共有

5. Menyulut dendam

作者: Lincooln
last update 公開日: 2025-10-13 19:01:31

Aroma minyak sereh dan akar-akaran kering yang menusuk hidung adalah hal pertama yang menyambut kesadaran Wulan.

Namun, itu bukan bau tanah dan embun pagi di gubuknya. Bukan pula aroma singkong rebus yang biasa disiapkan Ningsih.

Wulan membuka mata perlahan. Pandangannya kabur, menangkap siluet langit-langit dari anyaman bambu yang menghitam oleh jelaga, berbeda dari atap rumbia di rumahnya.

Ia berbaring di atas dipan kayu yang keras dan dingin.

"Di mana aku?" Pikirannya masih berlapis kabut tebal, berat dan lengket.

Ia mencoba duduk, merasakan nyeri di sekujur tubuhnya, setiap goresan di lengan dan kakinya perih seperti baru terjadi.

Lalu, sekelebat bayangan melintas di benaknya. Kegelapan hutan. Akar-akar yang melilit. Jeritan.

Sebuah kepala.

Mata yang terbelalak menatapnya dari tanah.

"Mbok…"

Kata itu keluar dari bibirnya dalam bisikan serak, dan seketika itu juga, bendungan di dalam dirinya pecah.

Kabut di kepalanya tersingkap oleh badai kengerian yang menyapu tanpa ampun.

Ia duduk tegak, matanya membelalak panik, napasnya tersengal seolah ada akar yang kembali mencekik lehernya. Ruangan sempit itu seakan menyusut, dindingnya merapat untuk menghimpitnya.

Tangisnya meledak tanpa suara, hanya isakan-isakan tertahan yang menggetarkan seluruh tubuhnya. Ia menarik lututnya ke dada, memeluknya erat seolah itu satu-satunya pelampung di tengah lautan teror.

Wajahnya ia benamkan di antara kedua lutut, membiarkan air mata dan ingus membasahi kain jarik kumal yang masih melekat di tubuhnya.

Bayangan ibunya yang tanpa kepala, tubuh yang tergeletak kaku, dan kepala yang menggelinding berhenti di kakinya, terus berputar di benaknya seperti adegan rusak yang tak mau berhenti.

Di luar, di bangku bambu depan gubuknya, Broto mendengar isak tangis itu. Ia tidak bergerak.

Jemarinya yang gemuk memutar-mutar batang rokok kretek yang belum tersulut. Ia menghirup udara pagi yang segar, membiarkan kicau burung dari lereng Halimun menjadi musik latar bagi duka gadis itu.

Biarkan ia tumpahkan semuanya. Biarkan racunnya keluar sampai habis. Hanya setelah itu ia bisa diisi dengan racun yang baru. Racun yang ia siapkan.

Tangisan itu perlahan mereda, berubah dari badai menjadi gerimis, lalu hanya menyisakan isakan-isakan kecil yang putus-putus.

Setelah keheningan kembali menyelimuti gubuk kecil itu selama beberapa saat, barulah Broto bangkit. Tubuhnya yang tambun bergerak masuk, bayangannya yang besar menggelapkan pintu.

Wulan mengangkat kepalanya yang berat, matanya bengkak dan merah. Ia melihat sosok Broto berdiri di hadapannya, wajahnya sulit dibaca di bawah cahaya pagi yang temaram.

Broto mendekat, duduk di tepi dipan tanpa berkata apa-apa.

Sebuah tangan besar dan hangat menepuk-nepuk bahunya pelan. Sebuah gerakan menenangkan yang canggung.

Namun kemudian, tepukan itu berhenti. Tangan itu meluncur turun, mengusap punggungnya dengan gerakan lambat dan melingkar.

Kulitnya yang kasar bergesekan dengan kain kebayanya yang tipis, mengirimkan getaran aneh langsung ke kulitnya.

Usapan itu turun lebih rendah, menekan tulang punggungnya, lalu menyapu ke samping, terlalu dekat dengan lekuk pinggangnya.

