LOGINBalas dendam. Kata-kata itu membekukan air mata Wulan seperti embun membeku di daun pagi. Sebuah tujuan yang menyala-nyala di dalam rongga dadanya, sebuah pelampiasan untuk amarah yang membara dan luka yang menganga lebar seperti bekas sayatan.
"Bagaimana caranya?" bisiknya, penuh harap dengan suara serak yang gemetar, seolah membawa desahan terakhir dari arwah sang ibu.
"Aku bisa membantumu," Broto tersenyum tipis, senyum serigala yang menyembunyikan taring di balik bibir tipisnya. Di dalam hatinya, ia bersorak penuh kemenangan karena Wulan menarik umpannya.
"Aku bisa membuatmu lebih kuat dari mereka. Aku bisa memberimu kekuatan untuk memburu mereka yang telah membantai ibumu di depan matamu."
"Aku mau, Mbah." Wulan menatapnya dengan tekad yang baru terbentuk, keras seperti baja yang telah dipanaskan di perapian dendam. Wajahnya yang basah oleh air mata kini mengeras, seolah dipahat dari batu granit kebencian.
"Lakukan apa saja. Aku mau membalas mereka."
"Bagus." Broto menepuk lututnya, senyum puas terukir jelas di wajahnya yang berkerut, seolah baru saja memenangkan permainan licik. "Aku suka semangatmu. Tapi… semua ada syaratnya, Nduk."
Wulan menelan ludah, pahit dan getir. Ia sudah menduganya. Tidak ada yang gratis di dunia ini, apalagi dari seorang dukun yang penuh tipu muslihat.
"Apa syaratnya?"
Broto diam sejenak, matanya yang kecil dan licik menelusuri tubuh Wulan dari atas ke bawah. Pandangannya berhenti sejenak di dadanya yang membusung, lalu turun ke perutnya yang rata di balik kain.
Wulan merasakan kembali sengatan panas itu, kali ini bercampur dengan rasa cemas.
"Untuk mendapatkan kekuatan besar, kau juga harus memberikan sesuatu yang besar."
Broto mencondongkan tubuhnya lagi, suaranya nyaris berbisik di telinga Wulan.
"Kau harus menyerahkan tubuhmu… kepadaku."
Dunia Wulan seakan berhenti berputar untuk kedua kalinya dalam dua puluh empat jam. Kata-kata Broto menggantung di udara, terasa berat seperti besi panas yang siap membakarnya.
"Tidak mungkin," bisiknya gemetar, "Aku ingin membalas dendam, bukan—"
"Aku... tidak mau!" suaranya tercekat, bergetar di antara amarah dan ketakutan.
Dalam dirinya, badai emosi bergolak. Rasa takut yang dingin merayapi tulang punggungnya, membuat bulu kuduknya meremang. "Tidakkah Mbah punya harga diri?" bisiknya parau. "Menggunakan kesedihanku untuk... untuk..."
Amarah membakar wajahnya merah padam. Air matanya mengering seketika. "Bagaimana bisa Mbah melakukan ini? Di saat aku kehilangan ibuku, di saat aku paling rapuh?" Suaranya gemetar antara isakan dan kemarahan.
Namun di balik amarah itu, sesuatu yang lebih gelap dan memalukan mulai bergerak. Sepercik gairah asing merayap dari perut bawahnya, seperti akar-akar hitam yang mencengkeram. Getaran panas yang memalukan itu berputar di ulu hatinya, membuat tubuhnya gemetar tanpa kehendaknya sendiri.
"Ya Gusti," bisiknya lirih pada dirinya sendiri, "Apa yang terjadi padaku?"
Tubuhnya seolah telah mengkhianati jiwanya sendiri, menimbulkan sensasi yang membuat Wulan ingin menangis sekaligus marah pada dirinya sendiri.
"Aku... tidak mengerti," bisiknya lirih, "Kenapa harus aku?"
"Apa... apa maksud Mbah?" suara Wulan gemetar, mencoba menutupi gemetar tubuhnya yang semakin menyadari beratnya pengorbanan yang harus dilakukannya.
