MasukMereka terus bergerak dalam irama yang sama hampir lima belas menit. Hanya bunyi plop… plop… plop basah yang pelan dan ritmis terdengar di kamar yang sunyi. Tidak ada hantaman kasar, hanya gesekan yang dalam dan penuh tekanan.“Om… peluk aku lebih erat,” pinta Windy.Gito menarik tubuh Windy lebih rapat ke dadanya hingga mereka benar-benar menyatu. Batangnya bergerak pelan tapi sangat dalam di dalam vaginanya. Setiap kali masuk sepenuhnya, ia menahan pinggulnya beberapa detik, membiarkan Windy merasakan denyutan batangnya yang tebal dan panas.Windy menoleh ke belakang. Mereka berciuman miring — ciuman yang lembut, basah, dan intim. Lidah mereka saling menyentuh pelan, saling menghisap dengan penuh kasih sayang. Napas mereka bercampur hangat di antara desahan kecil.“Om Gito… Windy senang sekali Om peluk aku seperti ini,” bisik Windy di sela ciuman. “Rasanya seperti Om benar-benar sayang sama aku…”Gito tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memeluk Windy lebih erat dan memperdalam
Setelah sesi doggy style yang brutal di bawah shower, Gito menarik Windy yang lemas ke dalam pelukannya. Air shower masih mengguyur tubuh mereka. Ia mematikan keran, lalu membawa Windy ke bathtub besar yang berada di sudut kamar mandi.Gito menyalakan keran air hangat, menuangkan bath salt beraroma lavender, hingga bathtub cepat terisi air hangat yang mengepul. Ia masuk lebih dulu, lalu menarik Windy agar duduk di pangkuannya menghadapnya — posisi Lotus yang intim.Windy melingkarkan kedua kakinya di pinggang Gito, sementara tangannya memeluk leher pria itu. Tubuh mereka saling menempel rapat di dalam air hangat yang menenangkan. Batang Gito yang masih sangat keras karena obat kuat menggesek perut Windy.“Masuk lagi, Om…” bisik Windy sambil mengangkat pinggulnya sedikit.Gito memegang pinggang Windy, mengarahkan batangnya ke mulut vaginanya yang masih penuh cairan, lalu mendorong pelan hingga masuk sepenuhnya.“Aaahhh…” Windy mendesah panjang, kepalanya mendongak. “Penuh sekali di dal
Gito masih berdiri di belakang Windy, batangnya yang sangat keras karena obat kuat masih tertanam dalam di dalam tubuh gadis itu. Air shower terus mengguyur tubuh mereka berdua tanpa henti. Windy masih terengah-engah, kakinya gemetar setelah orgasme bertubi-tubi.“Belum cukup,” geram Gito dengan suara berat. Ia menarik diri perlahan, cairan putih kental bercampur air langsung mengalir deras dari vaginanya yang terbuka.Windy tersenyum nakal, tahu apa yang diinginkan Gito. Ia membalikkan tubuhnya, lalu bersandar di dinding keramik shower dengan kedua tangan bertumpu. Ia mengangkat bokongnya tinggi-tinggi, punggungnya melengkung indah, rambut basahnya menempel di punggung dan bahu.“Doggy style di bawah shower ya, Om? Hantam Windy sepuasnya,” tantang Windy sambil menggoyang bokongnya menggoda.Gito memegang pinggang ramping Windy dengan kedua tangan yang kuat. Batangnya yang tegang dan mengkilap oleh air serta cairan cinta menggesek bibir vaginanya sebentar, lalu dengan satu hantaman ku
Gito masih menindih tubuh Windy dalam posisi missionary, napasnya berat dan dalam. Batangnya masih tertanam di dalam vaginanya yang penuh sperma. Ia menatap wajah Windy yang memerah dengan tatapan intens, lalu berkata dengan suara serak:“Mulai hari ini, kamu bukan lagi ponakan istriku. Kamu akan jadi istriku. Aku akan segera menikahi kamu, Windy. Resmi atau tidak, aku tak peduli. Kamu akan tinggal di rumah ini sebagai nyonya baru.”Windy tersenyum lebar, matanya berbinar penuh kemenangan. Ia memeluk leher Gito erat dan menciumnya dalam-dalam.“Benarkah, Om? Windy akan jadi istri Om?” tanyanya manja sambil menggoyang pinggulnya pelan, meremas batang Gito dari dalam.“Iya. Aku akan urus semuanya,” jawab Gito tegas. “Tapi kamu harus buktikan kamu memang lebih baik dari Sonya.”Windy tersenyum nakal. “Windy siap buktikan setiap hari, Om.”Gito bangkit dari ranjang dan berjalan ke meja nakas. Ia membuka laci, mengambil sebutir pil biru impor yang biasa ia simpan untuk situasi khusus. Tanp
Windy masih berada dalam pelukan spooning Gito yang erat, tubuh mereka saling menempel rapat. Batang Gito yang masih setengah keras di dalam dirinya sesekali berdenyut pelan. Windy menggesek bokongnya pelan, lalu menoleh ke belakang dengan senyum menggoda.“Om… aku masih mau lagi,” bisiknya manja. “Kali ini aku mau lihat wajah Om. Ganti missionary yuk.”Gito tidak banyak bicara. Amarah dan nafsu yang bercampur membuatnya langsung bertindak. Ia menarik diri perlahan dari tubuh Windy, cairan putih kental langsung mengalir deras dari vaginanya yang masih terbuka. Gito membalikkan tubuh Windy hingga telentang, lalu naik ke atasnya dengan tubuh besarnya yang mendominasi.Windy membuka lebar kedua kakinya, lututnya ditekuk tinggi, telapak kakinya menapak di kasur. Ia menatap Gito dengan mata penuh hasrat, tangannya meraih batang Gito yang sudah kembali mengeras sepenuhnya dan mengarahkannya ke mulut vaginanya yang basah.“Masuk, Om… isi Windy lagi,” pinta Windy dengan suara parau.Gito mend
Setelah ledakan hebat di sofa ruang kerja, Gito dan Windy terbaring lemas dengan napas tersengal. Tubuh Windy yang ramping berkilau oleh keringat, sperma Gito masih menetes pelan dari vaginanya yang merah dan bengkak. Gito menatap langit-langit dengan tatapan kosong, amarahnya belum sepenuhnya padam, tapi nafsu yang baru saja ia lepaskan membuat tubuhnya terasa lebih ringan.Windy berbalik, mendekat ke tubuh Gito yang lebih besar. Ia mencium dada pria itu lembut, lalu berbisik dengan suara manja:“Om… peluk Windy dari belakang yuk. Aku mau yang pelan dan mesra sekarang… bukan kasar lagi.”Gito tidak menjawab dengan kata-kata. Ia bangkit, lalu menarik Windy ke kamar tidur utama yang dulu miliknya dan Sonya. Begitu sampai di ranjang king-size, Windy langsung berbaring miring, membelakangi Gito. Bokongnya yang kecil tapi kenyal terdorong ke belakang, mengundang.Gito berbaring di belakang Windy. Dada bidang dan agak gemuknya menempel rapat di punggung gadis itu. Ia melingkarkan lengannya