Seketika, di tengah lautan duka yang dingin, sebuah percikan panas yang tak asing menyala di perut bagian bawah Wulan. Sensasi geli yang memuakkan sekaligus menggairahkan.

Kesadaran akan sentuhan itu menariknya keluar dari kabut kesedihan. Ini bukan sekadar sentuhan penghiburan.

Ia tersentak, sedikit menjauhkan tubuhnya. Saat itulah ia benar-benar sadar bahwa lelaki berperut buncit itu duduk begitu dekat di sampingnya.

Wulan gelagapan. Dengan gerakan refleks yang canggung, ia mengusap hidungnya yang basah dengan punggung tangan, lalu menyekanya ke kain jariknya sendiri.

Sebuah kekehan rendah lolos dari bibir Broto. Tindakan Wulan yang begitu polos dan spontan tampak lucu di matanya.

Ia cepat-cepat meredam tawanya, mengubahnya menjadi dehaman singkat, mencoba memasang kembali wajah seriusnya. Suasananya tidak tepat untuk tertawa.

"Sudah lebih baik?"

Wulan tidak menjawab. Ia hanya menunduk, menatap jemarinya yang saling bertaut di pangkuan.

Broto menghela napas, nadanya berubah menjadi berat dan penuh wibawa. "Apa yang terjadi semalam… Seharusnya tidak terjadi secepat ini."

Wulan mengangkat wajahnya, tatapan bingung di matanya yang sembap. "Apa maksud, Mbah?"

"Kau bukan berasal dari desa ini, Nduk. Kau tahu itu. Ibumu menemukanmu di dekat Batu Wingit."

Broto mencondongkan tubuhnya sedikit, suaranya merendah menjadi bisikan pelan.

"Kau pikir kenapa kau ditinggalkan di sana? Di batas hutan larangan? Itu bukan karena orang tuamu tidak menginginkanmu. Justru sebaliknya. Mereka berusaha menyelamatkanmu."

Wulan hanya diam, mencerna setiap kata.

"Di dalam hutan itu, ada yang menginginkanmu. Sesuatu yang kuat. Ia tahu kau bukan bayi biasa. Ia menunggumu. Menunggu hingga kau mekar sempurna. Menunggu hingga kau matang."

Mata Wulan melebar ngeri. Kata 'matang' yang diucapkan Broto terdengar persis seperti yang ia katakan pada Ningsih beberapa hari lalu.

"Peringatan yang aku berikan pada ibumu… Aku tidak menyangka mereka akan datang sebelum bulan purnama."

Broto berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap.

"Semalam, mereka memanggilmu. Dan kau menjawab panggilan itu. Kau nyaris terambil. Apa yang dilakukan Ningsih… menyeret tubuh tuanya untuk menahanmu, berteriak memintamu lari…"

Ia menatap Wulan lekat-lekat, matanya yang kecil menyorot tajam.

"Itu bukan sekadar kepanikan, Nduk. Itu adalah hal terakhir yang bisa dilakukan seorang ibu untuk melindungi anaknya. Ia menukar nyawanya dengan nyawamu."

Air mata kembali menggenang di pelupuk mata Wulan. Rasa bersalah yang tajam menghunjam jantungnya, jauh lebih sakit daripada kesedihan itu sendiri.

"Kenapa… kenapa mereka menginginkanku?" suaranya bergetar.

"Karena kekuatan yang ada di dalam dirimu. Pesonamu. Sesuatu yang membuat setiap lelaki di desa ini menatapmu tapi tak berani menyentuh. Sesuatu yang kau rasakan saat mereka menatapmu."

Wulan tersentak. Bagaimana dia tahu? Bagaimana dia tahu tentang gejolak aneh di dalam perutnya?

"Pesonamu itu adalah umpan terbaik. Mereka menginginkannya. Memilikimu sama dengan memiliki kunci untuk kekuatan yang lebih besar."

Broto melihat api mulai menyala di mata Wulan yang tadinya padam. Api kemarahan, kebencian, dan rasa bersalah. Inilah saatnya. Pancingannya hampir mengena.

