bukannya balas budi, eh malah nusuk dari belakang." "Keselnya lagi, setelah Lilian mati si Leo malah ambil alih hak waris Lilian di keluarga Emanuel. Ya gue tau dia cuma pengen balas dendam aja ke keluarga Emanuel karena udah buat keluarganya sengsara dulu. Tapi ya gak bunuh si Lilian juga kali, masa cewek gak bersalah jadi korban." Kathryn Sandjaya atau lebih akrab dipanggil Kath memandang ketiga temannya yang tengah beradu pendapat mengenai chapter terbaru novel berjudul Secret Dark yang tengah tenar di salah satu situs baca novel online tanpa minat sama sekali. Dia sebenarnya tidak tergiur memperdebatkan nasib tokoh sampingan bernama Lilian yang dianggap teman-temannya sebagai tokoh paling ngenes di Secret Dark--- terlebih karena dirinya yang