Broto menatapnya tajam, seolah ingin menelanjangi setiap lekuk pikiran dan perasaannya. "Kau ingin membalas dendam atau tidak, Wulan?"
Air mata mulai membasahi pipinya. "Aku ingin membalas mereka yang membunuh ibuku. Tapi... bukan dengan cara seperti ini."
"Tidak ada jalan lain," bisik Broto dingin. "Tubuhmu adalah satu-satunya senjata yang bisa kita gunakan. Setiap inci tubuh indahmu ini akan menjadi alat balas dendammu."
Wulan memejamkan mata, membayangkan wajah ibunya yang terakhir kali melihatnya. Tubuhnya yang rapuh kini akan menjadi taruhan terakhir, bagaikan kaca yang siap pecah dengan sekali sentuhan.
Demi arwah sang ibu, demi balas dendam yang membakar jiwanya, ia rela membayar harga termahal.
"Baiklah," bisiknya nyaris tak terdengar, "Aku setuju."
Udara di dalam kabin bus yang semula dingin menusuk mendadak berubah menjadi uap kental yang berbau busuk, perpaduan antara bangkai yang membusuk dan belerang yang membakar hidung.Wulan tersentak, merasakan getaran mesin di bawah kakinya bukan lagi berupa putaran piston, melainkan denyut jantung raksasa yang tidak beraturan. Kaca jendela yang tadinya memperlihatkan kegelapan jalanan kini tertutup oleh lapisan lendir berwarna merah tua yang merayap cepat, menyelimuti seluruh pandangan."Kau merasakannya, Neng? Bus ini sudah bosan menjadi besi tua."Suara Gatot pecah, berubah menjadi geraman rendah yang menggetarkan tulang rusuk Wulan. Wulan menatap pria plontos itu, namun yang ia lihat bukan lagi manusia.Kulit di wajah Gatot retak, terkelupas seperti kertas terbakar, menyingkap daging merah yang basah di bawahnya. Sepasang taring melengkung keluar dari rahangnya yang membesar, sementara matanya menyusut menjadi lubang hitam yang memancarkan kebencian murni."M-mas Gatot... wajahmu...
Napas Gatot yang berat menderu di ceruk telinga Wulan, membuahkan geli yang menjalar hingga ke pangkal paha. Rambut Wulan terasa tertarik paksa saat Gatot mencengkeramnya, menarik kepalanya mendongak. Matanya yang merah membara menatap dalam, menuntut."Jadi, ini yang kau mau, Neng?"Wulan memejamkan mata, mengangguk lemah, merasakan desakan gairah hitam yang pekat dari tubuh Gatot merasuk ke setiap pori kulitnya. Itu memabukkan, merampas semua daya untuk melawan.Gatot menyeringai. Bibirnya yang tebal mendarat di leher jenjang Wulan, lidahnya menjulur, menjilat dan menghisap kuat. Sensasi panas menjalari kulit Wulan, seolah setiap jilatan Gatot membakar setiap serat sarafnya. Gadis itu mendesah panjang, punggungnya melengkung secara refleks."Nnghh... Mas...""Manis," Gatot mengerang, suaranya parau, dipenuhi nafsu yang tak tertahankan. Lidahnya bekerja liar, menghisap, menggigit kecil, meninggalkan jejak merah di kulit Wulan yang putih.Tangan besar Gatot tidak tinggal diam. Perlaha
Udara di dalam kabin bus sleeper itu terasa dingin menusuk kulit, namun Wulan justru merasakan hawa panas yang berbeda merayap dari arah depan. Melalui celah tirai kabinnya yang sedikit terbuka, dia bisa merasakan sepasang mata dari balik kaca spion tengah—sang sopir yang sesekali melirik dengan tatapan lapar.Di samping pintu, kernet bus bersandar sambil memainkan ponsel, namun kepalanya condong ke arah lorong kabin dan sesekali melirik separuh tubuh Wulan yang terlihat menjorok ke koridor bus.Wulan meregangkan tubuh di atas kasur sempitnya. Jaket denim pendeknya tersingkap, memperlihatkan perut putih mulusnya yang berdenyut halus mengikuti irama napas. Ceruk pusarnya yang seksi mengintip di balik garis pinggang jeans rendah yang ketat.Dia tahu mereka menonton. Dia membiarkan satu kakinya tertekuk, membuat paha di balik jeans itu tercetak jelas, mengundang imajinasi liar bagi siapa pun yang melihatnya.Tiba-tiba pintu hidrolik terbuka dengan bunyi yang berdecit berat. Tak lama, der