"Mereka tidak akan berhenti, Wulan. Setelah mereka merasakan kedekatanmu semalam, mereka akan datang lagi. Cepat atau lambat, mereka akan mengambilmu. Dan nasibmu akan jauh lebih buruk daripada ibumu."

"Tidak!" Wulan menggeleng kuat, air matanya kembali menetes. "Aku tidak mau!"

"Lalu apa yang akan kau lakukan? Menangis di sini sampai mereka datang menjemputmu?" Suara Broto menjadi keras, menampar Wulan dengan kenyataan pahit.

"Aku… aku tidak tahu…"

Broto mendekatkan wajahnya. Napasnya yang berbau tembakau menerpa wajah Wulan.

"Kau bisa membalaskan dendam ibumu."

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Terjebak Gairah Siluman   185. Terjebak.. Selamanya?

    Udara di dalam kabin bus yang semula dingin menusuk mendadak berubah menjadi uap kental yang berbau busuk, perpaduan antara bangkai yang membusuk dan belerang yang membakar hidung.Wulan tersentak, merasakan getaran mesin di bawah kakinya bukan lagi berupa putaran piston, melainkan denyut jantung raksasa yang tidak beraturan. Kaca jendela yang tadinya memperlihatkan kegelapan jalanan kini tertutup oleh lapisan lendir berwarna merah tua yang merayap cepat, menyelimuti seluruh pandangan."Kau merasakannya, Neng? Bus ini sudah bosan menjadi besi tua."Suara Gatot pecah, berubah menjadi geraman rendah yang menggetarkan tulang rusuk Wulan. Wulan menatap pria plontos itu, namun yang ia lihat bukan lagi manusia.Kulit di wajah Gatot retak, terkelupas seperti kertas terbakar, menyingkap daging merah yang basah di bawahnya. Sepasang taring melengkung keluar dari rahangnya yang membesar, sementara matanya menyusut menjadi lubang hitam yang memancarkan kebencian murni."M-mas Gatot... wajahmu...

  • Terjebak Gairah Siluman   184. Mengepung

    Napas Gatot yang berat menderu di ceruk telinga Wulan, membuahkan geli yang menjalar hingga ke pangkal paha. Rambut Wulan terasa tertarik paksa saat Gatot mencengkeramnya, menarik kepalanya mendongak. Matanya yang merah membara menatap dalam, menuntut."Jadi, ini yang kau mau, Neng?"Wulan memejamkan mata, mengangguk lemah, merasakan desakan gairah hitam yang pekat dari tubuh Gatot merasuk ke setiap pori kulitnya. Itu memabukkan, merampas semua daya untuk melawan.Gatot menyeringai. Bibirnya yang tebal mendarat di leher jenjang Wulan, lidahnya menjulur, menjilat dan menghisap kuat. Sensasi panas menjalari kulit Wulan, seolah setiap jilatan Gatot membakar setiap serat sarafnya. Gadis itu mendesah panjang, punggungnya melengkung secara refleks."Nnghh... Mas...""Manis," Gatot mengerang, suaranya parau, dipenuhi nafsu yang tak tertahankan. Lidahnya bekerja liar, menghisap, menggigit kecil, meninggalkan jejak merah di kulit Wulan yang putih.Tangan besar Gatot tidak tinggal diam. Perlaha

  • Terjebak Gairah Siluman   183. Berpura-pura

    Udara di dalam kabin bus sleeper itu terasa dingin menusuk kulit, namun Wulan justru merasakan hawa panas yang berbeda merayap dari arah depan. Melalui celah tirai kabinnya yang sedikit terbuka, dia bisa merasakan sepasang mata dari balik kaca spion tengah—sang sopir yang sesekali melirik dengan tatapan lapar.Di samping pintu, kernet bus bersandar sambil memainkan ponsel, namun kepalanya condong ke arah lorong kabin dan sesekali melirik separuh tubuh Wulan yang terlihat menjorok ke koridor bus.Wulan meregangkan tubuh di atas kasur sempitnya. Jaket denim pendeknya tersingkap, memperlihatkan perut putih mulusnya yang berdenyut halus mengikuti irama napas. Ceruk pusarnya yang seksi mengintip di balik garis pinggang jeans rendah yang ketat.Dia tahu mereka menonton. Dia membiarkan satu kakinya tertekuk, membuat paha di balik jeans itu tercetak jelas, mengundang imajinasi liar bagi siapa pun yang melihatnya.Tiba-tiba pintu hidrolik terbuka dengan bunyi yang berdecit berat. Tak lama, der

