MasukPintu kayu mahoni itu berderit pelan saat Doni menempelkan kartu aksesnya. Aroma kopi yang pekat bercampur dengan wangi maskulin yang tajam segera menyergap indra penciuman Wulan begitu ia melangkah masuk.
Apartemen ini memang tidak seluas milik Mbah Broto yang megah, namun setiap sudutnya memancarkan kemewahan yang rapi dan fungsional. Lantai granit kelabu memantulkan cahaya lampu kota yang masuk melalui jendela balkon yang setengah terbuka.
Wulan menahan napas. Matanya langsung tertambat pada sesosok tubuh raksasa yang membujur kaku di atas sofa kulit berwarna cokelat tua.
"Sst, pelan-pelan. Sepertinya dia sudah terlelap," bisik Doni sambil meletakkan kunci di atas meja konter dapur yang bersih.
Wulan tidak menjawab. Fokusnya tersedot sepenuhnya pada pria berkulit gelap yang hanya mengenakan celana kolor pendek berwarna abu-abu pudar.
Patrick Kogoya tampak seperti patung perunggu yang ditempa dengan s
Lantai semen gudang itu terasa sedingin es saat menyentuh kulit punggung Wulan yang polos. Keheningan segera menyergap begitu deru mesin mobil Boris menghilang di kejauhan, menyisakan bau apak ruangan dan aroma sisa pergulatan yang masih menggantung di udara yang lembap.Wulan perlahan membuka kelopak matanya, menatap langit-langit berkarat dengan sorot mata yang tak lagi sayu, melainkan tajam dan penuh perhitungan."Dasar kerbau bodoh."Wulan terkekeh lirih, sebuah suara yang terdengar kontras dengan kesunyian gudang. Tubuhnya yang indah, kini penuh dengan jejak kemerahan akibat perlakuan kasar Boris, menggeliat pelan di atas lantai yang kotor.Ia bangkit perlahan, mengabaikan rasa perih di beberapa bagian tubuhnya. Penyamarannya sebagai perempuan simpanan kelas teri telah berhasil total; Boris dan Maya benar-benar percaya bahwa ia hanyalah mangsa yang tak berdaya."Ugh, bau ini benar-benar menjijikkan
Lonceng di atas pintu kafe berdenting nyaring, membelah kebisingan mesin espreso yang tengah meraung. Doni tersentak, hampir saja menjatuhkan portafilter yang tengah ia bersihkan.Matanya langsung tertuju pada sosok yang baru saja melangkah masuk, mengenakan jaket hijau ojek online yang kedodoran dan kotor."Wulan? Itu kamu?"Doni melompat dari balik meja bar, mengabaikan pesanan pelanggan yang baru saja masuk. Ia menerjang maju, mencengkeram kedua bahu Wulan dengan tangan yang gemetar hebat. Matanya nanar memindai setiap inci wajah gadis itu, mencari jejak luka atau air mata."Mas Doni, tenanglah. Aku tidak apa-apa."Wulan memberikan senyum tipis yang menenangkan, meskipun napasnya masih menyisakan sisa-sisa aroma laut dan debu gudang.Ia melepaskan ritsleting jaket hijau itu dengan perlahan, membiarkan kain tebal itu meluncur jatuh ke lantai kafe yang bersih.Di baliknya, Wulan t
Mobil terus melaju, meninggalkan kebisingan kota menuju pinggiran pelabuhan yang sepi. Angin laut yang asin mulai menyusup lewat celah ventilasi, membawa aroma karat dan amis yang pekat.SUV itu akhirnya berhenti di depan sebuah gudang tua berlantai beton yang sudah retak-retak. Sengnya yang berkarat mengerang ditiup angin, menciptakan suasana mencekam yang seolah menelan cahaya matahari.Wulan perlahan membuka matanya. Kepalanya terasa seberat batu, seolah-olah ada ribuan jarum yang menusuk otaknya secara bersamaan.Sisa-sisa zat kimia dari kain Maya masih meninggalkan rasa pahit di pangkal tenggorokannya. Ia mencoba menggerakkan tangannya, namun rasa nyeri menyengat pergelangan tangannya.Ia tersentak saat menyadari posisinya. Wulan tergantung di tengah ruangan gudang
Mentari pagi di kawasan PIK tidak pernah benar-benar terasa menyegarkan. Udara sudah tercemar aroma aspal panas dan uap laut yang lengket saat Wulan dan Doni melangkah keluar dari lobi apartemen.Wulan mengenakan kaos putih tipis yang memeluk erat setiap lekuk tubuhnya, memamerkan siluet dadanya yang membusung tanpa pelindung bra. Jeans ketatnya membungkus pinggul dengan sempurna, menciptakan irama gerakan yang mematikan setiap kali ia melangkah.Di depan kafe yang masih tertutup, sebuah mobil SUV hitam legam terparkir dengan mesin yang menderu halus. Boris bersandar di pintu kemudi, jaket kulitnya tampak mengilat di bawah cahaya matahari yang terik.Aura hitam yang menguap dari tubuhnya terasa semakin pekat dan busuk, sebuah kontras tajam dengan aroma melati yang menguar dari kulit Wulan.
Brak!Daun pintu apartemen itu bergetar hebat saat Doni menghantamkannya ke kosen. Suara dentuman itu bergema di ruang tamu yang masih remang, memicu kepanikan kecil bagi siapa pun yang mendengarnya.Doni berdiri mematung dengan napas yang memburu, tinjunya terkepal erat di samping paha hingga buku jarinya memutih."Bajingan itu! Harusnya aku pecahkan kepalanya dengan botol sirup tadi!"Wulan hanya menghela napas panjang, melangkah tenang menuju sofa empuk di tengah ruangan. Ia tidak tampak terganggu oleh amarah Doni yang meluap-luap.Dengan gerakan perlahan, ia melepas ikatan celemek hitamnya, membiarkan kain itu jatuh begitu saja di atas lantai parket."Kamu terlalu emosional, Mas. Kita butuh dia untuk sampai ke Maya, dan Maya adalah pintu menuju Sovia.""Tapi tidak dengan cara membiarkan dia meraba-rabamu seolah kamu barang dagangan! Kamu lihat wajahnya saat menyelipkan
Perempuan berambut pendek itu melangkah dengan dagu terangkat, membelah kerumunan pria yang masih terpaku pada lekuk tubuh Wulan.Ia langsung menuju kursi di pojok ruangan yang remang, tempat si pria gondrong sudah menunggu dengan aura hitam yang semakin menggumpal pekat di sekelilingnya. Udara di sekitar meja itu seolah tersedot, menyisakan kekosongan yang dingin dan mencekam.Wulan menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang mendadak liar. Ia menyambar sebuah nampan kecil, lalu berpura-pura sibuk mengelap permukaan kayu konter sebelum melangkah mendekat."Mas Doni, aku ke sana sebentar," bisik Wulan tanpa menoleh.Langkah kaki Wulan terasa berat. Setiap inci ia mendekat ke meja pojok itu, aliran gairah hitam dari si pria gondrong terasa seperti lumpur panas yang merayap di kulitnya.Baunya amis, bercampur aroma tanah kuburan yang menusuk indra penciumannya. Pria itu mendongak, m