Pulogebang jam sembilan malam itu ibarat lubang kakus yang meluap. Bau solar menyengat bercampur aroma keringat basi dan asap rokok murahan yang menggantung di udara lembap.Wulan berdiri di depan gerbang terminal, membiarkan ransel kecilnya menggantung malas di satu bahu. Dia teringat geraman rendah Mbah Broto tempo hari di apartemen."Bus malam itu sarang gairah paling busuk, Wulan. Para lelaki yang lelah, jauh dari istri, dan penuh tekanan. Hisap semua gairah mereka sebelum kita sampai di Jawa Timur."Wulan menarik napas panjang. Udara kotor terminal itu justru terasa seperti candu. Dia menyesuaikan letak tank top putihnya yang berbahan tipis. Belahan dadanya yang padat menyembul berani, ditekan oleh jaket denim pendek yang bahkan tidak sampai menutupi pinggangnya.Setiap kali dia bergerak, kulit perutnya yang putih mulus dan ceruk pusarnya yang seksi mengintip nakal di atas garis jeans rendahnya yang ketat.
Sprei sutra di bawah tubuh Wulan terasa seperti hamparan silet halus yang menggores kulitnya yang terlalu sensitif. Dia mengerang, mencoba menggerakkan lengannya yang terasa seberat timah.Setiap inci dagingnya berdenyut, mengirimkan sinyal nyeri yang tajam ke pangkal otaknya. Namun, saat dia menunduk untuk memeriksa kerusakan itu, dia tertegun.Kulitnya mulus. Tak ada memar keunguan, tak ada bekas cengkeraman kuku siluman, bahkan tak ada robekan di liang kewanitaannya yang tempo hari dihantam habis-habisan.Wulan bangkit perlahan, membiarkan selimut itu merosot jatuh ke lantai apartemen mewah milik Broto. Dia berdiri di depan cermin besar di sudut kamar, memandangi pantulan dirinya.Tubuhnya tampak lebih bercahaya, seolah-olah gairah hitam yang diserapnya telah menyatu sempurna dengan aliran darahnya. Dia melangkah keluar kamar tanpa sehelai benang pun, membiarkan udara dingin dari pendingin ruangan membelai leku
Lantai daging itu berdenyut lebih liar, seolah-olah seluruh ruangan sedang mengalami orgasme masal yang menjijikkan. Lendir ungu pekat menetes dari langit-langit, membasahi tubuh Wulan yang sudah tidak berbentuk lagi di bawah himpitan tiga monster babi hutan.Di luar sana, di balik lapisan dimensi daging ini, bulan purnama menggantung sempurna di langit kelam, memancarkan perak yang mematikan."Makan lagi, Jalang! Telan semuanya!"Siluman kurus itu menghantamkan miliknya yang berduri ke dalam mulut Wulan, memaksa kepala gadis itu membentur lantai yang kenyal. Di bawah, siluman bertaring patah masih sibuk mengoyak lubang belakang Wulan, sementara sang pemimpin raksasa meremas payudara Wulan hingga kuku-kukunya membenam ke dalam daging putih itu."Wulan... Kau dengar aku?"Sebuah suara berat, berwibawa, dan sangat dingin bergema di dalam tempurung kepala Wulan. Suara itu tidak datang dari telinga, melainkan langsung merasuki jiwanya.Batara Durja. Sang harimau penguasa kawah Halimun sed