  • Terjebak Gairah Siluman   182. Bus malam

    Pulogebang jam sembilan malam itu ibarat lubang kakus yang meluap. Bau solar menyengat bercampur aroma keringat basi dan asap rokok murahan yang menggantung di udara lembap.Wulan berdiri di depan gerbang terminal, membiarkan ransel kecilnya menggantung malas di satu bahu. Dia teringat geraman rendah Mbah Broto tempo hari di apartemen."Bus malam itu sarang gairah paling busuk, Wulan. Para lelaki yang lelah, jauh dari istri, dan penuh tekanan. Hisap semua gairah mereka sebelum kita sampai di Jawa Timur."Wulan menarik napas panjang. Udara kotor terminal itu justru terasa seperti candu. Dia menyesuaikan letak tank top putihnya yang berbahan tipis. Belahan dadanya yang padat menyembul berani, ditekan oleh jaket denim pendek yang bahkan tidak sampai menutupi pinggangnya.Setiap kali dia bergerak, kulit perutnya yang putih mulus dan ceruk pusarnya yang seksi mengintip nakal di atas garis jeans rendahnya yang ketat.

  • Terjebak Gairah Siluman   181. Perjalanan baru

    Sprei sutra di bawah tubuh Wulan terasa seperti hamparan silet halus yang menggores kulitnya yang terlalu sensitif. Dia mengerang, mencoba menggerakkan lengannya yang terasa seberat timah.Setiap inci dagingnya berdenyut, mengirimkan sinyal nyeri yang tajam ke pangkal otaknya. Namun, saat dia menunduk untuk memeriksa kerusakan itu, dia tertegun.Kulitnya mulus. Tak ada memar keunguan, tak ada bekas cengkeraman kuku siluman, bahkan tak ada robekan di liang kewanitaannya yang tempo hari dihantam habis-habisan.Wulan bangkit perlahan, membiarkan selimut itu merosot jatuh ke lantai apartemen mewah milik Broto. Dia berdiri di depan cermin besar di sudut kamar, memandangi pantulan dirinya.Tubuhnya tampak lebih bercahaya, seolah-olah gairah hitam yang diserapnya telah menyatu sempurna dengan aliran darahnya. Dia melangkah keluar kamar tanpa sehelai benang pun, membiarkan udara dingin dari pendingin ruangan membelai leku

  • Terjebak Gairah Siluman   180. Jangan lengah (long chapter)

    Lantai daging itu berdenyut lebih liar, seolah-olah seluruh ruangan sedang mengalami orgasme masal yang menjijikkan. Lendir ungu pekat menetes dari langit-langit, membasahi tubuh Wulan yang sudah tidak berbentuk lagi di bawah himpitan tiga monster babi hutan.Di luar sana, di balik lapisan dimensi daging ini, bulan purnama menggantung sempurna di langit kelam, memancarkan perak yang mematikan."Makan lagi, Jalang! Telan semuanya!"Siluman kurus itu menghantamkan miliknya yang berduri ke dalam mulut Wulan, memaksa kepala gadis itu membentur lantai yang kenyal. Di bawah, siluman bertaring patah masih sibuk mengoyak lubang belakang Wulan, sementara sang pemimpin raksasa meremas payudara Wulan hingga kuku-kukunya membenam ke dalam daging putih itu."Wulan... Kau dengar aku?"Sebuah suara berat, berwibawa, dan sangat dingin bergema di dalam tempurung kepala Wulan. Suara itu tidak datang dari telinga, melainkan langsung merasuki jiwanya.Batara Durja. Sang harimau penguasa kawah Halimun sed

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status