INICIAR SESIÓNFatika belum mau pergi. Tubuhnya masih panas dan penuh nafsu meski baru saja orgasme di atas tubuh Leon. Ia masih duduk di pangkuan Leon, batang Leon yang basah dan setengah keras masih berada di dalam vaginanya. Fatika menggoyang pinggulnya pelan sambil menatap Leon dengan mata penuh permohonan.“Den… belum cukup. Fatika masih mau lagi… spooning ya. Peluk Fatika dari belakang,” bisiknya sangat pelan di telinga Leon, hampir tanpa suara.Leon melirik Reva yang masih tertidur pulas membelakangi mereka. Wajahnya tegang, tapi ia tak berani menolak keras karena takut Reva terbangun. Akhirnya ia mengangguk pelan dengan ekspresi terpaksa.Fatika tersenyum puas. Ia turun perlahan dari pangkuan Leon, cairan putih kental mereka berdua mengalir deras dari vaginanya. Dengan gerakan diam-diam, Fatika berbaring miring di samping Reva, membelakangi Leon, bokongnya terdorong ke belakang menggoda.Leon berbaring di belakang Fatika dengan hati-hati, berusaha tidak menggoyang ranjang terlalu keras. Dada
Malam itu, Leon dan Reva baru saja pulang dari makan malam romantis di sebuah restoran Italia favorit mereka di pinggiran kota. Reva tampak bahagia, tangannya terus menggenggam lengan Leon sepanjang perjalanan pulang. Sesampainya di rumah, Reva langsung menuju kamar tidur untuk mandi dan berganti pakaian, sementara Leon ke dapur untuk mengambil minuman dingin.Saat Leon membuka pintu kulkas dan mengambil sebotol air mineral, tiba-tiba sebuah tubuh hangat mendekat dari belakang. Fatika muncul diam-diam, hanya mengenakan tank top tipis tanpa bra dan celana pendek rumah yang sangat pendek. Ia memeluk pinggang Leon dari belakang, payudaranya yang kencang menekan punggung Leon.“Den… malam ini Fatika kangen,” bisik Fatika di telinga Leon dengan suara manja dan menggoda. “Reva sudah tidur kan? Boleh Fatika tidur sama Den sebentar… Fatika mau di doggy lagi seperti kemarin.”Leon tersentak. Ia cepat-cepat melepaskan pelukan Fatika dan berbalik. Wajahnya tegang.“Fatika, cukup,” kata Leon tega
Setelah sesi spooning yang panjang dan mesra, Gito menarik tubuh Windy agar berbaring telentang di tengah ranjang king-size. Ia naik ke atasnya dengan perlahan, tubuh besar dan beratnya menindih tubuh ramping Windy yang masih basah keringat. Windy membuka lebar kedua kakinya, lututnya ditekuk tinggi, telapak kakinya menapak di kasur, menyambut Gito dengan penuh kerelaan.Gito memposisikan diri di antara paha Windy. Batangnya yang masih sangat keras dan tebal karena obat kuat menggesek celah vaginanya yang licin beberapa kali, mengoleskan cairan mereka yang sudah bercampur.“Om… masuk pelan dulu,” bisik Windy sambil memeluk leher Gito.Gito mendorong pinggulnya perlahan. Batangnya yang besar membelah dinding vaginanya yang hangat dan masih sensitif, masuk dengan mulus hingga tenggelam sepenuhnya hingga pangkal.“Aaaahhh…” Windy mendesah panjang, punggungnya melengkung, kuku-kukunya menancap di punggung Gito. “Penuh sekali, Om… rasanya sampai perut Windy.”Gito menindih tubuh Windy sepe
Setelah doggy style yang brutal dan penuh tenaga, Gito menarik Windy ke dalam pelukannya. Tubuh gadis itu masih gemetar hebat, napasnya tersengal-sengal. Gito berbaring di sampingnya, dada bidangnya menempel rapat di punggung Windy yang halus dan basah keringat.“Peluk aku dari belakang, Om…” bisik Windy dengan suara lemah tapi penuh kerinduan. “Yang pelan… yang mesra…”Gito tidak perlu diminta dua kali. Ia merapatkan tubuhnya lebih erat dari belakang. Dada dan perutnya menempel sempurna di punggung Windy. Lengannya yang kuat melingkar di pinggang ramping gadis itu, menariknya hingga tak ada celah sedikit pun di antara mereka. Satu tangannya merangkul payudara Windy yang montok, meremasnya dengan lembut dan penuh kasih, sementara tangan satunya memeluk perut bawah Windy dengan posesif.Batang Gito yang masih sangat keras dan panas menggesek bokong Windy yang kenyal dari belakang. Windy meraih ke belakang dengan tangan halusnya, memegang batang itu, lalu mengarahkannya ke mulut vaginan
Setelah ledakan hebat di posisi woman on top, Windy masih terbaring lemas di dada Gito, napasnya tersengal-sengal. Batang Gito yang masih keras dan penuh di dalamnya berdenyut pelan. Windy mengangkat kepalanya, menatap Gito dengan mata yang masih berkabut kenikmatan, lalu tersenyum nakal.“Om… Windy masih mau lagi. Kali ini dari belakang… doggy style. Windy mau Om hantam sepuasnya.”Gito tersenyum lebar, amarah dan nafsunya masih membara. Ia menarik Windy turun dari pangkuannya. Cairan putih kental mereka berdua langsung mengalir deras dari vaginanya yang merah dan bengkak, menetes ke sofa mahal.Windy berlutut di tengah ranjang king-size, lalu merangkak maju. Ia menekuk kedua tangannya di kasur, mengangkat bokongnya yang bulat, kenyal, dan masih memerah bekas hantaman sebelumnya tinggi-tinggi. Punggungnya melengkung sempurna, rambut hitamnya tergerai di bahu dan punggung. Posisi doggy style yang sempurna.“Begini, Om?” tanya Windy sambil menggoyang bokongnya menggoda ke kiri dan kana
Keesokan paginya, Gito membawa Windy terbang ke Singapura menggunakan jet pribadinya. Windy tampak sangat bahagia, memakai dress summer putih yang ketat dan elegan, rambutnya tergerai, serta tas Hermes baru yang dibelikan Gito pagi itu.Sesampainya di Singapura, Gito langsung mengajak Windy ke pertemuan bisnis di Marina Bay Sands. Di ruang VIP restoran mewah, Gito memperkenalkan Windy kepada beberapa rekan bisnisnya — pengusaha properti dan investor dari Cina dan Indonesia.“Ini Windy, calon istri saya,” kata Gito dengan bangga sambil memeluk pinggang Windy.Rekan-rekannya terkejut melihat Windy yang sangat muda dan cantik, tapi tak ada yang berani berkomentar. Windy berperan sempurna sebagai calon istri yang anggun, tersenyum manis dan berbicara sopan, meski tangan Gito sesekali meremas bokongnya di bawah meja.Setelah pertemuan selesai, Gito membawa Windy jalan-jalan. Mereka ke Orchard Road, masuk ke butik-butik mewah. Gito membelikan Windy hampir tanpa batas:- Tas Chanel edisi ter







